
Melihat cara Wang Xiaho memandang dirinya Ding Tao jadi merasa tidak enak kalau hendak membohong, pada saat yang sama hendak mengatakan dirinya menang juga serasa seperti menyombong, akhirnya dengan hati berat dia menjawab sederhana, " Ya… bisa dibilang begitu Paman Wang."
" Hehehe, tidak perlu malu, aku tahu kau yang memenangkan pertarungan itu, karena jika sepasang iblis itu berada di atas angin, masa mereka mau melepaskanmu untuk kedua kalinya?", tertawa terkekeh Wang Xiaho berujar.
Ding Tao mengangguk-angguk saja sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Nah, begitu lebih baik, jadi jagoan tua ini tidak jadi rendah diri. Jelek-jelek belajar bertahun-tahun masa kecundang begitu memalukan di tangan orang yang mengalahkan sepasang iblis itu saja tidak mampu.", dengan puas Wang Xiaho berujar.
" Menurut paman apa ilmuku sudah tinggi sekali? Bukankah masih ada para ketua dari perguruan seperti Kongtong, Kunlun dan Hoasan.", tanya Ding Tao menegas.
" Hmm… aku juga belum pernah melihat langsung kehebatan mereka. Tapi kalaupun kau tidak bisa mengalahkan mereka setidaknya kau akan sanggup bertahan menghadapi gempuran mereka. Kuyakin jika kau sempat maju untuk menunjukkan kemampuanmu dalam satu pertadingan banyak orang akan kagum, mengingat dirimu bukan berasal dari perguruan besar dan umurmu yang masih muda. Jadi kaulihat, kurangnya pengalamanmu justru menjadi satu keuntungan di sini."
" Mungkin saja begitu tapi rasanya siauwtee tidak bakal bisa menang kalau lawannya tokoh-tokoh seperti yang Paman Wang sebutkan.", jawab Ding Tao dengan ragu.
" Belum tentu juga, meskipun aku juga kesulitan untuk coba menjajagi kemampuan mereka. Tapi ada keuntungan lain dari kurangnya pengalamanmu. Coba pikir, jika kau ingin menduduki kedudukan itu, tapi sudah yakin tidak bisa menang dalam perebutan, siapa yang akan kau dukung? Orang yang licin, berpengalaman dan punya kekuasaan. Atau seorang pemuda lugu, yang belum berpengalaman dan pendukung yang tidak seberapa?", mata Wang Xiaho bergerak-gerak, seakan bertanya, nah apa kataku.
Muka Ding Tao memerah dengan agak kesal dia menjawab, " Paman Wang, daripada aku hanya jadi Wulin Mengzhu boneka, lebih baik aku tidak jadi Wulin Mengzhu sekalian."
" Hoo, tunggu dulu anak muda, jangan terburu-buru marah. Coba pikir, setelah kedudukan itu ada di tanganmu, apakah kau mau jadi boneka atau tidak, bukankah itu terserah padamu? Yang penting di sini adalah keteguhan hati dan ketelitianmu. Hmm.. bagaimana?", jawab jago tua itu dengan senyum dikulum.
Mendengar jawaban itu Ding Tao jadi sadar sudah terlalu cepat menghakimi orang, " Maafkan aku paman, tadi tidak sampai terpikir seperti itu."
__ADS_1
" Jadi bagaimana menurut pendapatmu?", tanya Wang Xiaho.
Mendapat pertanyaany itu, Ding Tao berpikir sangat lama.
Permasalahannya bukan masalah kecil, menjadi Wulin
Mengzhu tentu sangat membantu dirinya untuk menyelesaikan tugas dari Gu Tong Dang. Membantu dia jika dia ingin menuntut keadilan bagi keluarga Huang. Teringat keluarga Huang, hatinya terasa perih, pikirannya melayang pada nasib Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu, keluarga Huang Jin yang lain, serta sahabat-sahabatnya sekalian. Menduduki jabatan
Wulin Mengzhu, jelas akan memberikan banyak kegunaan bagi dirinya. Tapi di saat yang sama, tanggung jawab yang besar sudah menanti.
Untuk tugas yang diberikan Gu Tong Dang saja, Ding Tao tidak merasa yakin bisa memenuhinya atau tidak. Apalagi untuk menjadi Wulin Mengzhu. Perlahan pemuda itu menggeleng, " Maafkan aku Paman Wang, jujur aku merasa tidak layak menerima kepercayaan itu.
Bagaimana kalau aku melakukan kesalahan? Bagaimana kalau aku salah mengambil keputusan dan karenanya banyak orang menderita?"
" Ding Tao, orang-orang seperti aku dan Guru Chen, hanya ikan teri saja di dunia Wulin yang luas ini. Tapi kami ini sudah sering melihat, tingkah laku mereka yang berada di atas. Jangan kaukira tutur kata yang halus sebagai tanda orang berbudi. Tidak sedikit, mereka sampai di puncak, bermodalkan hati yang bengis, otak yang licin dan tangan yang berlumuran darah."
Dalam diam Ding Tao membayangkan Tiong Fa dan kelicikannya. Teringat pada perbuatannya sendiri saat menggunakan siasat untuk mengadu domba Fu Tsun, Xiang Long dan Sepasang Iblis muka Giok. Teringat pada kesedihan yang terpancar dari sorot mata sepaasng iblis yang kejam.
Pembantaian keluarga Huang yang baru saja didengarnya.Ya dunia persilatan penuh dengan darah, dendam, kekejian dan kebencian.
" Kau yang masih bersih ini, mendatangkan harapan bagi kami semua. Mungkin kedatanganmu bisa membawa sedikit angin segar di dunia persilatan yang makin sumpek ini. Aku tidak akan memaksamu lagi tapi kuharap kau pertimbangkan perkataanku baik-baik.", ujar Wang Xiaho.
__ADS_1
" Aku mengerti paman.", jawab Ding Tao dengan suara lirih.
Hampir semalaman mereka berkuda, menjelang fajar baru keduanya beristirahat sejenak, sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Tidak ada yang menyinggung lagi masalah Wulin Mengzhu atau pembantaian keluarga Huang. Tapi pikiran-pikiran itu masih tergantung-gantung di benak keduanya.
Ding Tao juga manusia biasa, mendengar pujian-pujian Wang Xiaho tentu saja hatinya merasakan kebanggaan. Tapi bayangan akan tanggung jawab dan pengharapan yang begitu besar, yang hendak dibebankan di pundaknya, membuat pemuda ini gentar. Ditambah lagi dengan cara berpikirnya yang cenderung terlalu banyak menimbang-nimbang. Ketika dia mulai mengambil keputusan untuk menerima tawaran Wang Xiaho, maka muncullah pertanyaan, benarkah dia dengan tulus menerima tanggung jawab itu? Ataukah dia menerimanya demi keuntungan pribadi?
Sebaliknya ketika hendak menolak, bertanya pula pemuda itu dalam hati. Apakah itu memang oleh kerendahan hatinya, apakah itu pertimbangan yang sejujurnya? Ataukah dia hanya ingin lari dari tanggung jawab?
Wang Xiaho yang mengerti bahwa pemuda itu sedang mencoba merenungkan perkataannya, tidak berani mengganggu Ding Tao. Dibiarkannya saja pemuda itu diam dan berpikir. Dalam hatinya Wang Xiaho berdoa, agar pemuda itu mau menerima tawarannya. Sempat juga terbayang, betapa membanggakan kalau Ding Tao berhasil menjadi Wulin Mengzhu dan dia akan dikenal sebagai orang yang mempelopori membentuk barisan pendukung Ding Tao. Tapi jago tua itu segera saja memaki diri sendiri dalam hati dan membuang pikiran itu jauh-jauh.
Mereka hanya beristirahat kira-kira sepeminuman teh, matahari masih baru saja terbit ketika mereka memulai perjalanan lagi. Setelah beristirahat sejenak, Ding Tao merasa tubuhnya jauh lebih segar. Berbeda dengan Wang Xiaho yang sudah mulai berumur, pantatnya masih pegal-pegal setelah semalaman menunggang kuda tanpa henti.
Ding Tao yang menyadari hal ini, mengajak Wang Xiaho untuk berjalan kaki perlahan-lahan saja. Selain untuk menghemat tenaga kuda mereka, dia juga ingin memberi kesempatan bagi Wang Xiaho untuk melemaskan kaki.
Belum lama mereka berjalan, mereka melihat debu mengepul di depan sana dan mendengar suara derap kaki kuda. Hari masih begitu pagi, siapa yang sudah memulai perjalanan jauh sepagi itu? Jalan ini jauh dari kota maupun desa, jika penunggang kuda di depan sudah melewati jalan ini di waktu sepagi ini, berarti mereka sudah berangkat sejak matahari masih belum terbit.
Seperti saling berjanji, tanpa kata-kata, keduanya menepi. Wang Xiaho menggeser letak goloknya yang tergantung di pinggang, sehingga dia bisa mudah menariknya jika diperlukan. Ding Tao berdiri diam tidak melakukan persiapan, namun matanya tajam menatap ke arah penunggang kuda yang datang mendekat, telinganya memperhatikan suara derap kuda di depan dengan sebaik-baiknya.
" Dua orang…", ujar Ding Tao.
Wang Xiaho ikut menajamkan mata, tapi penunggang kuda itu belum terlihat, kemudian diperhatikannya suara derap kuda baik-baik dan akhirnya diapun mengangguk setuju.
__ADS_1
" Hmm. Dua kuda.", jawabnya singkat.
Tidak lama kemudian yang mereka nantikan muncul juga di garis pandang mereka. Wang Xiaho yang sudah tua, matanya tidak setajam Ding Tao, tapi dia merasa sudah mengenali kedua penunggang kuda itu. Ditunggunya beberapa lama hingga kedua penunggang kuda itu makin dekat, saat dia yakin dengan identitas keduanya, seulas senyum muncul di bibirnya.