Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
27.Jamuan Makan


__ADS_3

Jamuan makan malam dilakukan dengan cukup sederhana, namun hampir seluruh anggota keluarga Huang diundang di sana.


Tidak kurang dari 30 orang ikut makan bersama, untuk itu sebuah meja yang panjang dan lebar sudah disediakan, di bagian kepala meja tentu saja duduk Tuan besar Huang Jin. Di kiri dan kanannya adalah Tiong Fa dan Huang Yunshu, kemudian menyusul berturut-turut orang-orang kepercayaan Huang Jin.


Semakin jauh dari bagian kepala meja, semakin rendah dan muda dari segi umur yang duduk di sana. Ding Tao tidaklah berada di ujung yang satu tapi tidak pula dekat dengan posisi Huang Jin.


Tapi Ding Tao tidak merasa tersinggung, justru dia merasa senang karena di dekatnya adalah orang-orang yang hampir seumuran dengannya.


Tepat di sisi kanannya adalah Huang Ying Ying yang berceloteh tiada henti. Entah apa saja yang dibicarakan, tapi buat telinga Ding Tao setiap cerita atau gurauan yang dilontarkan sangatlah menarik dan lucu.


Sepanjang acara makan bersama itu, senyum dan tawa tidak pernah lepas dari bibirnya.


Tentu saja hal itu tidak lepas dari perhatian Huang Jin, dalam hati dia terpaksa mengakui kebenaran kata-kata Huang Yunshu dan putera sulungnya Huang Ren Fang. Hatinya sedikit terhibur melihat Huang Ying Ying sendiri tampaknya menyukai Ding Tao dan sepanjang acara itu Ding Tao bersikap sangat sopan terhadap puterinya.


Karena itu diapun tidak terlalu gusar saat dia mendengar putera sulungnya menggoda Huang Ying Ying,


―Adik Ying, kulihat Ding Tao itu orang yang sopan sekali, bisa dibilang cocok untuk menjadi suami seorang gadis sepertimu yang punya sifat bengal.‖


Godaan Huang Ren Fang itu kontan saja membuat muka Ding Tao memerah seperti kepiting rebus, Huang Ying Ying yang biasanya tidak ambil peduli pendapat orang itu pun, entah kenapa malam itu sedikit berbeda. Meskipun mulutnya terbuka tapi gadis nakal yang biasanya bisa cepat membalas godaan orang itu kali ini mati kutu.


Tentu saja melihat reaksi keduanya, orang-orang di sekitarnya pun jadi ikut menggoda.


Acara makan itu pun menjadi semakin meriah, tentu saja bukan melulu menggoda sepasang muda-mudi itu, soal lain pun ikut dibahas. Antara lain tentang pengalaman Ding Tao selama dua tahun itu.


Beberapa kali pemuda itu harus mengulangi cerita yang sama tentang pertarungannya dengan Wang Chen Jin dan bagaimana Gu Tong Dang menyelamatkan nyawanya di saat yang paling kritis.


Ketika Tiong Fa melihat bahwa hampir semua orang sudah berhenti makan, dia berdeham sejenak untuk menarik perhatian.

__ADS_1


Saat perhatian semua orang tertuju padanya Tiong Fa menoleh ke arah Ding Tao dan dengan nada yang bersungguh-sungguh dia bertanya,


―Ding Tao, sebenarnya aku tidak ingin untuk menanyakan hal ini. Tapi sedari tadi siang, aku berpikir-pikir, tentang pedang itu. Apakah tidak lebih baik kau serahkan pedang itu pada keluarga Huang kami?‖


Ruangan yang tadi riuh dengan percakapan tiba-tiba menjadi sepi, senyum lebar di wajah Ding Tao menghilang digantikan wajah yang memucat.


Seandainya saja pertanyaan diajukan tadi siang, saat dia baru bertemu dengan Tuan besar Huang Jin, mungkin Ding Tao tidak sekaget sekarang.


Bukan hanya Ding Tao yang terkejut, banyak orang muda yang ada di ruangan itu pun sama terkejutnya. Urusan ambisi keluarga Huang dalam dunia persilatan dan sangkutannya dengan Pedang Angin Berbisik memang urusan yang dijaga rahasianya baik-baik oleh Huang Jin dan orang-orang


kepercayaannya.


Tiong Fa yang cerdik tentu saja sudah memperhitungkan hal ini. Sedari awal keluarga Huang memandang dirinya sebagai bagian dari aliran yang lurus, jika sekarang Tiong Fa


mengatakan dia ingin meminta pedang itu dari Ding Tao tanpa bisa memberikan alasan yang kuat, tentu seluruh tokoh dunia persailatan akan memandang mereka sebagai sampah.


―Ding Tao, janganlah kau salah mengerti, pendapatku ini bukanlah didasari ambisi pribadi.‖


Berdiam diri sejenak Tiong Fa memandang ke sekeliling ruangan,


―Aku lihat di sini yang ada di sini, semuanya adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Aku juga yakin Ding Tao cukup bijaksana untuk merahasiakan tentang keberadaan pedang yang ada di tangannya itu.‖


Setiap orang menatap ke arah Tiong Fa dengan wajah serius, hanya seorang yang sedikit berbeda, yaitu si nakal Huang Ying Ying. Mukanya sedikit memerah sambil menggigit bibir bawahnya.


Bagaimana tidak malu, gadis nakal ini yang paling susah menahan bicara, dalam hati dia bersyukur, untung tadi siang saat hendak menemui pengasuhnya dan menceritakan tentang pengalaman Ding Tao, ayahnya keburu memanggil dia ke ruang latihan. Coba kalau tidak, pasti dia sudah menceritakan soal pedang itu pada bibi pengasuhnya, yang tidak kalah bawel dan suka bergosip.


Dalam keadaan seperti itu, wajah gadis itu sendiri sebenarnya jadi semakin manis dan menggoda, sayang tidak seorangpun di ruangan itu tidak sempat mengaguminya. Apalagi Ding Tao yang saat itu merasa seperti sedang ditodong dengan pedang tepat di atas jantungnya.

__ADS_1


―Tapi satu hal yang perlu diingat, serapat apapun rahasia itu ditutup, satu saat akan terbongkar juga. Ding Tao tidak tahukah dirimu ada berapa banyak tokoh dalam dunia persilatan yang berusaha mengendus jejak dari pedang di tanganmu itu?‖


―Selama kau memegang pedang itu, selama itu pula nyawamu terancam. Tapi itu bukan satu-satunya alasanku untuk memintamu meninggalkan pedang itu dalam pengawasan keluarga Huang.‖


―Alasan lainnya adalah masalah Sekte Matahari dan Bulan yang diketuai Ren Zuocan. Mungkin kau belum tahu, satu-satunya yang membuat takut iblis itu adalah pedang di tanganmu itu, sebelum dia berhasil memusnahkan atau mendapatkan pedang itu dia tidak akan bisa beristirahat dengan tenang.‖


―Kekuasaannya dan kekuatannya secara pribadi semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyak anggota dunia persilatan yang diam-diam sudah bersumpah setia kepadanya.


Bukan hanya dunia persilatan yang berada dalam bahaya, tapi juga negara kita secara keseluruhan. Bayangkan saja jika dedengkot barbar itu berhasil menguasai dunia persilatan daratan, berapa lama sebelum pasukan mereka akan menyeberangi perbatasan dan menjarah rumah-rumah kita?‖


Mendengar kata-kata Tiong Fa yang penuh semangat patriotisme, wajah-wajah yang sebelumnya mengerutkan alis sekarang mengangguk-angguk setuju.


Termasuk Ding Tao sendiri.


―Karena itu Ding Tao, dengan berat hati dan memendam rasa malu, aku memintamu untuk menyerahkan pedang itu ke dalam pengawasan keluarga Huang. Bukan karena ambisi pribadi, melainkan karena rasa sayangku padamu dan juga kewajibanku pada negara dan tanah air.‖


Hebat benar lidah licin Tiong Fa, sudah dari jaman dulu kala, ada saja orang-orang yang berlidah licin selicin ular, yang dengan kemampuannya berbicara dan bersandiwara mampu memikat hati pendengarnya. Apalagi pemuda-pemuda yang tidak berpengalaman itu. Apalagi yang mengucapkan adalah orang yang mereka hormati di hari-hari biasa, tidak sebetik pun terlintas dalam pikiran mereka bahwa kata-kata yang manis dan penuh semangat itu, tidak lebih dari arak wangi yang menyembunyikan amisnya racun keji.


Begitu hebatnya kata-kata, bahkan yang mengucapkan sendiri ikut terbuai olehnya. Dalam bayangan Huang Jin dan orang-orang kepercayaannya, ada sebagian dari diri mereka yang menghibur hati dengan pembelaan itu, Meskipun jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka tahu bahwa ambisi pribadi dan keserakahan adalah motivasi penggeraknya.


Padahal mereka semua adalah orang yang mengerti bahkan beberapa di antaranya sangat taat dalam beragama. Ada yang menekuni agama Buddha ada pula yang menekuni ajaran Konfusius.


Lalu mengapa keserakahan masih menguasai hati mereka? Mengapa mereka tega untuk mengorbankan orang lain demi ambisi pribadi mereka?


Bagaimana bisa seorang tabib menyembuhkan si sakit, jika si sakit itu sendiri tidak mau menyadari sakitnya?


Sungguh celaka orang yang sudah menipu dirinya sendiri, sesungguhnya kecerdikan mereka justru menjadi jerat bagi jiwanya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2