
Kembali ke Wuling.
Panas terik membakar permukaan bumi dan penghuninya. Hari belumlah mencapai tengah hari tapi panasnya sudah mebuatkeringat bercucuran. Mereka yang berduit lebih memilih menggunakan kereta atau tandu.
Yang tidak berduit, terpaksa berjalan kaki saja dengan menggunakan topi lebar untuk menudungi kepala mereka dari teriknya matahari.
Tapi ada saja orang muda, utamanya para laki-laki yang berjalan dengan dada tengadah tanpa tudung kepala. Buat mereka ini panasnya matahari masih tidak sepanas darah yang mengalir di tubuh mereka. Kulit mereka berwarna tembaga, karena begitu seringnya terbakar matahari.
Atau juga mereka yg masih remaja dan anak-anak, yang bermain tanpa mempedulikan panasnya matahari. Karena semangat mereka yg meledak-ledak tidak bisa dipadamkan dengan sedikit panas atau hujan.
Beruntung negara yang terisi dengan pemuda-pemuda seperti ini, tapi sungguh celaka jika negara seperti ini dipimpin oleh pemimpin yang malas dan picik. Sehingga bibit-bibit di masa depan, harus mati tertindas atau teracuni oleh keserakahan pemimpinnya.
Salah satu dari mereka yang berjalan tanpa tudung kepala adalah seorang pemuda yang sangat menonjol perawakannya.
Wajahnya lebar dan kesan jujur terpancar di sana. Senyum yang sopan tidak pernah lepas dari bibirnya. Sebenarnya tidak bisa dikatakan tampan, meskipun juga bukan seorang buruk rupa, yang menarik dari wajah pemuda itu adalah ekspresi yang ada di sana. Sekilas orang memandang, mereka bisa merasa bahwa pemuda ini dapat dipercaya.
Tinggi badannya melampaui orang-orang di sekitarnya, sehingga ke mana dia berjalan, tanpa terasa orang akan memandang ke arahnya.
Pemuda itu berjalan sambil menengok ke kanan dan ke kiri, diam-diam bergumam seperti sedang mengenangkan masa lalu,
" Ah, toko uwak Hong itu masih ada, semakin ramai saja kelihatannya."
Atau
―Lho, toko kain yang di ujung pasar sekarang sudah berubah jadi kedai makan. Di mana ya bibi tua yang baik hati itu sekarang.‖
Orang lewat yang sempat mendengar itu bisa menarik kesimpulan bahwa pemuda ini dulunya pernah tinggal di kota itu dan sekarang kembali setelah meninggalkan kota itu untuk waktu yang cukup lama.
Ketika pemuda itu melewati sebuah rumah makan bertingkat dua, maka tanpa disadarinya ada 3 pasang mata yang mengamati keberadaannya. Ketiga orang itu berduduk di tingkat 2, sehingga dengan mudah mereka mengamati pemuda itu tanpa terlihat olehnya.
Ketiganya duduk dalam satu meja yang sama, buntalan yang diletakkan di atas meja mengesankan bahwa ketiganya, seperti sedang mengadakan perjalanan jauh. Sebilah pedang tergantung di pinggang, jika itu tidak cukup, maka tatapan mata yang tajam, urat yang bertonjolan di tangan dan kulit tangan yang mengeras di tempat-tempat tertentu menunjukkan bahwa ketiganya adalah orang-orang yang sudah cukup lama bergelut dengan pedang.
Tentu saja, tidak berarti bahwa ketiganya adalah jago pedang.
__ADS_1
Salah seorang yang termuda di antara mereka berbisik pada yang lain,
" Apakah benar dia? Sepertinya benar dia, tapi juga rasanya berbeda. Lebih… lebih…"
Dengan nada yang ragu dia meneruskan,
" … lebih gagah, lebih berwibawa."
Yang tertua di antara mereka menyipitkan matanya, berusaha menangkap lebih jelas raut wajah pemuda yang sedang mereka amati,
" Mataku sudah tidak seawas biasanya, tapi dari dulu pun tubuhnya sudah lebih tinggi dari kebanyakan orang biasa. Dalam dua tahun, bukan tidak mungkin dia bertambah tinggi lagi."
Orang ketiga berkata pula,
―Mataku masih cukup awas dan menurutku, itu memang dia. Tentu saja ada perubahan-
perubahan, ketika dia menghilang dulu dia masih berumur 18 tahun. Masih dalam masa pertumbuhan. Kalau kuingat sewaktu dia kecil dulu justru dia yg terpendek di antara yang lain dan baru menginjak usia 15-an tubuhnya bertumbuh dengan cepat. Rasanya itu memang dia.‖
Tapi cepat-cepat dia menambahkan, ―Meskipun demikian, kalau hendak memastikan, sebaiknya kita lihat saja dari dekat.‖
―Hmm… kurasa sebaiknya begitu.‖
Yang termuda di antara mereka tampak ragu,
―Tapi kita sedang mengemban tugas penting, apakah memang pemuda itu begitu pentingya? Jika terlambat hanya gara-gara pemuda itu, bukankah kita bisa kena semprot Tuan besar Huang nantinya?
Dua orang lain yang lebih tua umurnya saling berpandangan. Seperti saling mengerti tanpa kata-kata keduanya perlahan-lahan mengangguk.
Kemudian yang tertualah yang menjawab, ―Dibilang penting sekali juga tidak. Tapi memastikan identitas pemuda itu tidaklah begitu susah dan memakan waktu, nanti setelah memastikan dirinya kita bisa memutuskan langkah selanjutnya.‖
Yang termuda pun terpaksa mengangguk, dia bisa merasakan ada ketegasan dalam jawaban itu. Meskipun demikian dalam hati dia bertanya-tanya, ada apa di balik pemuda itu? Seorang tukang kebun yang menghilang bersamaan dengan hilangnya seorang guru tua dua tahun yang lalu. Apakah ada satu misteri yang penting di balik menghilangnya mereka?
Dengan hati bertanya, diapun mengikuti kedua orang yang lebih tua dari dirinya.
__ADS_1
Bergegas mereka keluar, untuk mengikuti pemuda tadi, pemilik rumah makan itu tampaknya sudah mengenal baik mereka bertiga, sehingga tanpa banyak pertanyaan dibiarkannya saja, ketiganya berlalu.
Dengan setengah berbisik, ia memanggil pelayan yang melayani meja mereka bertiga, ―Hei, kau catat saja dulu pesanan mereka, kalau mereka tidak kembali kita tagihkan saja ke rumah Tuan besar Huang.‖
Meragu sejenak dia menambahkan, ―Sementara ini, biarkan saja meja mereka, siapa tahu nanti mereka kembali.‖
Ketiga orang itu berlalu tanpa berpamitan, tidak sulit untuk mengikuti pemuda yang mereka cari, tubuhnya yang jauh lebih tinggi dibanding orang di sekitarnya memudahkan mereka.
―Sepertinya dia pergi menuju ke tempat kediaman keluarga Huang. Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Berkerut alis pemimpin dari rombongan kecil itu,
―Kalau dia memang pergi untuk menemui Tuan besar Huang, tidak perlu kita mengikuti dia seperti ini.‖
―Kakak, rasanya memang benar tentu dia itu Ding Tao, sedari dulu sifatnya jujur dan setia. Menghilangnya dia dua tahun yang lalu, tentu karena terpaksa dan sekarang dia hendak kembali untuk datang dan meminta maaf pada Tuan besar Huang, telah pergi tanpa berpamitan.‖
―Aku rasa kamu benar. Meskipun demikian…‖
Kedua orang yang mengikut menunggu dengan tegang, menanti pimpinan mereka memberikan keputusan.
―Huang Lui, sekarang sebaiknya kau kembali ke rumah, mendahului pemuda itu. Entah dia benar Ding Tao atau bukan, menurutku ada baiknya pamanmu, Tuan besar Huang, sudah bersiap terlebih dahulu sebelum dia sampai.‖
Pemuda itu memandang dengan alis terangkat, seperti hendak memastikan. Dalam hatinya ada seikit rasa kecewa, ini adalah pertama kalinya, dia dikirim keluar kota untuk menyelesaikan suatu urusan.
Ketika dilihatnya perintah itu sudah pasti dan tidak akan berubah, diapun mengangguk dengan sedikit enggan,
―Baiklah paman.‖
Pemimpin rombongan itu bisa membaca kekecewaan di wajah Huang Lui, sambil tersenyum dia menambahkan,
―Aku dan adik Lin, akan menyelesaikan makan di rumah makan Hoa sebelum melanjutkan kembali perjalanan. Kalau kau cepat-cepat melapor dan kembali, kau bisa menyusul kami sebelum kami meninggalkan kota. Kalaupun kami sudah tidak ada di sana, kau bisa mencari kami di Penginapan Bunga Seroja.‖
Wajah pemuda itupun menjadi cerah kembali, ―Baiklah paman, aku akan secepatnya melapor pada Paman Huang Jin.‖
__ADS_1
Kedua orang yang lain mengangguk, kemudian sambil menunggu pemuda itu menghilang, mereka terus mengamati