Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
91. Chapter 91


__ADS_3

" Hehehehe, maksudnya dia mau menantangmu bertarung.", sahut Wang Xiaho sambil tertawa.


" Ding Tao sebaiknya kau turuti saja, kalau tidak pendeta gelandangan ini tidak akan bisa tidur nyenyak dan makan enak. Tulang-tulangnya bakal linu-linu kalau tidak kau beri sedikit hajaran." tambahnya lagi.


Mendengar gurauan Wang Xiaho, Liu Chuncao tertawa dan berucap pada Ding Tao, " Benar Ding Tao, jangan kau tolak permintaanku ini. Hitung-hitung buat menambah pengalaman seta melemaskan otot."


" Baiklah kalau paman berpendapat begitu, di mana kita akan melakukannya?", jawab Ding Tao tersenyum melihat kelakuan kedua orang gila silat itu, dirinya pun termasuk orang yang gila silat, jadi dia bisa mengerti apa yang dirasakan Liu Chuncao.


" Hmmm… di pelataran belakang penginapan ini kurasa tidak ada masalah. Kebetulan mereka sepi pengunjung hari ini. Lagipula ini hanya pertandingan persahabatan saja, jadi kita bisa mengira-ngira jangan sampai merusakkan barang mereka.", jawab Liu Chuncao setelah berpikir sejenak.


" Baiklah, apakah akan kita lakukan sekarang?", tanya Ding Tao sambil bangkit berdiri.


Sambil menenggak habis teh yg masih tersisa di cangkirnya, Liu Chuncao ikut bangkit berdiri dan menjawab,


" Ya, ayolah kita lakukan sekarang, mumpung udara masih sejuk."


Dengan menenteng senjata di tangan, ketiganya pergi ke pelataran belakang penginapan kecil itu. Sesampainya di sana, tanpa banyak basa-basi, Liu Chun Cao berjalan ke tengah pelataran dan mencabut pedang dari sarungnya.


Ding Tao sudah berpikir tentang pertarungan ini dalam perjalanan, dia tidak ingin menggunakan jurus yang sama, yang dipakainya untuk melawan Wang Xiaho. Dalam percobaan pertama, jurus itu memberikan hasil yang memuaskan. Jurus itu mewakili apa yang dia inginkan dari sebuah jurus pedang, kemenangan tanpa menyakiti lawan, tapi jurus itu masih jauh dari sempurna.


Saat menggunakannya melawan Wang Xiaho dan Chen Wuxi, Ding Tao menjadi sadar pada kelemahan jurus yang dia ciptakan itu. Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi berkelebatan dalam benaknya. Satu-satunya alasan mengapa jurus itu bisa berhasil saat itu, adalah karena perbedaan tingkatan Wang Xiaho dan Chen Wuxi berada jauh di bawah tingkatan yang dia capai saat ini.


Jurus Ding Tao menyebar bagai jala, berusaha menutupi setiap lubang yang ada. Dengan sendirinya tenaga Ding Tao terbagi, terbagi sebanyak lubang yang hendak dia tutup. Ketika tenaga terfokus pada titik tertentu, akan ada titik-titik di mana kekuatan menjadi lemah. Ketika tenaga dibagi pada semua titik, maka kekuatan di setiap titik menjadi lemah. Apa yang tidak disadarinya sewaktu menciptakan jurus itu, menjadi jelas baginya saat lawan ada di hadapannya. Meskipun waktu itu ke-empat lawannya kalah dengan mengenaskann dan semua orang memuji dirinya, di balik apa yang terlihat oleh orang, Ding Tao meneteskan keringat dingin.


Dia membayangkan jika dia menggunakan jurus itu melawan lawan sekelas sepasang iblis muka giok, apalagi sekelas Ren Zuocan. Atau lawan yang menggunakan pedang pusaka seperti Pedang Angin Berbisik, jurusnya akan dirobek2 seperti sebilah pedang dengan mudah merobek jaring laba-laba, yang rapat tapi rapuh.


Belum lagi perasaan lemas setelah mengerahkan jurus itu.


Ding Tao sadar, jika jurus itu mau jadi jurus yang berguna, harus ada perubahan pada jurus itu. Pilihan yang lain adalah Ding Tao harus meningkatkan himpunan dan kekuatan hawa murninya.


Cara kedua sulit sekali untuk berhasil, kecuali jika Ding Tao memiliki kesempatan untuk bertahun-tahun menghimpun hawa murni. Kenyataannya waktu tidak berpihak pada Ding Tao.


Pilihan Ding Tao tinggal satu, dia harus bisa menyempurnakan jurus itu sebelum berhadapan dengan Ren Zuocan.


Hanya saja Ding Tao mengalami jalan buntu ketika berusaha memikirkan cara untuk menutupi kelemahan jurus buatannya, tanpa mengorbankan sifat dari jurus itu sendiri.Ding Tao ingin melihat lebih banyak lagi ilmu silat yang ada, Ding Tao merasa perlu untuk menambah banyak perbendaharaan pengetahuan dan pengalaman yang dia miliki. Saat Liu Chuncao menantangnya bertarung, Ding Tao tidak menolaknya, karena dia sendiripun membutuhkan pertarungan dengan sebanyak mungkin lawan. Dan buat Ding Tao tidak ada yang lebih baik daripada sebuah pertandingan persahabatan.


Dengan semangat yang mantap pemuda itu maju berhadapan dengan Liu Chuncao, setelah membungkuk dengan hormat, Ding Tao mengambil kuda-kuda dan menunggu.


Liu Chuncao tidak menunggu lama, melihat Ding Tao tidak berniat menyerang lebih dulu, pendeta pengelana itu segera menyerang. Ilmu pedang Liu Chuncao berasal dari Wudang, sempat menjadi murid Wudang selama sepukuh tahun, Liu Chuncao memutuskan untuk menjadi pendeta pengelana dan mengembangkan sendiri ilmu-ilmunya. Serangannya mengutamakan kecepatan dan ketepatan. Dalam pertahanan dia mengutamakan, melawan yang keras dengan yang lembut.Seperti air yang berusaha mencari celah-celah di antara pertahanan Ding Tao yang kokoh, pedang Liu Chuncao mengancam bahkan retakan yang terkecil sekalipun dalam pertahanan Ding Tao.


Baik ujung pedang yang tajam, maupun pangkal pedang yang tumpul, pukulan dan tendangan. Serangan Liu Chuncao bervariasi dan tidak menekankan pada penggunaan pedang saja. Tapi serangan-serangan itu membentur pertahanan Ding Tao yang kokoh. Belasan jurus berlalu dan Liu Chuncao belum berhasil menerobos pertahanan Ding Tao.


Liu Chuncao semakin penasaran dan mulai mengerahkan segenap kemampuan yang dia miliki. Wang Xiaho yang memperhatikan dari samping, jadi bertanya-tanya, mengapa Ding Tao tidak segera menyelesaikan pertarungan. Pada jurus ke 35, tiba-tiba mata kedua orang itu pun terbuka lebar. Ding Tao mulai menyerang, tapi bukan dengan jurus serangannya sendiri, melainkan menggunakan jurus serangan milik Liu Chuncao.


Serangan itu mengagetkan Liu Chincao, karena Ding Tao menggunakan jurus serangan miliknya sendiri, selain kaget Liu Chuncao pun merasa sedikit marah. Bagaimanapun juga jurus itu sudah menjadi jurus andalannya selama bertahun-tahun, apakah Ding Tao mengira dia bisa menguasainya dalam sekejapan saja? Apalagi jurus itu digunakan untuk melawan pemilik asli dari jurus itu.


Karena sudah sangat mengenal jurus itu maka dengan mudah Liu Chuncao menghindarinya. Susul menyusul tiga jurus dilepaskan Ding Tao, semuanya adalah jurus serangan milik Liu Chuncao, tapi pada jurus yang ketiga, terkejutlah Liu Chuncao karena perkembangan yang di luar dugaannya.

__ADS_1


Tergetar hati Liu Chuncao, tidak pernah menyangka bahwa jurusnya bisa juga digunakan dengan cara demikian. Terjebak oleh pengetahuannya sendiri Liu Chuncao harus membuang diri berguling-guling untuk melepaskan diri dari serangan Ding Tao. Saat itu Liu Chuncao sudah hendak mengaku kalah dan menyudahi pertarungan, ketika tiba-tiba Wang Xiaho melompatmasuk dan menyerang Ding Tao dengan serangannya yang khas, posisi tubuh yang sangat rendah, terkadang bergulingan dengan serangan mengarah ke tubuh dari sudut yang rendah atau mengarah ke lutut dan kaki lawan.


" Sahabat Liu, ayo coba kita keroyok dia!", teriaknya sambil menyerang Ding Tao.


Wang Xiaho yang berada di luar bisa mengamati pertarungan dengan pendangan yang lebih obyektif. Dia melihat serangan Ding Tao meskipun memiliki kesamaan dengan jurus serangan Liu Chuncao sebenarnya tidaklah persis sama. Jurus Ding Tao memiliki ciri khas sendiri, Wang Xiaho yang sudah pernah merasakan kehebatan jurus ciptaan Ding Tao, bisa merasakan semangat yang sama mewarnai jurus yang dilancarkan Ding Tao.


Untuk sesaat lamanya jagoan tua itu bertanya-tanya, apa yang sedang dilakukan Ding Tao saat ini. Mengapa jauh berbeda dengan saat Ding Tao melawan dirinya berempat dengan Chen Wuxi dan murid-murid Chen Wuxi?


Meskipun Wang Xiaho tidak bisa menemukan kelemahan dalam jurus ciptaan Ding Tao, tapi dia bisa meraba bahwa saat ini Ding Tao sedang menambah pengetahuan dan mencoba mengembangkan ilmu ciptaannya sendiri. Pada dasarnya Wang Xiaho sangat simpti pada pemuda ini, melihat semangat dan bakat pemuda itu, semangatnya pun terbangkit. Dengan ikut maju dalam pertandingan, Wang Xiaho berharap dirinya bisa ikut membantu, menyumbangkan sedikit pengetahuan yang ada padanya untuk menyempurnakan ilmu ciptaan Ding Tao.


Tanpa segan-segan lagi jago tua itu mengerahkan segenap jurus yang dia miliki, satu per satu dia menggunakannya untukmenyerang dan bertahan melawan Ding Tao. Liu Chuncao yang tadinya sudah hendak mengaku kalah, terpaksa kembali ikut menyerang Ding Tao. Sebenarnya ada perasaan tidak rela dalam hati pendeta pengelana ini, karena dia sadar Ding Tao secara tidak langsung sedang menyadap ilmunya.


Tapi di saat yang sama, dia pun tertarik untuk melihat bagaimana Ding Tao mengembangkan ilmu yang disadap dari dirinya. Dalam hatinya dia mengaku, pertarungan ini, memberikan dia masukan dan pelajaran yang sangat berarti.


Selama ini ilmunya sudah mandeg dan tidak mengalami kemajuan. Latihannya hanyalah pengulangan dan pengulangan. Berusaha meningkatkan ketepatan, kecepatan, daya tahan dan kekuatan, sementara dari sisi teknik tidak ada kemajuan yang berarti.


Pertarungan dengan Ding Tao telah membukakan jalan baru bagi pengembangan ilmunya. Oleh karena itu, yang awalnya meragu, lama-lama terbawa oleh semangat Wang Xiaho dan Ding Tao, Liu Chuncao pun akhirnya tidak segan-segan untuk mengeluarkan segenap ilmu simpanannya.


Puluhan jurus telah lewat, sampai akhirnya Wang Xiaho melompat ke belakang dan berteriak sambil terengah-engah,


" Sudahlah, sudah, heh, seluruh ilmuku sudah kukuras habis. Kukira Sahabat Liu pun demikian."


" Ya, ilmuku pun sudah kukuras habis.", sahut Liu Chuncao dengan senyum kecil sambil menyeka keringat yang membasahi dahinya.


Liu Chuncao yang sedikit lebih muda dari Wang Xiaho dan memiliki himpunan hawa murni yang lebih baik, masih dapat bernafas dengan teratur, meskipun keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya. Ding Tao yang merasa mendapatkan banyak pelajaran dari pertarungan mereka, dengan tulus membungkuk memberi hormat pada dua orang itu.


" Hehehe, asal kau ingat-ingat saja Ding Tao, apa yang kau serap hari ini, kuharap kau pakai untuk kebaikan banyak orang.", sahut Wang Xiaho.


Mendengar jawaban Wang Xiaho, Liu Chuncao jadi sadar bahwa jago tua itu memang sengaja membuka dirinya, menunjukkan seluruh ilmu yang dia miliki demi perkembangan ilmu pemuda yang tidak ada hubungan apa-apa dengan dirinya.


Diam-diam Liu Chuncao merasa malu, merasa kalah dalam hal kepribadian jika dibandingkan dengan Wang Xiaho. Melihat sikap Wang Xiaho, pikiran Liu Chuncao jadi lebih terbuka.


Sebelum berangkat ke Wuling, Liu Chuncao, Fu Tong dan


Chen Wuxi sudah pula berdiskusi tentang desas-desus akan diadakannya pemilihan Wulin Mengzhi. Sekarang setelah bertemu Ding Tao dan melihat bakat serta kepribadiannya. Pikiran yang sama dengan Wang Xiaho dan Chen Wuxi, muncul di benaknya.


" Ayolah kita masuk ke dalam, pakaian kita basah semua oleh keringat.", ujarnya ringan, sementara otaknya masih memikirkan tentang Ding Tao dan pemilihan Wulin Mengzhu.


Bertiga mereka masuk kembali ke penginapan, Liu Chuncao mengusulkan agar mereka sebaiknya berganti pakaian sebelum duduk-duduk di teras depan. Mereka bertiga menyewa satu kamar saja, dengan menambah dipan, ketiganya sudah biasa hidup tanpa terlalu rewel dengan kenyamanan.


Tidak lama kemudian, ketiganya sudah duduk-duduk di teras penginapan itu. Liu Chuncao yang sudah berpikir sejak mereka selesai bertanding, membuka percakapan,


" Saudara Wang, apakah sudah sempat berbicara dengan Guru Chen tentang pemilihan Wuling Mengzhu?"


Ding Tao mendengar perkataan Liu Chuncao merasa tidak enak hati, teringat dengan pemintaan Wang Xiaho terhadap dirinya, agar dia sudi mencalonkan diri sebagai Wulin Mengzhu, ikut dalam pemilihan yang akan diadakan. Wang Xiaho sebaliknya bersemangat mendengar perkataan Liu Chuncao, dia sudah berketetapan hati untuk mendukung Ding Tao mencalonkan diri sebagai Wulin Mengzhu, setiap ada kesempatan untuk membicarakan pemilihan itu tentu disambut baik olehnya.


" Tentu, tentu, bahkan kami sudah membicarakan calon yang baik untuk kedudukan itu.", jawab Wang Xiaho.

__ADS_1


" Hmmm…, kupikir aku tahu siapa yang ada dalam pikiran Saudara Wang. Tapi yang ingin kubicarakan adalah perlu atau tidaknya diadakan pemilihan Wulin Mengzhu ini.", ujar Liu Chuncao dengan hati-hati.


" Hee.., pendeta bau, apa maksudmu dengan perkataan itu?", tanya Wang Xiaho dengan penasaran.


" Ya, kulihat kau sama seperti Guru Chen dan Tongkat Besi itu. Kalian begitu bersemangat dengan adanya seorang Wuling Mengzhu. Apa kalian tidak ingat, alasan sehingga kedudukan itu kosong dalam waktu yang cukup lama?", tanya Liu Chuncao.


" Hmmm…. jangan kau anggap aku pikun, saat itu aku masih sangat muda, tapi aku masih ingat dengan jelas Tsao Yun yang kehilangan akal dan ingin menjadi kaisar. He, kau sudah lihat pemuda ini, apa kau pikir dia ada potongan seperti itu?", tanya Wang Xiaho dengan alis berkerut.


Liu Chuncao memandang ke arah Ding Tao yang memilih untuk memperhatikan taman kecil di pelataran penginapan itu daripada ikut dalam percakapan.


" Tidak, tentu saja Ding Tao nampaknya bukan orang seperti itu, tapi tidak ada jaminan bahwa dia tidak akan berubah seperti itu. Tsao Yun pun pada awalnya seorang yang dikenal rendah hati dan terbuka terhadap semua pihak. Itu sebabnya dia terpilih. Kekuasaanlah yang membuatnya menjadi lupa diri.", ucap Liu Chuncao sambil memperhatikan baik-baik wajah Wang Xiaho, dia tahu Wang Xiaho suka pada Ding Tao.


Benar saja, muka Wang Xiaho jadi sedikit kemerahan menahan marah, " Hmm. Dan kira-kira menurutmu siapakah yang pantas menduduki kedudukan itu? Apakah dirimu pendeta bau?"


Liu Chuncao tidak tersinggung dengan jawaban Wang Xiaho yang pedas, dia menjawab dengan tersenyum,


" Sudah tentu bukan diriku, Saudara Wang kau melewatkan sesuatu dari apa yg kukatakan. Bukan aku tidak setuju Ding Tao maju sebagai calon, yg kukatakan adalah pemilihan Wuling Mengzhu ini yang seharusnya dibatalkan."


Wang Xiaho mengerutkan alis dan berusaha menenangkan diri sebelum menjawab, " Aku tidak mengerti, dengan ancaman dari Ren Zuocan, bukankah adanya Wulin Mengzhu membuat kita menjadi lebih kuat?"


" Inilah perbedaan pendapat antara aku dan kalian. Menurutku kedudukan Wulin Mengzhu yang mengikat setiap orang dalam dunia persilatan memberikan kekuasaan yang terlalu besar kepada pemegangnya. Apalagi kedudukan itu sifatnya seumur hidup. Kekuasaan sebesar itu, dipercayakan pada seseorang, menurutku mengundang bahaya yang lebih besar daripada keberadaan Ren Zuocan.", jawab Liu Chuncao sambil menghela nafas.


" Hmm.., kenyataannya kekuasaan Ren Zuocan sudah mulai menyusup ke dalam perbatasan, jika kita tidak menggalang kekuatan, menyatukannya di bawah pimpinan satu orang akan sulitlah untuk meredam ambisinya."


" Sebenarnya menggalang kekuatan tidak harus dengan mengadakan kembali kedudukan Wulin Mengzhu, bisa kita coba dengan menggalang persekutuan yang sementara saja sifatnya, dipimpin oleh satu dewan yang diisi oleh ketua-ketua dari perguruan besar."


" Hehehe, dan apa yang kauharapkan dari dewan yang seperti itu? Masing-masing membawa egonya, masing-masing membawa kepentingan golongannya sendiri. Kujamin dalam hitungan bulan mereka akan bertengkar di antara mereka sendiri, tanpa menghasilkan apa-apa bagi kita.", ujar Wang Xiaho dengan sinis.


" Hahh… sesungguhnya aku bukannya tidak menutup mata terhadap kemungkinan itu, tapi jika memang bahaya sudah di depan mata, masakan mereka masih berkukuh pada kepentingan golongan sendiri?", kesedihan tampak membayang di wajah Liu Chuncao.


Melihat wajah Liu Chuncao yang sedih, Wang Xiaho tidak tega untuk mendesak lebih lanjut, hiburnya,


" Kurasa tidak semua orang seperti itu, yang kita bisa yakin dengan pasti adalah Kepala Biara Shaolin, Biksu Khongzhe dan Pendeta Chongxan dari Wudang akan bersedia bekerja sama, mereka berdua sudah lama bersahabat. Kemudian Ketua baru dari Hoasan,


Pan Jun, kulihat juga orang yang terbuka pikirannya hanya sayang wataknya sedikit lemah dan kurang berwibawa. Tapi sisanya…"


" Sisanya adalah ketua Kongtong yang punya watak kejam, Chong Weixia dan ketua baru Kunlun, Wu Liang, yang ambisius. Ketua Hoasan, Pan Jun, bisa dipastikan akan seperti pohon bergoyang-goyang diterjang angin, tidak bisa menentukan sikap antara mendukung Pendeta Chongxan dan Biksu Khongzhe atau Chong Weixia yang bisa dipastikan akan bekerja sama dengan Wu Liang demi mengimbangi pihak yang lain.", ucap Liu Chuncao melanjutkan.


" Jangan lupa masih ada ketua partai pengemis, Bai Chungho, meskipun kekuatan partai pengemis banyak merosot, tapi nama dan peranan mereka di masa lalu tidak bisa diremehkan.", ujar Wang Xiaho, jika tadi dia menentang pemikiran Liu Chuncao justru sekarang dia sepertinya berusaha mendukung pemikiran Liu Chuncao.


Bantuan Wang Xiaho itu ditanggapi dengan senyum pahit oleh Liu Chuncao, " He, aku tahu apa yang ada dalam otakmu, jika kita minta Bai Chungho untuk dimasukkan ke dalam dewan maka keluarga Tong akan minta satu wakil masuk pula ke dalamnya. Jika wakil dari Keluarga Tong masuk ke dalam dewan, maka Keluarga Deng yang menjadi saingan Keluarga Tong turun temurun akan menuntut pula posisi dalam dewan tersebut. Jika keluarga Huang masih ada, mereka pun akan ikut menuntut masuk dalam dewan."


" Dan semakin banyak isinya, semakin banyak pula kepentingan yang berebut keuntungan di dalamnya. Keadaan akan jauh lebih buruk daripada sebelumnya.", ujar Wang Xiaho menutup uraian Liu Chuncao dengan sebuah kesimpulan.


Liu Chuncao memandang ke arah Ding Tao, memandangi punggung pemuda itu, yang sedang bermain dengan seekor anak anjing peliharaan pemilik penginapan.


" Apakah kita memang sebebal itu? Kadang-kadang kupikir ada baiknya Ren Zuocan datang dan menggebug kepala-kepala batu itu dengan kepalannya. Aku akan pergi berkelana ke gunung-gunung yang tinggi dan hutan-hutan yang terpencil.", ujar Liu Chuncao dengan sedih.

__ADS_1


" Tapi kau tak akan lari meninggalkan sahabat-sahabatmu. Jadi kau terpaksa menunggu bersama kami dan mengadu nyawa bersama.", ujar Wang Xiaho sambil menepuk pundak sahabatnya yang lebih muda itu.


__ADS_2