
Apalagi Tuan besar Huang Jin dan keluarganya pandai membawa diri, ketika pesta hari itu berakhir Tuan besar Huang
Jin dan Wang Dou pun mencapai kesepakatan kerja sama yang memuaskan keduanya.
Untuk sesaat segala sesuatunya tampak berjalan lancar dan memuaskan. Seandainya saja kisah ini berhenti di sini, tapi selamanya dunia persilatan penuh dengan kejutan. Dendam dan budi, harga diri dan kehormatan, akibat penasaran seorang anak muda, gelombang besar yang mengubah wajah dunia persilatan di masa itu pun dimulai.
Wang Dou dan puteranya menghabiskan beberapa malam lagi di kota Wuling, karena meskipun sudah ada kesepakatan antara Wang Dou dengan Tuan besar Huang Jin, mereka masih ingin berdiskusi lebih jauh dalam masalah pelaksanaannya.
Untuk menemani Wang Chen Jin, maka Tuan besar Huang Jin memerintahkan salah seorang puteranya, Huang Ren Fu dan puterinya Huang Ying Ying untuk menemani Wang Cheng Jin menjelajahi kota Wuling dan sekitarnya.
Rupanya Wang Dou tidak hanya mengajarkan ilmu pedang pada puteranya, namun juga mengundang guru-guru untuk mengajarkan ilmu sastra dan pemerintahan. Dengan demikian Wang Chen Jin bisa menjadi sahabat yang menyenangkan untuk diajak berbicara.
Lagipula memang wataknya pandai mengambil hati orang, nona muda Huang pun tidak bisa marah berlama-lama, dan mau tidak mau mengagumi pemuda yang tampan, pandai dalam ilmu pedang juga berpengetahuan luas. Dan kedua bersaudara Huang itupun dengan cepat merasa akrab dengan Wang Chen Jin.
Hari itu, mereka bertiga sedang beristirahat di salah satu pondokan yang terdapat dalam taman di perkampungan Huang.
"Saudara Wang, hari ini apa tidak mau jalan-jalan ke kota lagi?", tanya Huang Ren Fu.
"Ya, ya, bukannya kemarin kau berjanji untuk membelikanku sepasang tusuk konde yg berhias mutiara itu?", desak Huang Ying Ying.
Tertawa bergelak Wang Chen Jin menjawab, "Nah, nah, aku pasti tidak lupa janjiku, hanya saja hari ini rasanya aku malas pergi berjalan-jalan, cuaca begitu panas. Kalau kalian tidak berkeberatan lebih baik kita habiskan siang ini di dalam taman ini saja."
"Huuh.. kalau begitu kapan kau belikan aku tusuk konde itu?", rajuk Huang Ying Ying dengan bibir mencibir.
"Wah, mana boleh begitu, saudara Wang ini kan tamu, soal tusuk konde biar aku yang membelikan.", sergah Huang Ren Fu sambil tertawa.
"Tidak, tidak perlu, tusuk konde itu pasti aku hadiahkan pada nona muda Huang sebelum aku pulang. Tapi sungguh mati, cuaca hari ini terlalu panas untukku."
"Janji ya?", sahut Ying Ying dengan mengerling nakal.
"Tentu, tentu, janji seorang laki-laki, lebih berat dari ribuan kati.", jawab Wang Chen Jin sambil tersenyum.
"Saudara Huang, taman ini indah sekali, kalian keluarga Huang memang benar-benar kaya, tentu pengurus taman ini pun bukannya orang yang tidak punya nama. Aku sudah pernah melihat berbagai taman, bahkan di rumah para bangsawan, tapi tidak ada yang seindah taman kalian."
Kedua bersaudara Huang itu pun merasa senang mendengar pujian itu, siapa orangnya yang tidak bangga mendengar pujian?
Huang Ying Ying terkikik geli, "Saudara Wang, orang ternama yang kamu maksudkan itu toh kamu sudah kenal."
Huang Ren Fu yang kuatir Wang Dou teringat lagi dengan kekalahannya tempo hari merasa tidak enak hati dan berusaha agar adiknya tidak berbicara lebih lanjut, "Ah adik Ying, jangan banyak bercanda."
Tapi Wang Chen Jin justru semakin tampak penasaran dan mendesak, "Wah, orang itu sudah aku kenal? Tapi baru pertama kali ini aku pergi ke wilayah selatan. Lagipula dari mana nona muda Huang bisa tahu kalau aku sudah mengenalnya?"
__ADS_1
Lain di wajah, lain pula di hati, sesungguhnya Wang Chen Jin sudah mengetahui siapa tukang kebun yang dimaksud, karena malam itu sesudah kekalahannya, di kamar mereka menginap, ayahnya mencaci maki habis dirinya.
Dia sudah kalah bertarung melawan tukang kebun keluarga
Huang, putera kebanggaannya, kalah melawan seorang tukang kebun.
Betapa sakit hati Wang Dou dilampiaskannya malam itu.
Betapa sakit hati Wang Chen Jin bertumpuk-tumpuk malam itu.
Dalam hati dia bersumpah akan membalas sakit hatinya berkali-kali lipat dan jika Wang Dou seorang yang cerdik dan licin, puteranya pun tidak kalah cerdik dan licin. Adalah Wang
Chen Jin yang meminta ayahnya agar menyampaikan pada
Huang Jin, supaya Huang Ying Ying boleh menemaninya selama mereka berada di Wuling.
Pemuda itu dapat menangkap perasaan hati Ding Tao pada
Huang Ying Ying, lewat pandang mata dan kebanggaan yg terpancar dari Ding Tao setiap kali Huang Ying Ying bersorak bagi dirinya.
Setelah beberapa hari berhasil memenangkan hati kedua bersaudara Huang, dia pun dengan sengaja mengajak mereka menghabiskan waktu di taman.
Benar saja, tidak berapa lama mereka menghabiskan waktu di taman, dari sudut matanya terlihat olehnya Ding Tao sedang mengurus tanaman-tanaman yang ada di taman itu.
Tentu saja apa yang ada di benak Wang Chen Jin ini tidak diketahui oleh Huang Ying Ying ataupun saudaranya Huang
Ren Fu, dengan polosnya Huang Ying Ying pun menjawab pertanyaan Wang Chen Jin, "Ding Tao, orang yang mengalahkanmu tempo hari itu, dia itulah tukang kebun kami."
Berlagak terkejut Wang Chen Jin tertawat terbahak-bahak dan menepuk jidatnya sendiri, "Astaga, jadi pemuda yang tempo hari itu adalah tukang kebunmu? Hanya seorang tukang kebun?"
Huang Ren Fu yang tadinya kuatir akan membuat marah atau sakit hati Wang Chen Jin pun menjadi lega ketika dilihatnya pemuda itu tidak menjadi marah.
Huang Ying Ying pun tidak mengerti pedang bermata dua yang sedang ditusukkan oleh Wang Chen Jin ke dalam hati Ding
Tao, dengan polosnya diapun ikut tertawa, "Iya, dia itu tukang kebun kami."
"Astaga, hanya seorang tukang kebun.", sekali lagi Wang Chen Jin mengatakan hal itu sambil menggelengkan kepala seakan tidak percaya.
"Hanya seorang tukang kebun dan bisa begitu hebat. Ilmu keluarga Huang memang benar-benar istimewa."
"Jika seorang pelayan saja sudah sedemikian hebatnya, bagaimana dengan yang lainnya. Sungguh rumah kalian ini seperti sarang naga dan harimau saja."
__ADS_1
Demikian Wang Chen Jin mengumpak kedua anak keluarga
Huang tersebut, sekaligus merendahkan bakat Ding Tao secara halus, dengan meninggikan arti ilmu keluarga Huang, seakan-akan seorang dungu pun akan menjadi hebat dengan mempelajari ilmu keluarga Huang.
Buku-buku jari Ding Tao memucat, tangannya menggenggam keras sekop kecil yang dia gunakan untuk menggemburkan tanah di sekitar bunga yang baru dia tanam.
Setiap kali Wang Chen Jin mengatakan "tukang kebun" bukan main sakit perasaan Ding Tao, saat dia melihat mereka bertiga begitu akrab.
Dia sadar, sesadar-sadarnya bahwa nona muda Huang dan dia berbeda status. Sedikitpun tidak terbersit dalam benaknya untuk menjalin hubungan yang khusus dengan nona muda itu.
Yang dia rasakan hanyalah kebahagiaan saat dekat dengan si nona muda dan sakitnya hati saat melihat Wang Chen Jin berakrab-akrab dengan nona muda itu.
Kalaupun kata cinta terlintas dalam benaknya, dikuburnya kata-kata itu jauh ke dalam.
Tapi betapa sakit ketika berulang kali Wang Chen Jin mengatakan bahwa dirinya hanya sekedar tukang kebun.
Akhirnya diapun tidak tahan dan dengan tergesa-gesa dia meninggalkan pekerjaannya.
Wang Chen Jin yang melihat semua itu dari sudut matanya, tertawa terbahak-bahak. Tawa yang seakan mengikuti Ding Tao ke mana pun dia pergi.
Bahkan ketika dia sudah jauh dari taman, di dalam biliknya yang sempit, tawa Wang Chen Jin masih mengikutinya.
Terbayang keakraban pemuda itu dengan Huang Ying Ying dan tangannya pun mengepal erat. Kepalanya terasa berdentum-dentum dengan kencang.
"Apakah nona muda akan menikahi pemuda itu?", tanyanya dalam hati.
"Pemuda itu berwajah tampan, memiliki nama dalam dunia persilatan, lagipula dia pandai dalam ilmu surat dan ilmu pedang. Sungguh pasangan yang serasi dengan nona muda."
"Mengapa aku berpikiran sempit, jika memang cinta bukankah seharusnya aku bahagia untuk nona muda?""Apakah harapanku, nona muda dengan aku berbeda jauh.
Seorang tukan kebun membawakan sepasang kasutnya pun aku tidak pantas."
"Wang Chen Jin menjanjikan sepasang tusuk konde berhiaskan mutiara, apa yang bisa aku janjikan untuk nona muda?"
Demikianlah ribuan pertanyaan dan jawaban, berlarian dalam benaknya. Antara hati dan pikiran tidak dapat diperdamaikan. Seribu alasan dia ajukan kepada dirinya sendiri, namun kegalauan hatinya tidak juga mereda.
Terkadang harapannya melambung tinggi, "Aku memang hanya tukang kebun, tapi pak pelatih Gu mengakui bakatku."
Kemudian terhempas tatkala dia mengingat asal usulnya, "Tidak berbapak tidak beribu, lagipula aku bukannya berbakat, jika tidak tentu tidak butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk mempelajari jurus dasar."
"Bagaimana kalau seperti yang dikatakan pemuda itu, hingga tua pun aku tidak akan pernah tamat belajar."
__ADS_1
Tanpa terasa air matanya meleleh, dengan tangan terkepal ditinjunya lantai yang dari tanah. Tenaganya begitu kuat, gumpalan tanah terbang bercerai berai.
"Bodoh! Lelaki sejati pantang menitikkan air mata!"