Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
66. Chapter 66


__ADS_3

―Lalu bagaimana dengan tugas yang dibebankan gurumu untuk membendung ambisi Ren Zuocan? Apakah menurutmu, kau bisa menandinginya tanpa dibantu Pedang Angin Berbisik?‖, tanya Murong Yun Hua, pandang matanya melekat ke arah Ding Tao.


―Sesungguhnya, aku pun ragu. Tapi sejak memberikan tugas itu, secara tersirat guru sudah memberikan nasihat, bahwa yang terpenting adalah menyelamatkan dunia persilatan kita dari ancaman Ren Zuocan. Apakah dengan menggunakan Pedang Angin Berbisik atau tidak, guru tampaknya menyerahkannya pada keputusanku sendiri. Bukan hanya pada hitungan untung dan rugi, mampu atau tidak, tapi juga menurut hati nurani sebagai seorang manusia.‖,


jawab Ding Tao menjelaskan sambil tersenyum.


―Apakah Adik Ding sama sekali tidak ada rasa kuatir?‖, tanya Murong Yun Hua dengan nada tidak percaya.


―Tentu saja ada juga rasa khawatir, tapi asalkan sudah berupaya sekeras mungkin, asalkan umur masih ada, tentu ada jalan. Kalau kakak tidak keberatan pada saatnya pertemuan lima tahunan nanti, apa boleh aku pinjam pedang itu?‖, jawab Ding Tao cengar-cengir.


Murong Yun Hua tertawa geli melihat jawaban Ding Tao,


―Adik Ding sebenarnya, yang ingin aku bicarakan bukan meminta pedang itu darimu. Tapi…‖


―Tapi apa Kakak Yun Hua? Jika ada permintaan katakan saja, apakah kakak mengharap aku untuk mencari pelaku pembunuhan waktu itu dan membalaskan dendam keluarga Murong? Meskipun aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, jika memang mereka terbukti orang-orang yag perlu dibasmi dari muka bumi ini, tanpa kakak minta pun aku tidak akan segan untuk melakukannya.‖


Sejenak Murong Yun Hua termenung, dicobanya untuk merangkaikan kata-kata, tapi apa yang hendak diungkapkan terlalu sulit baginya untuk dikatakan. Ding Tao dengan sabar menunggu penjelasan dari Murong Yun Hua.


―Adik Ding, sebelum aku mengatakan apa syaratnya ada satu hal lagi yang kau perlu tahu. Di dalam kediaman kami ada satu ruangan, penuh berisi buku-buku dan tulisan yang menjadi koleksi ayahku. Salah satu bagian memuat berbagai tulisan mengenai ilmu-ilmu silat yang ada di daratan ini. Beberapa di antaranya bahkan memuat ilmu-ilmu rahasia dari perguruan yang ada.‖

__ADS_1


―Dari mana… dari mana paman mendapatkannya?‖, tanya Ding Tao dengan terbata, matanya memandang Murong Yun Hua dengan perasaan tidak menentu.


Ding Tao khawatir Murong Yun Hua akan menjadi marah karena pertanyaannya, tapi dia tidak bisa diam saja. Ilmu rahasia, sudah tentu dikatakan rahasia karena perguruan tersebut merahasiakannya dari orang luar. Jika ketahuan seorang murid mengajarkan ilmu rahasia pada orang di luar perguruan, hukumannya cukup berat. Lagipula membuka rahasia perguruan terhadap orang luar, sama saja mencari mati buat diri sendiri. Sebuah ilmu menjadi berbahaya, karena orang tidak tahu dengan pasti bagaimana jurus itu dilakukan, sehingga sulit pula untuk memikirkan pemecahannya. Tapi jika kunci dari ilmu itu ketahuan, maka bukan saja orang bisa mempelajarinya tapi juga orang bisa memikirkan cara memecahkannya.


Ilmu tidak ubahnya benda pusaka, mencuri belajar ilmu dipandang rendah oleh kalangan dunia persilatan. Itu sebabnya Ding Tao merasa ragu mendengar penjelasan Murong Yun Hua.


Wajah Murong Yun Hua sedikit memerah, tentu saja dia mengerti pula hal ini. Tapi sebagai seorang anak, orang tua adalah segalanya. Apalagi Murong Yun Hua ditinggal kedua orang tuanya sejak umurnya masih muda.


―Bagaimana ayahku mendapatkannya, soal itu akupun tidak jelas. Tapi Adik Ding, bukankah satu pengetahuan seharusnya jadi milik semua orang? Dengan demikian, barulah pengetahuan bisa berkembang. Jika setiap orang menyembunyikan apa yang dia ketahui, lalu menyimpan yang penting-penting bagi dirinya sendiri, bukankah ilmu itu makin lama akan makin surut?‖, jawab Murong Yun Hua membela ayahnya.


Gu Tong Dang sendiri memiliki pendapat yang hampir sama. Kebiasaan seorang guru menyimpan ilmu rahasia, bahkan dari muridnya sendiri adalah satu kebiasaan yang tidak bisa diterima oleh Gu Tong Dang. Sebagai seorang guru, dalam hal inipun Gu Tong Dang menjelaskan pada Ding Tao mengapa dia berpendapat demikian.


Ding Tao jadi serba salah, jika hendak jujur, dia berpendapat bahwa ayah Murong Yun Hua sudah melakukan kesalahan. Di pihak lain, dia tidak ingin memojokkan Murong Yun Hua lagipula alasan Murong Yun Hua ada benarnya juga dan bersesuaian dengan pandangan gurunya. Meskipun Gu Tong Dang tidak melangkah sejauh itu sampai mencuri belajar ilmu orang lain dan lebih menerapkan hal itu pada diri sendiri.


―Kakak Yun Hua, soal itu…, bagaimanapun juga mencuri belajar, bukan sesuatu yang dapat diterima.‖, jawab Ding Tao dengan susah payah dan mengerahkan segenap keberaniannya.


―Adik Ding, tahukah kau tentang orang yang berjuluk Tabib Dewa? Ilmu pengobatannya begitu temahsyur dan banyak orang yang sembuh oleh ilmunya itu. Bayangkan jika dia mau membagikan ilmunya itu kepada banyak orang. Berapa banyak orang yang bisa diselamatkan? Tapi karena dia menyimpan ilmu itu sendiri, semantara dia bukan dewa yang bisa berada di mana saja. Entah berapa orang yang mati karena terlambat mendapatkan pertolongan.‖


―Atau tahukah kau dengan perusahaan peralatan dari logam, Tie Jiang Hua? Hanya orang-orang yang mempunyai uang banyak bisa menikmati hasil karya mereka. Rahasia mereka dalam mengolah logam disimpan sendiri. Bisakah kau bayangkan, jika pengetahuan itu dibagikan, akan ada banyak petani miskin yang bisa berkurang beban hidupnya dengan peralatan yang lebih baik dan tidak mudah rusak.‖

__ADS_1


―Tapi Kakak Yun Hua, para guru memiliki alasannya sendiri untuk tidak mengajarkan ilmu-ilmu itu, karena jika orang yang salah mempelajarinya, bukankah akan jadi berbahaya?‖, tanya Ding Tao mencoba bertahan.


―Adik Ding, kenyataannya selalu saja ada orang yang menyalah gunakan ilmunya. Katakan coba, apakah ada satu perguruan saja, yang tidak pernah menelurkan seorang penjahat dalam dunia persilatan? Tidak, tidak ada satupun, bahkan Shaolin yang besar pun, memiliki noda hitamnya. Tapi bayangkan jika ilmu itu diberikan secara bebas kepada umum, maka setiap orang yang mau belajar dan berlatih akan tahu bagaimana melindungi dirinya sendiri. Dengan sendirinya orang yang memiliki niat jahat tidak dengan mudah bisa melakukannya.‖


―Kurasa Kakak Yun Hua ada benarnya, namun tatanan yang ada tidak baik jika dilanggar begitu saja. Adalah sesuatu yang bijak jika seorang guru mau dengan murah hati menyebarkan ilmunya, tapi jika dia tidak berkenan, rasanya tidak tepat pula jika kita mencurinya.‖, jawab Ding Tao dengan segan.


―Adik Ding, suatu tatanan diterima dalam masyarakat bukanlahsatu hukum langit yang tidak boleh dilanggar. Kenyataannya dari masa ke masa, nilai-nilai itu berubah. Nilai itu berubah menyesuaikan dengan keadaan dan karena manusianya mencari bentuk yang terbaik. Jika satu nilai ternyata kurang baik, maka perlu diubah dan harus ada orang yang berani untuk mengubahnya. Jika tidak maka seluruh umat manusia akan terjebak pada tatanan lama yang tidak menguntungkan.‖


Mendengar pembelaan Murong Yun Hua yang berapi-api, Ding Tao tidak bisa menjawab. Dia hanya mengangguk-angguk dengan terpaksa. Mendesah Murong Yun Hua melihat itu,


―Adik Ding, setidaknya, pikirkan hal ini, dengan tulisan-tulisan yang ada di ruangan itu, mungkin kau bisa menemukan cara untuk menyembuhkan dirimu, tanpa tergantung dari bantuan orang lain.‖


―Tapi… Kakak Yun Hua, rasanya sedikit aneh jika aku mencuri belajar ilmu dari perguruan lain.‖, jawab Ding Tao dengan enggan.


―Hahhh… dasar keras kepala…‖, mendesah kesal Murong Yun Hua bangkit berdiri.


Gadis itu tidak habis pikir, orang lain mungkin akan melompatkegirangan bila ditawarkan hal yang sama. Tapi Ding Tao justru merasa enggan untuk mengambil keuntungan. Dengan hampir putus asa, gadis itu berbalik menghadap Ding Tao.


―Adik Ding, setidaknya maukah kau mencoba melihat ke dalam ruangan itu? Tidak semuanya adalah hasil mencuri belajar dari perguruan yang ada. Ada pula, tulisan-tulisan yang pemiliknya atau penulisnya sudah lama wafat dan hilang begitu saja dari peredaran. Bagaimana apakah kau masih merasa bersalah untuk mempelajarinya, bukankah justru kasihan jika ilmu itu hilang begitu saja?‖,

__ADS_1


tanya Murong Yun Hua dengan harap-harap cemas.


__ADS_2