
" Apakah Saudara Ding ingin jadi pendekar nomor satu di dunia? Untuk apa gelaran macam itu? Ataukah masalah dendam? Apa pentingnya mengingat dendam dan menyimpan benci? Asalkan Saudara Ding tidak ikut campur dalam urusan dunia persilatan, tinggal di suatu tempat yang tenang,
menghabiskan hidup dalam kedamaian hingga usia tua…‖,
ujar Murong Yun Hua dengan nada sendu dan kepala tertunduk.
Berdebar hati Ding Tao, meraba-raba maksud dari perkataan nona itu. Memandang ke arah kediaman keluarga Murong, terbayang kehidupan penuh kedamaian, jauh dari intrik-intrik keji dunia persilatan, jauh dari pertarungan berdarah.
Memandang ke arah sebaliknya, ke arah jalan pergi dari kediaman keluarga Murong, terbayang perjuangan berat dan berliku, tapi di ujung sana ada Huang Ying Ying yang menanti.
―Tidak, gelar pendekar nomor satu tidak kuinginkan. Dendam aku juga tak punya. Akupun ingin hidup damai, jauh dari urusan dunia persilatan, tapi…‖,
berat hati Ding Tao, tapi dia tidak bisa melupakan kekasih yang menanti, juga pesan dan tugas
gurunya.
__ADS_1
―Tapi apa? Apakah Kakak Ding tidak ingin tinggal lebih lama di sini? Apakah tempat kami kurang menyenangkan? Adakah aku dan Adik Huolin begitu membosankan? Tidak tahukah Kakak
Ding, jika Adik Huolin semalaman menangis, karena Kakak Ding hendak pergi hari ini?‖, dua tetes air mata yang bening mengalir dari sepasang mata yang jeli, memalingkan muka Murong Yun Hua, menyembunyikan air matanya, namun Ding Tao masih sempat melihatnya.
Pedih hati Ding Tao, dalam hati dia mengeluh, menyesal telah bersedia untuk tinggal selama dua hari di tempat ini.
Seandainya saja dia lebih teguh hati, mungkin dia tidak akan terjerat dalam perasaan bersalah seperti saat ini.
―Bukan begitu Nona Yun Hua, tapi demi menjalankan tugas dan pesan guruku, lagipula tugas ini berkaitan dengan kewajibanku sebagai seorang laki-laki terhadap negaranya.‖
―Nona Yun Hua, pernahkah nona mendengar tentang pertemuan lima tahunan antara tokoh-tokoh persilatan? Pernahkah nona mendengar tentang ambisi Ketua Sekte Matahari dan Bulan, Ren Zuocan?‖, tanya Ding Tao.
Raut wajah Murong Yun Hua berubah jadi serius, matanya mengawasi Ding Tao dengan pandangan menyelidik,
―Ya, aku tahu tentang hal itu, bahkan mengetahuinya dengan cukup jelas. Ambisi Ketua Ren Zuocan untuk menguasai dunia persilatan kita, ancaman dari luar perbatasan jika dia berhasil melakukannya.‖
__ADS_1
―Syukurlah kalau nona tahu akan hal itu, tugas dari guruku adalah agar aku berusaha untuk membendung ambisi Ren
Zuocan.‖
―Saudara Ding, bukannya aku hendak meremehkanmu, melihatmu berlatih tanding dengan Adik Huolin, aku tahu kau punya bakat yang luar biasa. Tapi tingkatan Ren Zuocan jauh di atasmu, bahkan tanpa luka dalam tubuhmu kurasa kau masih beberapa tingkat berada di bawahnya.‖
Sejenak Murong Yun Hua berhenti berbicara, pandang matanya tajam, menyelidik raut wajah Ding Tao, kemudian dengan suara bergetar dia lanjut bertanya,
―Apakah… kau punya satu andalan yang lain?‖
Untuk beberapa lama Ding Tao merasa ragu, tapi saat memandang Murong Yun Hua muncul perasaan bersalah karena masih menyimpan rahasia dari mereka, seakan mereka orang-orang yang patut dicurigai. Padahal selama dua hari ini mereka memperlakukannya dengan sangat baik, tidak ubahnya keluarga sendiri. Akhirnya dia memutuskan untuk menceritakan tentang bagaimana dia mendapatkan Pedang Angin Berbisik, tugas yang dibebankan gurunya padanya dan bagaimana dia bisa kehilangan pedang itu.
Mendengar kisah Ding Tao, wajah Murong Yun Hua berubah pucat, tiba-tiba dua tangannya mencengkeram lengan baju Ding Tao. Menggelengkan kepala seakan tak percaya, dipandanginya wajah pemuda itu dengan mata yang basah oleh air mata.
―Kakak Ding… Kakak Ding… akhirnya doaku terjawab sudah…‖
__ADS_1