
Perhatian setiap orang sekarang beralih pada Ding Tao, Ding Tao yang merasakan tatapan setiap orang pada dirinya menjadi salah tingkah. Teringatlah dia pada kata-kata gurunya, pada sumpah yang pernah dia ucapkan, meskipun gurunya membatalkan sumpah itu. Pemuda ini tidak meragukan sedikitpun ketulusan Tiong Fa, bahkan dalam hatinya dia justru meragukan kemampuannya sendiri.
Seandainya saja malam itu Gu Tong Dang tidak memberikan nasihat dan perintah demikian, mungkin saat itu juga, Pedang Angin Berbisik sudah diserahkannya pada Tiong Fa.
Beruntung bagi Ding Tao, gurunya bukan orang yang masih hijau, gurunya cukup mengenal orang-orang yang ada dalam kelompok pimpinan keluarga Huang. Sehingga sebagai bekal bagi Ding Tao, telah dinasihatkannya dengan sungguh-sungguh pada pemuda itu untuk mempertahankan kepemilikannya atas pedang itu.
Gu Tong Dang sadar dia tidak bisa menahan Ding Tao untuk tidak menemui keluarga Huang tanpa membuat getir hati muridnya dan dia cukup bijaksana untuk memahami bahwa seorang guru ataupun orang tua, pada satu titik tidak bisa lagi terus menerus melindungi anak atau muridnya.
Ada saatnya rajawali muda harus belajar terbang dan mencari makan sendiri, meskipun untuk itu dia bisa saja terluka atau bahkan mati di dunia yang keras.
Karena itu dilepaskannya Ding Tao pergi ke sarang serigala, segala bekal yang bisa dia berikan sudah diberikan, sisanya ada pada diri Ding Tao sendiri dan kehendak langit.
Diam-diam nun jauh di sana, guru tua itu berdoa dengan khusyuknya, demi keselamatan murid yang dia kasihi, tidak ada lain lagi yang bisa dia lakukan sekarang.
Dengan suara sedikit gemetar Ding Tao menjawab,
" Maafkan aku Tetua Tiong, tapi dengan sesungguhnyalah aku tidak bisa memberikan pedang ini kepada keluarga Huang?"
Suara bisik-bisik pun memenuhi ruangan itu, mereka yang tadinya tidak puas pada permintaan Tiong Fa, sekarang berbalik tidak puas pada jawaban Ding Tao. Tapi pemuda itu bukanlah Tiong Fa yang pandai bersilat lidah, dengan wajah merah padam dia hanya bisa berdiam diri dan menekuri pedang yang ada di hadapannya.
Tiong Fa pun berkerut alisnya, jawaban Ding Tao sedikit di luar dugaannya, namun Tiong Fa yang cerdik ini yakin sepenuhnya pada kemampuannya menilai seseorang, karena itu dia tidak cepat menjadi gugup atau marah.
" Anak Ding, mengertikah kau dengan uraianku sebelumnya? Sebenarnya apa yang kau cari dengan pedang itu? Apakah kau menginginkan ketenaran? Kekayaan?"
Menggeleng Ding Tao mendengar pertanyaan itu,
" Bukan Tetua Tiong, sungguh bukanlah demikian maksudku. Sebenarnya sebelum aku pergi, guru, telah menceritakan hal ihwal pedang ini terhadapku dan pesannya yang selanjutnya adalah agar aku mengemban tugas, melenyapkan Ren Zuocan dengan menggunakan pedang ini."
__ADS_1
Atas jawaban Ding Tao ini bermacam-macam reaksi yang muncul. Ada sebagian yang mengagumi kegagahan pemuda itu, apalagi mereka sudah mengenal kejujuran Ding Tao dan tanpa ragu lagi meyakini ketulusan kata-katanya.
Tapi ada juga mereka yang menjadi kurang puas dan merasa pemuda itu terlalu sombong atau setidaknya sudah salah menilai dirinya sendiri.
Tiong Fa tersenyum dalam hatinya, mendengar jawaban Ding Tao, maka jelas baginya, tidak ada kesalahan dalam penilaiannya atas diri pemuda itu. Diam-diam dia memaki kelicinan Gu Tong Dang.
Siapa sebenarnya yang licin Gu Tong Dang atau dirinya? Tentu saja buat Tiong Fa, Gu Tong Dang-lah yang licin dan licik, sedangkan dirinya adalah cerdik dan bijak. Tapi dia tetap tertawa dalam hati, menertawakan kebodohan Gu Tong Dang, karena sekarang dia melihat sebuah celah yang bisa dimasukinya.
" Ding Tao, sungguh aku hargai keberanian dan tekadmu, tapi tahukah kau siapa itu Ren Zuocan? Mungkin kau pikir satu-satunya ilmu andalan Ren Zuocan itu adalah ilmu kebalnya dan dengan pedang di tanganmu itu kau akan mampu menembusnya."
" Jangan salah nak, bukan hanya ilmu kebal, tapi Ren Zuocan itu gudangnya ilmu. Dia memiliki ilmu pukulan, tenaga dalam dan ilmu tombak yang tidak kalah menggiriskannya dari ilmu kebalnya yang terkenal. Jika bukan demikian, tentu orang dunia persilatan tidaklah begitu gentar padanya."
Wajah Ding Tao yang sudah merah, semakin memerah, tentu saja dia mengetahui semua hal itu. Sekali lagi jika bukan karena pesan gurunya tentu pedang itu sudah dia serahkan sekarang, tapi terngiang-ngiang di benaknya perkataan gurunya,
" Kaulah yang pantas menjadi pemilik pedang itu."
" Nak, mungkin saja kau tidak takut kehilangan nyawa dalam usahamu untuk menggenapi tugas yang diberikan oleh Pelatih Gu padamu, tapi tidakkah kau bayangkan, apa yang akan terjadi jika kau gagal? Bukan saja kau akan kehilangan nyawa, tapi pedang itu akan jatuh ke tangan Ren Zuocan, bagaikan harimau tumbuh sayapnya. Jika sekarang saja kita harus bersusah payah untuk membendung ambisinya, kalau pedang itu sampai jatuh ke tangannya, apa yang bisa kita lakukan?"
" Apakah kita semua haris beramai-ramai menyerahkan nyawa padanya?"
Ding Tao pun semakin terdesak oleh argumentasi Tiong Fa, sampai akhirnya dengan terbata-bata dan suara yang hampir-hampir tidak terdengar dia berkata,
" Tapi… tapi… ah… "
" Tapi menurut guru, aku bisa melakukannya dan… kemampuanku sudah cukup untuk mempertahankan pedang ini."
Setelah berkata demikian pemuda itu menundukkan kepala, tidak berani untuk melihat ke kiri dan kanan. Tak sampai hati dia untuk berkata bahwa Gu Tong Dang percaya bahwa dari antara seluruh tokoh dunia persilatan, dialah yang pantas memiliki pedang itu. Tapi perkataannya tadi itupun sudah cukup menyiratkan hal itu.
__ADS_1
Ruangan itupun jadi penuh dengan suara riuh rendah, mereka yang tadinya bersimpati pada Ding Tao pun merasa bahwa pemuda itu sudah keterlaluan memandang tinggi dirinya.
Apalagi mereka yang sejak tadi sudah merasa tidak puas dengan sikap Ding Tao, tanpa segan-segan mereka mengemukakan pendapatnya.
Ding Tao yang menunduk, semakin saja menunduk. Entah apa di antara pembaca pernah merasakan hal yang demikian, merasa melakukan sesuatu yang memalukan di hadapan banyak orang. Sampai rasanya ingin bumi terbelah menjadi dua dan menelan kita lenyap dari permukaan bumi.
Yang seharusnya merasa malu tidak merasa malu, bahkan bersorak dalam hati. Yang tidak perlu merasa malu justru merasa malu.
Dalam keadaannya yang serba getir itu, tiba-tiba Ding Tao merasakan satu sentuhan lembut pada tangannya yang tersembunyi di bawah meja.
Terkejut dia menoleh sekilas ke arah Huang Ying Ying dan dilihatnya gadis itu memandang dirinya penuh simpati, terasa pula bagaimana tangan gadis itu meremas tangannya, seakan memberikan semangat baginya untuk bertahan.
Ding Tao merasa sedikit keberaniannya kembali muncul, tidak lagi dia merasa sesengsara seperti tadi. Meskipun dia masih merasa malu kepada anggota keluarga Huang yang lain.
Tiong Fa membiarkan saja keriuhan itu terjadi, dibiarkannya keadaan itu mengendap dalam perasaan setiap orang.
Setelah dia merasa cukup menanamkan racun itu di hati setiap orang, dia mengangkat tangannya,
" Tahan sebentar, cobalah tenang. Kita harus menghargai sikap Ding Tao, sebagai salah seorang tetua dalam keluarga Huang, aku berharap setiap generasi muda dalam keluarga Huang mengambil sikap Ding Tao terhadap perintah gurunya itu sebagai satu teladan."
Inilah hebatnya Tiong Fa, dengan satu kalimat dia berhasil menampilkan dirinya sebagai seorang yang arif, bijak dan barhati besar. Bahkan memenangkan hati Ding Tao yang sebenarnya justru sudah menjadi korban lidahnya yang beracun.
Menunggu suasana mereda, Tiong Fa sekali lagi mengajak Ding Tao berbicara,
" Anak Ding, sebenarnya aku merasa malu untuk mengajukan usul ini. Orang mungkin akan menganggap aku sebagai golongan yang lebih tua menekan yang muda."
Tentu saja sebenarnya memang itu yang sedang dia lakukan, tapi setelah kata-katanya yang sebelumnya siapa dalam ruangan itu yang berpikir demikian?
__ADS_1
" Tapi karena rasa kewajibanku pada bangsa dan negara, mau tidak mau aku mengajukan usul ini. Kau berteguh hati hendak mempertahankan pedang itu karena gurumu telah berpesan bahwa kau memiliki kesanggupan untuk melindungi pedang itu. Jika hal itu benar, tentu akupun tidak berkeberatan. Tapi bagaimana jika dia salah menilai dirimu?"