
Melotot mata Xiang Long mendengar jawaban Ding Tao,
" Anak bau kencur, jangan sombong, selagi aku sudah membunuh orang, mulutmu masih bau ***** ibumu!"
" Hmm… selagi aku masih ******* pada ibuku, otakku sudah jauh lebih terang daripada otakmu", jawab Ding Tao dengan senyum mengejek.
" Keparat! Serbu!",
bentak Xiang Long dengan penuh kemarahan.
Sekali lagi peristiwa yang sama terjadi, Ding Tao dikepung dari segenap jurusan dengan serangan dan pertahanan kepungan lawan yang berlapis. Menilik cara Ding Tao saat bertahan melawan Fu Tsun dan kelompoknya, sebenarnya Xiang Long sudah berhitung bahwa dia akan mampu menundukkan pemuda itu.
Sebagian besar orang-orang yang dibawanya memiliki kemampuan setara di atas orang-orang yang dibawa Fu Tsun.
Tiga atau empat orang, lima termasuk dirinya memiliki kemampuan di atas orang-orangnya Fu Tsun, dengan jumlah yang lebih banyak dari orang-orang Fu Tsun, disangkanya Ding Tao akan bisa ditundukkan.
Betapa kaget dia, ketika mendapati Ding Tao mampu mengimbangi kepungan mereka. Pedangnya berkelebatan dengan cepat, membentuk perisai di sekeliling tubuhnya.
Jika tadi Ding Tao bertarung menggunakan pedang yang tidakdisaluri hawa murni, berbeda dengan keadaan saat ini.
Pedangnya yang sudah disaluri hawa murni, mengaung-ngaung, senjata lawan yang berbenturan dengan pedangnya akan terpental bahkan rompal sebagian.
Gerakan Ding Tao bukan saja hanya lincah tapi juga bertenaga.
Bukan hanya mengandalkan kelihaian jurus dan kecekatan, tapi pemuda ini berani pula mengadu tenaga. Xiang Long yang tadinya berpikirm nasib yang dialami Fu Tsun tidak akan dialaminya, karena dia memiliki lebih banyak orang, sekarang meneteskan keringat dingin karena keadaaannya sama saja dengan keadaan Fu Tsun tadi.
Segenap perhatian dan kekuatan orang-orangnya terserap untuk menyerang dan bertahan melawan Ding Tao. Jika ada pihak ketiga yang mengambil keuntungan habislah dia.Dan seperti kita tahu, memang demikianlah keadaannya.
Sepasang laki-laki dan perempuan yang menyamar itu tiba-tiba bangkit berdiri dan melemparkan sepasang pisau terbang ke kusen pintu masuk rumah makan. Pisau itu bentuknya biasa saja, tetapi di gagangnya bergantung sebuah medali dari giok berbentuk tengkorak.
Bisik-bisik pun terdengar dari pengunjung rumah makan yang masih bertahan,
__ADS_1
" Sepasang iblis berwajah giok?"
Dengan terkekeh-kekeh menyeramkan, pasangan laki-laki dan perempuan yang berjuluk Sepasang Iblis berwajah giok itu berujar,
" Yang tahu diri, sebaiknya segera menyingkir dan tidak perlu ikut campur urusan."
Dalam sekejap mata, rumah makan itupun bersih dari pengunjung. Tinggal Ding Tao, Xiang Long dan anak buahnya serta sepasang iblis itu.
Xiang Long tentu saja ikut mendengar gertakan sepasang iblis itu, tapi keadaannya sekarang sudah terjepit, tidak ada bedanya dengan keadaan Fu Tsun tadi, mundur salah, majupun salah. Baru saja dia hendak berpikir, sudah terdengar jeritan meregang nyawa dari dua orang anak buahnya.
Dalam keadaan yang berbahaya itu, tiba-tiba Xiang Long dikejutkan oleh tindakan Ding Tao. Sebuah serangan pedang yang membadai dikeluarkan oleh pemuda itu hingga kepungan pun tersibak, tapi bukannya mengambil kesempatan untuk menyerang, pemuda itu menggunakan kesempatan itu untuk melompat gesit dan menyerang ke arah iblis wanita bermuka giok sambil berseru,
" Xiang Long, bantu aku, urusan kita bisa diselesaikan belakangan!"
Wajah Xiang Long yang tadinya sudah putus asa menjadi cerah kembali, dari jalan kematian tiba-tiba dilihatnya kesempatan untuk hidup.
Inilah puncak dari rencana Ding Tao semalam. Bagian awal dari rencana Ding Tao adalah menantang kelompok yang terlemah dari 3 kelompok tersebut, yaitu kelompok Fu Tsun. Dengan sengaja dia memojokkan Fu Tsun, sehingga Fu Tsun tidak ada jalan lain kecuali bertarung dengannya.
Dalam pertarungan itu dengan sengaja Ding Tao menahan diri dan tidak mengeluarkan segenap kemampuannya. Inilah bagian kedua dari rencananya, yaitu untuk menarik Xiang Long terjun dalam pertempuran. Membantunya menghabisi kelompok pertama dari tiga kelompok yang mengintainya.
Dan inilah penutup dari rencana Ding Tao, yaitu ketika sepasang laki-laki dan perempuan itu sudah mulai bergerak.
Membuat Xiang Long menghadapi jalan buntu. Maka Ding Tao akan bergerak menarik Xiang Long menjadi sekutunya untuk melawan sepasang laki-laki dan perempuan misterius itu.
Yang paling terkejut adalah Sepasang Iblis berwajah giok itu.
Disangkanya mereka akan menikmati mangsa mudah seperti yang dilakukan Xiang Long terhadap Fu Tsun, siapa sangka keadaan jadi berbalik, dengan satu serangan Ding Tao ganti merekalah yang menghadapi kepungan lawan.
Meski demikian tidak memalukan mereka memiliki nama besar yang ditakuti lawan dan kawan, mereka masih bisa bertarung dengan tenang bahkan sambil terkekeh menyeramkan iblis jantan bermuka giok berkata,
" Ding Tao sungguh pintar akalmu, tapi jangan harap kau bisa selamat dari cengekeraman kami hari ini."
__ADS_1
Suara tertawa mereka membuat bulu kuduk yang mendengar jadi berdiri. Entah sejak kapan, tiba-tiba sepasang cakar besi sudah ada di tangan mereka masing-masing. Meskipun sudah dikepung tapi mereka justru mampu mendesak Ding Tao, Xiang Long dan kawan-kawan.
Satu dua orang mulai terluka dan tiap kali serangan mereka berhasil, sepasang iblis itu akan tertawa mengikik dengan seramnya. Anak buah Xiang Long adalah orang-orang kasar yang masih percaya tahayul, suara setan dari sepasang laki-laki dan perempuan misterius itu sangat mengganggu
permainan pedang mereka.
Untung bagi mereka ada Ding Tao di situ, seperti yang sudah sering disebutkan, bakat Ding Tao dalam mempelajari ilmu bela diri termasuk satu orang dalam satu generasi. Menarik dari pengalamannya menghadapi kepungan Fu Tsun, sebuah pemahaman tentang membentuk barisan sudah mulai
terbentuk dalam benak pemuda itu.
Sekarang sebagai bagian dari kelompok yang mengepung sepasang iblis itu, Ding Tao bukan hanya ikut mengepung dan menyerang dengan jurus sendiri saja, tapi pengamatannya lebih luas dari itu. Bak seorang jendral, Ding Tao mulai mempelajari serangan-serangan lawan yang aneh, setelah beberapa puluh jurus lewat, mulailah Ding Tao tidak hanya menyerang tapi juga memberikan komando pada yang lain.
" Sisi barat, menyerang atas! Sisi timur melindungi barat! Sisi utara dan selatan tahan serangan!"
" Semuanya bergerak ke barat! Xiang Long serang yang jantan!".
Dan berbagai komando perintah lainnya, mulai mengubah arah jalannya pertarungan.
Jika sebelumnya sudah mulai ada tiga orang yang tewas dan beberapa terluka. Setelah Ding Tao mulai memberikan perintah serta bergerak untuk menutupi kelemahan yang lain, ganti sepasang iblis bermuka giok itu yang berada di bawah angin.
Untuk beberapa puluh jurus berikutnya sepasang iblis bermuka giok itu menghadapi tekanan yang kuat. Semangat anak buah Xiang Long jadi timbul melihat perintah-perintah Ding Tao mampu mengimbangi jurus-jurus sepasang iblis bermuka giok yang aneh itu.
Tapi pengalaman sepasang iblis bermuka giok itu jauh lebih banyak dari Ding Tao. Setelah beberapa puluh jurus itu lewat, iblis jantan mendapatkan pemikiran yang jitu, dengan terkekeh panjang dia berteriak pada pasangannya
" Iblis betina, dua iblis berpisah! Timur dan barat mandi darah!"
Sudah berpasangan selama belasan tahun, di antara keduanya sudah terjalin saling pengertian yang sangat kuat, apalagi dalam hal bertarung secara berpasangan. Tawa seram mengikuti jurus-jurus serangan yang mereka lontarkan, untuk beberapa saat kepungan terpecah dan saat yang singkat itu digunakan keduanya untuk berpencar berjauhan.
Karena keduanya berjauhan, kepungan pun terpisah menjadi dua kelompok. Kelompok yang satu dipimpin Ding Tao sedang kelompok yang lain dipimpin Xiang Long. Tidak sampai lewat sepuluh jurus, satu orang dari kelompok Xiang Long tewas
dengan dada berlubang terkena cengkeraman cakar besi dari Iblis jantan.
__ADS_1
Sementara Iblis betina harus bersusah payah untuk bertahan menghadapi serangan yang dipimpin Ding Tao, jeritan-jeritan menyayat hati terdengar dari kelompok Xiang Long.
Ding Tao pun mengakui kecerdikan lawan, tidak mungkin dirinya mengamati kedua iblis itu sekaligus.