
Kereta tidak dipacu untuk berjalan cepat, kereta itu berjalan saja dengan wajar seperti dua-tiga kereta lain yang kebetulan ada di jalan. Sepasang iblis itu belum sadar bahwa hilangnya Ding Tao dari jalan adalah karena pemuda itu mendapatkan tumpangan kereta. Disangkanya Ding Tao menghilang lagi di salah satu tikungan yang ada di jalan itu. Ketika mereka memeriksa tiap-tiap tikungan yang ada, dengan lenggang kangkung, kereta itu pergi meninggalkan kota.
Yang pertama dirasakan Ding Tao saat masuk ke dalam kereta adalah bau harum dan segar yang memenuhi kereta itu.
Mencium bau itu, Ding Tao jadi teringat dengan dirinya yang berkeringat dan berbau apek setelah berlarian menyusuri jalan.
Dengan wajah bersemu, pemuda itu mengucapkan terima kasih,
" Terima kasih atas pertolongan nona-nona sekalian".
" Tidak perlu sungkan, kami kenal dua orang yang sedang mengejarmu. Sepasang iblis yang kejam. Siapa pun yang dikejar mereka, sudah tentu orang yang patut ditolong.",
jawab gadis berbaju putih, suaranya lembut selembut kelopak bunga peoni.
" Sudah ditolong kenapa tidak cepat-cepat memperkenalkan nama dan apa urusannya hingga dirimu dikejar sepasang iblis itu?",
dengan lirikan nakal, gadis berjubah musim gugur mencela.
Ding Tao memang paling gampang dipermainkan dan digoda, dia bukan pemuda yang lincah dengan kata-kata. Mukanya yang sudah merona merah, makin terasa panas karena malu,
" Ya, ya, maafkan aku lupa memperkenalkan diri, namaku Ding Tao. Dua orang itu mengejarku karena mereka menginginkan sesuatu dariku".
" Oh, namamu Ding Tao, tapi kenapa berputar-putar menjelaskan. Kalau mereka mengejarmu, sudah tentu karena menginginkan sesuatu darimu. Tapi apa yang mereka inginkan darimu? Apakah kepalamu, atau peta harta karun atau mungkin kau menyimpan kitab rahasia. Yang pasti jangan bilang, kalau iblis betina menginginkan cintamu dan iblis jantan yang cemburu menginginkan nyawamu, meskipun wajahmu lumayan menarik untuk dilihat tapi sepasang iblis itu biarpun berwatak iblis, tapi cukup mengenal arti kata setia", cerocos gadis berjubah musim gugur.
―Itu.. itu…, tak dapat dengan bebas kukatakan. Masalahnya cukup pelik dan menyangkut masalah yang berbahaya. Lebih baik jika nona-nona tidak tahu apa-apa mengenainya‖, jawab Ding Tao dengan terbata-bata.
―Astaga…, cici dengar itu? Sudah ditolong tidak tahu pula berterima kasih, beraninya dia menaruh curiga pada kita.‖, omel gadis berjubah musim gugur.
__ADS_1
―Bukan begitu maksudku…‖, ujar Ding Tao dengan memelas, sungguh dia tidak habis pikir bagaimana harus menjawab.
Pemuda yang baru saja berhasil menipu dan mengadu domba, jagoan-jagoan yang sudah kenyang makan asam garamnya dunia persilatan, sekarang mati kutu di hadapan seorang gadismuda. Memang terkadang berurusan dengan pedang lebih mudah daripada menghadapi lidah tajam seorang gadis yang cantik nan menawan.
Gadis berbaju putih, melepit pula kipasnya, kemudian mengetuk tangan gadis berjubah musim gugur menggunakan kipas itu sambil menegur,
―Cobalah kau diam, orang tidak mau kau tahu urusan, mengapa kau harus usil?‖
Kipas dilepit, wajah yang tadi tertutup sekarang jadi terlihat, Huang Ying Ying adalah seorang gadis yang cantik, gadis berjubah musim gugur itu pun seorang gadis yang cantik. Tapi gadis berbaju putih ini, jauh lebih cantik, kecantikannya begitu anggun dan mempesona. Ekspresinya anggun dan tenang, memancarkan kedamaian, memandang gadis itu Ding Tao jadi teringat kisah-kisah tentang Chang‘e, dewi bulan.
Melihat mata Ding Tao yang terpesona memandangi kakak perempuannya, jelas saja si gadis berjubah musim gugur tidak tinggal diam,
―O la la, cici coba lihat, matanya tidak berkedip memandangmu. Aku tahu memang aku tidak secantik dirimu, tapi baru kali ini kulihat seorang pemuda dengan terang-terangan tidak mengacuhkan diriku.‖
Mulut Ding Tao pun menganga hendak menjawab, tapi tak bisa juga hendak menjawab apa. Melihat wajah pemuda itu sekarang ini sungguh-sungguh memelaskan hati.
Dengan muka yang sudah merah padam Ding Tao cepat-cepat mengatupkan mulutnya. Dengan menundukkan kepala dia berusaha meminta maaf,
―Maaf, maaf, sikapku kurang sopan.
Terima kasih banyak atas pertolongan nona-nona sekalian, tapi keadaan sudah aman, mungkin sebaiknya aku turun di sini saja.‖
―Tidak perlu‖, kata gadis berbaju putih dengan lembut, tangannya bergerak menahan tubuh Ding Tao yang sudah beringsut hendak melompat keluar dari kereta.
Baru memandang saja Ding Tao sudah terpesona, saat tangan gadis itu menyentuh pundaknya dengan lembut, bau harum bunga menyebar keluar dari arah gadis itu, jari-jari yang lentik terasa menyentuh ringan pundaknya. Jantung Ding Tao jadi berdebaran, ingatannya berkelebat pada Huang Ying Ying yang menantinya di Wuling, hatinya merasa bersalah dan malu.
Inginnya dia segera melompat keluar dan melupakan kejadian hari itu. Tapi jari yang lentik itu seperti memilki mantra yang membuat Ding Tao diam menurut dan tidak bisa melompat pergi.
__ADS_1
―Jangan pergi dulu, tidak usah kau dengarkan perkataan adikku, dia memang nakal. Sebaiknya kau ikut sampai kediaman kami di luar kota, di sana lebih aman dan jauh dari sepasang iblis itu.‖
Ah, betapa lemah hati seorang pahlawan, ketika berhadapan dengan gadis cantik. Meskipun wanita sering menginginkan lelaki yang halus perasaannya, tapi Lelaki yang tidak berperasaan mungkin lebih setia daripada lelaki yang terlalu halus perasaannya. Tak tega menolak, Ding Tao mengangguk diam.
Gadis berjubah musim gugur, tidak berani mengeluarkan kata-kata, tapi dia masih berani meleletkan lidahnya dan mengerling menggoda, saat kakak perempuannya tidak melihat.
Perjalanan dilalui dengan diam, sejak teringat dengan Huang Ying Ying, Ding Tao tidak lagi berani menengadahkan kepalanya. Pemuda itu takut terpikat lebih jauh lagi dengan gadis berbaju putih, lebih takut lagi digoda oleh gadis berjubah musim gugur. Sebenarnya ada rasa penasaran, ingin tahu lebih jauh siapakah kedua gadis itu. Keduanya tidak mengenalkan nama, meskipun Ding Tao sudah mengenalkan namanya.
Ding Tao tidak berani bertanya, kalau bertanya, cari mati namanya, lidah tajam gadis berjubah musim gugur tentu sudah siap dengan godaan yang lain. Masih bagus sekarang dia tidak berani menggoda Ding Tao setelah ditegur oleh kakak perempuannya.
Tapi apakah mereka benar saudara sekandung? Atau ada hubungan keluarga yang berbeda? Gadis berjubah musim gugur itu memang cantik, tapi gadis berbaju putih itu terlampau jauh lebih cantik. Meskipun sama-sama cantik tapi keduanya tidaklah mirip.
Mungkin saudara satu ayah lain ibu, atau saudara sepupu dan banyak atau lainnya. Sementara Ding Tao sedang mereka-reka, mulutnya terkunci rapat. Gadis berbaju putih tidak menanyakan apa-apa padanya, yang berjubah musim gugur pun sekarang lebih sibuk melihat-lihat keluar daripada berbicara. Waktu dilalui dengan diam, kereta bergerak dengan malasnya menuju keluar kota, melintasi sungai kecil dan sebuah desa yang cukup ramai. Kereta baru berhenti saat tib di pinggir sebuah mata air yang jernih, airnya mengalir jauh dan berhenti di sebuah danau kecil.
Di pantai danau kecil itu ada sebuah bangunan besar dengan bentuk yang sederhana, dikelilingi taman bunga dan berbagai macam tanaman obat-obatan.
Di depan bangunan itulah kereta berhenti, gadis berjubah musim gugur membuka pintu kereta lalu melompat keluar,
" Ah akhirnya kita sampai juga cici. Lihat, bunga peoni yang kau tanam sudah mekar dengan indahnya.‖
―Bibi, bibi, kami sudah sampai.‖,
kicau gadis itu, berlari sambil melambaikan tangan, meninggalkan Ding Tao dan gadis berbaju putih sendirian dalam kereta.
Sejenak mereka berpandangan, saat pandang mata mereka bertemu, jantung Ding Tao berdebaran. Sadar bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan, cepat-cepat Ding Tao turun dari kereta.
Sambil menunggu gadis berbaju putih turun dari kereta, Ding Tao berjalan lambat sambil melihat ke sekelilingnya. Sebagai bekas tukang kebun di kediaman Tuan besar Huang Jin, Ding Tao adalah seorang yang mencintai keindahan, perasaannya yang halus dan peka terhadap segala sesuatu yang cantik.
__ADS_1
Dengan cepat perhatiannya ditarik oleh keindahan taman yang ada di sekelilingnya. Tidak jemu-jemunya dia memandangi pohon dan bunga-bungaan, yang ditata apik dan rapi.