
Mendengar suara itu Ding Tao segera mengenalnya, siapa lagi jika bukan Sepasang Iblis Muka Giok. Tapi kali ini Ding Tao tidak gentar menghadapi mereka. Dengan kondisinya saat ini dia punya keyakinan untuk melawan sepasang Iblis itu.
Dengan senyum tawar dia menjawab,
" Memang benar, aku sudah kangen, kangen, tidak tahan ingin memberi hajaran pada pantat kalian yang bau itu".
Dengan suitan nyaring sepasang Iblis itu melompat keluar dari tempat mereka bersembunyi. Kali ini sepasang Iblis itu rupanya sedang ingin menakut-nakuti orang. Karena dandanan mereka benar-benar cocok jika dikatakan sebagai setan. Wajah mereka diwarna hingga tampak pucat kehijauan, rambut digerai ke belakang dan bibir merah seperti darah.
Iblis jantan dengan mata menyala memandangi Ding Tao yang berdiri dengan tenangnya. Melihat sorot mata Ding Tao yang makin tajam, gerak-geriknya yang makin ringan dan mantap,
Iblis itu merasa terkejut, tidak disangkanya dalam waktu yang hanya beberapa bulan sudah terjadi perubahan yang begitu besar dalam diri pemuda itu.
" Hmmm… rupanya kondisimu membaik sejak pertemuan terakhir kita, bahkan ilmumu pun sepertinya mengalami peningkatan. Tidak heran sikapmu begitu sombong. Tapi anak muda, tempo hari pun kami tidak berani menggempurmu dengan sungguh-sungguh, karena kami masih menyayangkan nyawamu", ancam Iblis jantan dengan wajah dingin.
" Hahaha, Iblis jantan, jangan bilang bahwa sekarang kau sudah tidak tertarik lagi dengan Pedang Angin Berbisik, karena jika kau masih tertarik, tentu kau harus berhati-hati agar jangan sampai nyawaku melayang dan rahasia tentang di mana Pedang Angin Berbisik itu tersimpan, terkubur bersama dengan kematianku", tawa Ding Tao membuat hati Iblis jantan seperti dikili-kili.
" Setan Alas! Siluman keparat!"
" Eh, mengapa kau memanggil temanmu kemari? Apa sepasang iblis masih kurang untuk mengeroyokku hingga kau ingin pula menambah beberapa setan dan siluman untuk membantumu?", ejek Ding Tao sambil menggeleng-gelengkan kepala.
" Kau yang setan! Tutup mulutmu keparat!", bentak Iblis jantan yang dengan marah langsung menerjang, mengirimkan serangan maut ke arah Ding Tao.
__ADS_1
Serangan yang dilancarkan dengan pertimbangan yang terburu-buru itu dengan mudah dielakkan Ding Tao.
Memanfaatkan kemarahan Iblis Jantan dengan cepat Ding Tao menggeser posisinya ke arah yang menguntungkan, dari sudut itu posisi Iblis jantan terbuka lebar. Sebuah serangan segera dilancarkan Ding Tao dari sana, beruntung bagi Iblis jantan karena Iblis betina tidak terlambat untuk menolong.
Dalam waktu yang singkat, ketiga orang itu terlibat dalam pertarungan yang seru. Belajar dari pengalaman mereka yang sebelumnya, Iblis jantan dan Iblis betina bekerja sama dengan rapat. Tidak lagi mereka mengepung Ding Tao dari dua arah, yang memberi kesempatan pada Ding Tao untuk memecahkan kerja sama mereka.
Ding Tao pun kali ini tidak memiliki keinginan untuk melarikan diri, kedatangan sepasang Iblis itu dipandangnya sebagai kesempatan yang baik untuk menguji apa yang baru dia mantapkan.
Puluan jurus sudah lewat, namun perlawanan mereka masih berimbang. Beberapa tempat di lengan dan kaki Ding Tao sudah tergores senjata lawan. Tapi sepasang Iblis itu juga tidak lepas dari luka-luka. Sebuah goresan memanjang menghiasi pipi Iblis jantan, menambah seram wajah setannya. Sementara iblis betina telah terluka di pundaknya, meskipun hanya luka gores yang tidak membahayakan dan mengganggu keganasannya.
Menghadapi kenyataan bahwa Ding Tao mampu mengimbangi mereka, Iblis jantan mulai habis kesabarannya, dia sadar jika dia masih menahan-nahan serangan untuk menangkap Ding
Jika itu berhasil dilakukannya maka itu satu keuntungan, tapi jika Ding Tao sampai mati di tangannya pun, Iblis jantan tidak akan menyesal.
Gerakan sepasang iblis itu berubah makin ganas, menghadapi sepasang Iblis yang kini mengincar kemenangan dalam bentuk apapun, membuat Ding Tao makin terdesak. Baru sekarang matanya terbuka akan betapa berbahayanya sepasang iblis itu.
Sepasang iblis itupun baru mulai terbuka matanya akan kedalaman tingkat Ding Tao setelah mereka bersungguh-sungguh berusaha menang dengan segala cara tanpa mempedulikan apakah Ding Tao akan tertangkap hidup-hidup atau terkapar di tanah tanpa kepala. Sebelumnya mereka selalu berpikir pemuda itu masih mampu bertahan karena mereka belum mengerahkan segenap kemampuan mereka.
Tapi sekarang setelah mereka mengerahkan segenap kemampuan pun, kemenangan masih jauh dari mata. Benar mereka berhasil mendesak Ding Tao, tapi pertahanan pemuda itu sendiri tidak sampai melemah.
Sesekali Ding Tao masih sempat menyerang dan memaksa mereka mengendurkan serangan.
__ADS_1
Hampir seratus jurus berlalu ketiga orang itu masih bertempur dengan serunya, muka Iblis betina yang didandani dengan warna pucat, semakin pucat, nafasnya mulai tersengal-sengal.
Keringat sudah membasahi tubuh ketiganya tapi di antara mereka bertiga Iblis betinalah yang terlemah. Sepasang Iblis itu pun mulai merasa putus asa, perlawanan Ding Tao bukannya melemah, justru kedudukannya semakin lama semakin mantap.
Inilah sisi yang paling mengerikan bagi lawan-lawan Ding Tao, kemampuannya untuk membaca pola serangan lawan, menganalisa dan mencari jalan untuk memecahkan serangan dan pertahanan lawan, sambil terus bertarung. Inilah yang paling mengerikan dari Ding Tao.
Bertarung dengannya seperti sedang mengejar fatamorgana, sesaat tampaknya dekat, tapi setelah sekian lama kita berlari mendekat, tidak juga bayang yang kita kejar itu menjadi semakin dekat. Bayang-bayang yang kita kejar justru makin menjauh, hingga saatnya kita mulai kehabisan nafas dan bayang-bayang itupun menghilang.
Demikian juga bertarung dengan Ding Tao, saat mulai bertarung dengannya, perhitungan mereka adalah pada jurus ke sekian, pada saat menggunakan jurus tertentu untuk memojokkannya, pada saat penggunaan hawa murni ditingkatkan sampai tahapan ke sekian, dsb, pada saat itu tentu akan tercapai kemenangan.
Kenyataannya saat mereka sudah mencapai titik itu, ternyata kedudukan mereka dan Ding Tao tidak berubah banyak. Semakin lama bertarung, sementara himpunan tenaga mereka semakin melemah, lawan masih melawan dengan perlawanan yang sama kuatnya jika bukan semakin kuat.
Hingga satu titik di mana Ding Tao berada dalam kedudukan untuk mendikte permainan mereka, saat rasa-rasanya palu pengadilan sudah diketukkan dan sudah diputuskan pada siapa kemenangan akan diberikan.
Bila seseorang menganalisa jurus-jurus lawan, setelah pertarungan berakhir, kemudian berusaha menciptakan cara untuk mengalahkannya. Ini adalah hal yang biasa, tapi melakukan hal seperti itu dalam pertarungan itu sendiri, dengan hasil yang sedemikian akurat, inilah yang tidak biasa. Inilah yang dimiliki oleh Ding Tao seorang di jamannya.
Permainan jurus Ding Tao mungkin tidak terlihat ganas, menakjubkan atau mengagumkan. Fokus anak muda itu pertama-tama adalah pada pertahanan yang kuat dan tidak bisa ditembus. Jika dia tidak yakin bisa menghancurkan atau mendikte permainan lawan, Ding Tao tidak akan buru-buru menyerang. Seragan-serangan yang dia lakukan terukur tenaganya dan berfungsi untuk menguji lawan dan sebagai bagian dari pertahanan. Perlahan-lahan saat dia mulai mengenali permainan lawan, menemukan pemecahannya, barulah dia menerapkannya. Pada saat dia sudah mulai melakukan itu, kecuali lawan ternyata masih memiliki simpananlain, pada saat itu sudah bisa ditentukan pada siapa kemenangan akan jatuh. Tapi jika lawan ternyata memiliki simpanan, hal yang sama akan berulang Ding Tao akan kembali pada sikapnya yang memberatkan pertahanan dan menganalisa permainan lawan.
Itu sebabnya mereka yang hanya menonton dari pinggir arena tidak mudah merasa kagum pada pemuda itu, kecuali jika tingkatan mereka berada di bawah lawan Ding Tao. Tapi jika tingkatan mereka lebih tinggi dari lawan Ding Tao, maka penilaian yang umumnya mereka berikan tentang kemampuan Ding Tao lebih sering salah daripada benar.
Mereka akan merasa bisa mengalahkan pemuda itu, jika saja mereka yang menghadapinya. Baru setelah mereka berhadapan, barulah mereka akan merasakan betapa mengerikannya bertarung dengan pemuda ini.
__ADS_1