
Dia yang lebih cepat mengambil inisiatif akan mengambil keuntungan, dia yang lebih mahir akan lebih sedikit menyisakan lubang kelemahan dan dia yang lebih kuat akan memiliki kemungkinan untuk mengacaukan jebakan yang disusun lewat adu kekuatan.
Bagi mereka yang setingkat di atasnya, mereka yang sudah berpengalaman dan sedikit banyak mencicipi satu atau dua jurus simpanan keluarga Huang. Jurus serangan Feng Xiaohong bukanlah jurus yang tidak terpecahkan.
Setelah mengikut sekian lama dan berkelana sekian lama di dunia persilatan, akhirnya mereka pun bisa melihat dan menilai jurus pamungkas yang menjadi milik mereka selama dalam pelatihan. Mereka ini sudah banyak yang mengembangkan sendiri jurus-jurus yang ada berdasarkan apa yang mereka lihat dan alami.
Tentu dengan warna dan bentuknya masing-masing, sesuai dengan bakat dan pengalaman yang unik dari tiap orang.
Mereka ini memandang dengan waspada dan penuh rasa ingin tahu, apakah Ding Tao pun sudah berhasil memecahkan jurus itu? Kalau iya, dengan cara apa pemuda itu akan melakukannya?
Lalu bagi mereka yang memiliki pertalian darah dengan keluarga Huang serta telah menamatkan keseluruhan ilmu keluarga Huang, kelemahan dan pemecahan jurus serangan Feng Xiaoho sudahlah jelas dan bagi mereka itulah cara yang terbaik.
Dengan pandangan dingin mereka menunggu untuk melihat sejauh mana Ding Tao berhasil mendalami jurus-jurus keluarga Huang yang sempat dia pelajari lewat Gu Tong Dang.Terutama mereka yang dekat dengan para pimpinan, karena menghilangnya Ding Tao sudah menjadi salah satu perhatian mereka, Tiong Fa yang menyebarkan para mata-matanya dengan yakin menyatakan bahwa jejak Ding Tao tidak ditemui di perguruan silat atau tokoh persilatan yang mana pun. Itu berarti satu-satunya sumber Ding Tao adalah ilmu bela diri keluarga Huang.
Permasalahannya tinggal sejauh mana pemuda itu mampu mendalami dan mengembangkannya. Ini sangat menarik bagi mereka, karena dari sini mereka bisa menilai seberapa tinggi bakat yang dimiliki Ding Tao.
Tapi gerakan Ding Tao yang berikutnya membuat semua orang terpana. Seperti yang sudah diduga, bila Ding Tao bergerak menghindar, maka itu akan berarti gerakan pedang Feng Xiaohong akan mengejar dan berusaha membuat kedudukan Ding Tao semakin buruk.
Bila pada gebrakan pertama Ding Tao bergerak menyurut mundur, demikian pula pada gebrakan kedua dan ketiga. Tapi menginjak serangan ketiga dan seterusnya, pedang Ding Tao ikut bergerak bersamaan dengan gerak mundurnya.
Gerakan pedang Ding Tao tidaklah cepat atau kuat, tapi tepat seirama dengan gerakan pedang Feng Xiaohong, dalam beberapa gebrakan yang terjadi mengejutkan setiap orang, pedang Ding Tao bagaikan menempel pada pedang Feng Xiaohong.
Tidak ada yang lebih jelas tentang apa yang dilakukan Ding Tao selain Feng Xiaohong sendiri.
Jika pedang Feng Xiaohong bergerak ke kanan, maka pedang Ding Tao akan tepat mendorong pedang Feng Xiaohong lebih jauh ke kanan. Jika bergerak ke kiri maka demikian pula pedang Ding Tao seakan menempel dan ikut mendorong pedangnya ke kiri.
Dalam waktu singkat gerakan Feng Xiaohong menjadi kacau balau, keringat dingin keluar, pedang Ding Tao bagaikan bayangan hantu. Bahkan ketika dia berusaha melepaskan diri dengan mundur, pedang itu terus mengikutinya. Menempel dan tidak pernah lepas.
Kali ini Feng Xiaohong-lah yang bergerak mundur dan menghindar, sementara Ding Tao bagaikan lintah melekat erat atau bagai hantu dan arwah yang membayangi Feng Xiaohong.
Memucat wajah setiap orang yang menyaksikan hal itu, tidak seorangpun dari mereka yang bisa membayangkan hal itu akan terjadi. Bukan kenyataan bahwa Ding Tao bisa mengalahkan
Feng Xiaohong, akan tetapi cara Ding Tao mengalahkan Feng Xiaohong yang jauh di luar dugaan mereka.
__ADS_1
Tidak lama setelah Ding Tao berhasil menggerak Feng Xiaohong mundur, Ding Tao berhasil menekan pedang Feng Xiaohong hingga terlepas dari tangannya, ujung pedang Ding Tao pun berakhir di depan tenggorokan Feng Xiaohong.
Tidak perlu juri untuk menentukan siapa pemenangnya, bahkan tidak perlu menunggu pedang Ding Tao mengancam tenggorokan Feng Xiaohong untuk tahu siapa pemenangnya, sejak Ding Tao berhasil menempel pedang Feng Xiaohong akhir dari pertandingan itu sudah bisa ditebak.
Dengan muka merah dan pucat berganti-ganti Feng Xiaohong pun mengakui kekalahannya dengan badan lemas bercampur kagum,
―Aku mengaku kalah… Ding Tao…‖
―Jangan dipikirkan Saudara Feng, hanya sedikit keberuntungan di pihakku.
―, hibur Ding Tao sambil balas membungkuk dengan hormat.
Cara Ding Tao mengalahkan Feng Xiaohong, ucapannya, bisa saja ditangkap sebagai kesombongan atau penghinaan, tapi bila melihat ekspresi wajahnya yang tulus dan jujur. Dari tiap kata dan gerak-geriknya bisa tertangkap ketulusan dan niat yang bersahabat.
Feng Xiaohong pun tersenyum, pemuda ini memang sering memandang tinggi dirinya sendiri, tapi dia bukan pula orang yang sempit hatinya. Dia memang tidak sungkan-sungkan untuk mengunggulkan bakatnya dibandingkan bakat orang lain, tapi tidak malu-malu juga untuk mengagumi orang lain yang
lebih berbakat dari dirinya.
―Jangan bodoh, kalah dengan cara begini sudah tentu bukan masalah keberuntungan. Selamat Saudara Ding, tidak kusangka ada juga cara seperti itu.‖,
Senyum pun merekah di wajah Ding Tao, alangkah menyenangkan bisa melakukan pertandingan persahabatan, menguji diri sendiri, menambah pengalaman, mencoba hal-hal yang baru dan lebih-lebih lagi mendapatkan sahabat baru.
Dia pernah hidup selama 18 tahun di keluarga Huang, sudah tentu cukup lama juga dia mengenal Feng Xiaohong.
Tapi Feng Xiaohong yang tinggi hati ini tidak memandang sebelah mata pada dirinya yang dianggapnya dungu. Bukan menghina, hanya seakan-akan tidak ada orang yang bernama Ding Tao di dunia Feng Xiaohong.
Tapi kali ini Feng Xiaohong memandang dirinya dengan penuh persahabatan.
Tiong Fa yang sempat terkejut melihat cara Ding Tao mengalahkan Feng Xiaohong dengan cepat menguasai hatinya. Otaknya berputar cepat, bakat Ding Tao jelas berada di luar dugaannya, tapi dia masih yakin pada akhirnya Ding Tao akan kalah. Permasalahannya sekarang siapa yang harus ditunjuknya.
Jika orang berikutnya kalah dengan cara yang sama mengenaskannya, moral dari keluarga Huang bisa semakin terpuruk. Tapi jika terlalu cepat dia mengajukan jago-jago keluarga Huang, dia akan kehilangan keuntungan yang dia miliki dari segi jumlah.
Sebisa mungkin Tiong Fa ingin agar tenaga Ding Tao terkuras saat harus menghadapi lawan yang sesungguhnya. Tadinya dia berpikir salah satu dari mereka yang bertahun-tahun malang melintang di dunia persilatan dapat melakukan hal itu.
__ADS_1
Mungkin Wei Mo yang sering bertugas mengawal barang-barang kiriman keluarga Huang ke daerah yang berbahaya, sudah beberapa kali jagoan itu bersama dengan rekan-rekannya menghadapi pentolan penjahat yang punya nama.
Atau Zhang Zhiyi yang seringkali dia percayai untuk memata-matai perguruan-perguruan besar di daerah selatan ini.
Dari segi pengalaman bertarung Wei Mo yang menonjol, dari segi pengetahuan dan kecerdikan Zhang Zhiyi yang lebih menonjol. Sudah ada rencana untuk mengikat hubungan kekeluargaan dengan keduanya. Wei Mo yang lebih tua, rencananya salah satu puterinya akan dilamar oleh salah satu cucu Huang Yunshu.
Untuk Zhang Zhiyi yang masih muda dan belum menikah, sedang dicarikan salah satu anak gadis keluarga Huang yang dirasa cocok.
Tapi melihat cara Ding Tao mengalahkan Feng Xiaohong, mau tidak mau Tiong Fa harus berpikir ulang.
―Mungkin nantinya harus aku sendiri yang turun tangan.‖,
demikian dia berpikir dalam hati.
Melihat tingkat Ding Tao, sudah sepantasnya jika Tiong Fa menunjuk Wei Mo atau Zhang Zhiyi, tapi bukan Tiong Fa namanya jika melakukan sesuatu hanya berdasarkan kepantasan. Setelah mengerutkan alis sejenak dia memandang ke salah seorang murid yang dilatihnya sendiri.
―Zhu Lizhi, coba kau maju.‖
Pemuda yang dipanggil merasa sedikit terkejut, pameran keahlian yang ditunjukkan Ding Tao sudah membuat dia merasa takluk. Tapi dengan mengeraskan hati dia maju ke depan dan dengan gagah membungkuk memberi hormat pada Ding Tao.
―Sepertinya kali ini aku yang mendapat berkah untuk menerima pelajaran darimu Saudara Ding.‖
―Sama-sama Saudara Zhu.‖
―Awas serangan!‖
Kali ini serangan yang dilakukan Zhu Lizhi adalah serangan yang sederhana saja, mengambil pelajaran dari Feng Xiaohong tadi, Zhu Lizhi tidak ingin kena tempel oleh pedang Ding Tao, karenanya dia justru mengutamakan kecepatan dan kekuatan dengan jurus-jurus yang sederhana yang lebih berkonsentrasi pada pertahanan.
Murid Tiong Fa tentu bukan orang sembarangan, sesuai sifatnya yang cermat, Tiong Fa pun menekankan kecermatan dan kecerdikan pada murid-muridnya dalam satu pertarungan.
Karena itulah Tiong Fa memilih Zhu Lizhi, dia tidak berharap Zhu Lizhi memenangkan pertandingan ini, harapannya hanya agar Zhu Lizhi dapat mengambil pengalaman yang akan menguntungkan dia dlam perkembangan ilmu silatnya, sekaligus karena dia yakin Zhu Lizhi akan dapat bertahan cukup lama dan sedikit banyak membantunya menguras tenaga Ding Tao.
Sesuai harapannya pertandingan kali ini berlangsung cukup seru. Serangan Zhu Lizhi tidaklah serumit jurus yang dilancarkan Feng Xiaohong. Tapi jurus yang sederhana dilancarkan dengan cermat dan tepat, sebaliknya pertahanan Zhu Lizhi sangatlah rapat, sehingga meskipun mudah bagi Ding
__ADS_1
Tao untuk mematahkan serangan Zhu Lizhi, tidaklah demikian untuk mengalahkannya.
Melihat jalannya pertandingan, diam-diam Tiong Fa mendesah lega. Mungkin penilaiannya terhadap Ding Tao tadi terlalu tinggi, mungkin Feng Xiaohong yang terlalu terburu-buru.