Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
55. Chapter 55


__ADS_3

Sebaliknya dengan sebuah gerakan yang indah dia merebut pedang di tangan orang tersebut.


Semuanya dilakukan dalam sebuah rangkaian gerakan yang mengalir.


Mereka yang menyaksikan mau tak mau merasa kagum pada kebolehan pemuda itu memainkan pedang. Bahkan Fu Tsun dan anak buahnya pun terkesiap melihat kebolehan pemuda itu dan untuk beberapa saat tertegun di tempatnya masing-masing.


Kesempatan yang hanya sesaat itu tidak disia-siakan Ding Tao, hampir saja Fu Tsun kehilangan satu orang lagi pembantu ketika serangan Ding Tao datang bagaikan kilat, beruntung orang itu masih sempat melemparkan tubuhnya ke belakang dan Fu Tsun bersama seorang yang lain cepat-cepat menyerang Ding Tao dari kiri dan kanan secara berbareng, sehingga Ding Tao terpaksa tidak melanjutkan jurus serangannya.


Tak urung sebuah luka memanjang dari pundak kanan ke dada kiri, menghiasi tubuhnya.


Sorakan dari Laba-laba Kaki 7 semakin membahana, di saat yang kritis bagi Fu Tsun dan kelompoknya, tiba-tiba berloncatan dari luar 6 orang untuk membantu mereka. Rupanya kelompok Wang Dou yang lain sudah mendengar kabar perkelahian itu.


Melawan 9 orang ganti Ding Tao yang mulai terdesak, keganasannya jadi berkurang karena harus lebih banyak memperhatikan pertahanan sendiri.


Tidak lama kemudian 3 orang ikut masuk ke dalam arena pertarungan dan keadaan Ding Tao pun jadi semakin terdesak.


Mereka tidak menyerang secara serampangan, meskipun tidak pernah berlatih dalam barisan tertentu, tapi mereka ini adalah orang-orang yang sudah punya pengalaman bekerja sama dalam membegal dan merampok selama bertahun-tahun.


Mereka pandai membagi diri menjadi beberapa lapis, orang-orang yang terkuat menghadapi Ding Tao secara langsung, yang lain ikut mengepung dalam lingkaran yang lebih luas, tugas mereka ini adalah menutup jalan lari Ding Tao dan membantu pertahanan rekan-rekan yang ada di depan.


Sesekali mereka ikut pula melontarkan serangan melalui celah-celah yang ada, meskipun bukan serangan yang berbahaya, tetapi cukup mengganggu konsentrasi Ding Tao.


Melihat keadaan Ding Tao yang memburuk, orang-orang dari kelompok Laba-laba Kaki 7, mulai berunding. Jika dibiarkan saja, lama kelamaan Ding Tao pasti akan kalah, sementara di pihak Fu Tsun baru kehilangan 1 orang mati dan 1 orang luka parah. Jika menunggu Fu Tsun dan kelompoknya menangkap Ding Tao baru bergerak, korban dari pihak mereka pasti cukup besar. Sebaliknya jika sekarang mereka membantu Ding Tao, menyerang dengan membokong orang-orang Fu Tsun dari belakang, mereka akan dapat menghabisi kelompok Fu Tsun dengan mudah.


Baru kemudian mereka mengikuti cara Fu Tsun dan anak buahnya untuk mengepung dan menangkap Ding Tao.

__ADS_1


Rencana itu terdengar bagus dan dengat cepat keputusan pun dibuat, sambil berteriak-teriak menyatakan ketidak puasan mereka melihat Fu Tsun bermain keroyokan, pedang-pedang merekapun ikut berbicara.


Dalam satu serangan bokongan itu 5 orang Fu Tsun mati tanpa pernah melihat siapa yang telah membunuhnya. Fu Tsun yang melihat itu mencaci maki sepenuh hati,


" Anjing kurap, keparat! Pembokong! Pengecut tak tahu malu!".


Pemimpin dari kelompok Laba-laba Kaki 7, tertawa terbahak-bahak dengan suaranya yang mirip gagak,


―Hakhakhakhak, Fu Tsun, hari ini waktunya kau bertemu dengan raja neraka, sebaiknya kau jaga mulutmu baik-baik supaya tidak menambah dosa, hakhakhakhak".


2 orang lagi dari kelompok Fu Tsun jatuh jadi korban, satu dari serangan Ding Tao dan satu lagi tertusuk 3 belah pedang sekaligus dikeroyok oleh orang-orang Laba-laba Kaki Tujuh.


Fu Tsun meneteskan keringat dingin, keadaannya sungguh runyam, Ding Tao adalah lawan yang berat dan tidak bisa dibuat main-main, jika dia lengah maka pedang Ding Tao akan mengancam. Tapi jika mereka terus berfokus pada Ding Tao maka, orang-orang Laba-laba Kaki Tujuh akan dengan mudah membabat mereka, membokong dari belakang.


Melihat ini Ding Tao yang sudah merencanakan semua inipun jadi tidak tega. Ding Tao hanya bertahan tanpa banyak menyerang, tekanan dari Ding Tao banyak berkurang sehingga


Fu Tsun dan anak buahnya bisa lebih banyak membagi perhatian untuk bertahan dari serangan bokongan. Tapi kekuatan mereka sudah terlalu jauh berkurang, sementara lawan masih segar bugar.


Pada saat-saat terakhir bahkan terjadi tidak seorangpun yang menyerang Ding Tao, dua kelompok yang saling bersaing untuk mendapatkan Pedang Angin Berbisik itu saling bertarung mati-matian, membiarkan Ding Tao berdiri dengan pedang di tangan dengan tenangnya.


Menyaksikan pembantaian itu, hati Ding Tao jadi tergetar, hati kecilnya merasa bersalah. Siasat ini, sesungguhnya dia yang membuatnya, meskipun lebih banyak darah tertumpah dan nyawa yang melayang oleh tangan orang-orang Labah-Labah


Kaki Tujuh, tetap saja Ding Tao melihat betapa ini akibat dari siasat yang dibuatnya. Mungkin hanya 2 orang yang terbunuh oleh tangannya, tapi pada hakekatnya belasan orang yang sekarang bakal meregang nyawa, semuanya terbunuh olehnya.


Setidaknya itulah kata hati pemuda ini.

__ADS_1


Fu Tsun sudah terluka di puluhan tempat, tidak ada sejengkal pun dari tubuhnya yang tidak berwarna merah. Tenaganya pun akhirnya hilang, sepasang golok masih tergenggam di tangan, tapi tangan itu sudah lunglai tergantung tanpa daya.


Pemimpin dari kelompok Laba-Laba Kaki Tujuh mendekatinya dengan raut wajah serius, tidak seperti sebelumnya yang penuh ejekan. Nasib yang sama bisa saja terjadi padanya, pada saat-saat terakhir ini, timbul juga rasa simpatinya.


" Fu Tsun, jangan salahkan aku tidak memberimu ampun. Selama kau masih hidup, tentu tidurku tidak akan pernah tenang".


Fu Tsun hanya diam menatapnya dengan sorot mata dingin tanpa arti.


" Selamat tinggal Fu Tsun!",


dengan sebuah tebasan pedang, kepala Fu Tsun terbelah dari kiri atas kepala hingga ke leher.Sejenak setiap orang berdiri diam di tempatnya masing-masing.


Para pelayan dan pemilik rumah makan sudah lama menghilang, sejak darah mulai bercurahan dan bercipratan ke segenap penjuru ruangan.


Orang-orang yang masih duduk di sana, sudah jelas tidak aka pergi hanya karena melihat kucuran darah. Pandang mata mereka jatuh pada Ding Tao yang berdiri dengan tenang. Entah sejak kapan, dia sudah memungut pedangnya sendiri. Bahkan sempat pula membersihkan pedang itu dari noda-noda darah yang melekat.


Tampilannya yang penuh percaya diri tapi dibarengi sorot mata yang penuh kesedihan, memberi kesan yang tidak mudah dilupakan.


" Ding Tao, namaku Xiang Long, pimpinan utama kelompok Laba-Laba Berkaki Tujuh. Kau bisa pegang ucapanku, menyerah dengan damai dan aku tidak akan menyakitimu sedikitpun.",


Ujar pemimpin dari Kelompok Laba-Laba Berkaki Tujuh itu, yang rupanya bernama Xiang Long.


Ding Tao tersenyum dingin, hatinya kelu menyaksikan kekejaman orang di hadapannya itu, meskipun hal itu sudah dia perhitungkan sebelumnya. Menyaksikan kejadian itu secara langsung ternyata menyisakan kesan yang berbeda dibandingkan memikirkannya saat rencana masih merupakan rencana saja.


" Hmmm… Saudara Xiang Long, sebaiknya kau yang menyerah saja, dan aku Ding Tao akan menganggap urusan ini selesai hari ini juga".

__ADS_1


__ADS_2