
Tiong Fa sedang duduk termenung, menghadapi sebuah lilin kecil yang menyala menerangi ruangan kecil miliknya. Sebuah ruangan pribadi, satu-satunya tempat di mana dirinya bisa merasa benar-benar aman.
Di luar dua orang kepercayaannya berjaga.Di bawah tempat dia duduk ada sebuah lorong rahasia, lantai tempat kursinya berada dapat terbuka dengan cepat saat dia menekan salah satu tuas rahasia yang ada di balik mejanya. Mejanya sendiri penuh dengan alat-alat pelontar senjata rahasia.
Dalam ruangan yang kecil ini, Tiong Fa merasa aman.Sudah dua minggu berlalu sejak sandiwara yang dia sarankan pada Tuan besar Huang Jin akhirnya dilaksanakan. Sejak dua minggu yang lalu, Tiong Fa bukan lagi seorang penasihat dalam keluarga Huang. Sudah dua minggu, Tiong Fa menjadi orang buangan. Tapi selama dua minggu itu pula Tiong Fa merasakan yang namanya kekuasaan penuh.
Jauh sebelum peristiwa Ding Tao terjadi, Tiong Fa yang bertugas membentuk jaringan mata-mata bagi keluarga Huang, sudah memiliki jaringan sendiri. Ruangan ini adalah salah satu tempat Tiong Fa mengadakan pertemuan dengan bawahannya di luaran. Akibat kejadian dengan Ding Tao, Tiong Fa yang terbuang dari keluarga Huang, sekarang ruangan ini pun berubah menjadi rumah bagi Tiong Fa.
Ruangan ini dibangun di sebuah kompleks pelacuran yang cukup terkenal di Luo Yang. Sebagai ibu kota kerajaaan banyak pendekar-pendekar dari perguruan besar mencoba mencari nama atau mencari penghidupan di sini. Segala macam golongan bisa ditemui di Luo Yang.
Sebuah tempat yang cocok bagi Tiong Fa untuk mengerjakan tugasnya, mengumpulkan data dan mencuri rahasia-rahasia ilmu perguruan di dunia persilatan.
Menjadi jagoan silat, tidak serta merta memberikan penghasilan. Menjadi jagoan mungkin mimpi yang menarik, tapi kenyataannya jagoan silat pun butuh makan. Ilmu silat bukanlah ilmu yang bisa dipelajari dengan setengah-setengah, mempelajari ilmu silat membutuhkan fokus dan komitmen yang tinggi. Setelah berhasil melatih ilmunya, seorang jagoan silat yang baru terjun dalam dunia nyata, barulah sadar bila dia tidak memiliki ketrampilan lain di luar berkelahi, tidaklah mudah untuk mencari penghasilan untuk hidup.
Melihat jagoan silat berjalan dengan gagah, senjata terselip di pinggang atau di punggung, baju yang mewah dan jubah dari sutra. Makan di rumah makan yang mewah, bersenang-senang di tempat perjudian dan pelacuran kelas tinggi. Memancing
orang-orang muda untuk menikmati kesuksesan yang sama, tidak pernah terpikir, dari mana mereka mendapatkan uang untuk memenuhi segala kesenangan itu. Yang mereka tahu hanya belajar silat, berusaha menjadi tenar dengan keahlian mereka mengayun-ayunkan pedang, dan mereka pikir uang akan datang dengan sendirinya.
Kenyataannya tentu saja jauh dari itu. Pertama, untuk menjadi jagoan ternama bukanlah hal yang mudah, dengan banyaknya yang tertarik untuk mempelajari ilmu silat, tentu saja tidak gampang untuk menjadi yang terbaik.
Yang kedua, mempunyai nama tidak mendatangkan uang. Jika ingin uang tentu harus menjual keahlian itu, entah menjadi guru, menjadi pengawal atau jual jasa lainnya. Singkatnya setinggi apapun ilmu silatmu, akhirnya kau Cuma jadi anjing penjaga untuk mereka yag punya uang dan kekuasaan.
Mereka yang memiliki gengsi tinggi dan segan untuk bekerja bagi orang lain, tidak jarang berakhir memilih jalan hitam.
Sebagian besar yang lain memilih untuk bekerja sebagai pengawal pejabat dan orang kaya, pada perusahaan pengantaran barang, sebagai guru silat atau menjual kepandaian di pinggir jalan.
Di tengah sulitnya hidup berbekal ilmu silat inilah, Tiong Fa memanfaatkan kekayaan keluarga Huang untuk menarik jago-jago yang sedang kesulitan keuangan ke dalam pengaruhnya.
Beberapa puluh tahun yang lalu Tiong Fa muda dan Huang Jin muda, menjadi jagoan di daerah sendiri, memiliki mimpi untuk menjagoi dunia persilatan. Kemenangan-kemenangan mereka dalam pertandingn yang ada membuat mereka memiliki keyakinan untuk bermimpi. Lupa pada nasihat kakek Huang Jin yang melarang keturunannya untuk terlalu dalam berkecimpung dalam dunia persilatan dan lebih baik menekuni urusan perdagangan.
Memiliki impian yang sama keduanya mulai bekerja sama. Paman Huang Jin, Huang Yunshu memiliki pendapat yang bersesuaian dengan Huang Jin, meskipun selama Ayah Huang
Jin hidup dia tidak berani mengemukakan pendapatnya tersebut, tapi saat kepemimpinan pindah ke tangan Huang Jin, dengan bersemangat jagoan tua itu mendukung keinginan Huang Jin.
Tapi itu puluhan tahun yang lalu. Puluhan tahun sudah lewat dan jalan untuk menguasai dunia persilatn masih jauh dari tercapai.
Tiong Fa yang semakin kenyang dengan pengalaman, sudah lama membuang impian itu. Sejak itu, diam-diam jalan Tiong Fa dan jalan Huang Jin tidak lagi searah.
Tiong Fa yang dalam kerjanya, lebih banyak berhubungan dengan dunia luas terbuka matanya. Dunia persilatan lebih luas daripada yang mereka bayangkan dahulu. Nama besar seperti
Shaolin, Wudang, Hoasan, Kunlun, Kongtong, Emei dan Kaipang bukanlah nama kosong belaka. Meskipun sebagian besar dari mereka sedang dalam masa penurunan bukan berarti keluarga Huang akan dengan mudah maju ke depan.
Huang Jin juga lebih realistis dalam menggapai mimpinya. Bila dulu dia bayangkan dapat menggapai puncak itu dalam masanya sendiri, sekarang Tuan besar Huang Jin lebih berkonsentrasi dalam menyiapkan putra sulungnya untuk menggapai mimpi itu sementara dirinya berusaha membangun dasar yang kuat bagi putranya.
Namun hal itu tidak menarik bagi Tiong Fa, apa keuntungan bagi dirinya jika dia harus bekerja keras demi kesuksesan keturunan Huang Jin?
Memang di depan Huang Jin dia pernah berkata, bahwa mengusahakan kesuksesan putra Huang Jin sama artinya dengan mengusahakan masa depan yang baik bagi keturunannya yang ada dalam keluarga Huang. Tapi di balik itu, tersembunyi ketidak puasan, karena Tiong Fa tidak peduli dengan anak keturunannya. Yang dia inginkan adalah kekuasaan, nama, kesenangan bagi dirinya sendiri. Tiong Fa tidak ambil peduli dengan anak yang dia dapatkan dari isterinya.
Dia menikah dengan isterinya yang sekarang, hanya agar dia bisa masuk menjadi anggota inti keluarga Huang.
Sudah cukup lama Tiong Fa merasa ragu dengan posisinya dalam keluarga Huang, bersama dengan berjalannya waktu, Tiong Fa pun makin ragu apakah dia akan berhasil menggapai keinginan pribadinya dengan tetap bersama keluarga Huang.
Kekalahannya dari Ding Tao yang memicu Tuan besar Huang Jin untuk mengirim dirinya merebut Pedang Angin Berbisik dari Ding Tao secara paksa, membuka kesempatan yang baik baginya untuk keluar dari keluarga Huang tanpakehilangan keuntungan yang didapatnya dari keluarga Huang.
Itu sebabnya Tiong Fa yang berotak licin bisa jatuh dalam keadaan yang kacau balau. Inilah kehebatan Tiong Fa, dia sudah bisa melihat lubang-lubang dalam rencana Tuan besar
Huang Jin yang terlalu terburu-buru. Dengan cerdik dia membiarkan rencana itu terus berjalan dan dalam benaknya, jauh sebelum terjadi Tabib Shao Yong membongkar kelemahan itu, dia sudah menyiapkan jalan keluar bagi Tuan besar
Huang Jin, tentunya jalan keluar yang menguntungkan dirinya.
Sayangnya dia gagal membujuk Tuan besar Huang Jin untuk membiarkan dia membawa Pedang Angin Berbisik bersama dirinya.
Tapi hal itu tidak terlalu membebani pikiran Tiong Fa. Tanpa Pedang Angin Berbisik pun apa yang dia dapatkan kali ini cukuplah besar. Modal dari keluarga Huang dia gunakan untuk membiayai organisasi rahasia bentukannya.
Dalam waktu yang terhitung singkat Tiong Fa sudah menguasai beberapa usaha perjudian dan pelacuran yang cukup besar sebagai sumber dana. Jagoan-jagoan silat pun dengan mudah dia dapatkan, karena sudah bertahun-tahun lamanya dia membangung jaringan. Bahkan bersama dengan dirinya, ikut pula beberapa orang jagoan dari dalam keluarga Huang sendiri.
__ADS_1
Orang-orang yang sudah lama dia bina, untuk lebih setia pada dirinya daripada keluarga Huang. Ya, cerita karangan Tiong Fa, bukan cerita karangan belaka, karena kenyataannya memang Tiong Fa dengan diam-diam mulai membangun kekuatan sendiri, lepas dari keluarga Huang.
Demi mempertahankan aliran modal dari keluarga Huang, Tiong Fa tidak terburu-buru membuka topengnya. Selama sapi itu masih diperah susunya, Tiong Fa akan memerahnya.
Selama dua minggu ini, duduk di dalam ruangan kecilnya, dia merasa dirinya menjadi raja.
Tapi tidak malam ini, malam ini dia sedang menerima seorang tamu dalam ruang kecilnya. Malam ini, duduk di atas kursi kerajaannya, Tiong Fa tidak merasa aman. Bahkan dibalik sekian senjata rahasia dan pengamanan, Tiong Fa tidak bisa duduk tanpa merasa terancam bahaya, menghadapi tamunya malam ini.
Berdiri di depannya adalah ketua partai Kongtong generasi saat ini, Ketua Zong Weixia , tatapan matanya tajam dan liar. Tiong Fa merasa seperti sedang berhadapan dengan seekor harimau buas. Tidak salah jika orang mengatakan lebih baik duduk di atas punggung harimau daripada berurusan dengan Zong Weixia.
Berpakaian serba hijau model pelajar, dengan ukuran baju yang longgar, rambut dan kumis tertata rapi, jika tidak melihat sepasang mata Zong Weixia yang liar dan tajam mungkin orang akan mengira dia seorang pelajar eksentrik yang tidak berbahaya.
Tapi bahkan tanpa melihat sepasang mata Zong Weixia pun Tiong Fa yang sudah mengenal reputasi dari Ketua perguruan Kongtong ini tahu betapa berbahayanya orang di hadapannya ini, Bajunya yang longgar menyembunyikan senjatanya yang aneh bentuknya. Sepasang roda bergerigi yang dipasang pada seutas rantai besi.
Tidak ada yang tahu seberapa panjang jangkauan senjatanya dan bagaimana persisnya Zong Weixia menggunakan senjatanya itu. Karena setiap kali bertarung, Zong Weixia tidak pernah membiarkan lawannya hidup.
Dua cawan arak yang sudah disajikan, tidak ada yang menyentuhnya. Sejak dari arak itu masih baru dihangatkan dan mengepulkan uap yang tipis, hingga arak itu menjadi dingin.
Keringat dingin perlahan-lahan menetes dari dahi Tiong Fa, keheningan yang mencekam memenuhi ruangan itu. Tanpa diundang Zong Weixia datang dengan langkah penuh keyakinan mendatangi rumah pelacuran miliknya itu, tanpa banyak bicara, tokoh itu berjalan menuju ke ruangan tempat Tiong Fa berada.
Salah seorang jagoan Tiong Fa yang tidak mengenalnya, berusaha menahan Zong Weixia, tapi dengan satu serangan yang mematikan, belum sampai satu jurus lewat dia sudah tewas.
Itulah gaya serangan Zong Weixia, keji, tanpa kembangan, tapi cepat dan tepat, selalu dikerahkan dengan tenaga sepenuhnya. Seakan-akan menang atau kalah harus ditentukan dalam satu jurus itu.
Hampir mirip dengan Ding Tao, Zong Weixia mendalami satu jurus selama bertahun-tahun. Bedanya Zong Weixia lebih berfokus pada jurus serangan yang paling keji, paling ganas dan paling cepat. Dilatihnya jurus-jurus itu dengan ketekunan yang mengerikan, hingga dia mampu meyakinkan kecepatan, kekuatan dan ketepatan setiap serangan.
Laporan dengan cepat sampai ke telinga Tiong Fa, tidak ingin memancing kemarahan Zong Weixia yang angin-anginan, cepat Tiong Fa memerintahkan orang-orangnya untuk memberi jalan pada ketua perguruan Kongtong itu. Tiong Fa yakin dibalik gayanya yang angin-anginan, tidak mungkin Zong Weixia melakukan sesuatu tanpa perhitungan. Orang yang benar-benar angin-anginan dan melakukan sesuatu tanpa
perhitungan yang jelas, tidak akan bertahan dalam dunia persilatan yang kejam.
Tapi sekarang saat akhirnya dia berhadapan dengan Zong Weixia, Tiong Fa mulai merasa menyesali keputusannya.
Zong Weixia membiarkan saja Tiong Fa tertekan oleh keberadaannya, satu kepuasan bagi Zong Weixia saat dia melihat orang lain menjadi gugup berada di dekatnya. Semakin mereka ketakutan, semakin dia senang. Apalagi jika orang itu, orang semacam Tiong Fa, seorang yang memiliki kuasa, punya otak dan nyali, tapi tak urung gemetar di bawah pandangan matanya yang liar dan ganas. Kepuasannya pun jadi berlipat ganda.
" Hmmm… kudengar kau memisahkan diri dari keluarga Huang, apakah itu benar?", akhirnya Zong Weixia memecahkan keheningan itu.
Tiong Fa tidak mau berjudi dengan nyawanya, dia tidak tahu sebanyak apa Zong Weixia sudah mengetahui rahasianya dan dia tidak mau mempertaruhkan nyawa dengan menceritakan kebohongan. Lebih baik bersikap jujur sekarang, perlahan menyaring kembali orang kepercayaannya menjadi satu lingkaran yang lebih kecil lagi. Kemudian baru menyiapkan satu atau dua kartu As yang dirahasiakan sebagai persiapan untuk menghadapi Zong Weixia di kemudian hari.
" Ya, itu benar, dari mana Tetua Zong mendengar hal itu?" jawab Tiong Fa sambil bertanya balik.
" Aku tahu dari mana, itu urusanku, sekarang ini aku yang bertanya dan kau cukup menjawab". jawab Zong Weixia sambil menyeringai.
Menelan ludah, Tiong Fa dengan hati kesal tapi wajah ketakutan, mengangguk.
" Apakah benar urusan keluarnya dirimu dari keluarga Huang, ada hubungannya dengan Pedang Angin Berbisik?" sekali lagi Zong Weixia bertanya.
" Ya, benar".kali ini singkat saja jawaban Tiong Fa.
" Tapi benarkah jika aku mengatakan bahwa berita di luaran yang mengatakan bahwa dirimu telah menyerang seorang pemuda bernama Ding Tao dan mengambil Pedang Angin
Berbisik darinya hanyalah berita bohong saja?"
" Tidak juga, berita itu ada benarnya. Memang aku telah menyerang dan mengambil Pedang Angin Berbisik dari pemuda itu. Tapi itu kulakukan atas perintah Tuan besar Huang Jin dan pedang itupun saat ini ada di tangannya".
" Apa bisa kupegang perkataanmu?"
"Tentu saja, aku tahu tidak ada gunanya aku membohong pada Tetua".
" Apakah kau yakin bahwa pedang itu adalah Pedang Angin Berbisik?"
"Yakin."
" Apakah kau tahu di mana Huang Jin menyimpannya saat ini?"
" Tidak, tapi aku yakin pedang itu masih ada dalam rumahnya".
__ADS_1
Sejenak lamanya, pandang mata tajam dari Zong Weixia menyelidiki raut wajah Tiong Fa, mencari adakah jejak kebohongan di sana. Wajah Tiong Fa tidak ubahnya warna kulit seekor bunglon, bisa berubah sesuai kebutuhan, sedangkan apa yang ada dalam hatinya tidak ada yang tahu. Zong Weixia tahu persis orang sejenis Tiong Fa, tapi semua keterangannya masuk akal dan sesuai dengan berita yang dia dapatkan sebelumnya.
" Orang she Tiong, jika kau berbohong, kemanapun engkau bersembunyi, meskipun kau membuat sarang di bawah tanah. Aku akan mencarimu, membeset kulitmu, menjemurmu di bawah matahari, mencungkil matamu, memotong lidahmu dan memotong kemaluanmu sebelum aku tinggalkan dirimu untuk mati. Kau mengerti maksudku?"
―Ya, aku mengerti.‖―Apakah ada keterangan yang ingin kau ubah?‖
―Tidak, semua keterangan yang kuberikan, memang demikian adanya.‖
―Bagus, semoga saja begitu, demi kebaikanmu sendiri.‖, dengan kata-kata itu Zong Weixia mengakhiri interogasinya.
Cawan arak tidak disentuhnya sedikitpun, dia bangkit berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun. Seperti sewaktu dia datang, demikian juga waktu pergi. Dia tidak menunggu diundang dan diantar, keluar pergi semaunya, seakan-akan sedang masuk rumah sendiri.
Zong Weixia baru mencapai pintu ketika Tiong Fa tiba-tiba bertanya,
" Apakah tetua bekerja sendiri? Atau ada orang lain bekerja sama dengan tetua?" Zong Weixia berbalik, sebelah alisnya diangkat, bertanya.
" Tetua tahu sekarang aku bekerja sendiri, lepas dari keluarga Huang, tapi Tiong Fa bukan orang bodoh, Tiong Fa tahu kekuatannya sendiri, tanpa sandaran yang kuat tidak mungkin bisa bertahan lama. Sekiranya Tetua mau bermurah hati…‖, membungkuk hormat Tiong Fa mengutarakan apa yang ada dalam kepalanya.
Zong Weixia tercenung sejenak, seringai kejam tidak meninggalkan wajahnya. Bagi Tiong Fa, yg sejenak itu terasa lama, karena Zong Weixia seperti sedang berpikir, dengan cara apa dia hendak menyiksa dan membunuh Tiong Fa. Ketika akhirnya Zong Weixia menjawab hatinya merasa lega.
" Heh…, kau punya kemampuan yang bisa dipakai. Jika aku ada perlu, aku akan datang padamu.", jawab Zong Weixia.
Setelah menjawab Zong Weixia berbalik dan pergi, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Darah dari orang Tiong Fa yang tewas di tangannya masih membasahi dinding dan lantai. Sedikitpun Zong Weixia tidak melirik.
Dia juga tidak menoleh, jadi dia tidak melihat seringai mengejek yang terbentuk di wajah Tiong Fa. Zong Weixia tidak bisa memberikan keputusan. Itu yang bisa ditarik Tiong Fa dari reaksi Zong Weixia terhadap pertanyaannya. Meskipun Zong Weixia menjawab seakan-akan dia bisa memutuskan, hanya saja saat ini dia tidak ingin memutuskan. Tapi bagi Tiong Fa
masalahnya jelas, Zong Weixia tidak tahu apakah harus menerimanya atau tidak.
Itu berarti di atas Zong Weixia masih ada orang lain yang bermain. Hal ini membuat Tiong Fa merasa bersemangat, tapi juga berdebar di saat yang sama. Jika ada orang yang bisa menyuruh-nyuruh ketua dari perguruan Kong Tong, tentu orang ini bukan orang sembarangan. Apakah tangan Ren Zuocan ada di balik Zong Weixia? Jika bukan Ren Zuocan, adakah tokoh lain yang memiliki kekuasaan yang cukup mengerikan hingga bisa menggunakan orang semacam Zong Weixia sebagai anak buah? Masih adakah tokoh misterius yang bergerak dalam kelamnya malam di dunia persilatan ini? Jika ya, lalu apa motivasinya? Bisakah dirinya Tiong Fa memanfaatkan tokoh misterius ini demi keuntungannya pribadi?
Masalah kedua yang harus dia pikirkan adalah, siapa orang dalam yang sudah membocorkan rahasianya? Tapi itu urusan kecil dan Tiong Fa tidak ingin terlalu lama memikirkannya.
Bekerja dengan banyak orang, kebocoran pastilah ada. Yang penting dia harus memiliki kartu As yang tidak diketahui siapapun juga.
Memandang berkeliling, Tiong Fa menyumpah-nyumpah dalam hati. Segala kerjanya untuk membangun ruangan ini sekarang tidak ada gunanya. Tiong Fa perlu memikirkan tempat yang baru, setidaknya dalam waktu beberapa bukan ke depan.
Berdiri mematung untuk beberapa lama, pikiran Tiong Fa bekerja dengan keras. Tapi dia belum bisa menemukan siapa dalang di balik kunjungan Zhong Weixia. Satu hal yang pasti keluarga Huang akan dengan segera mendapatkan kunjungan yang sama. Tiong Fa tidak ambil peduli, tidak terpikir sama sekali untuk mengirimkan pesan agar Tuan besar Huang Jin bersiap-siap mendapatkan kunjungan persahabatan.
Yang sekarang ada di benak Tiong Fa saat ini adalah dia perlu melenyapkan kekesalan di hatinya.
" Yan De !!! Yan De !!! Kemari kau bangsat!"
" Baik tuan, baik", seorang kakek tua berpakaian merah muda berlari-lari masuk ke dalam ruangan Tiong Fa sambil terbungkuk-bungkuk.
" Ada apa tuan?" tanyanya masih membungkuk hormat.
―Kudengar kau ada gadis baru yang belum siap untuk menerima tamu?‖
―Ya tuan, barusan ada tiga orang gadis baru dari desa.‖
―Apakah mereka cantik-cantik?‖
―Lumayan tuan, tidak terlalu buruk, cuma masih perlu banyak dididik.‖
―Apa sudah ada yang memberi didikan?‖
―Belum tuan, hehe, apakah tuan mau bermurah hati memberi mereka sedikit didikan?‖, tanya kakek tua itu dengan senyum nakal, sekarang dia sudah tahu untuk apa dia dipanggil Tiong Fa.
" Jangan cengar-cengir, kau antar mereka ke sini dan beri tahu Hong Wan dan Hong Wei jangan ada yang boleh mengganggu".
Kakek tua itu pun pergi cepat-cepat. Tidak perlu lagi diceritakan apa yang terjadi di ruangan itu kemudian.
Tapi yang perlu diperhatikan adalah apa yang dilakukan oleh Zong Weixia. Ketua perguruan Kongtong itu pergi ke sebuah penginapan lalu memesan sebuah kamar dengan sebuah jendela yang menghadap ke arah jalan. Segera setelah memasuki kamarnya, Zong Weixia mengeluarkan sebuah bendera kecil. Bendera kecil itu ditancapkannya ke daun jendela.
Setiap orang yang lewat tentu akan dapat melihat tanda itu, meskipun mereka tidak akan tahu apa maksudnya.
__ADS_1
Larut malam, satu sosok bayangan berkelebat memasuki penginapan itu dengan diam-diam. Berturut-turut 3 orang masuk dengan cara yang sama rahasianya. Sejenak kemudian,
Zong Weixia membuka jendela dan mencabut bendera kecil yang dipasangnya. Beberapa lamanya tidak terjadi apa-apa, kemudian ke-4 orang yang masuk ke dalam penginapan dengan diam-diam itu pun keluar dengan cara yang sama seperti saat mereka masuk sebelumnya.