
Itu sebabnya tidak jarang setelah tamat belajar, seseorang pergi berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari lawan, menambah pengalaman dan memperdalam ilmu.
Beruntung mereka yang mendapatkan bimbingan dari perguruan-perguruan ternama. Sebaliknya untuk orang-orang seperti Wang Xiaho dan Chen Wuxi, sulitlah untuk mengembangkan ilmu lebih jauh lagi.
Keduanya memilih senjata kesukaan masing-masing, Wang Xiaho mengambil sebuah golok kayu yang besar. Chen Wuxi sudah mengambil sepasang pedang. Perbuatan mereka tentu saja menarik perhatian, apalagi ketika mereka ikut melangkah masuk dalam arena.
" Ding Tao, aku sudah bersalah padamu, terlampau memandang rendah dirimu, sepertinya tidak cukup jika hanya dua orang muridku yang maju jika kami ingin melihat kemampuanmu.", ujar Chen Wuxi menjelaskan.
Halaman itu pun dipenuhi suara berbisik, tidak seorangpun yang menyangka kedua jagoan tua itu akan ikut turun ke tengah arena. Dan ini bukannya menyuruh dua orang yang sudah ada mundur, tapi mereka maju untuk menambah jumlah lawan Ding Tao. Melihat Ding Tao yang meragu, Wang Xiaho cepat memberikan penjelasan susulan.
" Ding Tao, percayalah, tidak ada maksud buruk dalam hati kami. Tapi sungguh kami akan berterima kasih jika kau mau bermurah hati memberi satu atau dua petunjuk untuk meningkatkan ilmu kami."
" Ah, Paman Wang, siauwtee jadi merasa tidak enak."
__ADS_1
" Heh, terhadap kawan sendiri masa aku akan memusingkan segala nama atau menyelamatkan muka. Ding Tao apa kau sungguh-sungguh tidak mau menyenangkan hati orang tua ini?", desak Wang Xiaho.
" Bukan begitu paman, hanya saja kupikir paman terlalu memandang tinggi diriku. Tapi marilah, aku pun ingin menambah pengalaman.", jawab Ding Tao mengambil keputusan, setelah berpikir sejenak.
Pemuda itu melihat sifat Wang Xiaho yang terbuka, Chen Wuxi yang bersahabat dengannya tentu punya sikap yang sama. Teringat pengalamannya, di mana lewat pertandingan bisa menjadi sahabat erat, Ding Tao pun tidak ragu lagi. Begitu pemuda itu mengambil sikap, ke empat lawannya kembali merasakan tekanan yang hebat.
Dalam hatinya Chen Wuxi merasa kagum, jika tadi dia sempat merasa kecewa pada kedua murid utamanya. Sekarang rasa kecewa itu hilang, karena dia merasakannya sendiri, perbawa yang keluar dari Ding Tao. Hawa pedang yang tebal, terasa menyelimuti sekujur tubuhnya, membuat dia merasa sulit untuk menyerang. Bagi Ding Tao sendiri ini adalah pengalaman baru, jurus yang baru saja dia ciptakan, belum pernah dipakainya dalam satu pertarungan.
Perbawa yang kuat menekan, menyulitkan lawan untuk mengembangkan serangan. Satu jurus yang menutup jalan serangan lawan, mengancam setiap lubang pertahanan, tanpa keinginan untuk membunuh atau menghabisi lawan. Tujuan utamanya, memaksa lawan menyerah tanpa harus terjadi pertumpahan darah. Jurus ini tercipta dari sari pati setiap jurus dan pengalaman yang didapatkan Ding Tao, dilambari dengan dua macam hawa murni yang berbeda sifat dan dihasilkan dari pemikiran yang dibantu ketajamannya oleh obat sakti dewa pengetahuan.
Mungkin jurus ini bila sudah sepenuhnya digali dan dikembangkan, bisa disejajarkan dengan jurus-jurus legendaris dari perguruan besar, ciptaan para guru besar yang sudah tiada.
Begitu hebatnya perbawa jurus ini, hingga jagoan tua seperti Chen Wuxi bisa terpaku di tempatnya. Wang Xiaho yang sudah sering mengadu nyawa pun merasakan tekanan itu. Tapi dua jagoan tua itu tidak menjadi beku ketakutan di tempatnya seperti dua orang murid Chen Wuxi yang belum sematang gurunya. Sambil menenangkan hati, perlahan-lahan dua orang jagoan tua itu mulai membajakan semangatnya yang terserang oleh perbawa jurus milik Ding Tao. Beruntung bagi mereka, ini hanyalah pertandingan persahabatan dan Ding Tao tidak berniat untuk menyerang lebih dulu. Hingga mereka punya cukup waktu untuk menenangkan hati sendiri.
__ADS_1
Mereka yang menonton di pinggir, meskipun tidak berhadapan langsung, semakin lama mengamati, semakin bisa meresapi perbawa yang dikeluarkan oleh jurus Ding Tao. Pada awalnya mereka bertany-tanya mengapa tidak ada yang menyerang.
Kemudian mereka mulai mengamati kedudukan dan sikap yang diambil Ding Tao. Otak mereka mulai mereka-reka dan menganalisa alasan mengapa tidak ada seorang pun yang memulai serangan. Mulailah mereka merasakan sentuhan-sentuhan dengan jurus yang disiapkan Ding Tao. Sehingga meskipun hanya sebagian kecil dari perbawa jurus itu yang mereka rasakan, mereka mulai bisa membayangkan lawan seperti apa yang harus dihadapi oleh guru, pimpinan dan saudara mereka.
Jantung setiap orang seperti ditekan oleh bukit batu, berdebar, menanti ... dan bagaikan pecah saat tiba-tiba Wang Xiaho berteriak mengiringi ledakan serangan yang disertai segenap semangat yang berhasil dia kumpulkan. Hebat sungguh serangan Wang Xiaho, perbawa dari jurus Ding Tao adalah ibarat tali yang mengikat ujung selang, sementara usaha Wang Xiaho untuk mengumpulkan semangat adalah ibaratnya terus menerus memompakan air ke dalam selang itu. Hingga pada satu waktu, semangatnya berhasil mengatasi perbawa jurus
Ding Tao dan seperti air bah yang memancar dari bendungan yang pecah, serangan Wang Xiaho membadai, meluncur ke arah Ding Tao.
Wang Xiaho melompat bergulingan rendah di tanah, golok yang terbuat dari kayu bergerak membelah bagai kilat, mengincar kuda-kuda Ding Tao. Di saat yang sama, Chen Wuxi berteriak dengan keras, melompat tinggi ke atas, pedang di tangannya bergetar, mengincar setiap lubang kelemahan yang ada pada bagian atas tubuh Ding Tao.
Tapi Ding Tao tidak menjadi gugup, kakinya dengan lincah dan mantap menghindari serangan golok Wang Xiaho tanpa kehilangan keseimbangan. Pedangnya bergerak menutup serangan Chen Wuxi. Saat perhatian Ding Tao teralihkan oleh serangan Wang Xiaho dan Chen Wuxi, tekanannya pada dua murid Chen Wuxi jadi berkurang. Terbebas dari perbawa jurus Ding Tao, kedua orang itu segera mengumpulkan semangat dan melompat untuk menyerang Ding Tao.
Sebilah golok, tiga bilah pedang, satu sasaran, bekerja sama menyerang dari empat penjuru. Bagaimana cara Ding Tao menghadapinya?
__ADS_1