Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
67. Chapter 67


__ADS_3

―Benarkah ada yang demikian?‖, tanya Ding Tao dengan rasa tertarik.


Melihat ketertarikan Ding Tao, Murong Yun Hua merasa mendapat angin,


―Tentu saja ada, tidak banyak memang, tapi terkadang ilmu yang hilang itu justru merupakan dasar dari ilmu yang kemudian dikembangkan menjadi ilmu rahasia yang ada sekarang. Nah, apakah kau tertarik untuk mempelajarinya?


―Hmmm, tentu saja akan sangat menarik untuk mempelajarinya. Tapi apakah memang akan berguna untukmenyembuhkanku dari bekas pukulan Tinju 7 Luka, ilmu apapun yang dapat kupelajari saat ini, jika hawa murni tidak bisa digunakan dengan leluasa, akan berkurang artinya.‖, jawab Ding Tao yang mulai tertarik, namun masih ragu-ragu untuk meng-iyakan.


―Adik Ding, meskipun aku sendiri tidak pernah mempelajari bagian dari ilmu silat karena aku tidak tertarik, namun pernah kubaca sekilas sebuah buku mengenai tenaga dalam, dari pengantar yang dituliskan ayah, ilmu ini adalah dasar dari ilmu


Tinju 7 Luka dari perguruan Kongtong.‖


―Apakah itu bukan miliki perguruan Kongtong?‖, tanya Ding Tao.


―Bukan, ayah dengan jelas menuliskan hal itu, akan tetapi salah seorang yang memiliki ilmu itu mengembangkannya dan kemudia mewariskannya pada pendiri Perguruan Kongtong. Tentu saja akan ada perbedaan, tapi kukira secara mendasar kau bisa meraba-raba dan mungkin menemukan cara untuk menyembuhkan lukamu. Bagaimana?‖,


mata Murong Yun Hua memandang penuh harap pada Ding Tao.


Saat dia melihat Ding Tao masih ragu, dia cepat-cepat menambahkan,


―Adik Ding, pernahkah kau berpikir, apakah


Biksu Khongzhe akan mau menerimamu begitu saja? Meskipun dikatakan sebuah biara, namun Shaolin bukan biara biasa. Jangankan Shaolin yang begitu besar, biara yang biasa-biasa pun, tidak gampang jika kau ingin bertemu dengan biksu kepalanya. Bisakah kau bayangkan jika kau, tanpa nama, tanpa surat pengantar, datang ke sana dan meminta untuk bertemu dengan Biksu Shaolin, Biksu kepala dari Biara Shaolin yang besar?‖


Ding Tao pun menggigit bibir membayangkan hal itu, ya dia bukan siapa-siapa, tidak pula dia membawa surat pengantar dari orang yang kenal baik dengan ketua Shaolin tersebut.

__ADS_1


―Adik Ding, bukannya aku mengatakan bahwa Biksu Khongzhe seorang yang sombong. Tapi sebagai kepala dan pemimpin dari sebuah biara yang begitu besar, tentu dia akan sibuk dengan banyak tugas. Bisakah kau bayangkan, jika setiap orang, tanpa memandang tinggi dan rendah derajatnya, tanpa memandang penting tidak urusannya, diperbolehkan menemuinya?‖


Akhirnya Ding Tao pun menyerah, kata-kata Murong Yun Hua bisa diterimanya. Selama ini dia belum pernah memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah sampai di Shaolin nanti. Dalam benaknya, setelah sampai di sana dia akan menceritakan apa adanya dan menanti keputusan mereka. Tapi setelah mendengarkan uraian Murong Yun Hua, terbayanglah di benak pemuda itu, betapa sulitnya untuk menemui Biksu Khongzhe dengan keadaannya saat ini. Bisa jadi dia harus menunggu berbulan-bulan lamanya, itu jika dia masih beruntung mendapatkan jawaban.


―Kakak Yun Hua, aku memang bodoh, tidak pernah terpikir sejauh itu. Jika kakak memang mengijinkan aku untuk melihat tulisan itu, tentu akan sangat membantu.‖, ujarnya dengan pasrah.


Senyumpun mengembang di wajah Murong Yun Hua,


―Baguslah kalau begitu, tapi Adik Ding, tulisan dalam ruangan itu tidak boleh dibawa keluar, kau hanya boleh mempelajarinya di sana.‖


―Tentu saja, apapun peraturannya aku akan mengikut saja.‖, jawab Ding Tao.


―Tapi setelah kau mendapatkan ijin untuk memasukinya, segala tulisan yang ada di sana boleh kau baca. Mengertikah kau maksudku?‖, tanya Murong Yun Hua untuk menegaskan.


―Ya, ya, kukira aku mengerti, Kakak Yun Hua, kau sungguh baik sekali terhadapku.‖, ujar Ding Tai terharu.


―Ya, katakan saja kakak, jika ada satu tugas, tentu aku tidak akan lari darinya.‖, jawab Ding Tao dengan tulus.


―… hal itu bisa terjadi, hanya jika kau… kau… bersedia untuk menjadi penerus keluarga Murong. Dengan begitu tentu saja, baik ruangan itu, maupun Pedang Angin Berbisik sudah menjadi hakmu. Bahkan gedung bangunan dan segala isinya akan jadi milikmu.‖, setelah mengatakan itu, wajah Murong Yun Hua bersemu merah dan dia menundukkan kepala, tidak berani memandang Ding Tao.


―M.. maksud kakak, mm… apakah aku harus mengganti marga? Atau … mengangkat ayah kakak sebagai ayah angkatku?‖, tanya Ding Tao dengan hati berdebar, entah mengapa melihat cara Murong Yun Hua mengatakannya, ada satu kemungkinan yang tidak berani dia pikirkan.


Murong Yun Hua menggeleng perlahan, lama tidak ada yang berbicara. Tidak Murong Yun Hua, tidak pula Ding Tao. Kemudian dengan tersendat-sendat Murong Yun Hua menjelaskan.


―Sebelum meninggal ayah berpesan, karena tidak ada lagi keturunan laki-laki dalam keluarga Murong, jika aku atau Adik Huolin menemukan lelaki yang berkepribadian baik dan berbakat bagus. Maka hendaknya kami menikahinya.

__ADS_1


Kemudian satu putra dariku akan melanjutkan garis keturunan ayah, satu putra dari Adik Huolin melanjutkan garis keturunan dari paman. Keduanya akan memakai nama marga Murong, tapi keturunan laki-laki selanjutnya bolehlah menggunakan nama marga laki-laki itu. Sebagai gantinya, seluruh harta warisan keluarga Murong akan diberikan pada laki-laki itu.‖


Selesai menjelaskan, Murong Yun Hua tidak punya lagi kekuatan untuk mengangkat kepalanya. Wajahnya terasa panas karena malu, bahkan hingga leher dan pundaknya yang terlihat oleh Ding Tao pun bersemu merah. Ding Tao sendiri merasa dunianya berputar-putar, tangannya bergerak memijit dahinya yang tiba-tiba terasa pusing.


Pemuda itu sadar, butuh keberanian yang besar bagi Murong Yun Hua untuk mengatakan itu semua. Betapa akan hancur harga diri gadis itu jika sampai Ding Tao menolaknya. Tapi jika


Ding Tao menerimanya, bagaimana pula dengan perasaan Huang Ying Ying yang saat ini sedang menantinya? Jika hendak ditimbang-timbang, bisa juga Ding Tao beralasan, bahwa dia menerima tawaran Murong Yun Hua demi kewajibannya untuk menyelesaikan tugas yang sudah dipercayakan kepadanya.


Tapi apakah Ding Tao bisa mengatakan itu dengan hati nurani yang jujur?


Jika Murong Yun Hua dan Murong Huolin adalah sepasang gadis yang buruk rupa, mungkin akan lebih mudah bagi Ding Tao untuk memutuskan. Bahwa ini adalah pengorbanannya demi menyelesaikan tugas yang menyangkut kepentingan yang lebih luas dari kepentingan pribadi. Ding Tao rela mati demi


Huang Ying Ying, tapi demi kewajibannya dia rela mengorbankan cinta antara dirinya dengan Huang Ying Ying.


Berdasarkan pemikiran ini tentu saja berarti Ding Tao sebaiknya menerima tawaran Murong Yun Hua. Sayang Ding Tao masih jujur pada nuraninya sendiri, adakah dia memandang ini sebagai pengorbanan atau kesempatan?


Bukankah dalam hati kecilnya dia pun memiliki keinginan untuk memiliki kedua gadis yang cantik itu?


Demikian benak pemuda itu dipenuhi berbagai macam pemikiran. Seperti dalam sebuah sidang di mana hakim, jaksa penuntut dan pembela saling mengemukakan pendapatnya masing-masing. Bedanya dalam pengadilan mereka punya waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari sebelum mengambil keputusan, namun Ding Tao tidak memiliki waktu selama itu.


Murong Yun Hua menanti jawaban Ding Tao dengan hati yang berdebar, ada harap ada pula cemas, ada rasa malu dan ada rasa was-was. Detik demi detik berlalu terasa begitu lambat, hanya bisa menanti dan menanti.


―Adik Ding, aku sudah mengamat-amati dirimu selama dua hari ini, aku yakin kau orang yang tepat dan sedikit keraguan yang ada, terhapus sudah saat kau mengatakan kau pernah mendapatkan Pedang Angin Berbisik, ini sungguh pertanda yang baik. Adik Ding kau berjodoh dengan Pedang Angin Berbisik, sekian tahun aku meragu pada siapa bisa kupercayakan amanat ayah ini, tapi sekarang aku tidak ragu lagi. Adik Ding dalam pandanganku engkaulah orang yang dikirimkan oleh ayah dan paman, untuk menolong kami keluar dari kesusahan ini.‖, ujar Murong Yun Hua berusaha membujuk pemuda itu untuk kesekian kalinya.


Perlahan Ding Tao membuka mulutnya, bibirnya bergetar.

__ADS_1


Apakah jawaban Ding Tao?


Pada saat yang sama, di sebuah tempat yang jauh, kejadian yang tidak kalah pentingya sedang terjadi.


__ADS_2