Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
16. Chapter 16


__ADS_3

Sebelum dia sampai ke bawah, dia sudah dapat membayangkan apa yang terjadi malam itu.


Meskipun jejak yang tertinggal tidaklah jelas dan ada kemungkinan bukanlah bekas kaki dan tangan, tapi jejak itu memberikan jawaban atas hilangnya mayat Ding Tao dari dalam sumur. Setelah dia sampai ke permukaan air dari sumur itu makin yakinlah Fu Tsun akan dugaannya.


Pedang Ding Tao yang ditusukkan ke dinding sumur dan dipakainya sebagai pijakan masih tertinggal di sana.


Demikian juga bekas kaki Gu Tong Dang terlihat cukup jelas, karena saat Gu Tong Dang mengikatkan tali di tubuh Ding Tao kakinya menjejak lebih kuat ke dinding sumur, hingga di bagian itu dinding sumur sampai berlekuk ke dalam oleh tekanan kaki Gu Tong Dang.


Pertama karena Ding Tao saat itu berpegangan pada tubuhnya hingga kakinya harus menjejak lebih kuat untuk menahan tubuh mereka berdua. Dan yang kedua karena saat itu kedua tangannya sibuk mengikatkan tali pada tubuh Ding Tao sehingga beban itu sepenuhnya ditanggung kedua kaki Gu Tong Dang.


Tidak cukup melihat bekas yang ada dan mereka kembali kejadian malam itu, Fu Tsun mengamati dengan hati-hati ke bawah dasar sumur dengan air yang memang bening itu.


Setelah benar-benar yakin bahwa tidak ada mayat Ding Tao ataupun pedang Wang Dou di bawah sana, dia menarik tali dua kali sebagai tanda agar mereka yang di atas menarik tubuhnya kembali ke atas.


Sepanjang perjalanan otak Fu Tsun berputar keras, dari apa yang dia lihat dan dengar, jelaslah Ding Tao belum mati saat dia terjatuh ke dalam sumur. Lebih jauh lagi, ada seseorang yang telah menolongnya keluar dari sumur itu dan pedang pusaka Wang Dou ada di tangan mereka.


Dengan gigi gemeretak Fu Tsun oleh marah Fu Tsun berusaha menebak-nebak siapakah orang yang telah menolong Ding Tao dan menguasai pedang pusaka itu. Kecurigaannya yang terbesar tertuju pada keluarga Huang, meskipun dia tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang secara kebetulan melihat pertarungan itu.


Bukan hal yang aneh jika ada tokoh persilatan yang usil danmengikuti jalannya pertarungan antara kedua pemuda itu. Untuk kemudian menolong Ding Tao yang jatuh ke dalam sumur. Entah karena tertarik dengan pedang yang jatuh atau sekedar ingin menolong pemuda itu.


Sesampainya di atas, raut wajah Fu Tsun sudah normalkembali, dengan lagak tawa dia menjelaskan penemuannya di bawah sana.


Setelah beberapa saat berbasa-basi, tanpa membuang lebih banyak waktu lagi dia berusaha meneliti jejak yang mungkin tertinggal di sekitar sumur itu. Jejak yang bisa membantu dia untuk menemukan Ding Tao, penlongnya dan pedang pusaka Wang Dou.


Tapi kegiatan penduduk di sekitar tempat itu dan kehati-hatian Gu Tong Dang telah menghapuskan jejak-jejak yang mungkin saja tertinggal. Dengan hati galau, Fu Tsun memacu kudanya untuk menemui Wang Dou dan melaporkan hasil temuannya.


Sementara itu pada saat yang sama Ding Tao telah sadar dari tidurnya. Bau sop kaldu ayam yang menyebar memenuhi pondok kecil itu.


Dikejap-kejapkannya matanya, sambil menyeringai menahan sakit dia berusaha bangkit, luka di dadanya terasa sedikit nyeri, demikian juga memar-memar yang ada di tubuhnya. Perlahan-lahan ingatannya kembali.


Teringatlah kembali dia akan pertarungan yang terjadi di malam sebelumnya, bagaimana dia terjatuh ke dalam sumur dan akhirnya ditolong oleh Gu Tong Dang.


Diedarkannya pandangannya ke seluruh ruangan, saat tidak menemukan Gu Tong Dang, dia berusaha bangkit berdiri.


Tanpa sengaja tersentuhlah olehnya pedang pusaka milik Wang Dou. Melihat pedang itu dan teringat akan keistimewaan pedang itu, Ding Tao tidak ingin meninggalkan pedang itu tergeletak begitu saja. Sambil menjinjing pedang itu di tangan, diapun berjalan dengan sedikit tertatih-tatih untuk mencari Gu Tong Dang.


Gu Tong Dang yang saat itu berjaga-jaga di luar mendengar suara tempat tidur yang berderik-derik. Dengan tangkas guru tua itupun, bangkit dan memasuki kamar tempat dia merawat Ding Tao.

__ADS_1


Saat Ding Tao melihat Gu Tong Dang, cepat pemuda itu hendak berlutut untuk mengucapkan terima kasihnya. Tapi Gu Tong Dang dengan cepat menahan tubuh pemuda itu.


―Guru… ―


―Ah, tubuhmu masih lemah, sebaiknya beristirahat saja di tempat tidur.‖


―Guru… terima kasih guru… jika bukan karena pertolonganmu, tentu…‖


―Hahaha, sudahlah, tak usah kau pikirkan, saat ini yang harus kau lakukan adalah beristirahat untuk memulihkan kondisimu.‖


Dengan berhati-hati dipapahnya Ding Tao kembali ke tempar tidur yang ada. Kemudian dibawakannya semangkuk sop ayam yang sudah dia sediakan.


―Ini makanlah dulu, setelah itu bermeditasilah untuk mengatur dan mengumpulkan hawa murni di tubuhmu.‖


―Baik guru, terima kasih guru.‖


Perlahan-lahan Ding Tao menyeruput sop ayam yang masih mengepul.


Gu Tong Dang menarik sebuah bangku dan duduk di hadapan muridnya itu, ―Ding Tao, sambil kau makan, aku hendak berbicara denganmu.‖


Ding Tao dengan sedikit berdebar menganggukkan kepala, ―Baik guru… ―


―Benar guru…, dia, dia mengatakan ada satu urusan penting yang bersangkut paut dengan nona muda Huang.‖


Gu Tong Dang mengangguk-anggukkan kepalanya,


―Hmmm…, jadi begitu rupanya. Di dalam hatinya dia masih mendendam padamu dan dengan alasan itu dia berusaha menjebakmu lalu membunuhmu.‖


―Sepertinya demikian guru…‖


Sejenak lamanya Gu Tong Dang memandangi muridnya itu dan memikirkan sifat muridnya yang lugu, ―Ding Tao, hendaknya pengalaman ini kau ingat baik-baik dalam hati. Hidup dalam dunia persilatan, janganlah mudah percaya perkataan orang. Ketahuilah bahwa aku sudah merasakan satu kejanggalan sejak aku melihat dia berbisik diam-diam padamu.‖


―Ketika aku berusaha mencarimu di kamarmu, ternyata engkau tidak ada di sana. Secepatnya aku berusaha mencarimu, sayang aku datang terlambat.‖


―Tidak terlambat guru, seandainya guru terlambat tentu murid sudah pergi meninggalkan dunia ini. Budi guru tidak akan pernah murid lupakan, bukan hanya berhutang pelajaran, murid bahkan berhutang nyawa.‖


―Hehehe, sudahlah, seandainya aku datang lebih cepat tentu keadaanmu tidak separh sekarang ini. Tapi sekarang semua itu tidaklah penting, ada hal yang lebih penting yang harus kusampaikan padamu.‖

__ADS_1


Wajah Gu Tong Dang menjadi lebih serius dan Ding Tao yang melihat perubahan pada wajah gurunya itupun jadi terdiam dan menebak-nebak.


―Anak Ding, tahukah kamu pedang apa yang dipakai Wang Chen Jin itu?‖,


tanya Gu Tong Dang sambil menunjuk ke arah pedang yang ada di samping Ding Tao.


Karena tidak tahu dan juga yakin bahwa gurunya tentu mengetahui keberadaan dan latar belakang pedang yang berhasil direbutnya dari Wang Chen Jin, Ding Tao menggelengkan kepala, sambil seluruh perhatiannya menantikan kata-kata selanjutnya dari Gu Tong Dang.


―Hmm…, kau tentu sudah mengetahui bahwa pedang itu sangatlah berharga, hingga dalam keadaan yang sangat payah pun pedang itu masih kau genggam erat. Mungkin saat bertarung dengan Wang Chen Jin, kau dapati pedang baja putih milikmu dengan mudah bisa dipotong-potong oleh pedang itu.‖


―Nah Ding Tao, sekarang dengarkanlah baik-baik apa yang akan aku katakan mengenai pedang itu. Jika aku tidak salah, pedang yang sekarang ada padamu itu adalah Pedang Angin Berbisik, milik mendiang pendekar pedang kenamaan Jin Yong yang sering juga dijuluki Raja Pedang dari Emei.‖


Mendengar itu mata Ding Tao terbelalak, siapa yang tidak pernah mendengar nama besar Jin Yong, siapa pula yang tidak pernah mendengar kisah pedang miliknya yang hilang tidak tentu rimba saat pendekar itu meninggal.


Kira-kira 12 tahun yang lalu pendekar besar itu mati diracun dan pedangnya tidak ditemukan pada mayatnya.


Sejak saat itu sudah ada beberapa pendekar pedang yang dikabarkan berhasil memiliki pedang pusaka itu, namun umur mereka tidaklah panjang.


Dalam waktu yang kurang dari 10 tahun, entah sudah ada berapa pendekar yang meninggalkan dunia fana, untuk memperebutkan pedang pusaka itu, sampai beberapa tahun yang lalu ketika pedang itu benar-benar lenyap tanpa kabar.


Siapa sangka, rupanya pedang itu sudah jatuh ke tangan keluarga Wang.


Gu Tong Dang dengan arif membiarkan Ding Tao mencerna kenyataan yang baru didengarnya. Beberapa saat kemudian diapun melanjutkan,


―Menurut pendapatku, Wang Dou entah dengan cara bagaimana mendapatkan pedang itu. Namun dia cukup cerdik untuk menyadari kelemahannya dan menyimpan pedang itu tanpa menggunakannya.‖


―Melihat gagang kayu pedang itu, menurutku dia tentu menyembunyikan pedang itu ke dalam sebuah tongkat kayu.


Karena pada bentuk aselinya, gagang pedang itu terbuat dari besi yang sama dengan mata pedangnya.‖


Sambil merenungi mangkok di tangannya, Ding Tao melanjutkan kata-kata Gu Tong Dang, setengah berbisik,


―Dan Wang Chen Jin yang sangat mendendam padaku, meminjam pedang ayahnya dengan diam-diam.‖


―Ya, kurasa itulah yang terjadi. Wang Dou yang sudah bersabar selama bertahun-tahun menyimpan tanpa sekalipun menggunakan pedang itu, tentu tidak akan meminjamkannya pada anaknya hanya untuk membalas dendam. Orang itu memiliki ambisi yang besar, jika dia belum berhasil meyakinkan ilmu pedangnya, tidak akan dia memunculkan pedang itu.‖


Dengan sabar Gu Tong Dang menghentikan penjelasannya, dan diamatinya wajah Ding Tao. Ding Tao yang merenung-renungkan perkataan Gu Tong Dang tiba-tiba memucat wajahnya. Tangannya bergetar hingga beberapa tetes kaldu ayam tercecer ke atas pembaringannya.

__ADS_1


Gu Tong Dang yang melihat itu, menutup matanya dan mendesah.


__ADS_2