Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
78. Chapter 78


__ADS_3

Berat bagi Ding Tao untuk meninggalkan kediaman keluarga Murong setelah apa yang terjadi pada tadi malam . Pagi itu, Ding Tao dan Murong Yun Hua bercinta sekali lagi. Ding


Tao meninggalkan kediaman Murong saat matahari sudah tinggi di langit.


Selain memberikan bekal makanan dan pakaian, Murong Yun Hua memberikan lagi sejumlah pil Obat Dewa Pengetahuan untuk dibawa Ding Tao, karena obat itu tidak boleh dihentikan penggunaannya dengan tiba-tiba, melainkan harus dikurangi secara bertahap. Murong Yun Hua juga coba memberikan sejumlah uang pada Ding Tao, namun pemuda itu menolak dengan keras.


Langkah kakinya berat melangkah menyusuri jalan, padahal baru kemarin dia menyusuri jalan yang sama dengan semangat berkobar. Tidak heran jika banyak dari mereka yang menekuni jalan pedang memilih untuk tidak terikat dengan cinta. Tapi sejak awal Ding Tao sudah terlanjur jatuh dalam jerat cinta dan sekarang benang-benang cinta yang menjeratnya semakin rumit dengan kehadiran Murong Yun Hua. Perjalanannya kembali ke Wuling ini justru berjalan dengan lancar. Setidaknya ada dua sebab, yang pertama, sejak pertarungan Ding Tao dengan kelompok Fu Tsun, Xiang Long dan akhirnya Sepasang


Iblis muka Giok, nama Ding Tao mulai dikenal orang sebagai seorang jagoan muda yang berbakat.


Gerombolan bandit seperti gerombolan Laba-laba kaki tujuh atau gerombolan Wang Dou, merasa jerih terhadap pemuda ini.


Sebab kedua, yang lebih penting adalah, banyak yang meragukan rumor tentang Ding Tao memiliki Pedang Angin Berbisik. Kenyataannya Ding Tao tidak menggunakan pedang itu, bahkan ketika dia harus bertarung mempertaruhkan nyawa melawan Sepasang Iblis Muka Giok. Apalagi ketika berita tentang pecahnya hubungan antara keluarga Huang dengan salah seorang kepercayaan mereka, Tiong Fa, karena Tiong Fa lah yang malam itu melakukan kejahatan di kediaman keluarga Huang. Menghubung-hubungkan kedua berita ini, dugaan orang, tentang siapa pemilik Pedang Angin Berbisik saat ini, segera tertuju pada Tiong Fa. Maka mempertimbangkan dua hal itu, banyak yang merasa suatu kebodohan untuk


mengambil resiko dengan menanam bibit permusuhan dengan Ding Tao, sementara kemungkinan besar Pedang Angin Berbisik yang diincar justru berada di tangan Tiong Fa.

__ADS_1


Itu sebabnya perjalanan kembali ke Wuling dilalui dengan lancar, meskipun Ding Tao melakukan perjalanan tanpa penyamaran. Benak pemuda itu lebih banyak terikat pada apa yang sudah dia lakukan dengan Murong Yun Hua dan apakah dia akan mengatakan sejujurnya pada Huang Ying Ying atau menyimpan rahasia itu.


Dan di luar sepentetahuan pemuda itu, Sepasang Iblis Muka Giok, mengikuti dirinya, sebelum Ding Tao memasuki kota, maka mereka akan mendahului pemuda itu dan meninggalkan pesan disertai lambang pengenal mereka pada orang-orang yang kemungkinan besar akan menyusahkan pemuda itu.


Tapi kisah pertarungan Ding Tao telah mengundang perhatian dalam bentuk yang berbeda. Meskipun tanpa penyamaran,


Ding Tao memilih berjalan bersama rombongan pedagang yang hendak pergi ke kota Wu Ling. Selain mendapatkan teman di sepanjang perjalanan, Ding Tao mendapatkan sedikit yang dengan janji untuk ikut membantu mengawal barang mereka sepanjang perjalanan nanti. Sesampainya mereka di kota Jiang Ling, Ding Tao pun berpamitan. Kepala dari pengawalan yang sebenarnya, seorang berumur 50 tahunan, dengan sebelah daun telinga terpotong setengah, bernama Wang Xiaho, menghitung sejumlah yang dan menyerahkannya pada Ding Tao.


" Terimalah ini adik kecil, 10 keping, tidak buruk heh?", ujarnya sambil tersenyum, memamerkan beberap giginya yang hilang.


Ding Tao mengangguk sambil tersenyum sopan,


" He, kau tahu tidak, dua hari lagi rombongan ini akan kembali ke membawa barang dagangan dan hasil penjualan mereka di sini ke Xiang Yang. Jika kau mau, kau bisa kembali ikut bersamaku. Orangku tidak terlalu banyak dan perjalanan ke


Xiang Yang melewati beberapa tempat yang sedikit lebih rawan, aku akan senang mendapat bantuan tenaga beberapa orang lagi.".ujar pengawal tua itu dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


" Maaf paman, tapi aku harus pergi ke Wuling, ada urusan yang harus kuselesaikan di sana."


" Hmm… dari caramu bergerak dan berlatih dengan tekun, kutahu kau pasti keluaran dari perguruan ternama. Mungkin kau merasa malu untuk mengikut denganku, bagaimana kalau kau kuanggap sebagai rekanan saja?"


" Ah, bukan itu paman, menjadi anak buahmupun tak apa. Hanya saja aku memang ada urusan penting di Wuling."


" Benar begitu? Ya sudahlah kalau begitu, he tapi kalau urusanmu di Wuling sudah selesai dan kau butuh pekerjaan, datang saja ke kantor pusat biro pengawalanku. Kau masih ingat kan?"


" Ya, tentu saja aku ingat paman, Biro Pengawalan Golok Emas di kota Yong An.", jawab Ding Tao sambil tersenyum sopan, selama perjalanan, dia belajar untuk menyukai paman tua ini dengan kisah-kisahnya.


" Hehehe, baguslah kalau begitu, biro pengawalanku memang bukan biro pengawalan besar, tapi aku tidak pernah menerima barang kawalan dari pejabat korup atau tuan tanah yang kejam. Ingat itu baik-baik. Lagipula aku tidak menawarimu untuk jadi orangku, aku menawarimu untuk jadi rekananku.",


ujar pengawal tua itu dengan senyum gigi ompongnya yang membuat dia terlihat lucu dan ramah.


" Tentu paman, aku akan ingat hal itu.", jawab Ding Tao sambil tertawa.

__ADS_1


" Baiklah, kita berpisah sampai di sini, aku masih harus mengawal mereka sampai di penginapan. Ingat jangan lupa, kalaupun kau dapat tawaran yg lebih bagus, sekali-sekali mampirlah.", ujar pengawal tua itu sambil berlalu pergi.


Ding Tao melambaikan tangannya pada pengawal tua dan rombongannya. Mereka membalas dengan bersahabat, Ding Tao teman seperjalanan yang menyenangkan, tidak pernah rewel dengan pembagian tugas sehari-hari, bahkan seringkali dia menawarkan bantuan tanpa diminta.


__ADS_2