Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
21. Chapter 21


__ADS_3

Tokoh pencipta pedang itu tentunya menciptakannya dengan seluruh bakat, pengetahuan dan tenaga yang dia miliki. Dosa besar pada leluhur jika kita menghancurkannya. Terlebih lagi sikap berputus asa, bukanlah sikap lelaki sejati.‖


Ding Tao dengan lemas memandangi pedang di tangannya, kemudian mengalihkan pandangannya itu pada gurunya, seakan bertanya, lalu apa yang bisa kita perbuat?


―Anakku, kau tadi mengatakan satu kesia-siaan bahwa pedang ini ada, karena pedang ada tapi pemilik yang tepat tidak ada. Tapi anakku, sesungguhnya aku sudah menemukan pemilik yang tepat bagi pedang itu.‖


Mendengar itu wajah Ding Tao menjadi cerah,


―Ah, bagus sekali kalau begitu. Guru sebutkan namanya dan di mana dia tinggal, murid akan menghantarkan pedang ini ke tangannya, murid akan tunjukkan bahwa tidak sia-saia guru mengajar murid. Walaupun harus memakai taruhan nyawa pedang ini akan murid pastikan sampai di tangan yang tepat.‖


Meilhat kesungguhan Ding Tao, tanpa terasa Gu Tong Dang tertawa terbahak-bahak, geli campur kagum, terharu juga bersyukur. Ding Tao yang melihat gurunya tertawa terbahak-bahak, menjadi serba salah, mau ikut tertawa dia tidak tahu apa yang membuat gurunya tertawa. Akhirnya dia berdiam diri sambil menantikan gurunya berhenti tertawa, mungkin gurunya tertawa melihat kesombongannya yang begitu yakin bisa menjaga dan mengantar pedang itu sampai pada pemilik yang tepat. Atau mungkin gurunya tertawa karena bangga pada kemauannya yang kuat.


Tapi apa yang dikatakan gurunya setelah itu, membuat Ding Tao bagai tersambar petir.


―Anak bodoh, jika mataku tidak salah, kaulah pemilik yang paling tepat dari pedang itu.‖


Melengong Ding Tao memandangi gurunya, pakah dia sedang bercanda? Atau sedang mempermainkan dirinya? Yang terlihat adalah pandangan penuh kasih dari seorang tua, yang sudah lama tidak dia rasakan sebagai seorang yatim piatu.


―Guru… apa guru bercanda? Apa guru tidak salah menilai? Aku tahu guru mengasihiku seperti mengasihi putera sendiri, apa guru yakin tidak salah menilaiku?‖


Gu Tong Dang mengangguk puas, bagi guru tua ini, kerendahan hati bukanlah kekurangan, karena Ding Tao memiliki karakter yang kuat, baginya kerendahan hati adalah sebuah modal untuk maju.


―Ding Tao, bukan tanpa alasan aku mengatakan hal ini. Bakatmu dalam memahami ilmu bela diri, mungkin bisa disandingkan dengan Pendekar besar Jin Yong. Sekarang coba aku tanya, saat kau pertama kali bertarung dengan Wang Chen


Jin, apa yang kau rasakan? Dan apa pula yang kau rasakan saat mulai mempelajari jurus-jurus lanjutan?


Dengan berkerut alis Ding Tao mencoba mengingat kembali pertarungan dua tahun yang lalu,


―Murid merasa, jalan pikiran murid jadi terbuka luas. Apa yang tadinya hanya murid bayangkan dalam pemikiran, hanya murid pahami dalam teori, pada saat itu rasanya… rasanya murid baru benar-benar memahaminya. Sulit diungkapkan dengan kata-kata, perasaan itu… itu seperti seekor ikan yang dilepaskan ke dalam air, seperti burung yang sedang terbang.‖


―Kemudian saat murid mulai mempelajari jurus-jurus lanjutan, banyak pertanyaan yang semakin jelas terjawab. Dan murid merasa lebih yakin pada pemahaman murid akan jurus-jurus dasar yang sudah murid pelajari, karena nyata kesimpulan murid terhadap jurus-jurus dasar itu sebenarnya tidak jauh meleset. Pikiran murid juga semakin terbuka dan terkadang ketika mempelajari jurus yang baru, hal itu terasa mudah, karena sebelum guru mengajarkannya, hal yang sama sudah murid pikirkan.‖


Mendengar itu Gu Tong Dang tersenyum senang.


―Hmmm, ketahuilah, banyak orang mempelajari ilmu bela diri tanpa pernah menyelami hakekat dari setiap gerakan yang mereka lakukan. Bagi orang-orang semacam ini, ilmu bela diri mereka tidak akan pernah maju melampaui kecekatan dan kekuatan. Pemahaman mereka, hanyalah menyentuh kulitnya saja.‖

__ADS_1


―Sebagian yang lain berotak lebih terang, bukan hanya mereka mampu menggunakan gerakan-gerakan itu dalam sebuah perkelahian, mereka mampu memahami lebih dalam, hakekat dari tiap-tiap gerakan. Maksud dan tujuan dari setiap jurus. Mereka-mereka ini yang memiliki kesempatan untuk maju dalam ilmu bela diri.‖


―Tapi dari sekian banyak orang itu, seberapa jauh pemahaman mereka, dan seberapa jauh mereka bisa menerapkan pemahaman mereka dalam pertarungan yang sesungguhnya, itulah yang akan membedakan jagoan kelas satu dengan jagoan kelas dua. Antara seorang Maha guru dengan seorang ahli biasa.‖


―Ding Tao, anakku, dua tahun yang lalu, pemahamanku dalam ilmu bela diri, mungkin masih berada di atasmu. Tapi dalam penerapannya di dalam pertarungan yang sesungguhnya aku masih jauh berada di bawahmu. Itu sebabnya Tuan besar


Huang, mempercayaiku untuk menjadi guru, tapi tidak untuk menjadi orang-orang kepercayaannya.‖


Ding Tao yang mendengarkan penjelasan itu pun terdiam, ada sebagian dari dirinya yang merasa berbangga mendengarkan hal itu, tapi ada pula bagian dirinya yang masih bertanya-tanya, tidak mampu menerima penjelasan itu, baginya gurunya sudah tentu masih lebih hebat dari dirinya.


―Ding Tao, tidakkah kau sadari, bahwa pada 1 tahun terakhir ini, ketika semua ilmu keluarga Huang yang kuketahui, aku ajarkan padamu, aku tidak lagi mengajarimu teori apapun.


Yang kulakukan adalah mengajukan pertanyaan padamu.‖


Memerah muka Ding Tao, karena seakan-akan dia merasa gurunya hendak mengatakan bahwa sejak saat itu dirinya sudah lebih pandai dari gurunya,


―Itu… itu tentu bukan karena guru tidak mengerti, tapi karena guru ingin melihat aku belajar menganalisa setiap persoalan secara mandiri. Seperti dahulu saat guru memaksaku untuk merenungkan jurus-jurus dasar yang ada.‖


Perlahan-lahan Gu Tong Dang menggeleng,


berani bertaruh, bahkan kakek buyut Tuan besar Huang sendiripun pemahamannya tidak sampai ke taraf itu.‖


Pucat wajah Ding Tao mendengar perkataan gurunya, mulutnya membuka hendak menyangkal, tapi wajah gurunya begitu bersungguh-sungguh. Dan di kedalaman hatinya, dia mengakui kebenaran sebagian dari kata-kata gurunya. Sesuai benar pemikiran itu ttg pemahaman dan penggunaan sebuah jurus dalam pertarungan yang sesungguhnya, dengan hasil perenungannya.


Melihat Ding Tao terdiam, Gu Tong Dang melanjutkan uraiannya,


―Muridku, mungkin saja aku salah. Tapi aku orang


tua ini, yang menjadi gurumu, dan sesuai perkataanmu sudah menanamkan budi baik yang setinggi langit padamu, percaya sepenuhnya pada bakat dan sifat yang ada padamu.‖


―Dan dengan sepenuh hati, aku berpendapat, bahwa engkau adalah pemilik yang paling tepat dari pedang itu. Karena itu pesanku yang pertama kepadamu, apapun yang terjadi, jangan biarkan pedang itu jatuh ke tangan orang lain.‖


―Kita sudah sama-sama merenungkan keadaan negara kita saat ini, dan kita sama-sama sampai pada satu kesimpulan bahwa harus ada orang yang mengalahkan dan kalau perlu mengenyahkan Ren Zuocan sebagai ancaman besar, bukan hanya bagi orang di dalam dunia persilatan tapi juga bagi


negara ini. Kita juga sudah sama-sama sampai pada

__ADS_1


kesimpulan bahwa pedang ini, bisa menjadi kunci yang memecahkan persoalan besar yang kita hadapi, asalkan pedang ini ada di tangan yang tepat.‖


―Dan sebagai gurumu, aku mengatakan, kaulah pemilik yang tepat bagi pedang ini. Kehilangan pedang ini, berarti kau menjerumuskan negaramu dalam bahaya, kau gagal menunjukkan baktimu, baktimu sebagai seorang murid kepada guru, baktimu sebagai seorang rakyat pada negaranya dan tentu saja baktimu sebagai seorang anak pada leluhurmu.‖


Lemaslah lutut Ding Tao, perkataan gurunya bagaikan gunung runtuh membebani pundaknya. Pemuda itu bersujud di depan gurunya, sambil membentur-benturkan kepala ke lantai dia mengeluh dengan hati pedih,


―Murid tidak berani… sungguh murid tidak berani guru.‖


Tiba-tiba Gu Tong Dang yang selalu tampil dengan kesabaran yang seperti tidak pernah habis, meloncat berdiri dan menendang muridnya hingga berguling-guling. Wajahnya membara, dengan mata melotot dia menggeram,


―Murid bodoh !!! Apakah gurumu ini membesarkan seorang pengecut? Apakah hidupku ini sudah kusia-siakan dengan membesarkan anak ayam !!! Bangkit kau kalau kau memang laki-laki!!!‖


Betapa terkejut hati Ding Tao tidak bisa dilukiskan, inilah kakek tua yang selalu tersenyum dan bersabar, membimbing dan mengajarnya. Selalu bersabar menanggapi kebebalannya.


Tapi kejutan itu juga menyadarkan pemuda ini, bahwa dia adalah seorang rakyat yang memiliki kewajiban, seorang murid, seorang anak yang memiliki kewajiban untuk berbakti pada guru dan orang tuanya.


Bahkan jika dia tidak memiliki ilmu bela diri secuilpun, bahkan jika yang ada di tangannya adalah cangkul dan bukan pedang, tidak sepantasnya dia lari dari tanggung jawabnya sebagai seorang laki-laki.


Menyadari kesalahannya, Ding Tao dengan cepat berlutut kembali, menunjukkan rasa hormat dan memohon ampun atas kesalahan sebelumnya. Berlutut boleh sama, tapi Ding Tao yang berlutut sekarang berbeda dengan Ding Tao yang berlutut beberapa saat yang lalu.


Dengan bergetar dia berkata,


―Guru… sungguhpun aku belum percaya bahwa aku orang yang pantas memiliki pedang ini.


Tapi demi rasa baktiku pada guru, pada leluhur dan pada negara. Tidak akan murid lari dari musuh setangguh apapun , tidak akan lepas pedang ini dari tangan murid jika nyawa masih ada di badan. Dan dengan restu guru dan para leluhur, dengan segenap kekuatan dan pengetahuan yang sudah dikaruniakan pada murid, murid akan berusaha mempertahankan negara ini dari setiap musuh, pun jika harus mengorbankan nyawa untuk itu.‖


Perlahan-lahan wajah Gu Tong Dang melembut, ditariknya pemuda itu bangkit berdiri.


―Satu hal lagi, kutahu kau tidak dapat ditahan untuk pergi menemui Tuan besar Huang. Sifatmu yang tahu membalas budi ini baik adanya. Tapi ingatlah perkataanku, baik buruk seseorang, baru terlihat saat dia dihadapkan pada bahaya besar atau keuntungan besar. Pergilah tapi berhati-hatilah, bukan tanpa alasan banyak orang terbunuh demi pedang ini.


Setiap orang yang memiliki bakat cenderung berpikir bahwa dirinyalah penyelamat dan pahlawan yang ditunggu-tunggu dunia. Tidak semua orang, atau kalau boleh kukatakan, tidak ada orang lain yang seperti dirimu, yang rela menyerahkan pedang pusaka ini demi kepentingan orang banyak.‖


―Sampai pada waktunya pertemuan lima tahunan yang berikutnya, jaga dirimu baik-baik. Perdalam pemahamanmu, perluas pengalamanmu. Aku titipkan segenap usahaku sebagai seorang yang harus berbakti pada negaranya ke atas pundakmu.‖


―Dan sebagai gurumu, kepada siapa engkau tadi bersumpah, aku perintahkan, cabutlah sumpahmu itu. Sebagai gurumu, aku nyatakan kepadamu, sumpahmu tadi tidak aku terima. Jangan bodoh dan takabur, pedang itu mungkin pedang pusaka yang bisa menyelamatkan dunia persilatan, tapi pedang itu adalah benda mati, kegunaannya terletak pada siapa pemakainya. Sementara orang adalah hidup, tanpa pedangpun, orang bisa melakukan hal-hal besar.

__ADS_1


―Jika aku mengatakan padamu bahwa kaulah orang yang layak untuk memiliki pedang itu, itu berarti dirimu sebagai manusia, jauh lebih berharga dari pedang itu. Jangankan dirimu yang belum berpengalaman. Jin Yong yang gagah perkasa itupun dapat jatuh dalam jebakan orang dan kehilangan nyawa sekaligus pedangnya. Jika pada satu posisi kau harus memilih antara nyawamu atau pedang itu. Pilihlah nyawamu, dan dengan kehidupan yang ada padamu, usahakanlah untuk memenuhi permintaanku, mengabdi pada negara, berbakti pada guru dan leluhurmu, tanpa pedang itu.‖


__ADS_2