
Saat isak tangis Tabib Shao Yong berkurang, Ding Tao berkata, " Tabib Shao, kami semua mengerti keadaanmu, tidak ada yang menyalahkanmu. Karena itu, jangan pula hatimu menuduh diri sendiri terus menerus."
Tersenyum lemah Tabib Shao menjawab, " Aku mengerti, tapi tetap saja hati ini merasa malu dan sedih. Pikiranku mengatakan hal yang sama, sudah pasti dengan kemampuanku dalam ilmu bela diri, tidak ada yang dapat kulakukan kecuali bersembunyi. Tapi hati ini tidak bisa menipu, ketakutan yang mencengkam, ketakutan yang timbul karena keegoisan…."
Ding Tao tersenyum balik dan menjawab, " Kita semua pernah berbuat salah. Tapi siauwtee bersyukur Tabib Shao masih hidup sampai sekarang. Tabib Shao, siauwtee mau bertanya, dari cerita Tabib Shao, Tabib Shao tidak melihat sendiri terbunuhnya anak-anak Tuan besar Huang Jin, melainkan hanya mendengar dari perkataan Tiong Fa semata. Benarkah demikian?"
Tabib Shao Yong berpikir sejenak sambil mengusap bekas-bekas air mata di pipinya dengan lengan baju,
" Setelah semua berakhir, aku masih menyempatkan diri bersama dengan beberapa warga dan aparat di kota Wuling, menyingkirkan puing-puing rumah yang terbakar dan mencari-cari orang di bawahnya."
" Di kamar Nona muda Huang, kutemukan sesosok tubuh wanita seumuran dengan Nona muda Huang, wajahnya tidak bisa dikenali lagi karena sudah hangus terbakar. Tapi perawakannya sungguh mirip dengan Nona muda Huang.
Demikian juga di tiap-tiap kamar yang lain. Memang keadaan mayat mereka sudah hangus terbakar hingga sulit dipastikan. Namun jika seluruh potongan disatukan, aku sampai pada kesimpulan bahwa memang demikianlah keadaannya."
Ding Tao menghela nafas, dipalingkannya wajah ke luar, berpikir, adakah kemungkinan bahwa Huang Ying Ying masih hidup? Ataukah dia hanya mempermainkan diri sendiri dengan mengangankan hal itu?
" Tabib Shao… setelah kejadian ini, apa rencana Tabib Shao untuk kehidupan Tabib Shao selanjutnya?", tanya Ding Tao, mengalihkan pikirannya dari ingatan akan Huang Ying Ying dan nasib keluarga Huang.
Tabib Shao Yong menoleh pada mereka yang mengikuti Ding Tao, " Kalian, bagaimana dengan kalian, apa rencana kalian?"
__ADS_1
Mereka yang ditanya saling berpandangan, lalu dengan sedikit ragu-ragu salah seorang dari mereka menjawab,
" Rencana kami sebenarnya adalah mengikuti Ding Tao, kami dengar dari Tuan Wang Xiaho dan Pendeta Liu Chun Cao, Ding Tao berniat untuk ikut maju dalam pemilihan Wulin Mengzhu. Kami ingin menyumbangkan sedikit yang kami bisa untuk mendukung Ding Tao dalam usahanya."
Terkejut Tabib Shao Yong berbalik melihat Ding Tao,
" Anak Ding, benarkah itu?"
Ding Tao tersipu malu mendengar pertanyaan itu, tapi hendak menghindar juga tidak bisa, dia sudah menyanggupi permintaan Wang Xiaho dan Liu Chun Cao. Untuk berbohong tentu saja dia tidak bisa. Dengan berat hati dia pun menganggukkan kepala.
" Anak Ding…, bagaimana dengan luka dalam tubuhmu?"
" Sudah sembuh Tabib Shao."
Sesaat lamanya Ding Tao tidak tahu harus menjawab apa, dia melihat berkeliling dan sadar bahwa belasan orang bekas pengikut keluarga Huang sedang melihat ke arahnya, tertarik untuk mendengar penjelasannya. Sadar bahwa dia tidak bisa mengelak, akhirnya Ding Tao menceritakan dengan singkat, bagaimana dia mendapatkan pinjaman sebuah kitab dari keluarga Murong. Usahanya untuk mempelajari isi kitab itu yang berujung pada penguasaannya akan dua jenis hawa murni dalam tubuhnya.
Meskipun Ding Tao hanya menceritakan garis besar dari pengalamannya saja, itu pun sudah mengundang decak kagum dari mereka yang mendengarnya. Belasan orang yang berkeinginan menjadi pengikut Ding Tao, semakin yakin dengan keputusan mereka itu.
Selain itu sekilas mereka menangkap ada sesuatu yang disembunyikan Ding Tao tentang hubungannya dengan keluarga Murong. Satu kitab yang penting, mengapa bisa dipinjamkan dengan mudah pada seseorang yang baru dikenal? Tentu ada sesuatu dibalik itu, namun melihat Ding Tao tidak bersedia menceritakannya, mereka pun tidak mendesak. Apalagi keluarga Murong terdiri dari dua orang gadis muda.
__ADS_1
Mereka yang ada di sana, semuanya laki-laki, sehingga dengan mudah menerima kemungkinan adanya hubungan antara Ding Tao dengan salah seorang gadis dari keluarga Murong, apalagi Ding Tao adalah pemuda yang belum menikah. Memang samar-samar Ding Tao menyinggung akan hubungannya dengan Huang Ying Ying, tapi mereka hanya bisa menggelengkan kepala dalam hati, betapa pusingnya berurusan dengan cinta. Ada pula yang diam-diam justru ingin pula bisa merasakan keberuntungan Ding Tao, bisa mendapatkan hati beberapa orang gadis.
" Jika begitu Anak Ding Tao, jika kau mengijinkan, biarlah aku ikut membantumu pula dalam usahamu itu. Sedikit kebisaanku dalam pengobatan, tentu akan dapat terpakai pula.", ujar Tabib Shao Yong setelah mendengarkan cerita Ding Tao.
Ucapan Tabib Shao Yong, disambut dengan sorakan dari belasan orang yang sudah lebih dahulu menyatakan akan menjadi pengikut Ding Tao.
" Bagus Tabib Shao !"
" Haha, begini baru seru!"
" Tabib Shao, kami mengandalkanmu!"
Ding Tao tersenyum, meskipun senyuman itu terasa dipaksakan. Saat sorakan sudah mulai mereda dengan bersungguh-sungguh Ding Tao bertanya pada Tabib Shao
Yong, pertanyaan yang sama yang dia ajukan pada sisa-sisa anggota keluarga Huang yang lain.
" Tabib Shao, apakah kau sudah pikirkan baik-baik keputusanmu itu? Kau tahu, tidak seperti keluarga Huang, aku tidak memiliki apa-apa kecuali sedikit kemampuan untuk bermain pedang. Bagaimana dengan penghidupan kalian nantinya?"
Dengan cepat Tabib Shao Yong menjawab, " Hal itu sudah kupikirkan pula Anak Ding, sebagai seorang tabib, aku justru bisa membantumu pula dalam hal itu, aku bisa membuka praktek pengobatan yang penghasilannya dipakai untuk membiayai hidup kita semua. Dengan belasan orang yang ada di sini, kita juga bisa memulai mengumpulkan tanaman obat-obatan lalu sekaligus membuka toko obat-obatan."
__ADS_1
Mendengar rencana Tabib Shao Yong, mereka jadi bersemangat, kenyataannya memang pertanyaan Ding Tao cukup menghantui mereka, karena meskipun pertanyaan Ding Tao tidak mempengaruhi keinginan mereka untuk menjadi pengikut Ding Tao, tapi pertanyaan Ding Tao adalah pertanyaan yang tidak bisa dihindari. Meskipun mungkin pada awal-awalnya mereka bisa saja mendapat bantuan dari pendukung Ding Tao yang sudah mapan seperti Wang Xiaho atau Chen Wuxi, tentu tidak mungkin jika untuk seterusnya mereka menumpang pada orang lain. Wang Xiaho sudah menawarkan mereka untuk ikut bergabung dalam biro pengawalan miliknya, namun tetap saja bukan keputusan yang bisa diterima dengan hati yang lapang, dalam hati kecil mereka ingin membentuk satu kelompok yang mandiri.
" Tabib Shao, itu sungguh rencana yang bagus. Mengapa tidak kaulakukan saja bersama dengan saudara-saudara yang lain saja? Kalian tidak perlu menjadi pengikutku. Bukankah rencana itu lebih baik daripada kalian ikut terjun dalam carut marutnya dunia persilatan? Mulailah hidup yang baru dan tenang",bujuk Ding Tao yang tiba-tiba melihat jalan yang lebih baik bagi mereka, lebih baik daripada mengikuti dirinya yang tidak bisa memberikan apa-apa bagi mereka.