Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
65. Chapter 65


__ADS_3

Menghadapi sikap Murong Yun Hua yang demikian tiba-tiba, Ding Tao jadi gelagapan. Bukan hanya Ding Tao saja, sikap Murong Yun Hua yang mengejutkan itu juga menarik perhatian mereka yang sedang bekerja. Mereka semua berdiri tertegun, tidak tahu harus berbuat apa. Apa yang sudah dilakukan pemuda itu hingga Murong Yun Hua bersikap aneh?


Perlahan-lahan kesadaran Murong Yun Hua pun kembali, cengkeramannya pada lengan baju Ding Tao dilepaskan, dipandangnya wajah pemuda itu.


―Kakak Ding, maafkan sikapku barusan. Tapi benarkah kau sempat memiliki Pedang Angin Berbisik dan meskipun saat ini pedang itu tidak ada padamu, tapi kau tahu di mana pedang itu saat ini?‖


―Ya, memang benar begitu, setidaknya aku pikir aku tahu di mana aku harus mencari dan merebut kembali pedang itu. Tapi sebelum itu, aku harus berhasil menyembuhkan terlebih dahulu luka dalam yang kuderita.‖, jawab Ding Tao,


dpandanginya wajah Murong Yun Hua, pemuda itu khawatir Murong Yun Hua kembali bersikap histeris.


―Ada sesuatu tentang keluargaku yang kau belum tahu. Jika Kakak Ding tidak keberatan, maukah kau mendengarkan sedikit kisahku? Kita bisa mencari tempat yang teduh untuk bercakap-cakap sejenak‖, tanya Murong Yun Hua, pandang matanya terarah pada satu gubuk tempat di bawah pohon yang rindang, di sana ada beberapa potongan batu besar diletakkan dan ditata sebagai tempat duduk.


―Baiklah, mari.‖, ujar Ding Tao dengan hati mulai tertarik.


Setelah mereka sampai di tempat yang dituju, Murong Yun Hua tidak segera bercerita. Ding Tao menunggu dengan sabar, meskipun dalam hati ingin segera mendengar kisah gadis itu.


―Kakak Ding, tahukah kau siapa pembuat Pedang Angin Berbisik?‖, tanya Murong Yun Hua, membuka percakapan.


Pertanyaan itu hanya dijawab dengan gelengan kepala, karena jawabannya pasti akan segera menyusul. Timbul pula satu tebakan dalam pikiran Ding Tao, mengingat pedang kayu, replika Pedang Angin Berbisik yang ada di ruang latihan keluarga Murong. Tapi dia tidak mau mengatakan tebakannya itu, ditunggunya saja Murong Yun Hua memberikan jawaban yang pasti.


Murong Yun Hua mendesah panjang, seakan melepaskan beban di hati, sebelum kemudian menjawab,


―Ayahkulah yang membuat Pedang Angin Berbisik, hal ini memang tidak diketahui oleh banyak orang dalam dunia persilatan.‖


Ding Tao mengangguk perlahan, ―Ah, ayah nona pastilah seorang yang mahir dalam pembuatan pedang.‖


―Bukan hanya dalam hal pembuatan pedang, ayahku seorang yang mahir dalam banyak hal, kesukaannya berkeksperimen dengan apa saja yang terpegang oleh tangannya. Mempelajari setiap buku yang bisa dia dapatkan. Pedang Angin Berbisik hanyalah satu dari sekian banyak hasil pekerjaan tangannya.


Lalu Kakak Ding, tahukah kau siapa isteri dari Pendekar Jin Yong, pemilik pertama dari Pedang Angin Berbisik?‖


Sekali lagi Ding Tao menggelengkan kepalanya, meskipun dalam benaknya dia mulai menebak-nebak. Apakah Pendekar Jin Yong masih terikat dengan hubungan keluarga dengan keluarga Murong? Apakah Murong Yun Hua adalah isteri


Pendekar Jin Yong? Ah, tidak mungkin, Murong Yun Hua masih begitu muda, sedangkan sekitar 12 tahun yang lalu, Pendekar Jin Yong sudah berumur 20-an.


Cukup lama sebelum Murong Yun Hua menjawa pertanyaannya sendiri dengan suara yang lirih, ―Akulah isteri dari Pendekar Jin Yong…‖


Meskipun tebakan itu sempat lewat dalam benaknya, tidak urung Ding Tao terkejut dan bergumam tanpa sadar,


―Ah, tapi itu tidak mungkin…‖

__ADS_1


Menaikkan alis kepala Murong Yun Hua bertanya, ―Mengapa tidak mungkin?‖


Ditanya demikian, Ding Tao jadi tersipu,


―Ehm, maksudku, umur… umur… nona.. eh nyonya, kukira masih lebih muda dariku.‖


Mendengar jawaban Ding Tao wajah Murong Yun Hua yang sedari tadi tampak murung jadi berseri, sambil menahan tawa dia bertanya,


―Oh, memang umur Kakak Ding sekarangberapa?


―Umurku… umurku tahun ini genap 20 tahun.‖, jawab Ding Tao menahan malu, entah mengapa membicarakan umur Murong Yun Hua membuatnya merasa malu.


Sambil tersipu Murong Yun Hua berkata, ―Umurku tahun ini menginjak 28 tahun, aku menikah dengan Pendekar Jin Yong sejak berusia 15 tahun. Kakak Ding… ataukah aku seharusnya memanggilmu Adik Ding?‖


―Eh… ya, sungguh kupikir, nona, nyonya, masih berumur 19 atau 20-an, benar, aku tidak membohong. Maafkan aku kalau bersikap kurang sopan.‖, ujar Ding Tao merasa jengah, sudah bersikap layaknya teman, tanpa tahu jika Murong Yun Hua sudah berumur jauh lebih tua dari dirinya.


Mendesah sedih Murong Yun Hua menjawab, ―Adik Ding… ah… sebenarnya aku justru merasa senang dengan sikapmu selama ini. Tapi biarlah aku memanggilmu Adik Ding tapi sebaliknya kau panggil aku kakak, jangan nona, bisa?‖


―Oh, tentu… tapi itu jika nona, tidak keberatan.‖


Wajah Murong Yun Hua pun menjadi cerah kembali, ajaib memang begitu mudah raut wajah seseorang berubah-ubah dalam satu percakapan,


Benarkah aku masih kelihatan begitu muda?‖


Melihat Murong Yun Hua menjadi gembira, hati Ding Tao pun ikut terhibur,


―Ya, itu benar-benar yang sesungguhnya, selama ini kukira umur Kakak Yun Hua tidak lebih tua dari umurku. Eh, lalu umur Nona Huolin berapa ya?‖


―Umur Adik Huolin? Nah, nah, kenapa bertanya? Apakah kau tertarik padanya?‖, goda Murong Yun Hua yang hatinya sedang senang.


―Bukan begitu, cuma, kukira umurnya tidak jauh berbeda dengan umurku, tapi siapa tahu kau salah lagi.‖, jawab Ding Tao cepat-cepat.


―Hmmm, soal itu aku tak tahu, apa harus kukatakan padamu atau tidak.‖, jawab Murong Yun Hua dengan pandang mata menggoda.


―Eh, tidak dikatakan pun tak apa.‖, jawab Ding Tao cepat.


Sambil tersenyum Murong Yun Hua menyudahi godaannya,


―Adik Huolin, tahun ini tepat berumur 17.‖

__ADS_1


Tapi senyumnya dengan cepat menghilang, menghitung umut Murong Huolin, gadis itu jadi teringat masa-masa suram bagi keluarga Murong, dengan sedih dia berujar,


―Kasihan Adik Huolin, ayah bundanya meninggalkan dia di usia yang sangat muda.‖


―Kakak, jika aku boleh bertanya, apakah yang ingin nona bicarakan ada hubungannya dengan…, dengan kematian… suami Kakak Yun Hua?‖, Ding Tao bertanya dengan hati-hati.


Raut wajah Murong Yun Hua memang sendu tapi juga ada ketegasan di sana,


―Ya, 12 tahun yang lalu, dalam usaha merebut Pedang Angin Berbisik, beberapa orang bertopeng telah menyerang keluarga kami, setelah sebelumnya mereka menyusupkan racun ke dalam persediaan makanan kami.‖


―Ah, jadi benar rumor yang mengatakan Pendekar Jin Yong mati karena diracun orang…‖


―Tidak juga, lebih tepat jika dikatakan mati dalam pertarungan, hanya saja sebelumnya tubuh mereka menjadi lemah akibat racun itu.‖, rasa sakit hati dan penasaran terbayang di wajah Murong Yun Hua.


―Tapi, tidak pernah kudengar tentang keluarga kakak.‖, ujar Ding Tao dengan agak segan.


―Ya, ayahku tidak menginginkan nama besar dalam dunia persilatan. Beliau lebih suka menyendiri bersama dengan buku-buku kesayangannya. Hampir tidak ada seorangpun yang tahu mengenai keluarga kami.‖


―Apakah Kakak Yun Hua tahu identitas dari penyerang bertopeng itu? Atau setidaknya pernah menyelidikinya?‖


Murong Yun Hua menggelengkan kepala perlahan, ―Tidak, sebelum meninggal, ayah berpesan untuk melupakan dendam. Orang-orang bertopeng itu tentunya punya nama dalam dunia persilatan. Kakak Jin Yong dengan Pedang Angin Berbisik di tangan bukan tokoh yang mudah dihadapi, meskipun kondisinya kurang begitu baik. Begitu juga ayah dan ibu serta paman dan bibi.‖


―Ayah kakak bisa membuat pedang semacam Pedang Angin Berbisik, tentunya orang yang sangat cerdas. Jika belajar silat tentu mencapai tingkatan yang tinggi. Orang-orang bertopeng itu tentu bukan orang sembarangan.‖, desah Ding Tao yang sedang membayangkan kejadian hari itu.


Termenung mereka berdua, kemudian Murong Yun Hua menggelengkan kepala perlahan,


―Entahlah, dulu kupikir juga begitu. Tapi kenyataannya meskipun cerdas, ayah terlalu banyak mempelajari segala hal, akhirnya tidak ada fokus tertentu dalam mempelajari sesuatu. Meskipun pengetahuannya luas, dalam pertarungan yang sesungguhnya, hari itu, mungkin hanya Kakak Jin Yong yang benar-benar perlu diperhitungkan.‖


Ding Tao diam termenung, beberapa hal yang masih belum dia ketahui dari keluarga Murong, sudah diketahuinya hari ini. Tapi mengapa Murong Yun Hua baru menceritakannya sekarang?


Tentu ada hubungannya dengan dirinya dan Pedang Angin Berbisik, karena sebelum dia bercerita tentang tugasnya dan hubungannya dengan pedang itu, Murong Yun Hua masih menyimpan rapat-rapat masalah ini.


―Adik Ding, ayah memang melarang kami untuk mencari musuh dan membalas dendam, tapi ayah juga memberi tugas pada kami untuk sebisa mungkin mendapatkan kembali Pedang


Angin Berbisik. Di tangan yang salah, pedang itu menjadi pedang yang berbahaya. Ayah tidak ingin, ciptaannya meninggalkan noda kelam dalam dunia ini.


―Ahh…, paman sungguh bijaksana.‖,


berpikir sebentar pemuda itu pun melanjutkan,

__ADS_1


―Kakak Yun Hua, jika masalah itu yang ingin kakak bicarakan. Jangan kuatir, selekasnya aku mendapatkan kembali pedang itu, akan kukembalikan pedang itu pada keluarga kakak.


__ADS_2