Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
49. Selamat Malam


__ADS_3

# Adegan 17++


Bijaklah dalam memilih Bacaan.


Bocil mohon Skip, daripada ngehalu 😂😂


Untuk sesaat sepasang kekasih itu tertawa, lupa akan keadaan mereka yang sesungguhnya. Bahaya masih mengintai di luar, tapi tidak salah kalau ada yang mengatakan, bagi orang yang sedang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua.


Setelah beberapa lama, tertawa tertahan, keduanya akhirnya berhenti tertawa dan saling pandang. Dengan suara yang lebih tenang Huang Ying Ying bertanya,


" Kakak Ding… benarkah kau mencintaiku? Meskipun keluargaku sudah… sudah merebut pedangmu dengan cara yang licik?"


Ding Tao tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan lembut ditariknya pundak gadis itu, dan bibirnya dengan lembut mengecup bibir Huang Ying Ying. Sebenarnya debaran jantung


Ding Tao sudah membuat telinganya serasa mau pecah, tapi entah bisikan setan dari mana.


Keinginan itu tiba-tiba muncul tanpa bisa ditahan. Huang Ying Ying yang bisa menduga apa yang akan dilakukan Ding Tao pun, sama-sama terbawa suasana. Bukannya menolak, gadis itu justru menutup matanya.


Seandainya Huang Ren Fu melihat adegan itu, mungkin pemuda itu bakal menyesal tujuh turunan.


Nafas keduanya memburu, debaran jantung mereka semakin kencang, getaran-getaran yang belum pernah mereka rasakan membuat pikiran mereka makin berkabut. Perlahan bibir mereka bukan hanya bertemu, tapi menempel semakin erat, bertaut, saling memagut. Kepala Ding Tao terasa berdenyut keras, tapi dia tidak juga berhenti, seperti mereguk air yang manis tapi dahaga tidak juga hilang. Samar-samar terasa tubuh Huang Ying Ying yang lembut tapi panas membara, semakin merapat di dadanya.


Sepasang tangan yang lembut melingkar di lehernya, bibir yang merah merekah menempel erat di bibirnya dan sepasang dada yang ranum sekarang menyentuh tubuhnya. Tangan Ding Tao dengan sendirinya bergerak, perlahan, bergerak hendak membelai sepasang dada yang ranum itu…


Huang Ying Ying terpekik kaget saat dirasanya kedua tangan Ding Tao membelai lembut sepasang buah dadanya.


Bajunya dari sutra yang halus dan baik kualitasnya, membuat jari Ding Tao yang membelai lembut terasa jelas dan ketika bagian tertentu dari dadanya tersentuh, sensasi yang dia rasakan begitu kuatnya hingga gadis itu pun memekik kaget.


Jengah dan malu gadis itu menggeliat dan melepaskan diri dari pelukan Ding Tao.

__ADS_1


Tubuhnya menginginkan lebih, tapi yang sekejap itu sempat membuat pikirannya jernih. Huang Ying Ying terbagi oleh dua kekuatan, sebagian dirinya ingin melompat kembali ke pelukan Ding Tao, tapi bagian dirinya yang lain menahan tubuhnya untuk mendekati pemuda itu. Tapi batas keseimbangan itu begitu tipis, satu sentuhan saja dari Ding Tao mungkin akan meluluhkan pertahanan terakhir gadis itu.


Ding Tao sama terkejutnya dengan Huang Ying Ying, meskipun sedikit berbeda. Saat Huang Ying Ying menggeliat dan melepaskan dirinya, sensasi yang mengabutkan pikirannya terputus sejenak dan untuk sesaat pikirannya menjadi jernih.


Yang sesaat itu cukup, cukup untuk mengingatkan Ding Tao akan akibat dari perbuatan mereka, kehormatan Huang Ying Ying, hati nuraninya. Yang sesaat itu sudah cukup untuk menahan pemuda itu melakukan lebih jauh.


Nafasnya masih memburu, jantungnya masih berpacu kencang, tubuhnya masih meminta lebih, tapi Ding Tao sudah kembali menguasai dirinya. Dengan penuh rasa khawatir dipandanginya


Huang Ying Ying, yang duduk terdiam dengan kepala menunduk.


Dibukanya mulut untuk berbicara, tapi tidak yakin apa yang harus dikatakan,


" Adik Ying, maafkan aku. Aku tahu seharusnya aku tidak boleh melakukan… apa yang baru saja kita lakukan. Tapi saat itu, sulit sekali untuk berpikir dengan jernih.",


Sulit sekali untuk meluruskan benaknya. Kata-kata seperti bertaburan tanpa arti.


Akhirnya dengan menghela nafas Ding Tao menyerah untuk memikirkan alasan-alasan, dengan jantung berdegup dia meminta maaf,


Lama mereka terdiam, masing-masing tidak ada yang berani mendekat. Tiba-tiba Huang Ying Ying bertanya,


" Kakak Ding, tentang tadi, apakah itu mengubah pikiranmu tentang diriku? Apakah aku jadi … menjijikkan di matamu?"


Cepat Ding Tao menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak, tidak, tentu tidak demikian. Aku… aku mencintaimu, di mataku, kau seorang gadis yang sempurna. Tidak mungkin aku, tadi itu, akulah yang salah. Untung Adik Ying cepat sadar, jika tidak, entah apa yang bisa kulakukan".


Memerah wajah Huang Ying Ying, kata-kata Ding Tao mengingatkan dia pada pengalaman yang tadi terjadi, dengan lemah gadis itu menggelengkan kepala, namun tidak ada kata-kata yang keluar. Saat pandang matanya jatuh pada makanan yang sudah tersedia, Huang Ying Ying merasa lega, ada bahan untuk mengalihkan topik pembicaraan.


" Kakak Ding, kau seharian tidak makan, tentu kau lapar."


Ding Tao ikut merasa lega karena terlepas dari topik yang menyulitkan dia. Dengan antusias dia menyambut tawaran Huang Ying Ying,

__ADS_1


" Ya…, perutku memang lapar sekali. Tiba-tiba baru saja terasa betapa lemasnya badan ini. Tapi Adik Ying tentu juga belum makan, ayolah, jangan aku sendirian yang makan".


Mengangguk kecil Huang Ying Ying bergegas menghampiri meja, perlahan diaturnya mangkok-mangkok dan alat makan yang lain, di atas pembaringan. Ketika Ding Tao hendak membantu dengan lembut tapi tegas dia melarang,


" Jangan, Kakak Ding masih harus banyak beristirahat, selain karena belum makan sepanjang hari, Kakak Ding juga sedang terluka.


Duduk sajalah, sebentar juga selesai".


Ada rasa bersalah tapi juga bahagia karena dilayani dengan telatennya oleh gadis yang dia cintai, Ding Tao memaksakan diri untuk duduk dan menunggu dengan sabar.


Tidak lama kemudian, mereka berdua mulai menikmati hidangan yang sudah mulai dingin. Meskipun dingin, tapi karena disantap berduaan, hidangan yang dingin pun rasanya sudah seperti makan masakan kerajaan. Baik Huang ying Ying maupun Ding Tao masih teringat oleh perbuatan mereka sebelumnya, sebagai akibat, cara berbicara dan tingkah laku mereka pun jadi terlampau sungkan.


Selesai mereka bersantap, sejenak mereka saling berpandangan dengan perasaan hati yang kikuk.


" Ehm, Adik Ying, kupikir, sebaiknya aku kembali bersembunyi dalam lemari pakaianmu."


"Ya…"


" Besok setelah beristirahat, kita bisa membicarakan lagi masalah Pedang Angin Berbisik dan pengkhianatan Tetua Tiong. Sesungguhnya terlalu banyak kejutan yang aku alami hari ini. Moga-moga besok, pikiranku sudah jauh lebih jernih".


Sekali lagi Huang Ying Ying mengangguk lalu menunduk malu.


Ding Tao pun ragu, jika dia menuruti kata hatinya, mungkin saat itu dia akan memeluk dan mengecup gadis itu sekali lagi sebelum meninggalkannya. Tapi dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika lagi-lagi dia kehilangan pengamatan diri. Setelah berdiri diam tanpa kata untuk beberapa lama, dia mengangguk pada Huang Ying Ying, kemudian berbali badan untuk bersembunyi di dalam lemari pakaian gadis itu lagi.


Sesaat sebelum dia menutup pintu lemari, terdengar Huang Ying Ying berkata,


" Selamat malam Kakak Ding, aku… aku mencintaimu".


Seulas senyum menghiasi wajah Ding Tao di dalam lemari yang remang-remang, dengan suara lembut dijawabnya,

__ADS_1


" Selamat malam Adik Ying, aku juga mencintaimu"


Setelah itu Huang Ying Ying memadamkan lilin yang ada di kamarnya, tidak terdengar suara apa pun dari kamar itu.


__ADS_2