Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
5.Chapter 5


__ADS_3

Perlahan-lahan dia mulai mampu menyesuaikan sikapnya dan mengamati jurus serangan Wang Chen Jin.


Dan pengalamannya bertarung dengan sungguh-sungguh ini membawa kegembiraan baru bagi dirinya. Jika selama ini dia hanya bertarung dalam angan-angan, sekarang dia melihat bayangannya menjadi nyata, dengan desingan pedang lawan mengancam dirinya membuat darahnya mengalir deras.


Setiap gebrakan membuat semangatnya semakin terbangun, otaknya berputar keras dan seluruh inderanya menajam.


Seperti seekor ikan yang dilepaskan ke dalam kolam besar untuk pertama kalinya, seperti seseorang yang baru saja berhasil belajar berenang, Ding Tao seperti tidak ada bosannya dengan pengalamannya saat itu. Hilang sudah semua rasa takut dan keraguan, yang ada hanya ketegangan yang menggairahkan.


Sementara itu bagi Wang Chen Jin, ini bukanlah pertarungan yang pertama bagi dirinya, tapi kesigapan Ding Tao di luar dugaannya. Seandainya saja dia tidak terlalu menganggap remeh Ding Tao mungkin akan berbeda hasilnya.


Sayang pemuda yang tinggi adatnya ini tidak mau melihat kenyataan. Kegagalannya dalam menyerang tidak juga menyadarkan dirinya, apalagi hingga saat itu Ding Tao masih belum membalas serangannya.


Akibatnya Wang Chen Jin semakin bernafsu untuk menyerang.


Wang Dou yang menyaksikan pertandingan itu bukannya tidak menyadari kesalahan anaknya, tapi jago tua itu tidak mau menjatuhkan namanya dengan memberikan petunjuk pada anaknya yang sembrono itu.


Ketika kebanyakan wajah penonton, termasuk nona muda Huang dihiasi kehawatiran. Senyum bangga justru menghiasi wajah-wajah para jagoan dari keluarga Huang juga menyadari keadaan kedua pemuda itu.


Maklum bagi mereka yang sudah cukup tinggi tingkat ilmunya, keadaan kedua pemuda itu tampak jelas bagi mereka.


Ding Tao yang kelihatannya selalu terdesak dan diserang, selalu berhasil menggagalkan serangan Wang Chen Jin dan bukan hanya menggagalkan serangan lawannya, Ding Tao juga berhasil membuka celah pertahanan lawan.


Jika pada awal-awal Wang Chen Jin masih berhati-hati dan memperbaiki kedudukannya sebelum melancarkan serangan berikutnya, maka setelah lewat beberapa jurus, mulailah pemuda itu kehilangan kesabarannya.


Wang Chen Jin hampir meledak dengan rasa marah, ketika serangan demi serangan bisa dihadang oleh Ding Tao, emosinya menjadi semakin terbakar karena dia menyadari bahwa sedari tadi Ding Tao melawannya dengan 3 jurus yang itu-itu saja.


3 Jurus yang remeh tapi sangat mengganggunya.


Lubang-lubang kelemahanpun mulai terbuka dalam setiap serangannya.


Ding Tao yang selalu mengingat perkataan Huang Jin, tidak dengan segera mengambil keuntungan dari celah yang dilihatnya. Dia kuatir akan melukai Wang Chen Jin terlalu berat.


Kebaikan Ding Tao ini salah dimengerti oleh Wang Chen Jin, tidak pernah terbayang dalam benaknya bahwa Ding Tao dengan sengaja melepaskan peluang karena mengkhawatirkan keselamatannya.

__ADS_1


Jika saja Ding Tao sudah memiliki lebih banyak pengalaman, mungkin Ding Tao akan menyerang melalui celah-celah itu dan menarik serangannya tepat pada waktunya, untuk menyadarkan lawan akan kekalahannya.


Tapi tidak demikian yang dilakukan DIng Tao, setiap celah yang dia lihat, hanya diisi dengan serangan bayangan dalam otaknya. Diam-diam dia sudah memasukkan 7 serangan mematikan ke arah Wang Chen Jin, tapi bukan itu yang dia tunggu.


Wang Chen Jin pun menganggap hal itu sebagai hasil dari ketidakmampuan Ding Tao. hingga dalam satu waktu Wang Chen Jin menyerang tanpa memperhatikan lagi pertahanannya.


Dalam benaknya Ding Tao tidak akan mampu menghindar, kalaupun menghindar Ding Tao tidak akan mampu mengambil kesempatan untuk menyerang dirinya.


Bagaikan kilat Wang Chen Jin bergerak hingga bayangannya tampak seperti menyerang dari dua arah sekaligus.


Serangan yang pertama hanyalah tipuan, ketika Ding Tao bergerak seperti yang dia harapkan, Wang Chen Jin dengan cepat mengubah posisi tubuhnya dan menyerang dari arah yang berlawanan.


Di luar dugaan, Ding Tao justru bergerak lebih cepat lagi memotong pergerakan Wang Chen Jin, belum sempat serangan kedua dilancarkan, selarik cahaya pedang berkelebat menetak pergelangan tangan Wang Chen Jin.


Serangan Wang Chen Jin yang membadaipun bagaikan dihentakan angin topan, seperti layang-layang yang putus talinya.


Hawa pedang menyurut hilang, yang tertinggal hanyalah dua orang pemuda yang saling berhadapan.


Dan Wang Chen Jin yang menyeringai kesakitan, tangan kirinya memegangi tangan kanan yang sudah membengkak biru, tidak mampu lagi menahan pedangnya yang meluncur jatuh ke bawah.


Sekali lagi sorak sorai memecahkan suasana.


Para penduduk perkampungan keluarga Huang berlompatan gembira, mengelu-elukan pahlawan mereka hari ini.


Para tamu dan undangan yang sudah bersahabat dekat dengan keluarga Huang pun ikut memuji dan memberikan selamat pada anggota keluarga Huang yag kebetulan duduk di dekat mereka.


Tuan besar Huang Jin pun tidak menutupi kegembiraannya, akan tetapi dia tidak juga lupa dengan kepentingan bisnisnya di utara. Dengan segera dia menghampiri kedua pemuda itu,.


Terhadap Ding Tao dia menepuk pundak pemuda itu dan mengucapkan pujian singkat,


"Bagus, sekarang pergilah dan cari uwak Guan untuk mengobati luka tuan muda Wang."


Kemudian dibimbingnya Wang Chen Jin yang terluka kembali ke tempat duduknya.

__ADS_1


Wajah Wang Dou memerah, untuk sesaat dia kelihatan seperti tokoh Guan Yu dalam kisah-kisah kepahlawanan jaman dahulu.


Tapi dengan cepat dia bisa menguasai dirinya dan buru-buru menyambut kedatangan Tuan besar Huang Jin dan anaknya.


Dengan tertawa-tawa dia membungkuk memberi hormat pada Huang Jin,


"Sungguh tepat perkataan orang, ilmu keluarga Huang memang benar-benar dahsyat, siapa sangka dengan 3 jurus menaklukkan Wuling, hari ini dengan mata kepala sendiri bisa aku saksikan."


Tuan besar Huang Jin pun segera mengulapkan tangannya,


"Tentu tidak demikian, masalahnya anak-anak muda sering terburu nafsu, jika anak Wang lebih dingin tentu hasilnya akan berbeda."


Untuk beberapa saat keduanya berbasa-basi saling memuji dan merendahkan diri, dalam hati entah siapa yang tahu.


Nona muda Huang pun berceloteh seperti seekor burung menyambut pagi, saudara-saudara lelakinya tertawa terbahak-bahak mendengar celotehannya.


Huang Ren Jie, saudara yang tertua akhirnya menghentikan celotehannya itu. Si nona muda yang kena tegur pun jadi sadar dan memerah mukanya. Salah seorang tamu, menggoda si nona muda dan meledaklah tawa mereka sekalian yang mendengarnya.


Tak lama kemudian seorang tabib datang untuk merawat Wang Chen Jin, kemenangan Ding Tao menghapuskan kemarahan Huang Ying Ying dan dengan penuh perhatian dia ikut pula membantu tabib itu merawat luka Wang Chen Jin.


Luka itu sendiri tidak membahayakan jiwa, namun pukulan Ding Tao ke arah pergelangan tangan Wang Chen Jin cukup keras, meskipun hanya menggunakan lempeng pedang yang tidak tajam, tapi pergelangan Wang Chen Jin pun membengkak dan untuk beberapa lamanya tidak bisa digunakan.


Hari itu pun dilewatkan dengan banyak kegembiraan bagi keluarga Huang dan Ding Tao khususnya. Gu Tong Dang pun mendapatkan pujian karena kejeliannya menemukan bakat-bakat baru bagi keluarga Huang.


Wang Dou pun bukan orang yang berpikiran pendek, jika dia hanyalah jagoan pedang yang tidak memikir panjang ke depan dan mendahulukan perasaan, sudah tentu dia tidak akan mencapai kedudukannya yang sekarang.


Kerja sama antara dirinya dan Tuan besar Huang Jin akan membawa keuntungan bagi mereka berdua dan itu lebih penting daripada sekedar mengikutii emosi karena tersentuh harga dirinya.


Apalagi Tuan besar Huang Jin dan keluarganya pandai membawa diri, ketika pesta hari itu berakhir Tuan besar Huang


Jin dan Wang Dou pun mencapai kesepakatan kerja sama yang memuaskan keduanya.


Untuk sesaat segala sesuatunya tampak berjalan lancar dan memuaskan. Seandainya saja kisah ini berhenti di sini, tapi selamanya dunia persilatan penuh dengan kejutan. Dendam dan budi, harga diri dan kehormatan, akibat penasaran seorang anak muda, gelombang besar yang mengubah wajah dunia persilatan di masa itu pun dimulai.

__ADS_1


__ADS_2