
Tapi tidak lama kemudian, alisnya berkerut dan wajahnya mengunjuk rasa kuatir, teringatlah kejadian saat Wang Chen Jin berbisik pada Ding Tao dan wajah Ding Tao tampak menegang. Tentu ada suatu yang penting yang dibisikkan, demikian pikir Gu Tong Dang.
Beberapa lama guru tua itu termangu, tiba-tiba dikepalkannya tangan dan dengan gerakan yang gesit dia meloncat berdiri,
" Hmm… dipikirkan ke sana ke mari, kalau tidak ditanyakan langsung pada orangnya mana bisa aku tahu? Sebaiknya aku pergi menemui Ding Tao sekarang juga untuk menanyakannya, kalau tidak, sampai matahari terbit pun, mata tua ini tidak akan juga bisa terpejam. "
" Moga-moga Ding Tao bisa memahami kekuatiranku, dan tidak memandangku terlalu cerewet."
Sambil berlalu menuju kamar tempat Ding Tao tinggal, diapun berpikir dalam hati,
" Apakah memang semakin tua aku jadi semakin bawel?"
Terkekeh geli sendiri guru tua itu membayangkan bagaimana dirinya setelah tua menjadi seorang nenek yang bawel, tanpa terasa teringatlah dia terhadap mendiang isterinya.
Mendesah dia mengingat kenangan manis di masa lalu, sayang mereka berdua tidak kunjung diberkati keturunan.
Dengan mengenang masa lalu sampailah guru tua itu di depan kamar Ding Tao, perlahan-lahan diketuknya pintu kamar itu dan dipanggilnya murid kesayangannya.
__ADS_1
Setelah beberapa lama dia mengetuk tidak juga mendapat jawaban, hati guru tua itupun menjadi semakin gelisah.
Dicobanya untuk mendorong pintu ke dalam dan dengan mudah pintu itu terbuka, karena tidak ada orang di dalam untuk memasang palang pintunya.
Diamat-amatinya keadaan kamar itu, guru tua itupun berusaha mengambil kesimpulan,
" Hmmm… ada apa ini? Sudah lewat tengah malam, namun Ding Tao tidak ada di sini, bahkan tempat tidurnya pun masih rapi, seakan-akan dari tadi sore tidak pernah sesaatpun dia ada di sini. Apakah Ding Tao pergi untuk menemui pemuda itu? Dengan membawa pedangnya pula. Apakah tadi siang itu Wang Chen Jin menantangnya untuk bertarung?"
" Jika iya, kira-kira di mana tempatnya?"
Begitu guru tua itu sampai pada kesimpulan, guru tua itu tidak mau membuang-buang waktu dengan percuma. Segera dia pergi ke arah gerbang utara kota.
Gu Tong Dang sudah banyak pengalaman, untuk keluar dari gerbang kota dengan diam-diam mungkin cukup menyulitkan, tapi Gu Tong Dang tidak perlu keluar dengan diam-diam, ditemuinya penjaga pintu gerbang, dengan sedikit uang dan kedudukannya sebagai pengajar di rumah Tuan besar Huang, tanpa banyak kesulitan penjaga pintu gerbang membukakan jalan lewat sebuah pintu kecil yang biasa digunakan mereka atau orang lain yang memerlukan untuk keluar masuk kota di malam hari.
Begitu sampai di luar gerbang kota, Gu Tong Dang berusaha mengamati keadaan di sekitarnya.
Sayup-sayup, telinganya yang tajam masih mampu mendengar suara tapak kaki kuda yang dipacu orang.
__ADS_1
Dengan bergegas dia pergi ke arah suara itu dan ditemukannya jejak-jejak yang masih baru. Ada yang mengarah dari utara ke arah kota dan yang lebih baru dari arah kota menuju ke utara.
Gu Tong Dang bisa membayangkan bagaimana Wang Chen Jin memacu kudanya dari tempat dia menginap di perjalanan menuju ke Wuling, bertanding dengan Ding Tao dan kemudian memacu kudanya untuk kembali diam-diam.
" Hmmm… Wang Dou mempunyai banyak kepentingan dengan kami, sudah tentu dia tidak menginginkan ada perselisihan di antara kami. Tapi pemuda itu masih pendek pikirannya dan pula dia beradat tinggi. Semoga anak Ding tidak mengalami celaka."
Buru-buru guru tua itu menelusuri jejak kaki kuda yang mengarah ke kota, meskipun dengan susah payah, akhirnya sampai juga dia di tempat Ding Tao dan Wang Chen Jin bertemu.Menelusuri jejak itu, sampai pula guru tua itu di tempat mereka bertarung.
Hatinya berdebar-debar melihat ceceran darah di sekitar tempat itu.
Jejak dari pertarungan itupun akhirnya membawa guru tua itu sampai di bibir sumur dan di situlah jejak pertarungan mereka berakhir.
Dengan jantung berdebar dia berusaha melihat ke dalamsumur, tapi sumur itu terlalu gelap, lagipula hari belumlah terang. Cahaya obor yang dibawanya tidak sampai ke dasar sumur.
Kesedihan memenuhi hati orang tua itu, dengan sedih dia berusaha memanggil, meskipun harapannya sudah demikian tipis.
" Ding Tao… anak Ding… apakah kau ada di sana?"
__ADS_1