
Ketika dilihatnya sesuatu yang kurang pas menurut perasaannya, tanpa sadar dia bergumam,
" Ah, bunga itu seharusnya dipindahkan, sedikit digeser mundur, sementara jalan setapak dibuat sedikit berkelok. Lalu bukit kecil yang di bagian sana, tentu lebih indah lagi kalau tanah di depannyasedikit direndahkan".
Tidak sadar bahwa gadis berbaju putih sudah ada di sampingnya dan sedang mendengarkan dengan seksama.
" Menurut Saudara Ding, itu akan membuat taman ini jadi lebih indah?", tegurnya bertanya.
Tersadar dari lamunannya Ding Tao menengok ke samping dan meminta maaf,
" Ah, tidak juga, tidak juga, cuma sempat lewat dalam benak saya. Tapi taman ini sungguh sangat indah, saya sendiri belum tentu mampu menata yang seperti ini"
Terdiam Ding Tao tidak tahu harus berkata apa, gadis berbaju putih mengitarkan pandangannya ke sekeliling taman. Merenung.
Ding Tao-lah yang akhirnya memecahkan kebisuan itu,
__ADS_1
" Nona, kukira sudah saatnya aku berpamitan. Budi baik nona akan selalu kuingat, bila nona tidak keberatan, bolehkah aku tahu siapa nama nona?"
" Namaku?",
gadis itu menoleh dan bertanya balik.
Matanya yang bulat jeli, seakan bertanya, apa ada maksud lain dibalik pertanyaanmu?
" Ya, nama nona, itu jika nona tidak berkeberatan. Rasanya aneh jika saya sampai tidak tahu nama penolong saya sendiri.",
Gadis berbaju putih itu tersenyum dan jika saat diam dia sudah nampak cantik dan anggun, saat tersenyum, senyumnya membawa rasa hangat di dadamu. Senyum yang seakan berkata, aku tahu dirimu dan apa yang kulihat dalam dirimu, aku menyukainya.
" Namaku Murong Yun Hua dan Saudara Ding kuharap kau mau menginap di kediaman kami beberapa hari lamanya. Sudah lama tidak ada tamu yang berkunjung. Melihat orang yang sama setiap hari, meski kau sangat menyukai orang itu, lama-lama timbul juga rasa sebal dalam hati. Sesekali bertemu orang yang berbeda, seperti membuka jendela di pagi hari dan merasakan angin yang sejuk menerpa wajahmu".
" Tapi, apakah tidak merepotkan?", jawab Ding Tao dengan sedikit segan.
__ADS_1
Ding Tao punya banyak alasan untuk merasa segan, pertama dia bukan sedang dalam perjalanan tamasya, ada tugas yang dia sandang di pundaknya. Lalu hawa murni Tinju 7 Luka yang masih mengeram dalam tubuhnya, sehari hawa murni itu masih mengeram di sana, sehari pula dia tidur dengan rasa was-was. Pertarungannya dengan Sepasang Iblis Muka Giok, membuktikan bahwa kekhawatirannya punya alasan yang kuat.
Dan satu alasan lagi, Murong Yun Hua terlalu cantik, jika dia berlama-lama dekat gadis itu, Ding Tao khawatir hatinya akan berubah. Jika itu terjadi, lalu bagaimana dengan Huang Ying Ying yang menanti dirinya dengan setia?
" Apakah kau keberatan? Apakah tingkah nakal adikku sudah mengesalkanmu?", tanya Murong Yun Hua dengan wajah sedih.
" Jangan salah paham Nona Murong, bukan begitu, adik nona memang nakal, tapi aku tahu hatinya baik. Tidak nanti aku memendam rasa kesal padanya", jawab Ding Tao dengan rasa bersalah.
Sambil memalingkan wajah gadis itu menyambung dengan sendu,
" Ya, kutahu, tentu bukan karena adikku sifatku memang buruk, sering adikku bilang, aku terlalu pendiam dan membosankan. Saudara Ding, maafkan aku sudah berusaha menahanmu di sini, padahal kau tentu ada keperluan yang lebih penting di tempat lain".
Caranya mengatakan keperluan yang lebih penting seakan mengatakan, tentu ada orang lain yang sudah menarik hatimu di tempat lain. Apalah artinya diriku ini? Lalu bukankah tidak salah juga kalau dikatakan demikian, bukankah ada Huang Ying Ying di Wuling? Murong Yun Hua sudah tidak menahan dirinya untuk menginap, lalu mengapa Ding Tao tidak juga pergi? Jika Ding Tao laki-laki yang tidak berperasaan, sudah tentu dia akan pergi. Jika Ding Tao laki-laki yang tidak mengenal arti kesetiaan, sudah tentu sejak tadi undangan untuk menginap diterimanya.
Ding Tao punya perasaan, bahkan perasaannya peka dan halus. Ding Tao juga tahu arti kata setia. Jadi apa yang hendak dia lakukan? Apakah dia akan menerima undangan Murong Yun Hua atau tidak?
__ADS_1