Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
8. Chapter 8


__ADS_3

Setelah menimbang-nimbang beberapa lama, akhirnya DingTao memutuskan untuk pergi diam-diam keluar kota sebelum gerbang ditutup. Dia bisa kembali keesokan harinya saat gerbang sudah dibuka kembali.


Tentu saja itu berarti dia harus menghabiskan waktu semalaman di luar, tapi saat ini musim panas, tidak perlu dia mengkhawatirkan dinginnya malam.


Berhasil mengambil keputusan pemuda itupun segera menyingkirkan segala keraguan dari benaknya. Tidak lagi dia memikirkan masalah itu atau mencoba mereka-reka permasalahan yang sesungguhnya.


Di saat yang sama Wang Chen Jin sedang sibuk memikirkan cara untuk membalaskan sakit hatinya pada Ding Tao.Sejak kekalahannya Wang Chen Jin sudah berulang kali memainkan ulang pertandingan itu dalam otaknya. Otaknya tidak kalah encer dengan Ding Tao, diapun bukan orang yang buta atas kekurangan sendiri.


Berulang kali dia menganalisa pertandingan itu, hingga pada akhirnya dia pun yakin bahwa seharusnya dia dapat memenangkannya, seandainya saja dia tidak memandang remeh lawan dan tidak kehilangan kesabaran.


Pada awalnya hal ini membuat sakit hatinya jauh berkurang dan baginya adalah cukup dengan menyakiti hati pemuda itu lewat permainan lidahnya, tapi hari ini, semua sakit hati itu terungkit kembali.


Segala umpatan dan makian yang dilontarkan ayahnya, terkenang kembali.Wang Chen Jin bukan orang yang suka berlama-lama dalam mengambil keputusan, sekali dia memutuskan maka pikirannya akan ditujukan dengan bagaimana dia berhasil menyelesaikan hal itu.Hari itu dia sudah memutuskan untuk melenyapkan nyawa Ding Tao.


Tinggal bagaimana dia melakukannya, langkah pertama sudah dia ambil, dia mempunyai keyakinan bahwa Ding Tao akan ada di luar gerbang utara kota malam ini.


Sekarang tinggal langkah selanjutnya, dari percakapan dengan beberapa orang dalam rombongannya kali ini, Wang Chen Jin tahu bahwa mereka akan berhenti di salah satu penginapan yang dibuka di sepanjang jalan dari Wuling ke utara dan berangkat kembali keesokan harinya.


Malam ini, dia bisa dengan diam-diam mengambil salah satu kuda yang terbaik dan sampai ke gerbang utara kota Wuling sebelum tengah malam.


Masalah terakhir yang harus dipecahkan adalah, bagaimana dia membunuh Ding Tao. Sekali ini tidak boleh ada kesalahan, karena semua topeng akan disingkapkan, jika Ding Tao berhasil lolos dari pedangnya, maka hubungan yang baru saja dijalin antara ayahnya dan Tuan besar Huang Jin bisa berantakan.


Kalaupun hubungan itu masih bisa dipertahankan, karena perhitungan untung dan rugi, adalah hubungannya dengan nona muda Huang yang sudah bisa dipastikan berakhir.


Karena itu Ding Tao harus mati, bukan hanya mati, tapi juga tidak boleh ada orang yang bisa menghubungkan kematian Ding Tao dengan dirinya.


Kematiannya juga harus berlangsung dengan cepat, karena butuh waktu untuk kembali dari Wuling ke penginapan itu, dan dia harus kembali sebelum fajar tiba.

__ADS_1


Dari pemikiran ini, maka Wang Chen Jin sampai pada satu kesimpulan, untuk membunuh Ding Tao, dia harus meminjam pedang pusaka milik ayahnya.


Pedang pusaka ini tidak bernama, keberadaannya pun sangat dirahasiakan, kecuali ayahnya dan 2 orang kepercayaan dalam kelompok mereka, tidak ada seorangpun yang tahu mengenai keberadaan pedang pusaka ini.


Pedang pusaka ini sesungguhnya tidak tepat dinamakan pedang, panjang mata pedangnya tidak lebih dari 5 cun, tapi tajamnya luar biasa.Seluruh bagiannya merupakan kesatuan, dari gagang hingga mata pedang, hampir tidak ada penahan yang memisahkan mata pedang dengan gagang pedang.Jika tidak waspada dan tidak kuat menggenggam, bukan tidak mungkin jari pemakainya bisa terpotong sendiri oleh tajamnya pedang.


Pembuatnya secara tidak sengaja telah menambahkan unsur kimia dari logam lain ketika mengolah biji besi yang digunakannya.Hal ini terjadi tanpa sengaja dan tidak disadari, hingga ketika pembuatnya mendapati pedang buatannya, jauh lebih kuat, lebih lentur dan bisa dibuat sedemikian tajamnya tanpa menjadi retas, tidak dapat pula dia untuk membuat pedang yang berkualitas sama untuk kedua kalinya.


Ditambah keahlian dari pembuat pedang, maka tidak salah jika pedang ini menjadi pedang pusaka.


Sudah tentu dulunya pedang ini memiliki nama, sebagai pedang pusaka yang tidak ada duanya. Tapi dalam genggaman Wang Dou pedang ini berubah menjadi pedang tak bernama.


Begitu berharganya pedang ini sehingga kemanapun Wang Dou pergi, pedang ini tentu dibawanya. Tapi tidak sekalipun pedang ini digunakannya.


Dibuatnya selongsong kayu dan disimpannya pedang itu di tengahnya. Jika orang memandang maka yang terlihat adalah sebuah tongkat. Dan tongkat itulah yang dipakai Wang Dou sebagai senjata, tapi tidak sekalipun dia menarik pedang yang tersembunyi dalam tongkat.


Wang Chen Jin adalah putera satu-satunya, kepada puteranya itu tidak mau tidak, rahasia itu diberitahukan. Harapannya kelak, jika sampai dia gagal meraih cita-citanya, maka puteranyalah yang akan meneruskan.


Pedang inilah yang menjadi kekuatan utama Wang Chen Jin untuk melenyapkan Ding Tao.


Tidak jarang seorang ahli bisa mengurai pembunuh seseorang lewat luka yang ditinggalkan. Tapi tidak seorangpun dalam dunia persilatan yang tahu akan pedang pusaka milik ayahnya, dengan demikian jejak luka yang tertinggal di tubuh Ding Tao tidak akan merembet pada dirinya atau ayahnya.Dari segi ilmu dia yakin dapat mengalahkan Ding Tao, ditambah dengan pedang pusaka maka kesempatannya pun meningkat berkali-kali lipat.


Selama perjalanan hal ini berulang kali dipikirkannya, dan semakin dia memikirkan rencana itu, semakin dia yakin bahwa rencananya akan berhasil.


Malam sudah tiba, hari cerah tak berawan, bulan masih berbentuk sabit dan di langit tampak bertaburan bintang.


Di salah satu sudut di dekat gerbang utara kota Wuling, DingTao meringkuk diam, menunggu. Sudah sejak sore tadi dia menunggu, diam, jauh dari kerumunan, di sebuah gerobak yang sudah sejak siang ditinggalkan pemiliknya, karena isi dagangannya telah habis.

__ADS_1


Besok dia akan mengisinya dengan dagangan yang baru, tapi sekarang gerobak itu ditinggalkannya begitu saja.


Sebilah pedang, pedang yang menjadi kebanggaannya, pertanda akan hasil ketekunannya dipeluknya erat-erat. Malam ini pedang itulah satu-satunya teman dalam penantian.Dari sore hingga jauh tengah malam, jika bukan Ding Tao mungkin sudah lama pergi meninggalkan tempat itu, setidaknya berpindah ke tempat lain.


Tapi tidak demikian dengan Ding Tao, ditunggunya dengan sabar, jika perlu hingga fajar datang.


Sambil menunggu direnungkannya jurus-jurus baru yang dia pelajari beberapa hari ini.


Betapa dia merasa gembira karena jurus-jurus yang baru ini banyak mengungkap kemungkinan-kemungkinan dalam memainkan pedang dan tangannya. Pertanyaan yang dulu belum terjawab saat melatih jurus-jurus dasar, dia temukan jawabannya di jurus-jurus yang baru ini.


Sejak pertarungannya dengan Wang Chen Jin, pemahaman Ding Tao akan seni bela diri mendapatkan satu terobosan.Hampir seperti mendapatkan pencerahan, seorang siswa yang belajar dengan tekun suatu ilmu tentu pernah merasakan terobosan semacam ini. Ketika tiba-tiba yang awalnya hanya berupa hapalan, berupa laku yang ditekuni, tiba-tiba didapatkan pemahaman.


Dan yang tadinya terasa antara ada dan tiada, dimengerti tapi tak dapat dipahami, melihat namun hanya bayang-bayang saja.Tiba-tiba dalam satu titik tertentu terungkap dan bisa dimengerti dengan terang.


Dalam waktu yang kurang dari seminggu, Ding Tao hari ini berbeda dengan Ding Tao yang berusaha lulus dalam ujian kenaikan tingkat.


Hal ini bukanlah karena obat ajaib atau ilmu ajaib, ini adalah hasil ketekunan.


Pencerahan datangnya memang sulit diduga dan bergantung pada bakat serta keberuntungan. Pada beberapa orang setelah bertekun berpuluh-puluh tahun barulah mendapatkan kemajuan, pada beberapa yang lain pencerahan itu datang seperti tiba-tiba.


Kedalaman pemahaman seseorang pun bervariasi tergantung dari bakat dan pengetahuan yang sudah dipupuk sebelumnya.


Tapi yang pasti pencerahan itu sendiri adalah akumulasi


perenungan, laku dan usaha yang tidak kenal lelah, meskipun pelakunya sendiri terkadang tidak menyadarinya.


Dalam keadaan seperti itu, menghabiskan waktu berlama-lama dengan berduduk diam di satu tempat tidak menjadi masalah bagi Ding Tao. Berjam-jam berlalu Ding Tao hanyut dalam renungannya.

__ADS_1


__ADS_2