Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
74. Chapter 74


__ADS_3

Sepasang Iblis muka giok, mulai merasa putus asa, dengan melemahnya Iblis betina, Iblis Jantan harus mencurahkan sebagian dari perhatiannya untuk melindunginya. Mata pedang Ding Tao tidak membeda-bedakan lelaki dan perempuan, artinya jika Iblis jantan melupakan pertahanan sendiri mata pedang Ding Tao akan mampir di tubuhnya.


Melewati jurus ke 120, Sepasang Iblis Muka Giok perlahan-lahan semakin jarang menyerang, mereka dipaksa untuk bertahan dan bertahan.


Nasib sepasang iblis itu kini berada di tangan Ding Tao. Sudah banyak orang mati di tangan sepasang iblis ini, dosa mereka sudah bertumpuk-tumpuk. Seandainya Ding Tao membunuh mereka hari ini, nama dan kisah kepahlawanannya akan makin melambung tinggi. Sudah bisa dipastikan akan banyak orang yang simpati pada perjuangan anak muda ini, karena tidak sedikit keluarga dan sahabat dari korban sepasang iblis ini, mendendam tapi tidak ada kemampuan untuk melampiaskan sakit hati. Kematian mereka akan disambut dengan sorak sorai.


Dalam kisah kepahlawanan yang sering dia dengar di masa kecil dan remajanya, Ding Tao ikut bersorak bersama pendengar dan penonton yang lain, saat sang jagoan berhasil membinasakan iblis yang jahat, pembesar yang korup dan penjahat-penjahat jenis lainnya.


Tapi pengalamannya saat bertarung melawan Fu Tsun, Xiang Long dan sepasang iblis ini beberapa bulan yang lalu, memberikan kesan tersendiri dalam hati dan benak Ding Tao.


Erangan kematian, kengerian tang menyorot di mata mereka. Entah kejahatan apa saja yang mereka lakukan di kehidupan mereka sebelumnya, seandainya Ding Tao tahu mungkin tidak akan timbul rasa belas kasihan dalam hatinya.


Namun Ding Tao bahkan tidak mengenal mereka sebelumnya, bagi Ding Tao saat itu mereka hanyalah orang-orang, manusia yang tak ada bedanya dengan dirinya. Yang hanyut dalam permainan kekuasaan segelintir orang, saling bentrok, saling bunuh demi sebatang pedang.


Betapa sia-sianya kematian mereka.


Sekarang pemuda ini kembali dihadapkan pada keadaan yang serupa. Apakah dia akan membunuh sepasang iblis itu? Tiba-tiba hati Ding Tao melemah, beberapa kali dia melihat hubungan yang dalam antara sepasang iblis itu, saat ada serangan mematikan yang mengarah pada pasangannya, tanpa segan-segan mereka membahayakan diri sendiri demi menyelamatkan pasangannya. Akibatnya tubuh sepasang iblis itu pun dihiasi dengan lebih banyak luka.


Tindakan itu tentu saja merugikan mereka, karena serangan Ding Tao itu membuka pertahanan dirinya, alangkah lebih baik jika mereka memanfaatkan lobang pertahanan yang terbuka untuk mengirimkan serangan yang mematikan pada Ding Tao.


Tapi rupanya sepasang iblis itu sudah mulai jeri terhadap Ding Tao, mereka tidak berani mengambil resiko. Ada ketakutan bahwa Ding Tao akan mencoba mengajak mereka mati bersama. Sehingga Ding Tao akan tetap melanjutkan serangannya meskipun itu mungkin berarti kematian, tapi kematiannya akan diiringi pula dengan kematian seorang dari iblis itu.


Pada awalnya Ding Tao yang melihat hal itu, memanfaatkannya untuk melakukan serangan-serangan tipuan. Menyerang Iblis betina padahal yang dia incar adalah Iblis jantan, demikian juga sebaliknya.


Tapi lambat laun, kesetiaan pasangan itu, yang rela mati demi kekasihnya menggerakkan hati pemuda ini. Rasa belas kasihannya timbul, tidak tega dia mendesak terus keduanya.Tenaganya tidaklah jauh melebihi keduanya, saat ini Ding Tao sudah mulai kelelahan. Jika ada sedikit kelebihan itu karena Ding Tao lebih pandai mengatur tenaga.


Jika dia mau memenangkan pertarungan, maka tidak ada jalan lain kecuali membunuh salah satu dari sepasang iblis itu. Tapi hatinya tidak tega, beberapa kali Ding Tao melepaskan kesempatan yang baik, karena tertahan oleh belas kasihan.


" Tahan, mari kita bicara!",

__ADS_1


pada saat sepasang iblis itu sudah di ambang pintu keputus asaan, tiba-tiba Ding Tao berteriak sambil melompat mundur beberapa langkah jauhnya dari sepasang iblis itu.


Sama sekali tidak terpikir di benak sepasang iblis itu untuk mengejar mundurnya Ding Tao. Dari tenaga yang digunakan pemuda itu untuk melompat ke belakang, mereka bisa membanding-bandingkan keadaan mereka dan keadaan pemuda itu. Sepasang iblis itu pun cepat-cepat menggunakan jeda yang ada untuk mengatur nafas.


Iblis jantan yang masih lebih segar dari pasangannya membuka mulutnya,


" Ding Tao apa maumu? Apa kau sudah yakin akan memenangkan pertarungan ini? Dan sekarang kau ingin coba memeras kami? Atau mungkin kau ingin menyombongkan kehebatanmu di depan kami?"


Perlahan Ding Tao maju mendekat sambil menggelengkan kepala, sepasang iblis itu tanpa sadar menegang, tapi Ding Tao tidak menyerang dia hanya bergerak mendekat, meskipun pedangnya masih terhunus dan siap digunakan. Melihat Ding Tao tidak berniat berbuat curang, sepasang iblis itu sedikit mengendorkan ketegangan mereka.


Dengan jarak yang tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh, Ding Tao menjawab,


" Tidak, tidak ada maksud untuk memeras kalian ataupun menyombongkan diriku. Meskipun kurasa jika kalian mau jujur, bukanlah satu kesombongan jika kukatakan aku akan bisa mengalahkan kalian dalam beberapa belas jurus lagi."


" Kami masih punya ilmu simpanan,"


Sebelah alis Ding Tao terangkat, ia memandang Iblis jantan dengan sorot mata yang tajam. Di bawah pandangan mata Ding Tao, iblis jantan tiba-tiba merasa gentar.


" Terserahlah apa katamu, yang pasti menurut kataku, dalam belasan jurus satu di antara kalian akan mati."


Ujar Ding Tao akhirnya, setelah beberapa lama memandang tajam ke arah Iblis jantan, berharap dia mau jujur akan keadaannya.


Iblis betina yang sudah mulai teratur kembali nafasnya menjawab dengan sengit,


" Mati ya mati, lalu apa maumu? Ternyata kau hanya hendak menyombongkan dirimu saja!"


Ding Tao menggelengkan kepala,


" Bukan itu maksudku, aku hanya ingin kita sepakat akan keadaan kita saat ini. Aku bisa menang dan hanya bisa menang jika aku membunuh salah satu dari kalian."

__ADS_1


Untuk beberapa saat Ding Tao diam menunggu saat dilihatnya sepasang iblis itu tidak menyangkal, dia melanjutkan,


" Tapi aku tidak ingin membunuh kalian…"


" Hmm… apa yang kau mau sebagai gantinya?", desis iblis jantan.


" Satu hal saja, jangan ganggu aku lagi.", jawab Ding Tao.


Kemudian dia buru-buru menambahkan,


" … dan kalau kalian tidak keberatan sebisa mungkin hentikan saja tingkah kalian yang kesetan-setanan itu. Aku tahu kalian pandai menyamar, kalian bisa dengan mudah memulai hidup baru."


Melongo sepasang iblis itu, jawaban Ding Tao di luar dugaan mereka, bukan hanya jawabannya tapi juga cara pemuda itu menyampaikannya. Biasanya jika seorang biksu atau pendeta yang taat beragama berhasil menaklukkan kawanan penjahat lalu mengkhotbahi mereka agar kembali ke jalan yang benar, tentu tidak seperti lagak Ding Tao saat ini.


Masa untuk itu pun pemuda itu menambahkan, …kalau kalian tidak keberatan…


" Heh… heh.. hehehehe… hahah hahahaha.", Iblis jantan tertawa berkakakan, tapi di antara tawanya terdengar kepahitan.


" Anak muda kau ini aneh sekali. Tidak tahukan kau siapa kami ini? Kami ini Sepasang Iblis Muka Giok, tangan kami sudah berlumuran darah dan kau dengan ringannya mengatakan, jika kami tidak keberatan, baiknya kami memulai hidup baru.",


Pandang mata iblis jantan saat itu tidak nampak seperti setan, tapi nampak penuh kesedihan.


Ding Tao tentu saja merasa kejut dan heran, dia tidak akan heran jika iblis jantan memakinya atau menyumpahinya atau bahkan dengan licik coba menyerangnya. Tapi sorot mata yang penuh kesedihan, sangat tidak sesuai untuk seorang iblis seperti dia. Belum habis keterkejutannya, dia mendengar isak tangis tertahan, saat dia menengok untuk melihat sumber suara itu, ternyata iblis betina sedang meneteskan air mata dan menangis tanpa suara.


" Ini… ini… kalian ini kenapakah?", antara merasa lega dan bingung Ding Tao tidak tahu harus mengatakan apa atau berbuat apa.


Jika mereka main curang, justru dia tahu apa yang harus dia lakukan. Jika mereka menyerangnya dengan jurus mereka yang paling keji, dia sudah melihatnya dan tahu cara memunahkannya. Tapi sekarang mereka menangis, lalu apa yang harus dia lakukan?


" Sudahlah, hanya cerita lama yang tidak ingin kukenang.", jawab Iblis jantan dengan singkat.

__ADS_1


__ADS_2