Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
20. Chapter 20


__ADS_3

Saat itu Gu Tong Dang tampak jauh lebih tua dan lemah dari Gu Tong Dang dua tahun yang lalu. Berdua mereka hidup dengan sangat sederhana dalam suasana yang penuh keprihatinan. Mereka sadar mereka harus baik-baik dalam menyembunyikan diri.


Jika sebelumnya mereka sudah terbiasa hidup serba berkecukupan dalam naungan keluarga Huang, sekarangmereka harus bekerja keras sebagai buruh kasar hanya untuk makanan secukupnya. Tidur di tanah yang keras dengan hanya beralaskan selembar kain tipis dan kasar.


Bagi Ding Tao yang masih muda hal itu tidak banyak mengganggu kesehatannya, bahkan kerja keras dan latihan-latihan yang dia jalani, justru membuat tubuhnya makin sehat dan kuat.


Tapi bagi Gu Tong Dang yang sudah berumur, kehidupan itu sedikit banyak menurunkan kesehatannya. Meskipun tidak sampai jatuh sakit, namun kekuatan fisiknya jauh lebih menurun dibandingkan dua tahun yang lalu. Lagipula guru tua itu sungguh-sungguh memperhatikan kemajuan dan kesehatan muridnya. Tidak jarang guru tua ini, mengurangi jatah makannya sendiri agar Ding Tao yang masih bertumbuh dapat makan dengan layak.


Pemuda itupun sesungguhnya berusaha menolak, namun Gu Tong Dang berkeras hati, sehingga akhirnya diapun menerimanya, meskipun dengan hati yang merasa bersalah dan sangat terharu oleh kebaikan guru tua itu.


Dan saat hendak meninggalkan gurunya ini, pemuda itu mau tidak mau kembali tersentuh perasaannya, melihat kondisi Gu Tong Dang yang tiba-tiba saja seperti bertambah 10 tahun usianya.


Terenyuh, pemuda itu hanya bisa menyampaikannya dengan kata-kata yang pendek, ketika dia berusaha membicarakan dengan Gu Tong Dang mengenai keinginannya untuk menengok kembali keluarga Huang dan meluruskan kesalah-pahaman yang mungkin timbul 2 tahun yang lalu.


Guru tua itu medengarkan penjelasan Ding Tao yang terbata-bata dengan sabar. Lama dia tidak menjawab, Ding Tao pun hanya bisa menunggu sambil terdiam.


Ketika akhirnya dia menjawab, dia terlebih dahulu menepuk-nepuk pundak pemuda itu dengan rasa sayang,


―Ding Tao, muridku. Sepertinya aku tidak akan bisa mencegah lagi kepergianmu. Bekalmu pun kupandang sudah cukup banyak. Hanya saja, sebelum engkau pergi, dengarkan dulu penjelasan gurumu ini.‖


―Ding Tao apakah kamu percaya dengan perkataan gurumu ini? Apakah kamu percaya dengan ketulusan gurumu ini? Bahwasannya, setiap nasihatku adalah untuk kebaikanmu?‖


Ding Tao mengangguk dengan tegas,


―Tentu guru, budi guru tidak akan pernah kulupakan. Kebaikan guru akan selalu kuingat.‖


Gu Tong Dang terkekeh mendengar jawaban Ding Tao,


―Anak bodoh, bukan itu yang kutanyakan. Tentang hal itu aku tidak ragu. Namun yang aku tanyakan, bisakah kau mempercayai dan melakukan setiap nasihat yang akan kuberikan ini?‖


Dengan alis terangkat Ding Tao balik bertanya, ―Tentu saja guru. Apalah ada bedanya? Budi guru setinggi langit, murid tidak akan lupa. Bagaimana mungkin murid akan meragukan nasihat guru atau melanggar nasihat guru? Kalau guru meragukan kesetiaanku sebagai murid, biarlah murid bersumpah."


Cepat-cepat Gu Tong Dang mengulapkan tangannya, menghentikan Ding Tao yang saat itu hendak mengucapkan sumpah,


― Jangan, jangan kau bersumpah apapun anakku.‖


―Sudahlah, kalau aku belum mengatakannya, mungkin sukar bagimu untuk memahami permintaanku ini. Baiklah biar aku katakan saja, lagipula aku tidak ingin mengikatmu dengan sumpah apapun, karena aku tahu sifatmu. Aku tidak ingin kau terikat dengan satu sumpah, hingga kau melakukan sesuatu yang kau benci.‖


―Tapi dengarkanlah perkataanku baik-baik. Simpanlah dalam hatimu sebagai satu pertimbangan dalam kau mengambil keputusan. Terutama dalam masalah kedudukanmu saat ini dalam dunia persilatan.‖


Tercenung Ding Tao mendengar perkataan gurunya, tapi dengan patuh dia menganggukkan kepala dan menanti nasihat dari gurunya itu. Gu Tong Dang yang mengerti benar sifat dari muridnya itu merasa cukup puas dengan anggukan kepala.


Berhadapan dengan orang yang jujur, satu anggukan kepala atau kesediaan sudah cukup. Namun dengan orang yang curang hatinya, sumpah atas nama kakek moyang sampai tujuh turunan pun bukanlah satu jaminan.


―Nah dengarkanlah riwayat dari pedang yang sekarang menjadi milikmu itu.‖


―Seperti yang sudah pernah kukatakan padamu, pedang itu bernama Pedang Angin Berbisik, pertama kali muncul dalam dunia persilatan, kurang lebih 15 tahun yang lalu. Pemiliknya seorang pendekar pedang kenamaan dari Emei. Kurasa tentang hal ini kaupun sudah cukup tahu, karena nama pendekar itu dan kisah kematiannya sangatlah dikenal orang.‖


―Tapi mungkin yang belum benar-benar kau sadari adalah arti dari pedang itu bagi orang-orang dalam dunia persilatan.‖


―Sebenarnya, sebelum kematiannya yang misterius, banyak orang menaruh harapan pada pendekar pedang Jin dari Emei itu. Sudah berpuluh-puluh tahun ini, para pendekar aliran lurus dalam dunia persilatan seperti hidup di atas panggangan api.‖


―Kau tentu pernah mendengar pula nama Pendekar Ren Zuocan, dari sekte sesat Bulan dan Matahari, yang pusat kekuatannya berada di luar perbatasan. Ilmunya tinggi dan organisasinya pun teratur rapi. Ambisinya melebihi tingginya Gunung Himalaya.

__ADS_1


Jika bukan karena keberadaan Biksu Kongzhen dari Shaolin yang menguasai Telapak Buddha dan Pendeta Tao Chongxan dari Wudang dengan ilmu pedang Taiji-nya, mungkin sudah lama dia meluruk ke dalam perbatasan.‖


―Tapi bahkan kedua tokoh itupun tidak mampu mengalahkan Ren Zuocan, Ren Zuocan memiliki satu ilmu kebal yang aneh, mungkin setingkat dengan ilmu baju besi milik ketua Shaolin di generasi sebelumnya, atau bahkan lebih. Selain itu, Shaolin dan Wudang yang berlandaskan agama, tidak mau mengambil tindakan menyerang, karena Ren Zuocan pun masih menahan diri dan tidak dengan terang-terangan menunjukkan ambisinya.‖


―Dengan demikian, orang-orang persilatan di daratan pun merasa hidup di atas panggangan api. Semua bisa merasakan ada bahaya yang mengancam, tapi tidak ada kekuatan untuk melawan.‖


―Perguruan-perguruan lain selain Shaolin dan Wudang sedang meredup bintangnya, sementara dua perguruan yang bisa diharapkan itu, justru memilih sikap bertahan. Dengan cemas mereka hanya bisa melihat Sekte Bulan dan Matahari tumbuh semakin kuat, beberapa rumor mengatakan bahwa di dalam daratan sendiri sudah ada beberapa perguruan yang berjanji setia kepada sekte Matahari dan Bulan secara diam-diam.‖


―Kaupun tentu pernah mendengar bahwa 5 tahun sekali, Ren Zuocan mengadakan pertemuan persahabatan antar pendekar dunia persilatan. Di luaran dia memberikan alasan, pertemuan itu diadakan untuk saling kenal dan melakukan pertandingan persahabatan demi kemajuan ilmu bela diri. Yang sesungguhnya, itu hanyalah suatu cara untuk menjajagi tingkat kekuatan pendekar-pendekar silat di daratan.‖


―5 kali sudah pertemuan itu dilakukan, hingga saat terakhir Biksu Kongzhen dan Pendeta Chongxan masih mampu menunjukkan bahwa kekuatan mereka tidaklah di bawah Ren Zuocan dan dengan demikian secara tidak langsung sudah


membendung ambisi Ren Zuocan yang meluap-luap bak air bah.‖


―Tapi semua orang pun sadar, umur Biksu Kongzhen dan Pendeta Chongxan sudah hampir memasuki usia lanjut. Ilmu mereka sudah sulit lagi untuk ditingkatkan, sementara fisik


mereka justru mulai menurun. Ren Zuocan di pihak lain, masih berada dalam usia puncaknya dan dengan sabarnya dia menunggu saatnya tiba. Banyak orang berpendapat, pada pertemuan lima tahunan yang berikutnya, kedua tetua itu sudah akan berada di bawah tataran Ren Zuocan.‖


―Penilaian ini bukannya tidak beralasan, pada pertemuan 5 tahunan yang terakhir, yaitu 3 tahun yang lalu. Secara perseorangan kekuatan kedua tetua itu sudah seusap di bawah kekuatan Ren Zuocan. Hanya saja bila keduanya maju bersamaan tentu Ren Zuocan masih bukan tandingan mereka berdua.‖


Ding Tao yang ikut hanyut dalam penjelasan gurunya tanpa terasa berbisik,


―Tapi jika tahun depan mereka bertemu kembali…‖


Gu Tong Dang mengangguk setuju,


―Ya, benar. Pada pertemuan tahun depan, mungkin bahkan secara bersamaan pun kedua tetua itu bukan lagi tandingan dari Ren Zuocan.‖


―Guru, apakah seluruh daratan hanya bergantung pada kedua tetua itu? Tidak adakah pengganti mereka dari generasi yang lebih muda?‖


―Itu sebabnya dalam ratusan tahun sejarah sekte Wudang, hanya ada satu Zhang Sanfeng.‖


―Aku pribadi tidak setuju dengan pendapat banyak orang, bahwa seorang murid tidak akan lebih maju dari gurunya. Ilmu bela diri, seperti juga ilmu dan keahlian yang lain, berasal dari sumber yang asali, yang hakekatnya jauh lebih besar dari manusia yang manapun. Dan mereka yang berbakat serta mencapai pencerahan sesungguhnya belajar lewat sumber yang satu ini. Dengan demikian mereka ini akan mampu melampaui guru pengajarnya, karena sesungguhnya guru pengajar mereka adalah sumber yang tidak terbatas ini.‖


―Setiap beberapa masa selalu saja muncul tokoh-tokoh yang mampu menggali lebih dalam ilmu yang sudah ada dan menggapai tingkatan yang jauh lebih tinggi dari tokoh-tokoh yang hidup sebelum dirinya. Mereka ini yang menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.‖


―Tapi sebagaimana hal-hal lain dalam dunia ini, ilmu bela diri pun mengalami pasang surutnya. Ada masanya tokoh-tokoh berbakat bermunculan, tapi ada juga masanya ketika tingkatan murid selalu saja berada di bawah gurunya dan ilmu bela diripun dari tahun ke tahun semakin merosot nilainya.‖


―Dan sekarang ilmu bela diri di daratan sedang mengalami masa surutnya.‖


Ding Tao dengan alis berkerut bertanya pada Gu Tong Dang,


―Guru, sebenarnya apa masalahnya kalaupun Ren Zuocan lebih kuat dari tokoh-tokoh bela diri dari daratan, apa pula masalahnya kalau dunia persilatan dikuasainya? Bukan maksudku tidak cinta pada negara, tapi asalkan urusan dunia persilatan tidak melebar ke masalah pemerintahan, bukankah rakyat masih bisa hidup tenang. Paling-paling yang berbeda, kalau dulu bayar pajak keamanan di dunia hitam pada orang sendiri, sekarang bayar pajak keamanan pada orang luar.‖


Gu Tong Dang menggeleng dengan sabar, ―Sedikit banyak sebenarnya pertanyaanmu itu sendiri sudah mengandung jawaban. Pertama-tama ini masalah harga diri bangsa, jika orang dunia persilatan dari luar perbatasan menginjak-nginjak kita, adalah satu ketidak-setiaan jika kita berdiam diri.‖


―Tapi yang lebih penting lagi adalah, sebuah negara menjadi kuat adalah dari kekuatan setiap rakyatnya. Sebagai golongan orang yang mementingkan ilmu bela diri dalam hidupnya, bisa dikatakan, golongan kita-kita ini memegang peranan penting dalam pertahanan bangsa. Jika Ren Zuocan berhasil menguasai kita, bukan tidak mungkin hal itu merupakan batu loncatan bagi suku di luar perbatasan untuk menyerang pemerintahan kita.‖


Suasana di dalam ruangan itu menjadi begitu sepi, ketika kedua orang dengan umur yang berbeda sedang merenungi masa depan yang tampak suram.


Adalah Ding Tao yang pertama kali memecahkan suasana,


―Guru, tadi guru hendak menjelaskan hubungan pedang ini dengan nasib dunia persilatan.‖

__ADS_1


Gu Tong Dang terhenyak kembali dari lamunannya, matanyapun bersinar nakal,


―Heheheh, ya, ya, bicara ke sana ke mari, otakku yang pikun jadi lupa dengan masalah yang penting.‖


―Nah, kau tadi bertanya tentang generasi baru yang mampu menggantikan kedua tetua itu. Sesungguhnya tokoh itu sempat muncul. Yaitu kira-kira pada 15 tahun berselang.‖


Berhenti pada pernyataan itu, Gu Tong Dang memandangi Ding Tao, menanti pemuda itu sampai pada kesimpulan yang diinginkannya. Otak Ding Tao berputar dengan cepat, dari pandangan gurunya dia bisa menangkap bahwa sesungguhnya setiap informasi sudah diberikan dan dia harus dapat menarik kesimpulannya.


Bukan seperti kanak-kanak yang harus selalu disuapi nasi, tapi Ding Tao sudah harus bisa menganalisa sendiri informasi yang ada.


Tidak butuh waktu berapa lama Ding Tao sudah sampai pada kesimpulan, dengan hati-hati di abertanya,


―Guru, apakah yang guru maksudkan adalah Pendekar pedang Jin Yong dari aliran


Emei?‖


―Hmm… memang dia orangnya. Hampir setiap orang menanti-nantikan pertemuan lima tahun yang akan diadakan waktu itu. Tidak kurang Biksu Kongzhen dan Pendeta Chongxan sendiri yang memberikan penilaian. Umurnya memang masih terpaut jauh dengan kedua tetua itu dan juga dengan Ren Zuocan, dengan sendirinya dari segi tenaga dalam dan kematangan ilmu masih ada selisih yang cukup jauh.‖


―Tapi Pendekar pedang Jin Yong memiliki bakat yang bagus dan pemahaman yang dalam serta otak yang encer. Lebih penting lagi, dia bernasib baik sehingga Pedang Angin Berbisik ini jatuh ke dalam tangannya.‖


―Ding Tao, sekarang coba aku tanya kepadamu, dalam berkelahi menggunakan pedang, manakah yang lebih penting, antara kekuatan atau keuletan, pemahaman akan limu bela diri dan kecepatan atau kelincahan?‖


Ding Tao menggosok dagunya dengan jari, kemudian menjawab,


―Hmm… dengan tangan kosong kekuatan dan ketahanan tubuh akan berpengaruh banyak. Tapi dengan menggunakan senjata tajam, tubuh yang seliat apapun akan bisa dilukai dengan ujung besi yang tajam. Dari ketiganya, pemahaman akan ilmu bela diri dan kelincahan lebih berpengaruh. Dan dari kedua hal itu, kelincahan, baik dalam bereaksi maupun dalam beraksi akan lebih menentukan.‖


Gu Tong Dang mengangguk-angguk,


―Ya, benar perkataanmu. Dengan bertambahnya usia, himpunan tenaga dalam seseorang bisa jadi bertambah mapan, wawasan dan pengalamanpun akan semakin dalam. Tapi ketika pertarungan dilakukan dengan menggunakan senjata tajam, dua hal itu kalah pengaruhnya dengan kecepatan. Mungkin dengan pengalaman yang matang seseorang bisa mengambil keuntungan, tapi seperti yang kukatakan tadi Pendekar pedang


Jin, adalah seseorang yang berbakat dan berotak encer.‖


―Dan yang lebih penting, dia memiliki Pedang Angin Berbisik, sebilah pedang yang teramat tajam dan ulet. Ren Zuocan boleh membanggakan ilmu kebalnya ketika menghadapi senjata-senjata yang lain, tapi di hadapan Pedang Angin Berbisik, ilmu kebalnya boleh dikatakan mati kutu.‖


Sejenak wajah Ding Tao menjadi cerah, tapi secepat itu pula wajahnya kembali kelam,


―Ah… sayang, seribu sayang. Guru siapa orangnya yang begitu culas hingga meracun Pendekar pedang Jin? Apakah orang ini tidak mengerti bagaimana boleh jadi nasib seluruh bangsa tergantung di atasnya?‖


Gu Tong Dang menggeleng dengan sedih, ―Entahlah, siapa yang tahu. Sejak dulu ada saja orang dengan hati serakah dan berjiawa pengkhianat. Yang demi keuntungannya sendiri rela menjual saudara-saudaranya.‖


Ding Tao tiba-tiba seperti teringat pada sesuatu, ―Guru, tapi sekarang pedang ini ada di tangan kita, mengapa tidak kita berikan pedang ini pada Biksu Kongzhen atau Pendeta Chongxan?‖


―Muridku, apakah kau lupa yang tadi kukatakan, kedua tetua ini mengabdikan dirinya untuk menjalani hidup beragama.


Meskipun pedang ada di tangan mereka, tidak nanti mereka akan menggunakannya untuk mengambil nyawa atau melukai Ren Zuocan. Tidak akan, selama Ren Zuocan masih bersikap dengan cerdik seperti saat ini. Lalu setelah kedua tetua itu semakin menurun kemampuannya, dengan atau tanpa pedang, mereka bukanlah tandingan Ren Zuocan. Rencanamu itu hanya akan memperpanjang nafas selama beberapa tahun. Pendekar sehebat apapun, akhirnya harus takluk pada usia.‖


―Celaka, celaka, apa gunanya pedang ini ada, jika tidak ada pemilik yang tepat. Malah yang timbul bencana demi benacana, sesama saudara sebangsa saling membunuh demi sebilah pedang.‖


, tanpa terasa Ding Tao mengeluh menyayat hati.


Dengan geram dia memandangi pedang yang sekarang ada di tangannya, terbayang betapa gara-gara pedang itu Pendekar besar Jin Yong mati diracun, kemudian tidak terbilang tokoh-tokoh dunia persialtan yang mati memperebutkan pedang itu.


Dan gara-gara pedang itu pula, hidupnya jadi terlunta-lunta dan terpisah dari orang yang dikasihi, dengan hati geram dia berucap,

__ADS_1


―Guru! Sebaiknya pedang ini aku tenggelamkan saja di lautan luas atau lebih baik lagi aku ceburkan dalam kawah gunung berapi, biar dia hancur lebur tak berujud.‖


Gu Tong Dang yang kaget membelalakkan matanya, ―Anakku, anakku… bagaimana mungkin kau berpikir seperti itu.


__ADS_2