Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
23. Emas Palsu atau Emas Tulen?


__ADS_3

Emas palsu atau emas tulen?


Akhirnya setelah dua tahun berlalu, Ding Tao menginjakkan kaki kembali di rumah kediaman keluarga Huang. Tempat dia dilahirkan dan dibesarkan, tempat di mana dia belajar arti kata persahabatan dan untuk pertama kalinya mengenal cinta.


Ketika dia dipersilahkan masuk ke dalam bangunan utama, Ding Tao sedikit berdebar karena di hadapannya telah berduduk para tetua dan orang penting dalam keluarga Huang.


Rupa-rupanya kedatangannya bertepatan dengan salah satu pertemuan penting dalam keluarga Huang. Ding Tao pun jadi merasa tidak enak hati dan malu, karena dengan tidak sengaja sudah merecoki satu pertemuan yang sepertinya cukup penting.


Cepat-cepat dia membungkukkan badan dalam-dalam dan memberi hormat,


―Tuan besar Huang Jin, para tetua, maafkan jika hamba sudah mengganggu pertemuan yang penting.‖


Tuan besar Huang Jin yang sebelumnya sudah mendapatkan kabar tentang kedatangan Ding Tao dari salah seorangkeponakannya, telah bersiap-siap untuk menemui Ding Tao.


Meskipun di luaran, dia berlagak terkejut dan tidak menyangka akan kedatangan Ding Tao, dengan cepat dia berdiri dari tempat duduknya dan bangkit untuk menyambut Ding Tao yang masih membungkuk hormat.


―Astaga, Ding Tao. Benarkah engkau itu nak? Jangan sungkan-sungkan, pertemuan kami sebenarnya sudah hampir selesai. Nah sekarang duduklah bersama kami, kedatanganmu ini tentu membawa satu cerita yang luar biasa. Dengan tiba-tiba kau menghilang dua tahun yang lalu bersamaan dengan Pelatih Gu, kami semua mencemaskan kalian dan terus terang merasa penasaran.‖


Ding Tao merasa bersyukur, segala kekuatirannya ternyata tidak beralasan, Tuan besar Huang Jin, bukan saja tidak mencurigainya, Tuan besar Huang Jin bahkan menyambutnya seperti menyambut seorang anak yang hilang.


Membasah mata Ding Tao dengan suara sedikit serak menahan haru dia menjawab,


―Tuan besar Huang, sungguh kami bersalah, tapi ada alasan kuat mengapa aku dan guru terpaksa pergi diam-diam.‖


Dengan arif Tuan besar Huang Jin menepuk-nepuk pundak pemuda itu,


―Tenangkanlah hatimu, terhadap kesetiaanmu dan kesetiaan pelatih Gu, sedikitpun aku tidak ragu. Sejak dari awal aku sudah tahu, jika kalian berdua sampai menghilang begitu saja, tentu ada alasan yang kuat.‖


Sembari membimbing Ding Tao untuk ikut duduk dalam meja pertemuan, Tuan besar Huang Jin memberi tanda pada salah satu pelayan kepercayaan yang hadir untuk menghidangkan minuman dan makanan.


Ding Tao yang merasa sebagai seorang pelayan dalam keluarga Huang tentu saja makin merasa rikuh dan sungkan, menerima merasa tidak layak tapi menolak pun berarti sudah bersikap tidak sopan. Tuan besar Huang Jin tentu saja dapat menangkap kecanggungannya, dengan tawa ramah dia


membesarkan hati pemuda itu.

__ADS_1


―Ding Tao, janganlah terlalu sungkan, dua tahun ini tentu sudah banyak yang terjadi pada dirimu. Dari caramu berjalan dan sorot matamu, bisa kutebak, ilmumu tentu sudah maju jauh.


Hari ini aku anggap kau sebagai tamu, entah apakah nanti kau akan kembali menjadi anggota keluarga Huang atau tidak, tapi aku harap antara keluarga Huang dengan dirimu bisa terjalin satu hubungan yang baik.‖


―Tuan besar Huang, hal itu… sungguh terlalu besar kehormatan yang Tuan besar Huang berikan, hamba ini lahir sebagai pelayan tuan. Setelah berkelana dua tahun pun, dalam hati hamba masih memandang Tuan besar Huang sebagai tuan saya.‖


―Heh… anak Ding, perkataanmu itu sungguh tidak bisa aku terima. Siapa itu Liu Bei? Bukankah asalnya hanya seorang penjual sepatu jerami? Atau siapa itu Liu Bang yang menjadi pendiri Kekaisaran Han? Bukankah awalnya dia hanya seorang petani? Pahlawan lahir dari golongan mana saja, yang terpenting bagi seorang laki-laki adalah kepribadiannya.‖


―Pujian Tuan besar Huang terlalu berat untuk kuterima. Hamba ini cuma orang biasa, tentu tidak bisa dibandingkan dengan pahlawan-pahlawan dari masa yang lalu.‖


Ding Tao seorang yang rendah hati, tapi seorang yang rendah hati pun akan merasa senang jika dipuji, meskipun hatinya merasa sangat malu dengan sikap Tuan besar Huang Jin yangmemperlakukannya dengan sangat baik, di lain pihak ada juga rasa bangga yang tersisip di dalamnya.


Mendengar jawaban dan sikap Ding Tao yang malu-malu, mereka yang berduduk di sana pun tertawa bergelak, bagaimana pun juga, sebagian besar dari mereka masih ingat dengan pemuda yang dungu tapi setia dan sopan itu.


―Sudahlah, yang penting hari ini, lupakan kedudukanmu dahulu sebagai pelayan dalam keluarga Huang, sekarang ini kamu menjadi tamu bagi kami dan jangan lupa kau masih berhutang penjelasan kepada kami. Aku yakin, ceritamu pastilah sangat menarik"


, kata salah seorang di antara mereka setelah tawa mereka mereda.


Yang lain pun menggangguk setuju dan saling mendorong Ding Tao untuk cepat-cepat mengisahkan kejadian dua tahun yang lalu.


Seruan kaget dan marah terdengar dari beberapa orang, sementara wajah Tuan besar Huang Jin pun menjadi keruh saat mendengar akan kelicikan Wang Chen Jin, dengan geram dia memukul meja.


―Hmph!! Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anakany licik sama seperti bapaknya, wajahnya boleh jadi mirip Guan Yu, tapi hatinya persis Tsao Tsao.‖


Yang mendengar makian Tuan besar Huang Jin ikut mengangguk setuju, hanya Ding Tao yang tidak berani terlalu banyak berkomentar, sejenak dia berdiam diri, menunggu Tuan besar Huang Jin menyuruh dia melanjutkan cerita.


Tidak lama setelah memaki-maki Wang Dou dan anaknya, kembali mereka memandang Ding Tao,


―Lalu, kurasa Pelatih Gu-lah yang akhirnya menolongmu keluar dari sumur itu, karena malam itu kalian berdua menghilang bersamaan. Apakah benar demikian?‖


―Iya, benar sekali pengamatan Tuan besar Huang. Malam itu jika tidak ada guru, tentu umur hamba berhenti sampai di situ saja.‖


―Hmmm… tapi kami masih belum mengerti dengan jelas, jika demikian, lalu apa alasannya kalian menghilang? Seandainya malam itu dengan tidak sengaja kamu membunuh Wang Chen

__ADS_1


Jin, mungkin masih bisa kumengerti. Kalian mungkin memutuskan untuk menghindari pembalasan dendam Wang Dou tanpa menarik keluarga kami ke dalam pertikaian itu. Tapi malam itu kaulah yang kalah dan jatuh ke dalam sumur, tidak ada alasan kuat bagi kalian untuk menghilang. Wang Dou dan anaknya justru berada di pihak yang bersalah.‖


Perasaan Ding Tao cukup peka, sejak tadi dia bisa merasakan bahwa Tuan besar Huang Jin telah menarik garis pemisah antara dirinya dengan keluarga Huang. Beberapa kali dia menyebut keluarga Huang sebagai kami dan Ding Tao dengan sebutan kamu.


Tapi menilik cara mereka yang menerima dirinya dengan bersahabat, Ding Tao mengerti bahwa yang dilakukan Tuan besar Huang Jin itu justru adalah demi kebaikan dirinya.


Dengan demikian dalam pembicaraan itu, Ding Tao bukanlah berdiri sebagai seorang pelayan keluarga Huang, melainkan sebgai seorang tamu dan sahabat yang sederajat.


Tidak terkira rasa syukur dan terima kasih pemuda itu.


Bicaranya pun semakin lancar dan segala ganjalan di hatinya hilang tak berbekas. Bahkan harapannya akan hubungan yang lebih baik dengan nona muda Huang menjadi semakin besar.


Karena itu tanpa ada yang ditutup-tutupi, diapun menceritakan bahkan menunjukkan Pedang Angin Berbisik yang ada di tangannya.


Sekilas hatinya terkesiap karena untuk sekejap dia bisa melihat perubahan di wajah Tuan besar Huang Jin dan mereka semua yang hadir. Tapi ketika kemudian mereka bersikap wajar dan terbuka, hatinya pun kembali menjadi tenang.


Setelah mendengar seluruh kisah Ding Tao, semua yang hadir di sana mengangguk-angguk dengan puas.


―Adik Huang, menurutku, tidak ada salahnya kalau Ding Tao menginap di sini selama beberapa hari sebagai tamu kita. Aku yakin banyak teman lama yang ingin ditemuinya.‖,


ujar salah seorang kakak sepupu Huang Jin.


―Ya, aku setuju sekali dengan pendapat Engkoh Tiong, Ding Tao, bagaimana menurutmu? Kuharap kau tidak keberatan untuk menginap beberapa malam di rumah kami. Aku yakin ceritamu akan sangat menarik hati buat anak-anak muda di sini.


Jangan sungkan, meskipun sekali lagi aku katakan, aku sudah mengambil keputusan untuk menganggapmu bukan bagian dari keluarga ini lagi. Tapi tetap aku berharap antara keluarga


Huang dan dirimu bisa terjalin hubungan yang baik.‖


Dengan muka memerah Ding Tao mengangguk setuju,


―Kalau Tuan besar Huang mengundang, tentu hamba tidak berani menolak, tapi kalau kamar yang dulu masih kosong, biarlah hamba beristirahat di situ saja.‖


Tentu saja pada awalnya Tuan besar Huang tidak setuju jika Ding Tao hendak tidur di kamarnya yang dulu, di bagian tempat para pelayan dalam. Tapi karena Ding Tao berkeras, akhirnya Tuan besar Huang pun menyetujuinya.

__ADS_1


Tapi sebelum Ding Tao beristirahat di sana, Tuan besar Huang terlebih dahulu memerintahkan pelayan-pelayannya untuk membersihkan ruangan itu dan mengisinya dengan perabot-perabot yang lebih baik.


Ding Tao sedang mengamati kamarnya yang lama dengan rasa haru, berbagai kenangan baik yang pahit maupun yang manis singgah di benaknya. Setelah selesai melewati tanya jawab dengan Tuan besar Huang Jin, sebuah beban yang berat dirasanya lepas dari pundaknya.


__ADS_2