
Menutup mata Ding Tao mengenangkan cinta Huang Ying Ying pada dirinya yang sepenuh hati tanpa terbagi. Dikenangnya rasa bahagia yang dia rasakan saat dia akhirnya mengerti isi hati Huang Ying Ying. Dengan menggertakkan rahangnya Ding Tao menetapkan hati.
Memikirkan keputusan yang sudah diambilnya, hatinya berbisik, jika demikian tidak seharusnya dia membalas ciuman Murong Yun Hua. Tapi yang sudah terjadi tidak bisa diubah, andainya hal itu bisa diulangnya, apakah dia akan melakukan yang berbeda? Menggelengkan kepala, menyerah, Ding Tao memilih untuk melupakan segala urusan cinta dan kembali berjalan ke depan. Dia sampai lupa untuk bertanya, ke arah mana jalan ini menuju.
Hingga matahari terbenam, Ding Tao belum menemui seorang pun di jalan ini. Sudah berjam-jam lamanya dia berjalan tanpa henti, kakinya sudah merasa lelah, beberapa bagian tertentu telapak kakinya terkelupas, bukan hanya kakinya yang lelah, pundaknya pun sudah terasa pegal memanggul buntalan yangtidak terlalu berat.
Ketika dia menemukan sebuah ceruk yang terlihat nyaman, Ding Tao memutuskan untuk beristirahat di pinggir jalan.
Dipastikannya tidak ada binatang yang berbahaya di sekitar tempat itu, sebelum dia menghempaskan tubuhnya ke tanah yang berumput tebal.
Baru setelah beristirahat, perutnya terasa lapar. Dengan kemalasan, dia bangkit berdiri. Dikumpulkannya beberapa kayu kering untuk dibuat api unggun. Kemudian di sekitar tempat dia hendak membuat api unggun, dia bersihkan dari rumput-rumput kering. Tidak lama kemudian sebuah api unggun kecil menyala-nyala. Dengan puas Ding Tao duduk dan membuka buntalan yang dia bawa. Pagi ini Murong Yun Hua sudah
membungkuskan beberapa roti kering, sebotl arak dan daging kering.
Apa yang dia lihat membuatnya terkejut, di dalam buntalan bukan saja ada pakaian dan makanan kering, tapi dilihatnya sekantung obat dan sejilid kitab.
Secarik surat diselipkan di antara halaman kitab itu, sedikit gemetar, Ding Tao membuka surat itu. Nyala api unggun bergoyang-goyang, terkena angin, membuat bayang-bayang lucu di sekitarnya. Dengan tangan gemetar dia membuka surat itu.
Adik Ding, rasa malu dan sedihku tidak akan pernah bisa kau bayangkan.Tapi aku tidak menyesal, aku tidak menyesal telah jatuh hati padamu.Aku tidak menyesal menunjukkan betapa aku menginginkanmu.Aku hanya menyesal, tidak berhasil menahanmu untuk tinggal.
Tapi apapun keputusanmu, aku tidak dapat menipu hatiku.Kupinjamkan kitab yang aku ceritakan sebelumnya.Di dalamnya bisa kau pelajari apa yang kau perlukan untuk kesembuhanmu.
Aku tidak bisa banyak membantu, karena aku tidak ada di sampingmu.
Beserta kitab ini, kusertakan obat-obatan yang sering dipakai ayahku.
Obat ini mampu menambah kecerdasan orang yang meminumnya.Membantu lancarnya peredaran darah ke otak,serta merangsang kerjanya syaraf dlm tubuh.Ilmu dalam kitab ini tentu tidak mudah dipelajari dalam waktu yang singkat.Meskipun kau berbakat, tapi obat ini kurasa bisa membantumu.
Jika aku boleh memberi saran, tidak perlu adik pergi ke Shaolin atau Wudang.
Berurusan dengan perguruan besar, tentu akan rumit dan merepotkan.
Padahal waktumu tidaklah banyak, baiknya cari tempat yang baikdan fokuskan pikiranmu untuk mempelajari isi kitab ini.
Semoga segala tujuanmu bisa tercapai, doaku untukmu selalu.
__ADS_1
Jangan lupa, kembalikan kitab ini setelah kau tidak memerlukannya lagi.
Aku akan sabar menanti kedatanganmu dengan penuh harap.
Murong Yun Hua
Dengan penuh haru Ding Tao membuka-buka kitab itu. Pada sampul buku tertulis Ilmu Tenaga Dalam Inti Bumi. Dibacanya buku itu sekilas, halaman demi halaman. Kemudian disimpannya baik-baik buku itu kembali dalam buntalan.
Kemudian bungkusan obat dia buka, di dalamnya ada secarik kertas yang menuliskan nama dan aturan minum obat tersebut.
Nama obat itu, Obat Dewa Pengetahuan.
Puas dengan apa yang dia amati, dia menyimpan semuanya baik-baik dalam lipatan pakaian bersih sebelum kembali dibuntal menjadi satu. Ding Tao memikirkan nasihat Murong Yun Hua, nasihat itu diberikan dengan maksud yang baik.
Teringat pula keadaannya saat harus bertarung dengan Sepasang Iblis muka Giok. Hari itu dia beruntung bertemu dengan Murong Yun Hua dan Murong Huolin. Jika tidak ada mereka, saat ini dia sudah tertawan sepasang iblis itu dan nasibnya akan jauh lebih buruk daripada mati di tangan mereka.
Teringat pula Ding Tao pada taktik yang dia gunakan dan bagaimana belasan orang mati oleh karenanya. Bergidik pemuda itu menyesali apa yang sudah dia lakukan. Seandainya saja tubuhnya tidak menyimpan hawa liar Tinju 7 Luka, mungkin dia masih bisa memikirkan siasat yang lain, yang tidak mengorbankan nyawa begitu banyak.
Mengingat itu semua Ding Tao memutuskan untuk menerima saran Murong Yun Hua. Bila dia tetap memaksa untuk pergi ke Shaolin dalam keadaannya yang sekarang, akan banyak lagi bahaya yang harus dia hadapi, lebih banyak pertarungan dan lebih banyak korban.
Dicobanya berjalan-jalan sambil menajamkan telinga, mencari apakah ada suara aliran air di dekatnya. Tapi tidak ada hasil sedikitpun, akhirnya Ding Tao kembali. Memilih sebuah lokasi yang sedikit jauh dari tempat dia membuat api unggun.
Bersandar pada sebuah pohon, Ding Tao berusaha beristirahat sebisanya. Pemuda itu tidak berani terlalu lepas saat beristirahat. Meskipun matanya terpejam, inderanya tetap bekerja sebisa mungkin menyadari keadaan di sekitarnya. Karena lelah beberapa kali Ding Tao kehilangan kesadaran dan tertidur untuk beberapa saat. Tapi tidak pernah dia tidur dengan pulas.
Keesokan paginya Ding Tao bangun dengan tubuh pegal-pegal dan kepala terasa berat. Melihat langit sudah mulai berubah warna, pemuda itu dengan rajin, mulai berlatih. Berlatih menghimpun hawa murni dan melatih ulang juga setiap jurus yang sudah pernah dia pelajari.
Tidak pernah bosan dia mengulang-ulang apa yang sudah pernah dia pelajari, merenungkannya dan memikirkan pengembangannya. Ketika dia selesai berlatih, langit sudah terang, keringat membasahi tubuhnya tapi tubuhnya terasa segar. Ding Tao mulai berpikir ke arah mana dia hendak pergi, setelah mendapatkan kitab dan obat dari Murong Yun Hua, pemuda ini tidak lagi ingin pergi ke kota terdekat. Sebaliknya dia ingin mencari tempat yang memungkinkan dia untuk berlatih dengan tenang.
Sayangnya mencari tempat seperti itu tidaklah mudah. Di dalam hutan terkadang lebih sulit mencari air daripada mencari makan. Karena itu yang pertama dia lakukan adalah menjelajahi hutan yang mengapit jalan kecil itu, mencari tanda-tanda adanya air.
Hutan itu tidak terlalu lebat, dengan mudah dia bergerak, sebisa mungkin Ding Tao tidak menggunakan pedangnya untuk membuka jalan. Selain untuk menghemat tenaga, pemuda itu juga tidak ingin meninggalkan jejak. Sempat terpikir untuk kembali ke kediaman Murong Yun Hua, di sana tentu dengan mudah dia dapat berlatih. Tidak perlu mencari persediaan makan, tidak perlu memusingkan di mana dia harus tidur. Sayang sekarang ada ganjalan antara dirinya dengan Murong Yun Hua dan Murong Huolin, ada kalanya juga Ding Tao tergoda untuk menerima tawaran mereka. Tapi pemuda ini begitu mengagungkan nilai-nilai luhur yang dia dengar dari orang-orang tua. Pada cerita-cerita kepahlawanan di masa lalu.
Bukan hanya terpikat pada cerita kepahlawanan, pemuda ini juga terpikat dengan kisah-kisah cinta, tentang sepasang kekasih yang setia hingga ajal menjemput.
Hampir setengah harian pemuda itu menjelajahi hutan dan mengamat-amati keadaan di sekelilingnya sebelum dia menemukan tanda-tanda akan adanya sumber air. Saat itu dia sudah semakin jauh masuk ke dalam hutan, pepohonan semakin lebat dan suasana menjadi sedikit remang-remang karena sinar matahari tidak mudah menembus lebatnya dedaunan.
__ADS_1
Pemuda itu menemukan jalan-jalan setapak, bukan oleh manusia, tapi terbentuk karena sudah menjadi jalur dari beberapa hewan liar yang berulang kali melewati jalur itu.
Dengan semangat yang meninggi mulailah dia mengikuti jalur itu, sesekali jejak yang ada terputus dan dia harus berkeliling mencari-cari tanda-tanda lainnya, hingga akhirnya Ding Tao
sampai di sebuah air mata kecil yang membentuk sebuah kolam jernih yang tidak seberapa besar.
Dengan hati-hati Ding Tao memeriksa keadaan di sekitar kolam kecil itu. Dari bekas-bekas yang ada, dia yakin tempat itu jarang sekali dikunjungi manusia. Beberapa hewan tampaknya menggunakan kolam itu sebagai tempat mereka melepas rasa haus. Setelah yakin tempat itu cukup aman dari ular berbisa,
Ding Tao mulai mencari dan menyiapkan lokasi yang tepat untuk dia menghabiskan malam.
Matahari sudah condong ke barat saat akhirnya Ding Tao selesai dengan persiapannya. Seonggok besar kayu kering sudah dia siapkan untuk dipakai selama beberapa hari. Bekal makanan yang dia bawa, dihitung dan dijatahnya baik-baik.
Sebisa mungkin Ding Tao ingin menghabiskan beberapa hari ke depan tanpa memusingkan soal makanan dan kebutuhan hidup lainnya, hanya mencurahkan waktu dan pikirannya untuk mempelajari kitab yang dipinjamkan Murong Yun Hua padanya.
Tiga hari lamanya Ding Tao dengan tekun membaca kitab itu dari awal hingga habis. Selama tiga hari itu Ding Tao makan dalam jumlah yang sangat terbatas, saat lapar dia meminum banyak-banyak air yang melimpah di tempat dia tinggal.
Kitab itu tidak terlalu tebal, tapi Ding Tao membaca dengan sangat berhati-hati, dia akan mengulang-ulang tiap bait, hingga dia merasa bahwa dia dapat meresapi maksud dan maknanya, sebelum dia berpindah ke bait selanjutnya.
Tidak mudah untuk dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksud penulisnya, tidak ada orang yang membimbingnya untuk mengartikan maksud dari kalimat-kalimat yang ada.
Tiga hari lewat, Ding Tao sudah membaca habis seluruh kitab itu beberapa kali.
Sungguh sebuah tantangan yang sangat sulit bagi Ding Tao, terkadang saat dia merasa sudah dapat mengerti makna dari satu bait, saat dia mulai melanjutkan membaca beberapa bait selanjutnya barulah terasa ada ketidak sesuaian. Jika menemukan demikian, maka terpaksalah Ding Tao kembali lagi merenungkan ulang bait-bait yang telah dia baca.
Demikian tiga hari lewat dan meskipun sudah beberapa kali membaca kita itu dari awal hingga akhir, pemahamannya akan isi kitab itu masihlah samar-samar.
Hari keempat Ding Tao bangun dari tidurnya dengan rasa kecewa tiga hari lewat tanpa hasil yang cukup berarti. Sementara waktu terus berjalan dan tidak menanti Ding Tao menyelesaikan usahanya mempelajari kitab itu. Isi kitab itu berkaitan erat dengan pengolahan tenaga dan pengerahannya menggunakan pukulan tangan. Dari apa yang dia tangkap, samar-samar Ding Tao merasakan adanya kesesuaian antara isi kitab itu dengan sifat-sifat hawa pukulan Tinju 7 Luka yang mengeram dalam tubuhnya.
Hari itu Ding Tao memutuskan untuk berhenti sejenak, lagipula persediaan makanan sudah menipis. Sepanjang hari Ding Tao menjelajahi hutan, mengumpulkan akar-akaran, buah dan
jamur liar yang bisa dimakan. Pengetahuan yang dia dapatkan selama membantu Tabib Shao Yong membantunya menghindari jamur atau buah beracun.
Baru menjelang matahari terbenam pemuda itu berhenti mengumpulkan persediaan makanan dan kembali ke tempat dia berlatih.
Setelah beristirahat sejenak, Ding Tao tidak membuka-buka kitab atau berlatih, pemuda itu menyibukkan diri dengan
__ADS_1
memastikan makanan yang sudah dia kumpulkan tersimpan dengan baik untuk beberapa hari ke depan, sebelum dia beristirahat tanpa memikirkan sedikitpun isi kitab itu.