Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
94. Chapter 94


__ADS_3

Tabib Shao Yong terdiam, dipandanginya wajah Ding Tao lama-lama. Lidahnya terasa kelu. Dengan berat hati dia mengerahkan tenaga untuk menjawab pendek,


" …sudah meninggal."


Pendek saja apa yang diucapkan Tabib Shao Yong, tapi besar akibatnya. Sebelum tiba di tempat Tabib Shao Yong menyembunyikan diri, Ding Tao sudah bertemu dan bertanya hal yang sama pada setiap sisa anggota keluarga Huang yang dia temui. Saat Ding Tao bertanya, mau tidak mau, mereka yang mengikutinya ikut berdebar menunggu jawaban.


Sulit dibayangkan, bagaimana rasanya, dalam sehari harus berulang kali menanyakan satu pertanyaan yang membuat beku perasaan setiap saat menunggu jawabnya. Saat akhirnya jawaban itu didengar, yang mereka dengar justru jawaban yang paling dia takutkan. Semua orang diam, semua orang ikut merasakan, ada keinginan untuk menghibur Ding Tao, tapi lidah mereka pun jadi kelu saat melihat kepedihan yang terpancar dari wajah pemuda itu.


Sakitnya perasaan Ding Tao tidak bisa dibayangkan oleh siapapun saat itu. Bukan hanya sakitnya karena kehilangan gadis yang dia kasihi. Ding Tao juga dikejar perasaan bersalah, terbayang saat dirinya bersama dengan Murong Yun Hua, di saat Huang Ying Ying dan keluarganya menghadapi bencana, dia justru sedang bersenang-senang, mengkhianati janji setianya. Tidak ada yang tahu akan hal itu, kecuali diri Ding Tao sendiri.


Angin berhembus meniup debu-debu, berputaran di antara jalan-jalan yang sepi. Di pelataran belasan laki-laki berdiri termangu, membeku dengan perasaannya sendiri-sendiri. Wajah Ding Tao menyiratkan penderitaan yang tak terkatakan, Liu Chun Cao, Wang Xiaho dan Tabib Shao Yong tidak mampu mengeluarkan kata-kata untuk menghibur hati pemuda ini.


Setiap dari mereka berpikir akan kesetiaan hati pemuda ini dan betapa dalam kasihnya pada Huang Ying Ying. Sekilas pandang Ding Tao dapat menangkap apa yang tersirat dari pandang mata mereka, dan hatinya yang pedih semakin pedih, karena dia bukan seorang kekasih yang sungguh-sungguh setia. Hatinya sudah mendua, ingin dia berteriak mengakui apa yang telah dia lakukan. Tapi tidak sampai hati dia jika dia harus merusak nama Murong Yun Hua hanya untuk membuat hatinya sedikit lebih lega.


Seulas senyum pahit berkembang di wajahnya, mungkin ini hukuman yang harus dia pikul, untuk pengkhianatan yang telah dia lakukan pada Huang Ying Ying. Sekarang, seumur hidup dia akan terus menanggung beban dosa ini dalam hati.


Ding Tao menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan air mata yang sudah hendak tumpah. Dia memejamkan mata dan mengatur nafas. Perasaannya yang galau ditekannya kuat-kuat.


Perlahan-lahan Ding Tao membuka matanya dan bertanya, " Tabib Shao Yong, bisakah kau ceritakan kejadiannya?"


Tabib Shao Yong terdiam, ragu-ragu, apakah harus dia ceritakan atau tidak. Liu Chun Cao lah yang kemudian berkata, " Tabib Shao, lebih baik diceritakan saja, apa yang sudah Tabib lihat. Biarlah Ding Tao menilai sendiri keadaannya. Apakah nasib Nona muda Huang sudah dapat dipastikan atau tidak, berdasarkan cerita Tabib Shao."

__ADS_1


Liu Chun Cao berpendapat, inilah ujian terakhir bagi Ding Tao, sejak Wang Xiaho berhasil meyakinkan dirinya, Liu Chun Cao menaruh harapan yang besar pada Ding Tao. Tapi inilah saat yang mendebarkan bagi Liu Chun Cao, ujian terakhir bagi Ding Tao, layakkah dia untuk didukung menjadi seorang Wuling Mengzhu. Karena sebagai pimpinan, bukan hanya dibutuhkan orang yang berperasaan halus, sehingga bisa bersimpati pada mereka yang dipimpinnya, tapi ada saatnya pula seorang pimpinan harus menunjukkan keteguhan hatinya. Jika seorang pimpinan hanya dipermainkan perasaan, tanpa memiliki keteguhan hati untuk mengambil keputusan, maka kacaulah barisan.


Tabib Shao Yong memandang Ding Tao, lalu beralih memandang Liu Chun Cao dan Wang Xiaho. Dua orang yang belum dia kenal, tapi dia lihat cukup akrab dan memperhatikan keadaan Ding Tao. Liu Chun Cao sekali lagi menganggukkan kepala, mendorong Tabib Shao untuk menceritakan saja apa yang sudah dia lihat.


Akhirnya dengan suara serak, tercekat oleh kesedihan, Tabib Shao mulai bercerita.


Hari itu tidak ada seorangpun dalam keluarga Huang yang menyadari adanya bahaya sedang mengintai keluarga mereka.


Kejutan yang ditimbulkan oleh pengkhianatan Tiong Fa sudah mulai memudar. Kegiatan berlanjut seperti biasa.


Saat malam tiba, penjagaan pun sudah tidak seketat beberapa minggu sebelumnya. Tabib Shao Yong baru saja hendak beristirahat ketika mulai terdengar jeritan suara disusul bel tanda alarm dipukul bertalu-talu. Mulai dari sejak itu, kekacauan pun meningkat dengan cepat. Rupanya lawan sudah masuk ke dalam kediaman keluarga Huang melalui jalan rahasia. Jalan rahasia yang seharusnya hanya diketahui oleh orang-orang penting dalam keluarga Huang.


Secara diam-diam, pembunuh-pembunuh ini pun menyebar dan mulai melumpuhkan para penjaga. Saat ada penjaga yang berhasil melawan sebelum terbunuh dan sempat berteriak mengingatkan penjaga yang lain, lawan sudah berhasil menyebar ke seluruh penjuru kediaman keluarga Huang.


Salah satunya dipimpin oleh Tiong Fa.


" Tiong Fa? Tabib Shao apa kau yakin Tiong Fa adalah salah satu yang ikut dalam penyerangan malam itu?", tanya Ding Tao dengan wajah kelam dan tersisip nada bengis penuh amarah dalam pertanyaannya. Bulu kuduk Tabib Shao Yong mengkirik, mendengar nada suara Ding Tao. Sudah belasan tahun dia mengenal pemuda itu, sejak pemuda itu masih kanak-kanak hingga dia dewasa, belum pernah Tabib Shao Yong mendengar kemarahan dalam nada suaranya.


Sambil menelan ludah tabib tua itu mengangguk, " Ya…, saat itu aku sedang bersembunyi di dekat gedung utama keluarga Huang. Dekat gedung tempat beristirahat Tuan besar Huang Jin sekeluarga."


" Saat mendengar ada penyerangan, sebisa mungkin aku hendak pergi ke tempat Tuan Besar huang Jin, melihat apakah ada yang harus kukerjakan di sana sebagai tabib keluarga Huang. Sambil bersembunyi aku perlahan-lahan mencari jalan. Saat itu aku sedang lewat dekat kamar Nona muda Huang Ying Ying, bersembunyi di taman, di depan kamarnya…", lanjut Tabib Shao Yong.

__ADS_1


Untuk sesaat Tabib Shao Yong terdiam, tangannya telrihat sedikit gemetar, terkenang oleh peristiwa malam itu.


" Dan kulihat… Tiong Fa keluar dari kamar Tuan muda Huang Ren Fu yang tidak jauh dari situ, sambil menenteng pedang yang berlumuran darah. Kemudian muncul seorang tokoh bertopeng yang bertanya pada Tiong Fa.", lanjut Tabib Shao Yong sambil menutup mata.


Orang bertopeng itu badannya tinggi besar, rambutnya panjang lebat terurai lepas tanpa diikat. Suaranya berat mengguruh saat dia bertanya pada Tiong Fa.


" Sudahkah kau bunuh anak-anak Huang Jin yang menjadi bagianmu?", tanya orang itu.


" Sudah, kecuali yang sulung tidak bisa kutemukan di kamarnya", jawab Tiong Fa.


" Hmph, anaknya yang sulung sedang bertarung bersama beberapa anak buahnya, menghadapi pimpinan pertama. Kau selesaikan pekerjaanmu di sini. Aku akan pergi membantu mereka.", ujar orang itu.


Kemudian dengan gerakan yang cepat dan langkah kaki panjang-panjang, orang itu meninggalkan tempat, menuju ke tempat suara pertarungan yang sedang terjadi dengan sengit.


Sesaat kemudian Tiong Fa dan anak buahnya membakar gedung utama." Aku… aku… tidak berani beranjak dari tempatku bersembunyi. Lama… lama setelah mereka pergi baru aku berani keluar. Aku pergi membongkar puing-puing yang tersisa… dari setiap kamar kutemukan mayat-mayat yang terbakar….", Tabib Shao Yong bercerita dengan suara tersendat-sendat, air mata mengembeng di pelupuk matanya.


" Maafkan aku Ding Tao… aku tidak punya keberanian… hanya setelah mereka pergi baru aku berani keluar… terlalu lambat untuk menolong seorang pun. Mereka semua sudah hangus terbakar…", dengan suara lirih Tabib Tua itu jatuh bersimpuh di depan Ding Tao, air matanya mengalir tanpa bisa dibendung lagi. Ding Tao berlutut di sebelahnya, menepuk-nepuk pundak Tabib Shao Yong, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Apa artinya kata-kata penghiburan, saat kesedihan datang, saat hati dipenuhi beban? Belasan orang laki-laki dewasa yang pantang meneteskan air mata, tapi kali ini, tenggorokan mereka pun tercekat, ingin menangis, ikut merasakan kesedihan yang ada, meski mata mereka tetap kering dan pandang mata mereka dingin tanpa menyiratkan perasaan apa pun.


Cukup lama mereka terdiam dan hanya terdengar isakan Tabib Shao Yong yang meratapi ketidak mampuannya. Tentu saja tidak ada seorangpun dari mereka yang menyalahkan tabib itu.

__ADS_1


Pada dasarnya Tabib Shao Yong memang bukan orang persilatan, Tabib Shao Yong hanya seorang tabib. Beda dengan Tabib Dewa yang selain pandai ilmu pengobatan, ahli juga dalam ilmu silat.


__ADS_2