
" Teman baik, tidak usah kuatir, mereka itu dua orang yang kuceritakan padamu." ujarnya sambil menepuk lengan Ding Tao.
" Oh, Pendekar Fu Tong dan Pendeta Pengelana Liu Chuncao."
" Ya, mari kita tunggu saja di sini.", ujar Wang Xiaho sambil melambaikan tangan ke arah kedua penunggang kuda yang mendekat dengan cepat.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menunggu Fu Tong dan Liu Chuncao, tapi yang sesaat itu terasa bertahun-tahun lamanya untuk Ding Tao. Sejak dia mendengar berita itu dari Chen Wuxi, sebuah bayangan yang menakutkan mengendap-endap masuk ke dalam hatinya. Sepanjang perjalanan dia mengucap doa, sepanjang perjalanan dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa masih ada kemungkinan bahwa berita yang diterima Chen Wuxi tidak tepat benar. Tapi sekeras apapun dia berusaha membunuh ketakutan yang menyelinap dalam hatinya, dia tidak mampu. Ketakutan itu tidak kalah liciknya dengan Hawa liar Tinju 7 Luka yang sempat merusak tubuhnya dari dalam.
Itu sebabnya Ding Tao memaksa untuk segera pergi ke Wuling, meskipun logikanya bisa menerima pendapat Wang Xiaho dan Chen Wuxi untuk menanti kedatangan Fu Tong dan Liu Chuncao. Tapi Ding Tao tidak mampu bertahan menghadapi ketakutannya itu, dia memilih lari dari ketakutan itu. Dengan berlari, dengan melakukan sesuatu, dia ingin agar pikiran itu tidak menghantuinya.
Untuk beberapa saat dia berhasil menyingkirkan ketakutan itu di sudut pikirannya yg terjauh. Sekarang saat dia harus menghadapi berita itu, Ding Tao merasa tidak siap. Perutnya terasa mengejang, seluruh isi perutnya seperti berbalik-balik di dalam.
Akhirnya keduanya sampai juga, dengan gerakan yang ringan keduanya melompat turun dari kuda dan menyapa Wang Xiaho serta mengangguk pada Ding Tao.
Fu Tong si tongkat besi, disebut demikian karena senjata andalannya adalah sebuah tongkat dari besi. Tapi Ding Tao sedikit curiga bahwa bukan itu satu-satunya alasan dia dipanggil tongkat besi. Fu Tong berbadan kurus tinggi dengan otot yang terlihat bagai dipahat dari batu padas, singkat kata, Fu Tong tampak seperti terbuat dari tongkat besi.
Liu Chuncao sebaliknya bertubuh sedikit gemuk dengan lemak menutupi tubuhnya, sebilah pedang diikatkan di punggungnya. Dari sorot mata yang tajam dan gerakan yang lembut dan ringan, Ding Tao menduga pendeta ini tentu lebih mendalami penggunaan hawa murni daripada melatih tenaga luar.
" Halo Saudara Wang, tidak disangka kita bertemu di sini.", sapa Fu Tong si tongkat besi, Liu Chincao memilih diam dan memasang senyum ramah.
" Hehe, aku baru saja dari kediaman Guru Chen dan kudengar berita tentang keluarga Huang di Wuling." sahut Wang Xiaho.
" Ah… begitu ya, jadi kau putuskan untuk pergi ke sana dan memeriksa kebenaran berita itu?"
" Sebenarnya aku hanya menemani sahabat muda di sini.", ujar Wang Xiaho sambil menunjuk ke arah Ding Tao.
" Ah, boleh aku tahu nama saudara kecil ini?‖, jawab Fu Tong sambil sedikit membungkuk ke arah Ding Tao, diikuti Liu Chuncao.
Cepat Ding Tao membalas menghormat, tapi Wang Xiaho lah yang memperkenalkan dirinya,
"Namanya Ding Tao."
" Ding Tao?", tanya Fu Tong menegas, sementara Liu Chuncao memandangi pemuda itu dengan pandangan tertarik.
__ADS_1
" Benar paman.", jawab Ding Tao singkat, ingin bertanya tapi takut mendengar jawabannya.
Wang Xiaho yang ingin menjelaskan keadaannya supaya Fu Tong dan Liu Chuncao tidak salah omong, cepat-cepat menyambung, " Ding Tao dan aku sedang dalam perjalanan ke Wuling untuk mencari kabar tentang keadaan keluarga Huang. Adik Ding Tao ini memiliki hubungan baik dengan nona muda puteri Huang Jin."
" Ah.. begitu.." , ujar Fu Tong sedikit terkejut, wajahnya menampilkan rasa kasihan pada Ding Tao.
Melihat itu tentu saja Ding Tao jadi merasa tidak tenang, jelas berita yang dibawa Fu Tong bukanlah berita baik. Jika berita baik, tidak nanti dia akan melihat ke Ding Tao dengan cara seperti dia memandang Ding Tao sekarang.
" Paman, ceritakan saja hasil penyelidikan paman", ujar pemuda itu dengan suara bergetar menahan perasaan, mukanya pucat dan tubuhnya terasa dingin.
Liu Chuncao yang memperhatikan Ding Tao sejak tadi, membuka mulutnya sebelum yg lain sempat mengatakan apa-apa, " Sebaiknya kita cari tempat untuk duduk-duduk dengan nyaman."
Fu Tong mengangguk sambil berujar, "Ya, ya, ceritanya akan cukup panjang, marilah kita cari tempat untuk beristirahat dulu."
Wang Xiaho menepuk punggung Ding Tao sambil berjalan menyusul kedua orang itu, " Ayo Ding Tao."
" Mari Paman.", sambil mengambil nafas dalam-dalam Ding Tao mengikuti ketiga orang tersebut.
Setelah mengikat kuda di sebatang pohon, mereka duduk tidak jauh dari sana dan untuk beberapa saat tidak ada seorangpun yang bicara. Fu Tong berpandangan dengan Liu Chuncao, Liu Chuncao mengangkat bahu dan tangannya bergerak, memberi tanda pada Fu Tong bahwa sebaiknya dia yang mulai bercerita.
" Kami sampai di kota Wuling kira-kira 4 hari yang lalu. Begitu kami sampai, yang pertama kami lakukan adalah pergi melewati bangunan tempat kediaman keluarga Huang dan kami lihat seluruh bangunan sudah menjadi puing-puing bekas terbakar."
Pucat pasi wajah Ding Tao, mengeluh panjang pemuda itu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
" Banyak anggota keluarga Huang yang menjadi korban malam itu, banyak dari mayat yang berhasil diselamatkan, tidak bisa dikenali karena sudah hangus terbakar bersama kediaman keluarga Huang. Tapi masih ada beberapa yang berhasil selamat." , ujar Fu Tong sambil memandang Ding Tao.
" Masih ada yang selamat, maksud paman, berita yang mengatakan seluruh anggota keluarga Huang di Wuling terbunuh tidaklah tepat benar?", tanya Ding Tao dengan secercah harapan terpancar dari wajahnya.
" Ya, Ding Tao, itu benar, tentang siapa saja yg benar-benar terbunuh malam itu, tidak mudah untuk diketahui karena penyerang membakar kediaman keluarga Huang. Dari beberapa orang yang berhasil lolos dari penyerangan itu, kami berhasil mengetahui bahwa penyerangnya adalah Tiong Fa. Kami yakin bahwa tidak mungkin Tiong Fa bekerja sendiri tapi dari para saksi, bisa dipastikan dia ikut dalam penyerangan itu. ", lanjut Fu Tong.
" Tiong Fa…", desis Ding Tao.
" Ya, Tiong Fa, beberapa orang yang selamat sempat melihatnya ikut dalam penyerangan itu, selain itu, penyerang masuk lewat jalan rahasia yang hanya bisa diketahui oran-orang penting dalam keluarga Huang. Tapi kami yakin hanya dengan bantuan dari luar dia bisa berhasil dalam penyerangan itu."
__ADS_1
" Bagaimana dengan nasib Tuan besar Huang Jin dan keluarganya?", tanya Ding Tao.
" Tuan besar Huang Jin, pamannya Huang Yunshu dan putera sulungnya sudah bisa dipastikan gugur dalam pernyerangan itu, karena masing-masing berhadapan satu lawan satu dengan tiga orang dari pihak penyerang dan cukup banyak saksi yang melihat bagaimana ketiga orang itu akhirnya gugur dalam perlawanan. Anggota keluarga yang lain tidak begitu jelas nasibnya, kamipun tidak bertanya lebih lanjut dengan mereka yang lolos. Karena kami memang hanya berusaha mencari kepastian tentang kejadian ini, tidak lebih dan tidak kurang.", kali ini Liu Chuncao yang menjelaskan.
Ding Tao menoleh pada Wang Xiaho, " Paman, kupikir aku akan melanjutkan perjalanan ke Wuling, masih ada hal yang harus kupastikan."
Wang Xiaho mengangguk, " Tentu saja, aku mengerti, aku akan ikut denganmu."
Wang Xiaho menoleh pada Fu Tong dan Liu Chuncao,
" Bagaimana dengan kalian?"
Fu Tong terdiam dan berpikir, adalah Liu Chuncao yang pertama kali memutuskan, " Aku akan ikut dengan kalian. Aku dan Fu Tong sudah tahu beberapa orang yang selamat dalam penyerangan itu dan kami tahu di mana mereka tinggal sekarang, Akan jauh lebih mudah bagi kalian kalau salah satu dari kami ikut dengan kalian ke Wuling."
" Hmm, baiklah kalau begitu, kurasa sudah diputuskan aku akan memberi kabar pada Guru Chen, sementara kalian melanjutkan perjalanan ke Wuling. Tapi ingat, aku akan menunggu kabar dari kalian di rumah Guru Chen, jangan lupa untuk mampir ke sana." ujar Fu Tong.
" Hahaha tentu saja, kita perlu membicarakan lebih lanjut tentang desas-desus akan diadakannya pemilihan Wulin
Mengzhu sebelum pertemuan 5 tahunan berikutnya.", sahut Wang Xiaho.
" Tentu saja, ayolah kita mulai perjalanan sekarang, semakin cepat kalian sampai di kota Wuling tentu lebih baik. Akupun tidak sabar ingin beristirahat dengan nyaman di rumah Guru Chen.", ujar Fu Tong sambil tersenyum lebar.
Ke empat orang itupun kemudian berpamitan dan berpisah jalan, Fu Tong memacu kudanya sendirian ke arah perguruan Guru Chen, Ding Tao bertiga memacu kudanya berderap menuju kota Wuling.
Sepanjang perjalanan tidak lupa Wang Xiaho berserita tentang pertandingan yang mereka lakukan di perguruan Guru Chen dan bagaimana Ding Tao mengalahkan mereka berempat dengan satu jurus saja. Liu Chuncao sangat tertarik pada cerita itu dan meminta Wang Xiaho untuk menceritakan kembali bersama dengan detail-detailnya.
Ding Tao hanya bisa menjawab dengan tersipu dan merendah.
Semakin Ding Tao merendah semakin seru pula Wang Xiaho bercerita, membuat Liu Chuncao semakin penasaran. Setiap orang yang gemar bersilat tentu saja suka mendengar kisah-kisah pertarungan antara dua orang jagoan. Bukan hanya mendengar saja, lama-lama Liu Chuncao pun akhirnya jadi gatal-gatal ingin mencoba kemampuan Ding Tao. Liu Chuncao tidak sabar ingin melihat jurus Ding Tao yang berhasil mengalahkan Guru Chen, dua orang murid utamanya dan Wang Xiaho, empat orang dengan satu jurus serangan saja.
Ketika kurang dari 1 hari perjalanan mereka akan sampai di Wuling, seperti rencana Ding Tao dan Wang Xiaho sebelumnya, mereka memilih untuk beristirahat sehari penuh sebelum memasuki kota. Pada saat mereka makan pagi bersama, Liu Chuncao pun mengungkapkan keinginannya untuk bertarung dengan Ding Tao.
Bubur dan bakpau yang dihidangkan sudah habis, ketiganya sedang meniup-niup dan menyeruput teh panas yang dihidangkan ketika Liu Chuncao mengungkapkan keinginannya itu.
__ADS_1
" Ding Tao, kuharap kau tidak merasa tersinggung, tapi buatku sulit untuk menerima cerita Sahabat Wang Xiaho sebelum merasakannya sendiri.", ujar Liu Chuncao sambil menikmati teh yang dihidangkan.
" Maksud Paman Liu.." tanya Ding Tao berhati-hati.