Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
79. Chapter 79


__ADS_3

Jauh dari jangkauan pendengaran Ding Tao sekelompok kecil pengawal itu membicarakan Ding Tao.


" Ketua Wang, bukankah menurutmu setidaknya kita akan berjumpa dua atau tiga kali dengan kelompok begal di sepanjang perjalanan?", tanya anggota termuda dari biro pengawalan Golok Emas.


" Ketua Wang benar, kita sudah melalui jalur itu beberapa kali dan setidaknya ada tiga kelompok begal yang berkuasa di sepanjang jalur itu. Tapi besaran tarif pajaknya kita juga sudah tahu and Ketua Wang sudah menyiapkannya." jawab seorang di antara mereka.


" Kakak Ho, kalau begitu kenapa kali ini tidak satupun yang kita jumpai? Apakah menurut Kakak Ho itu ada hubungannya dengan Ding Tao berjalan bersama kita?"


" Entahlah, bisa jadi kelompok begal itu sedang punya masalah dalam kelompok mereka. Tapi kukira kemungkinan paling besar, hal itu ada hubungannya dengan Ding Tao, karena untuk mengawasi jalan dan menarik pajak, paling hanya butuh 2-3 orang. Jika ada yang menolak, biasanya mereka tidak langsung bertindak, tapi kembali untuk menghubungi ketuanya, lalu beramai-ramai menyerang kita."


" Tapi tidak kulihat ada yang istimewa dengan Ding Tao, memang badannya tinggi dan berotot, tapi umurnya kurasa tidak jauh berbeda dariku. Aku juga belum pernah mendengar namanya disebut-sebut."


" Hmmm… memang aneh jika 3 kelompok begal takut dengan orang yang tidak bernama. Tubuh tinggi berotot jelas tidak akan menakuti mereka. Biasanya jika mereka tidak berani mengganggu itu karena orang itu memiliki nama besar. Menurut


Ketua Wang bagaimana?"


" Kukira, Ding Tao sedikit banyak tentu sudah membuat nama. Melihat umurnya, kejadian itu mungkin baru-baru ini saja terjadi. Cukup lama kita tidak pergi ke daerah selatan, sehingga berita itu belum sampai ke telinga kita. Dengar, setelah selesai mengantar kita mampir ke rumah Guru Chen Wuxi, dia sahabat baikku yang membuka perguruan di kota ini. Telinganya cukup panjang, jika dugaanku benar, tentu dia sudah mendengar sedikit tentang Ding Tao.", jawab Ketua Wang yang tampaknya cukup penasaran juga dengan Ding Tao.


Begitu urusan mereka dengan rombongan pedagang yang menyewa jasa mereka selesai. Anggota yang termuda dari Biro Pengawalan Golok Emas, mengingatkan Wang Xiaho,

__ADS_1


" Ketua Wang, kita pergi ke rumah Guru Chen sekarang?"


Pertanyaannya itu disambut tertawa keras oleh anggota yang lain,


" Hehehehe, A Sau, kau sudah tidak sabar rupanya."


" Hah, tertawa saja semau kalian, aku memang sudah tidak sabar. Bayangkan saja kalau dugaan Ketua Wang benar, Ding Tao umurnya tidak jauh berbeda denganku. Kalau dugaan Ketua Wang benar, wah itu hebat sekali. Apakah kalian tahu, sepanjang perjalanan Ding Tao sempat memberi beberapa petunjuk padaku dan A Chu.", jawab A Sau sambil memonyongkan mulutnya.


" Hahaha, asal kau jangan bermimpi jadi jagoan saja, jagoan pedang sering-sering berumur pendek, kau tahu itu? Ibumu bisa marah-marah kalau kau berpikir begitu.", jawab Wang Xiaho.


" Iya A Sau, lagipula jadi jagoan pedang tidak gampang, butuh guru yang baik, bakat yang baik dan ketekunan."


" Hmm…, itu rencana yang bagus, akupun kalau sudah mulai berumur akan jadi petani saja. Sayang upahku lebih sering kuhabiskan di pelacuran.", ujar salah seorang yang agak tua.


Ucapan itu tentu saja disambut tertawa oleh yang lain.


" Heheheheh, dasar kau Xiang Lo, ya, ya, pada akhirnya kalian semua nanti akan meninggalkan aku menjalankan biro pengawalan ini sendirian." ujar Wang Xiaho sambil tertawa.


―Ketua Wang, apa tidak punya rencana untuk pensiun juga?", tanya A Sau.

__ADS_1


" Tidak, tidak. Aku tidak punya keahlian apa-apa kecuali berkelahi. Sejak kecil aku sudah belajar ilmu silat dan aku tidak tahu tentang hal yang lain.", jawab Wang Xiaho dengan wajah sedikit suram.


Yang lain jadi tidak berani bertanya lebih lanjut, karena melihat ekspresi sedih dari Wang Xiaho. Salah satu dari mereka tiba-tiba berkata,


" Ketua Wang Xiaho tidak akan sendirian, aku pun tidak ingin ganti pekerjaan, sama seperti Ketua Wang."


" Ah Beng, kaukah itu? Hehe, umurmu masih muda, tunggu saja sampai kau bertemu seorang gadis. Mungkin kau akan berubah pikiran.", jawab Wang Xiaho dengan tertawa, wajahnya sudah kembali seperti semula.


" He, itu benar, kalau ada yang mau bekerja dengan Ketua Wang sampai mati, itu tentunya aku. Sudah setua ini aku belum juga berkeluarga." ujar Xiang Lo.


"Hahaha, makanya jangan terlalu sering main ke pelacuran." ujar Wang Xiaho sambil tertawa terbahak-bahak.


Susul menyusul, satu per satu, anggota biro pengawalan itu menyampaikan keinginan mereka untuk terus mengikut Wang Xiaho. Wang Xiaho adalah seorang pimpinan yang mampu menumbuhkan rasa setia dari pengikutnya. Sambil bercakap-cakap, Wang Xiaho membawa mereka untuk bertemu dengan Guru Chen. Chen Wuxi seorang ahli silat jurus bangau, perguruan yang dia buka tidak terlalu besar, tapi Chen Wuxi memiliki banyak kenalan di dunia persilatan. Sifatnya terbuka dan murah hati, tidak ragu untuk membantu teman yang sedang kesusahan. Melihat Wang Xiaho datang bersama rombongan, cepat Guru tua ini memerintahkan muridnya untuk menyiapkan hidangan dan minuman.


Tubuhnya kurus kering tidak mengesankan sebagai seorang ahli silat, Chen Wuxi lebih menekankan pada penggunaan tenaga lembut daripada tenaga keras.Setelah berbasa-basi Wang Xiaho pun bercerita tentang Ding Tao,


" Jadi Saudara Chen, melihat keadaan pemuda ini, aku jadi penasaran, masa dia belum punya nama di dunia persilatan. Kukira karena umurnya yang masih muda, bisa jadi dia baru-baru ini saja membuat berita. Karena aku sudah cukup lama tidak berjalan-jalan ke selatan aku tidak sempat mendengar namanya. Tapi aku yakin kau pasti tahu tentang kabar-kabar terbaru di selatan sini."


" Hmm… kau bilang dia bernama Ding Tao, badan tinggi besar, wajah lebar cerah dengan garis rahang yang tegas dan mata tajam. Hmm .. Hmm… sulit juga kalau tidak lihat orangnya langsung, tapi kukira Ding Tao yang kau ceritakan ini adalah Ding Tao yag baru saja bikin geger di kota Wuling dan di sebuah kota kecil di sebelah barat Chai Sang," ujar Chen Wuxi sambil meniup-niup tehnya yang masih panas.

__ADS_1


__ADS_2