
Tuan besar Huang Jin membalas penghormatan Wang Dou dengan penghormatan yang sama, ketika Wang Dou menawarkan pertandingan antara Ding Tao dan anaknya, dia tidak segera menjawab, bagaimanapun juga ada sedikit keraguan dalam hatinya, ditengoknya Gu Tong Dang dengan alis terangkat, meminta pertimbangan.
Gu Tong Dang berpikir sebentar, sambil mengamati Wang Chen Jin. Umur pemuda itu tidak jauh berbeda dengan Ding Tao, dan dia mengajukan Ding Tao sebagai peserta terbaik bukanlah tanpa alasan. Jika sekarang dia menyarankan Tuan besar Huang Jin untuk menolak pertandingan itu, tentu akan memalukan bagi dirinya sebagai pengajar.
Tapi Wang Chen Jin tentu sudah pula mewarisi ilmu ayahnya, mungkin hampir tuntas, krn seumuran dia memang sudah waktunya untuk menerima ilmu dengan tuntas, sehingga sisanya hanyalah untuk mematangkan ilmu yang sudah ada.
Pada kasus Ding Tao memang ada perbedaannya, Ding Tao hanyalah seorang anak pembantu yang kemudian dijadikan tukang kebun dalam keluarga Huang setelah orang tuanya meninggal. Sehingga tidak mungkin akan diajarkan ilmu keluarga hingga tuntas, kecuali jika Tuan besar Huang Jin tertarik pada bakat anak muda itu dan memutuskan untuk menariknya menjadi bagian keluarga Huang.
Seandainya Ding Tao memang sedungu anggapan semua orang, tentu Gu Tong Dang tanpa berpikir dua kali akan menolak pertandingan itu, lebih baik bagi dirinya untuk mendapat malu daripada membahayakan muridnya.
Tapi Gu Tong Dang bukan menunjuk Ding Tao sebagai lulusan terbaik karena belas kasihan. Justru dia melihat satu kelebihan sendiri dari dalam diri Ding Tao, itu pula sebabnya dia dengan sengaja tidak meluluskan pemuda itu untuk mendorong pemuda itu untuk mendalami jurus-jurus dasar yang sama selama bertahun-tahun lamanya.
Hanya saja, apakah dengan kelebihannya itu Ding Tao akan mampu menjaga dirinya dalam pertandingan itu?
Hal ini masih menjadi pertanyaan tersendiri bagi Gu Tong Dang. Sebenarnya perkataan nona muda Huang yang sembarangan itu tanpa sengaja sudah menebak dengan tepat keadaan Ding Tao.
Adalah perkataan orang ttg pendiri keluarga Huang, Huang Cheng Yan, yang membuat Gu Tong Dang sengaja memaksa Ding Tao mengulang-ulang jurus yang sama dengan cara mencegah pemuda itu mengikuti ujian.
Sejak pertama melatih Ding Tao yang saat itu masih kanak-kanak, Gu Tong Dang melihat kepekaan Ding Tao dalam menyerap jurus-jurus yang diajarkan. Detail kecil yang tak terlihat orang, bahkan dirinya sendiri, ternyata bisa dirasakan keganjilannya oleh Ding Tao.
Ketika Ding Tao kecil menyampaikan perasaannya pada Gu Tong Dang dan bertanya, mengapa gerakan tangan itu tidak sedikit lebih ke bawah, mengapa kaki terlalu rapat, dan sebagainya, terbukalah pikiran guru tua itu.
Ding Tao memiliki kepekaan terhadap kewajaran suatu gerakan, bagaimana satu gerakan yang lebih alami dapat menghasilkan tenaga yang lebih besar, lebih cepat, lebih mudah mengubah kedudukan dan sebagainya.
Sejak saat itu, Gu Tong Dang berusaha mengarahkan Ding Tao untuk merenungkan setiap gerakan yang dia lakukan. Bukan hanya dari sisi kewajaran alamiah suatu gerakan, namun juga dari sisi strategi dalam sebuah pertarungan.
Itu sebabnya Ding Tao membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum dapat meyakinkan ke-12 jurus dasar itu, karena bagi Ding Tao setiap gerakan, setiap kedudukan yang diambil tiap-tiap jurus, merupakan satu rangkaian gerak 3-4 langkah ke depan.
Seperti seorang ahli catur memainkan biji caturnya, setiap kali Ding Tao melakukan pembukaan maupun gerakan, dalam benaknya sudah terbayang apa gerakan selanjutnya, seandainya lawan bereaksi demikian atau demikian.
Kelebihan Ding Tao ini disimpan sendiri oleh Gu Tong Dang yang tidak ingin Ding Tao yang rendah hati itu berubah menjadi sombong, sehingga bakat yang ada menjadi terbuang sia-sia.
__ADS_1
Di luar mulutnya selalu menunjukkan kedunguan Ding Tao, sementara secara diam-diam dan lewat perkataan-perkataan yang sepertinya sambil lalu, dia memberikan petunjuk dan arahan pada Ding Tao tanpa anak itu sendiri menyadarinya.
Dengan berdebar-debar akhirnya guru tua itu mengangguk, meskipun Ding Tao mungkin tidak bisa memenangkan pertandingan, tapi guru tua itu yakin Ding Tao akan dapat bertahan.
Keluarga Huang tidak akan dipermalukan dan pandangan orang-orang terhadap Ding Tao sendiri tentu akan berubah. Dalam hati guru tua itu berdoa kepada dewa-dewa dan nenek moyangnya, untuk melindungi murid kesayangannya itu.
Tuan besar Huang Jin yang tadinya masih ragu, melihat keyakinan Gu Tong Dang, akhirnya menepis habis keraguannya, dengan senyum mengembang diapun menjawab,
"Saudara Wang memang bijaksana. Memang urusan anak muda selamanya membuat orang yang sudah tua menjadi pusing. Kalau hanya dijelaskan dengan kata-kata, tentu selamanya akan merasa penasaran. Biarlah setelah pertandingan mereka boleh saling menghargai dan menjadi teman akrab."
Dengan perkataannya itu secara tidak langsung Tuan besar Huang Jin, membenarkan perkataan Ying Ying dan dengan halus mengatakan bahwa jurus-jurus dasar keluarga Huang sudah cukup untuk menghadapi ilmu Wang Dou yang diwarisi Wang Chen Jin.
Wang Dou bukannya tidak merasakan sindiran halus itu, tetapi Wang Dou sudah malang melintang dalam dunia persilatan selama bertahun-tahun, kontrol dirinya sudah matang, meskipun di dalam hati dia memaki-maki tapi di luaran dia tertawa senang,
"Hahaha, benar sekali, benar sekali. Memang anak muda tidak boleh takut dengan sedikit goresan pedang. Anak Jin, majulah sana, mintalah petunjuk pada engkoh kecil itu."
Wang Chen Jin yang mendengar perkataan ayahnya itu melompat dengan tangkas ke tengah lapangan. Wajahnya bersemangat, dari perkataan ayahnya dia paham, bahwameskipun dia harus berhati-hati untuk tidak membunuh lawan, tapi dia tidak perlu sungkan untuk melukai lawannya.
"Hmm... nona cantik... akan aku pertunjukkan kelebihanku dari pemuda dungu itu."
Huang Ying Ying yang melihat senyuman itu melengos membuang muka, dipandangnya Ding Tao dengan cemas, dalam benaknya dia sudah bisa membayangkan bagaimana Ding Tao akan kalah dan terluka.
Ding Tao bukannya tidak melihat itu semua, tapi melihat itu justru membuat semangatnya bangkit. Di depan gadis yang disukainya, dia inginmenunjukkan kebolehannya atau setidaknya kejantanannya. Dadanya boleh terbelah pedang lawan, tapi tidak nanti dia akan mundur atau mengeluh.
Jika sebelumnya perasaannya kacau balau dan penuh kekuatiran, ragu akan kemampuannya sendiri, takut jika nanti dia akan mempermalukan keluarga Huang dan dirinya sendiri. Sekarang perasaan itu semuanya hilang.
Dengan hati yang membara, dia membungkuk hormat pada Huang Jin sebelum pergi ke tengah lapangan, berhadapan dengan Wang Chen Jin.
Tuan besar Huang Jin yang melihat roma wajah Ding Tao merasa terhibur, dan menjadi semakin yakin bahwa pemuda itu tidak akan mempermalukan nama keluarganya. Kalaupun kalah tentu akan kalah dengan gemilang.
Setelah keduanya berhadapan maka Tuan besar Huang Jin pun memberikan arahan,
__ADS_1
"Hari ini kita akan melakukan pertandingan persahabatan. Tidak ada dendam permusuhan, baik sebelum maupun setelah pertandingan nanti.
Bertandinglah dengan jujur, sebisa mungkin jaga jangan sampai saling melukai."
Ding Tao mengangguk dengan patuh,
"Baik tuan Huang."
Sementara Wang Chen Jin tersenyum-senyum, "Tentu saja paman Huang."
Dalam hatinya Wang Chen Jin sudah merancangkan bagaimana dia akan mengalahkan Ding Tao dengan gemilang, kalau perlu dia akan memberikan sedikit tanda mata di wajahnya. Atau mungkin mencungkil salah satu bola matanya, semakin buruk wajahnya semakin baik, supaya dia tidak ada keberanian untuk mendekati Huang Ying Ying. Ayahnya tidak akan marah dan siap membela dirinya, selama pemuda itu masih hidup saja, tentu tidak akan ada masalah panjang.
"Mulai!!"
Segera setelah mendengar aba-aba dari Huang Jin, tanpa menunggu Ding Tao bersiap, Wang Chen Jin menyerang dengan sigap, ujung-ujung pedangnya tampak berpencaran mengincar titik-titik tubuh yang vital.
Cepatnya serangan itu tidak urung membuat Ding Tao gelagapan, beruntung latihan yang berulang-ulang membuat tubuhnya bergerak secara refleks untuk menghindar.
Tapi Wang Chen Jin tidak mau melepaskan kesempatan yang baik itu, kakinya bergerak cepat menyusul Ding Tao yang menghindar, pedangnya kembali tampak bergetar dan memecah menjadi beberapa bayang pedang.
Tapi kali ini Ding Tao sudah mampu mengendalikan perasaannya, pikirannya sudah mulai berkonsentrasi pada ancaman di depannya, meskipun dia belum sempat memperbaiki kedudukan ataupun mengambil sikap bertahan, tapi dia mampu menghindar ke posisi yang lebih baik.
Dalam satu gerakan menghindar itu sekaligus pula Ding Tao menarik pedang dari sarungnya.
Serangan Wang Chen Jin yang membadai mulai dihadang oleh pertahanan yang kuat dari DIng Tao.
Gerakan Ding Tao tidaklah rumit, namun setiap gerakannya tepat pada sasaran, menutup setiap celah yang ada.
Tangkisannya bukan hanya menghentikan serangan Wang Chen Jin, tapi juga selalu membuat Wang Chen Jin kerepotan untuk melanjutkan serangannya.
Ini memang pertarungan yang pertama bagi Ding Tao, tapi entah sudah berapa kali dia melangsungkan pertarungan dalam benaknya.
__ADS_1