Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
83. Chapter 83


__ADS_3

Chen Wuxi jadi bersemangat, sambil menepuk pahanya dia berkata,


" Bagus, anak muda memang harus punya semangat.


Ruang ini kecil, baiknya kita pindah ke halaman belakang."


Rupanya halaman belakang rumah Chen Wuxi berfungsi juga sebagai tempat latihan murid-muridnya. Ada rak-rak senjata kayu untuk latihan, ada pula boneka kayu dan berbagai alat latihan lainnya. Halaman itu cukup luas, di satu sisi yang beratap, ada sebuah meja dan beberapa bangku. Wang Xiaho dan Chen Wuxi duduk di sana, sementara murid-murid Chen Wuxi berdiri berjajar di sebelah Chen Wuxi dan orang-orang Biro Pengawalan Golok Emas di sisi yang lain.


Setelah membungkuk hormat pada Wang Xiaho dan Chen


Wuxi, mulailah Ding Tao memainkan jurus-jurus yang dia pelajari dari keluarga Huang. Wang Xiaho dan Chen Wuxi yang punya pengalaman yang luas, dengan segera bisa mengenali ciri khas ilmu keluarga Huang dari jurus-jurus yang dimainkan Ding Tao. Dengan sendirinya ini sudah cukup membuktikan kalau memang benar ini Ding Tao yang sama dengan Ding Tao yang mereka dengar dari berita.


Tapi baik Wang Xiaho dan Chen Wuxi kurang puas dengan peragaan yang mereka lihat. Meskipun cara Ding Tao menjalankan jurus-jurus itu memang tepat dan cepat, tapi mereka tidak bisa melihat di mana kelebihannya. Wang Xiaho yang mulai paham sifat rendah hati dari Ding Tao masih dapat memahami hal ini, berbeda dengan Chen Wuxi. Dalam benak Chen Wuxi timbul keraguan apakah benar Ding Tao mampu menghadapi jagoan sekelas Sepasang Iblis Muka Giok.


Setelah peragaan jurus-jurus itu selesai, anggota Biro


Pengawalan Golok Emas, terutama yang masih muda, segera saja bertepuk tangan memuji Ding Tao dengan hati yang tulus. Tapi yang lain, terutama murid-murid Chen Wuxi, bertepuk tangan hanya sekedar menghormati tamu saja, karena dalam hati mereka timbul pertanyaan yang sama, mengapa hanya begini saja.


Karena tidak puas, Chen Wuxi pun memutar otak, bagaimana caranya dia bisa mengorek lebih banyak tentang tingkatan Ding Tao, akhirnya dia berkata,


" Ding Tao, murid-muridku ini kurang berpengalaman di luar. Meskipun mungkin ada satu-dua yang sudah cukup lama berguru, bagaimana kalau kau bertanding dengan mereka? Sekedar meluaskan pengalaman dan menjalin persahabatan, bagaimana?"

__ADS_1


Ding Tao sedikit mengerutkan alis, tapi teringat dengan pertandingan persahabatan melawan keluarga Huang beberapa waktu yang lalu, pemuda itu jadi bersemangat.


Sedikit banyak Ding Tao bisa merasakan bahwa tuan rumah ingin menjajaki ilmu silatnya dan ada juga keinginan untuk sedikit unjuk gigi.


" Baiklah, kalau Guru Chen berpendapat demikian."


" Bagus, ayolah segera kita mulai kalau begitu.", ajak Chen Wuxi sambil bangkit berdiri lalu pergi ke arah murid-muridnya berkumpul.


Chen Wuxi memilih dua orang murid utamanya dan membisikkan sesuatu pada mereka.


Saat Ding Tao sudah berdiri di tengah arena, perhatian semua orang tertuju pada dua murid utama dari Perguruan Bangau Putih, rupanya Chen Wuxi tanpa ragu-ragu mengutus dua orang muridnya sekaligus untuk melawan Ding Tao. Beberapa orang jadi berbisik-bisik melihat hal itu, tapi Wang Xiaho yang cukup paham dan percaya pada sahabatnya ini diam saja menonton.


Ding Tao juga sedikit terkejut melihat lawan ada dua orang, Chen Wuxi buru-buru menjelaskan agar tidak ada salah paham,


" Ah Guru Chen, waktu berhadapan dengan sepasang iblis itu aku memang sedang beruntung saja."


" Tidak masalah, pertandingan inipun hanya pertandingan persahabatan. Kuharap kau mau menunjukkan sejurus dua pada kedua muridku ini, supaya mereka boleh menambah pengalaman juga."


Melihat dia akan menghadapi dua orang lawan, Ding Tao jadi teringat pada jurus yang baru dia ciptakan. Hingga saat ini Ding Tao belum berkesempatan untuk mencoba jurus itu dalam pertarungan yang sesungguhnya. Teringat jurus itu, terbetiklah keinginan dalam hatinya untuk menguji jurus yang dia ciptakan itu.


" Baiklah Guru Chen, moga-moga aku tidak sampai mengecewakan.", jawab Ding Tao dengan sopan.

__ADS_1


Jawaban Ding Tao menumbuhkan perasaan suka dalam hati Chen Wuxi, dia juga mulai memahami mengapa Wang Xiaho memiliki perhatian yang besar pada pemuda itu.


" Hmmm… kepribadiannya sungguh baik, semoga saja kepandaiannya tidak mengecewakan", batin guru tua itu.


" Mulai !", ujarnya memberikan aba-aba.


Ding Tao berdiri dengan tenang menghadapi kedua lawan tandingnya. Jika sebelumnya kedua lawannya itu meragukan kepandaian Ding Tao, sekarang begitu mereka berhadapan, tiba-tiba hati mereka disusupi oleh keraguan. Berhadapan dengan Ding Tao yang berdiri dengan tenang dan sikap yang kokoh, tiba-tiba saja mereka merasa seperti sedang berhadapan dengan gunung karang yang menjulang tinggi di hadapan mereka. Belum juga mereka bertanding mengerahkan jurus, tapi wibawa Ding Tao sudah mendesak mereka sedemikian hebat.


Begitu hebatnya hingga, nafas mereka pun tiba-tiba memburu dan keringat dingin membasahi punggung mereka.


Bagi yang menonton di lapangan, mereka tidak ikut merasakan tekanan yang dirasakan oleh kedua orang itu. Tapi pandangan mata yang tajam dari Chen Wuxi dan Wang Xiaho segera saja menangkap gelagat yang timbul. Mereka sudah cukup sering melihat duel antara dua orang jagoan pedang. Bukan sekali dua, mereka melihat bagaimana perbawa dari seorang yang sungguh-sungguh kosen bisa membuat lawan kalah sebelum bertanding.


Meskipun keduanya sudah membayang-bayangkan tingkat ilmu Ding Tao, apa yang terjadi sekarang sungguh di luar dugaan mereka. Dalam usia yang masih begitu muda, Ding Tao sudah memiliki kepercayaan diri dan perbawa yang sedemikian hebat. Keduanya saling berpandangan, Chen Wuxi tersenyum kecut.


" Saudara Wang, sepertinya jika mau coba menjajagi ilmu


pemuda itu, harus kita berdua yang maju ke sana.", ujar Chen Wuxi dengan suara rendah.


" Heheh, sepertinya begitu. Betapa menyenangkan, tidak kusangka, di usia yang sekarang ini aku bisa merasakan berhadapan dengan tokoh sekosen ini.", jawab Wang Xiaho.


" Hahaha, benar juga, ini namanya kesempatan seumur hidup. Belum tentu ada kesempatan kedua untuk merasakan nikmatnya berhadapan dengan seorang jagoan kosen.", sambil tertawa Chen Wuxi menjawab dengan bersemangat.

__ADS_1


Tidak aneh jika dua orang tua ini merasakan demikian, keduanya memang bukanlah orang yang memiliki nama besar dalam dunia persilatan. Jagoan-jagoan kelas satu sudah tentu tidak pandang mata terhadap mereka, jangan harap mereka dapat kesempatan berlatih tanding. Bisa saja karena suatu sebab mereka berhadapan dalam pertarungan yang sesungguhnya, tapi kalau itu terjadi sudah bisa dipastikan nyawa mereka bakal melayang. Padahal bagi orang yang menekuni ilmu silat, berhadapan dengan jagoan yang tingkatannya lebih tinggi selalu menguntungkan, itu adalah salah satu cara untuk memperdalam pemahaman sendiri, megenali kelemahan diri sendiri dan melihat kemungkinan-kemungkinan yang bisa dikembangkan.


Akan tetapi karena sifat dunia persilatan yang tidak kenal ampun, cara tersebut jadi sulit dilakukan. Seorang guru tidak akan dengan mudahnya mau memberikan petunjuk pada orang luar, jangankan pada orang luar, pada murid sendiri pun tidak jarang masih ada jurus simpanan yang dirahasiakan.


__ADS_2