Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
88. Chapter 88


__ADS_3

" Oh, kalau begitu menurutmu siapa yang paling tepat untuk menduduki kursi Wulin Mengzhu?"


" Ada Biksu Khongzhe dan ada juga Pendeta Chongxan, keduanya mungkin adalah pendekar terhebat di masa ini. Juga dari segi kebijaksanaan dan kebaikan, keduanya tidak perlu diragukan."


Wang Xiaho menggeleng, " Keduanya tidak akan bisa menjadi Wulin Mengzhu, kau tahu kenapa?" Ditanya demikian Ding Tao menggelengkan kepala.


" Pertama-tama, keduanya adalah tokoh agama yang menghindari kedudukan duniawi. Jangankan tidak ada yang meminta atau mendukung mereka untuk mengambil kedudukan itu. Seandainya kita meminta atau mengajukan mereka pun, belum tentu mereka bersedia untuk mengajukan diri untuk menjadi calon Wulin Mengzhu.", dalam hatinya Wang Xiaho menambahkan, Sedikit mirip dengan dirimu."


" Kedua, kedua tetua itu mengepalai dua aliran besar dalam dunia persilatan, sementara sebagai Wulin Mengzhu justru dituntut adanya perlakuan yang adil dan merata pada seluruh golongan dan aliran. Hal ini bisa menjadi ganjalan, bila ada kebijakan yang merugikan kelompok tertentu, hal itu bisa diungkit-ungkit sebagai satu ketidak adilan hingga meretakkan persatuan yang hendak dibangun."


" Dan yang ketiga, adalah masalah ambisi-ambisi pribadi dari tokoh-tokoh dunia persilatan. Memang dengan adanya ancaman dari luar, sepertinya akan timbul satu persatuan. Tapi persatuan ini adalah persatuan yang rapuh, mereka bersatu hanya untuk melindungi diri sendiri. Itu sebabnya dalam memilih Wulin Mengzhu pasti setiap orang akan menjagokan golongannya masing-masing."


" Terutama dari kelompok perguruan-perguruan besar lainnya, seperti Kunlun, Kongtong dan Hoasan. Jika Shaolin atau Wudang yang terpilih, mereka akan kuatir bahwa wibawa mereka akan semakin turun saja. Dengan demikian ketiga perguruan besar lainnya ini pasti mati-matian akan menentang pencalonan Biksu Khongzhe atau Pendeta Chongxan."


" Paman Wang, kalau demikian sulitnya, mengapa Paman Wang berpikir bahwa aku memiliki kesempatan untuk maju dalam pemilihan itu?", tanya Ding Tao sambil tersenyum berpikir bahwa Wang Xiaho mengajukan dirinya menjadi calon Wulin Mengzhu tanpa alasan yang jelas.


" Tunggu dulu, sebelum kujelaskan apa yang kubicarakan dengan Guru Chen ketika kami menunggu A Sau dan A Chu mengantarkanmu. Aku ingin bertanya dulu, bagaimana?"


" Silahkan Paman Wang bertanya, aku tentu akan menjawab pertanyaan paman dengan sejujurnya.",


Jawab Ding Tao, hatinya mulai tertarik oleh uraian Wang Xiaho.


" Bagus! Sekarang aku hendak bertanya, jika kami bisa membuktikan bahwa kau adalah salah satu orang yang sesuai untuk menduduki kursi Wulin Mengzhu itu, maukah kau menerima dukungan kami dan maju dalam pencalonan Wulin Mengzhu?", tanya Wang Xiaho.


" Selama aku tidak melihat ada calon lain yang lebih tepat dari diriku, ya, aku akan maju dalam pencalonan itu.", jawab Ding Tao dengan tegas.


" Kau tidak akan lari dari tanggung jawab?"

__ADS_1


" Tidak, aku tidak menginginkan kedudukan itu, tapi aku juga tidak akan lari dari tanggung jawab, bila hal itu dipercayakan padaku."


Puas mendengar jawaban Ding Tao, Wang Xiaho mengangguk senang sambil tersenyum,


" Baguslah kalau begitu. Sekarang coba dengar uraianku."


" Tadi sudah kusinggung masalah tentang posisi Wuin Mengzhu yang harus bisa berdiri tanpa ikatan dengan satu aliran pun di dunia persilatan. Agar keputusannya tidak disangkut pautkan dengan hubungan dekatnya pada aliran tertentu. Jika itu terjadi, maka hanya akan menimbulkan bibit perpecahan di tengah persatuan yang rapuh. Dalam hal ini, dirimu memenuhi persyaratan ini. Benar tidak?", tanya Wang Xiaho setelah menguraikan panjang lebar.


Ding Tao berpikir sejenak, kemudian mengangguk menerima pendapat Wang Xiaho, " Ya, dalam hal itu paman benar. Tapi seorang pemimpin juga perlu memiliki pengalaman dan kebijaksanaan dalam hal ini umurku yang masih muda tidaklah sesuai untuk kedudukan tersebut. Lagipula persyaratan ini tidaklah mengikat, meskipun ikut mempengaruhi pertimbangan dalam memilih seseorang."


Wang Xiaho terkekeh geli, " Hehehehe, di sini engkau setengah benar, setengah salah, jangan kau nilai semua orang sama seperti dirimu. Dalam pemilihan Wulin Mengzhu nanti, berani bertaruh 100 tael emas, yang terpenting bukanlah kebijaksanaan seseorang, melainkan tinggi rendah ilmu silatnya."


" Ah tidak juga paman, dari guruku aku tahu ada pula Wulin Mengzhu di masa lalu yang tingkatan ilmunya bukan yang tertinggi, tapi masih juga terpilih sebagai Wulin Mengzhu oleh karena sifat-sifatnya yang baik." jawab Ding Tao sambil menggeleng.


" Ho ho, memang benar, meskipun ilmu silatmu bukan yang tertinggi, asalkan memiliki dukungan yang cukup kuat dan calon-calon lain setuju, kau akan bisa diangkat jadi Wulin Mengzhu. Tapi sekarang kutanya, menurutmu ada berapa banyak tokoh dunia persilatan yang menginginkan kedudukan sebagai Wulin Mengzhu?"


" Hoho, bagus-bagus, cara berpikir yang bagus sekali. Nah, katakanlah ke-enam orang itu maju sebagai calon, dengan cara bagaimana kita akan memilih? Apakah dengan cara bertanding di atas panggung?", tanya Wang Xiaho.


" Hmm… mungkin…", jawab Ding Tao ragu-ragu, karena jika dikatakan ya, berarti masalah pengalaman dan kebijakan tokoh yang bersangkutan tidaklah penting, tidak seperti yang dia katakan sebelumnya.


" Hehehe, jadi kau setuju bahwa tidak ada urusannya dengan pengalaman atau kebijaksanaan orangnya, tapi yang penting tinggi-rendahnya ilmu silat?", desak Wang Xiaho.


" Tunggu dulu paman, umurku masih muda jadi tidak banyak yang aku tahu. Tapi adalah kenyataan bahwa tidak selamanya seorang Wulin Mengzhu adalah orang yang tertinggi ilmu silatnya. Kalau memang pada akhirnya urusannya jatuh dalam masalah tinggi rendah ilmu silat, lalu bagaimana mereka dulu bisa terpilih?",, tanya Ding Tao penasaran.


" Hemm… akupun baru belum pernah melihat pemilihan Wulin Mengzhu tapi dari yang kudengar, ada beberapa kejadian di mana, nama dan reputasi tokoh tersebut memang sudah sangat dikenal orang, sehingga saat namanya diajukan, hampir semua yang datang menyetujuinya. Ada juga terjadi tokoh ini mendapat dukungan dari tokoh-tokoh sakti lainnya sehingga saat namanya diajukan tidak ada yang berani untuk maju dan menguji ilmunya.‖, jawab Wang Xiaho.


Mendengar jawaban Wang Xiaho itu, senyum di wajah Ding Tao melebar, " Nah paman dari dua kemungkinan itu, diriku ini masuk kemungkinan yang keberapa?"

__ADS_1


" Hehehe, jangan kau pikir bisa lolos begitu saja. Pada saat pemlihan nanti, bila kami berhasil mendapatkan cukup dukungan untuk mengajukan dirimu sebagai calon Wulin Mengzhu, kuyakin yang pertama-tama diuji adalah ilmu silatmu. Kau tahu kenapa?", tanya Wang Xiaho.


Ding Tao merenung sejenak baru menjawab, " Kukira itu karena umurku masih muda, jadi banyak orang akan meragukan kemampuanku. Satu-satunya cara yang paling mudah untuk mengujinya adalah lewat pertarungan."


" Ya, selain itu calon yang lain, akan memandang sebelah mata padamu, sehingga berpikir itulah kesempatan paling mudah untuk menyingkirkan dirimu.", lanjut Wang Xiaho.


" Bisa jadi mereka benar paman, dari segi pengalaman aku memang masih jauh di bawah saudara-saudara yang lain. Kalau dihitung baru beberapa bulan saja aku mulai


mengembara di dunia persilatan. Jika dihitung jumlah pertarungan, mungkin baru dua atau tiga kali saja bertarung sungguh-sungguh.", dengan sabar Ding Tao menjelaskan, takut mengecewakan Wang Xiaho yang kelihatan berapi-api dalam mengajukan dirinya sebagai Wulin Mengzhu.


" Hmm… apakah kau tidak percaya dengan penilaianku dan penilaian Guru Chen?", tanya Wang Xiaho pura-pura sedikit tersinggung.


" Bukan begitu Paman Wang… Tapi di atas gunung ada gunung, di atas langit ada langit. Baru keluar perguruan masa siauwtee berani berpikir demikian?"


" Heh, rendah hati itu memang sifat yang baik Ding Tao, tapi kau juga harus bisa menilai dengan lebih seimbang. Jangan kemudian terlampau rendah menilai diri sendiri. Sekarang aku hendak bertanya padamu, semenjak kau keluar berkelana, apakah kau pernah kalah dalam satu pertarungan?"


" Eh…, satu kali, sewaktu pertama kali melawan Sepasang Iblis Muka Giok.", jawab Ding Tao dengan ragu-ragu, karena dalam hati kecilnya dia harus mengakui bahwa dirinya tidak merasa kalah melawan sepasang iblis itu.


" Hmm… sepasang iblis itu termasuk jagoan juga, tidak banyak yang bisa menghadapi mereka saat mereka bertarung berpasangan. Lagipula, bukankah waktu itu engkau dikeroyok oleh banyak orang?", tanya Wang Xiaho menyelidik.


" Tidak juga paman, sewaktu melawan sepasang iblis itu, yang lain sudah pada menyingkir."


" Oh begitu, tapi itu terjadi saat kau menderita luka dalam, bukankah begitu?", ujar Wang Xiaho teringat cerita Ding Tao tentang apa yang dia lakukan beberapa bulan ini.


" Eh, ya, begitulah paman."


" Lalu di pertemuan yang kedua kalinya melawan sepasang iblis itu, keduanya tidak bisa mengalahkanmu. Ding Tao jangan kau sembunyikan sesuatu, katakan dengan jujur, bukankah sebenarnya di pertarungan yang kedua ini, kau yang memenangkannya?"

__ADS_1


__ADS_2