
Entah berapa lama sesungguhnya mereka berdiri diam, tapi jika ditanyakan pada mereka berdua, waktu yang seharusnya sama ternyata menjadi berbeda.
Bagi Wang Chen Jin waktu yang dia lalui serasa bagaikan beribu tahun lamanya, otaknya yang bergerak gesit memikirkan satu serangan ke serangan berikutnya tapi tidak juga dia menemukan jalan untuk menembus benteng pertahanan Ding Tao.
Seakan diam tapi dalam bayangannya sudah 30 jurus dia lancarkan dan setiap jurus dapat dimentahkan oleh Ding Tao.
Tentu saja itu hanya dalam bayangan, kenyataannya belum tentu Ding Tao dapat mementahkannya. Tapi Ding Tao yang ada di dalam benaknya saat ini mampu mementahkan setiap serangannya itu.
Bagi Ding Tao waktu yang dia lalui terasa jauh lebih singkat, sejak berhadapan tidak sedetikpun dia berani melepaskan perhatiannya dari keadaan lawan. Kebiasaan bermeditasi, melatih ketajaman rasa dan juga mengumpulkan hawa murni, tanpa sadar mengambil alih.
Pernapasannya menjadi dalam dan teratur, setiap panca inderanya menajam. Waktu jadi tidak lagi berarti, Waktu bisa dikatakan sedang berhenti atau tidak ada sama sekali.
Perlahan-lahan sosok lawan yang menakutkan, yang dibumbui oleh ketegangannya sendiri, menjadi semakin mendekati kewajarannya. Ketika pikirannya berjalan dengan tenang mulailah dia bisa menganalisa kedudukan dirinya dan Wang Chen Jin dengan wajar.
Kuda-kuda lawan mengandalkan kecepatan dan menitik beratkan pada serangan, tapi lawan tidak juga menyerang, dalam hal ini terjadi ketidak sesuaian, seharusnya yang dia lakukan adalah menggunakan kesempatan itu untuk balik menyerang lawan.
Berusaha memaksa lawan untuk berpindah ke kedudukan yang kurang menguntungkan, sekaligus melihat reaksi lawan, dalam usaha untuk lebih jauh mengenali tanggapan lawan atas serangan tertentu.
Atau bisa juga dia dengan sengaja menunjukkan kelemahan dalam pertahanannya, memancing lawan masuk ke arah yang dapat diperkirakannya, menyiapkan jebakan, memotong lawan pada saat yang tepat.
Tergelitik oleh berbagai kemungkinan, Ding Tao pada akhirnya justru menjadi larut dalam menjajagi berbagai kemungkinan yang akan timbul.
Untuk berapa saat lamanya, di dalam dirinya bagaikan muncul dua sosok Ding Tao, yang seorang mengawasi setiap gerak gerik dan ******* nafas lawan, yang seorang lagi sedang bermain dengan angan-angannya, seperti bermain catur dia menghitung-hitung apa yang bisa dia lakukan dan bagaimana lawan akan bereaksi.
Dalam waktu yang tidak jelas berapa lamanya tersebut, kedua pemuda itu telah bertanding puluhan jurus tanpa bergerak sedikitpun. Perbedaannya adalah, jika Wang Chen Jin dikejar-kejar waktu, Ding Tao justru sudah melupakan berjalannya waktu.
Sekali lagi perbedaan sifat dari keduanya dan juga dasar di mana mereka berdiri dalam menghadapi pertarungan itu, turut mempengaruhi jalannya pertarungan di antara dua pemuda berbakat.
Ditilik dari segi bakat keduanya sama-sama memiliki otak yang encer dalam mendalami ilmunya masing-masing.
Dari segi pengalaman Wang Chen Jin berada di atas Ding Tao, namun masih diimbangi pula dengan ketajaman pengamatan dan kepekaan rasa Ding Tao yang melebihi orang rata-rata.
__ADS_1
Tapi Wang Chen Jin sedang berusaha melenyapkan nyaway orang atas dasar iri hati, meskipun dia bisa membela dirinya sendiri dengan berbagai argumentasi, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, dia sadar bahwa dia sedang menempuh jalan yang dipandang hina oleh manusia.
Apalagi dia sudah "meminjam" pedang pusaka ayahnya secara diam-diam, dikejar oleh perasaan bersalah, waktu menjadi musuh kedua bagi dirinya.
Sebaliknya Ding Tao dalam hatinya memiliki keyakinan bahwa dia berdiri teguh atas landasan kebenaran. Dia datang karena keinginannya untuk melindungi keluarga Huang yang sudah banyak menanamkan budi pada dirinya, terlebih khusus nona muda Huang.
Setitik pun tak terbersit mencari keuntungan pribadi, meskipun sekarang dia sadar bahwa semuanya itu tidak lebih dari perangkap yang dibuat oleh Wang Chen Jin secara licik.
Bahwasannya dia sekarang menggenggam pedang dan mungkin akan melukai bahkan membunuh lawan, hal itupun bukan dikarenakan keinginannya sendiri, melainkan dalam kewajibannya untuk melindungi kehidupan yang sudah dikaruniakan kedua orang tuanya pada dirinya.
Tapi ada satu faktor di luar kemampuan dan kemantapan masing-masing kedua pemuda itu yang ikut menentukan hasil pertarungan.
Sebilah pedang yang tajam.
Pada saat itu, di antara mereka berdua hanya Wang Chen Jin yang menyadari kelebihan itu.
Dalam hati dia merasa sudah melakukan tindakan yang tepat dengan "meminjam" pedang pusaka itu, nyata bahwa perhitungannya akan kemampuan Ding Tao tidaklah tepat seperti perkiraannya.
Jika saja yang dibawanya hanyalah pedang biasa, benteng pertahanan Ding Tao adalah benteng yang tidak tertembus oleh kemampuannya sendiri.
Keheningan malam itu pun tiba-tiba pecah, dalam remangnya malam yang hanya diterangi cahaya bintang dan bulan sabit, pedang pusaka berkilauan menyambar-nyambar.
Untuk sesaat tidaklah mudah mengikuti bayangan kedua pemuda itu, setelah beberapa saat lamanya melihat mereka diam mematung lalu dengan tiba-tiba mereka bergerak lincah bagai capung-capung yang bermain di padang rumput.Suara pedang beradu pedang, suara besi mengiris besi memenuhi malam, sambung menyambung oleh cepatnya serangan dan tangkisan.
Pada beberapa benturan awal, Ding Tao sudah merasakan satu keganjilan, perasaannya yang peka menyadari ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak sesuai dengan perhitungan dalam benaknya.
Dengan berjalannya waktu, diapun sadar, pedang lawan bukan hanya membentur pedang miliknya, tapi pedang lawan sudah meninggalkan luka-luka di sepanjang bilah pedang miliknya.
Hatinya mencelos, seperti jatuh ke dalam jurang yang dalam.Betapa ulet dan kerasnya pedang hadiah dari Tuan besarHuang Jin tidak disangsikan lagi oleh Ding Tao, bahwa pedang baja pilihan itu bisa mengalami kerusakan sedemikian parah membuktikan bahwa pedang yang digunakan Wang Chen Jin tentu adalah satu pedang pusaka.
Baru belasan jurus, pedangnya sudah hampir rusak di setiap tempat, jika dia meneruskan hal cepat atau lambat tentu pedangnya akan kutung tak berguna.
__ADS_1
Mengingat hal itu maka Ding Tao pun jadi jauh lebih berhati-hati dalam menangkis serangan lawan, dijaganya agar tiap kali pedangnya membentur pedang lawan, dia tidak membentur bagian mata pedang yang tajam.
Dengan cepat kedudukan Ding Tao pun berubah jadi terdesak.
Wang Chen Jin tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, serangannya semakin gencar menekan Ding Tao.
Belajar dari pengalaman sebelumya Wang Chen Jin tidak menyerang dengan sembarangan, meskipun dia sudah yakin bahwa malam itu kemenangan akan ada pada pihaknya, setiap serangan tentu diperhitungkannya baik-baik, tidak pernah lupa dia untuk menjaga pertahanannya sendiri.
Ding Tao yang berusaha mencari celah kelemahan dalam permainan pedang Wang Chen Jin pun kesulitan untuk menemukannya.
Tanpa terasa Ding Tao semakin terdesak mendekati lubang sumur yang menganga.
Peluh sudah bercucuran membasahi seluruh tubuhnya, bercampur dengan darah yang terus mengucur dari luka di dadanya. Nafasnya semakin tidak teratur, demikian pula dengan tenaganya semakin terkuras. Bukan saja oleh pengerahan tenaga, tapi juga dari kehilangan darah yang mengucur deras akibat pengerahan tenaga dan gerakan-gerakan yang dilakukan.
Untuk sesaat Ding Tao kehilangan harapan, tapi dia mengeraskan hati dan berusaha menujukan pikirannya
sepenuhnya pada pertarungan, berusaha untuk mencapai yang terbaik tanpa memikirkan hasil akhirnya.
Laki-laki boleh mati, tapi jangan pernah melupakan budi, terngiang2 pesan akhir dari ayahnya sebelum menghembuskan nafas yang terakhir.
Ketika dia merasakan kakinya telah membentur pinggiran dari sumur itu, Ding Tao pun menggertakkan giginya, mengerahkan upaya yang terbaik yang bisa dia pikirkan. Secara tidak sengaja, hawa murninya terbangkit dan menerobos melewati jalur energi di sepanjang tubuhnya dan mengalir, tersalur ke dalam pedangnya.
Wang Chen Jin yang tahu bahwa dia sudah sampai pada serangan terakhir tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, disambutnya tabasan pedang Ding Tao dengan pedang pusakanya, sementara kaki kirinya bergerak pula untuk menendang dada Ding Tao.
Ding Tao yang sudah pasrah menerima kematian, hanya dapat berpikir untuk mengakhiri hidupnya dengan perjuangan sampai akhir. Tidak melihat kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, Ding Tao tidak berusaha menghindar dari pedang maupun tendangan Wang Chen Jin.
Ketika melihat tendangan Wang Chen Jin ke arahnya, diapun berusaha menendang Wang Chen Jin.
Sekalipun perlu berpuluh kata untuk menggambarkan serangan terakhir ini, sesungguhnya semuanya itu terjadi dalam hitungan detik bahkan sepersekian detik.
Dan terjadilah serentetan kejadian yang mengejutkan keduanya.
__ADS_1
Pedang pusaka Wang Chen Jin, berhasil mengiris pedang Ding Tao sampai setengah dari lebar bilah pedang Ding Tao, tapi pedang Ding Tao yang sudah tersaluri tenaga dalam, mampu bertahan untuk tidak putus tertebas pedang Wang Chen Jin.
Bahkan akibat dari benturan itu pedang Wang Chen Jin terjepit oleh bilah pedang Ding Tao yang tertebas setengah. Pada posisi itu, tendangan Wang Chen Jin telah masuk pula ke dada Ding Tao.