Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
63. Chapter 63


__ADS_3

Murong Yun Hua yang ikut mendengar ucapan Murong Huolin ikut tersipu malu, sambil mencubit adiknya itu dia mengomel,


―Ih, anak nakal, harusnya kau berterima kasih bukannya malah menggoda.‖


―Aduh, aduh, cici, kalau godaanku benar apakah cici tidak merasa senang?‖,


ujar Murong Huolin sambil berkelit lari dari cubitan cicinya, bersembunyi di belakang Ding Tao yang wajahnya merah padam.


―Eh anak nakal, apa maksudmu?‖,


tanya Murong Yun Hua dengan alis terangkat dan wajah tersipu malu.Dikejarnya Murong Huolin yang bersembunyi di belakang Ding Tao, tapi Huolin yang lebih gesit dengan cepat bergerak memutar, menjadikan Ding Tao sebagai perisai di antara dirinya dan Murong Yun Hua. Ding Tao yang dikelilingi dua gadis cantik, mati kutu tidak berani bergerak sedikit pun.


Setelah beberapa kali berputaran, akhirnya Murong Huolin berlari pergi meninggalkan ruangan, tertawa geli, sambil berteriak minta ampun pada cicinya. Murong Yun Hua hanya bisa memandangi saja dengan nafas yang sedikit tersengal. Saat dia menoleh ke arah Ding Tao, wajahnya pun tersipu malu,


―Saudara Ding, kau jangan dengarkan perkataan gadis nakal itu.‖


Ding Tao hanya bisa menyengir kuda sambil mengangguk, dalam hati ada juga terselip rasa senang. Kepalanya masih berdenyut karena tadi darahnya ikut juga berputaran dengan kencang, saat dia dikelilingi kedua gadis cantik itu. Bau harum tubuh mereka masih tersisa di rongga hidungnya, juga singgungan-singgungan kecil dengan tubuh keduanya masih terasa hangatnya.


―Hari sudah siang, bibi tentu sudah menyiapkan makan siang, mari ikut aku ke ruang makan.‖, ajak Murong Yun Hua sambil tersenyum manis.


Sambil berjalan ke arah bangunan utama, menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok membelah taman, mereka berdua bercakap-cakap. Sedikit banyak Ding Tao mulai mengenal keadaan tuan rumahnya.


Dari keluarga Murong ini, hanya tinggal kedua gadis itu yang masih hidup. Kedua orangtua mereka sudah meninggal saat mereka masih remaja. Tapi mereka tidak tinggal sendirian, masih ada belasan pengikut setia yang ikut menjaga dan memelihara rumah itu. Harta yang diwariskan sendiri masih cukup untuk beberapa turunan. Sementara untuk kebutuhan hidup sehari-hari, mengandalkan dari kebun dan sawah yang mereka miliki. Dengan menjaga pengeluaran sehari-harinya, dapatlah keluarga ini bertahan hidup tanpa banyak menggunakan harta peninggalan orang tua Murong Yun Hua dan Murong Huolin. Pengurus lama yang setia banyak berperan dalam hal ini.


Murong Yun Hua dan Murong Huolin bukanlah saudara kandung, mereka adalah saudara sepupu. Bagaimana meninggalnya kedua orang tua mereka, gadis itu tidak mau menjelaskan. Ding Tao pun tidak tega untuk bertanya lebih lanjut.


Makan siang berjalan dengan baik, masakan yang dihidangkan bukan masakan yang mewah, namun itu justru mencocoki selera Ding Tao. Karena sikap tuan rumah yang ramah, obrolan mereka berjalan seperti tak ada habisnya. Tanpa terasa Ding


Tao pun bercerita tentang keadaannya yang sedang terluka dalam. Perihal Pedang Angin Berbisik masih disimpannya erat-erat, bukan karena mencurigai tuan rumah, melainkan karenakhawatir hal itu akan membuat keluarga yang terlihat hidup damai ini jadi tersangkut paut dengan urusan berdarah.


Memikirkan hal itu Ding Tao merasa resah karena sudah setuju untuk tinggal selama beberapa hari di rumah Murong. Ada rasa khawatir bahwa jejaknya akan tercium hingga kemari,


menyebabkan masalah datang ke dalam keluarga ini. Tergerak oleh kebaikan tuan rumah, dalam hati pemuda itu berjanji, jika sampai hal itu terjadi, dia akan bertarung sampai darah penghabisan.


Malam itu saat Ding Tao sudah terbaring di tempat tidur, pikirannya mulai melayang ke mana-mana. Dikenangnya apa-apa saja yang terjadi sepanjang hari itu. Siasatnya yang berjalan dengan baik, telah menelan belasan korban. Ketika teringat hal itu, Ding Tao mengerutkan alis dan menghela nafas panjang.


Sejenak dia mengatupkan mata dan berdoa, bagi arwah mereka yang mati terbunuh hari itu. Jika memikirkan betapa lebih banyak lagi korban yang harus mati di tangannya, entah lewat pertarungan atau lewat siasat seperti yang baru saja dia lakukan hari ini. Tapi hal itu tidak bisa dia hindari, setelah

__ADS_1


lukanya sembuh dia masih harus merebut kembali Pedang Angin Berbisik dari Tiong Fa, sudah tentu Tiong Fa tidak akan berdiam diri begitu saja. Belum dihitung jika nanti ternyata Tiong Fa memiliki pula anak buah. Berapa orang lagi harus mati di tangannya?


Setelah berhasil merebut pedang itupun bukan berarti sudah tidak ada lagi pertarungan lain yang harus dijalani. Pertemuan 5 tahunan itu masih kira-kira satu setengah tahun dari sekarang.


Sepanjang masa itu, entah berapa banyak pendekar yang akan mencoba menantangnya secara terang-terangan demi mendapat pedang. Atau lewat siasat licik seperti yang terjadi pada pemilik pedang sebelumnya.


Jika dia berhasil mempertahankan pedang itu sampai saatnya di pertemuan 5 tahunan, masih ada Ren Zuocan. Bilai dia mengikuti uraian gurunya, maka itu berarti satu-satunya jalan yang terbaik adalah membunuh Ren Zuocan. Entah dia mampu atau tidak, tapi setidaknya dia akan maju bertanding dengan membawa niat membunuh sejak awal.


Pemuda itu menghela nafas panjang-panjang, terkenang pertandingan persahabatan yang dilakukan melawan keluarga Huang, dia mengeluh, seandainya saja semua pertarungan seperti itu. Menjadi ajang menguji diri, menjadi ajang berlatih, tidak perlu terlalu berpikir keras tentang kalah atau menang.


Dan yang terpenting, tidak perlu ada pembunuhan, selesai bertanding justru menjadi sahabat. Teringat Tiong Fa pemuda itu mengerenyitkan alis, tapi yang dikira sahabatpun ternyata bisa jadi menyimpan sakit hati.


Memikirkan hal ini Ding Tao jadi menyesal telah mempelajari ilmu pedang.


Menggelengkan kepala Ding Tao berusaha mengusir semua pikiran yang menyusahkan dirinya itu jauh-jauh.


‗Lebih baik memikirkan sesuatu yang menyenangkan‘, pikir pemuda itu dalam hati,


‗Seperti … ah seperti pertemuanku dengan


Nona Murong Yun Hua dan Murong Huolin.‘


Pikiran itu menyadarkan Ding Tao, buru-buru pemuda itu mengalihkan pikirannya pada hal lain sambil memaki diri sendiri.


‗Ah… bodoh… bodoh… gila…, kenapa bisa begini? Apa aku ini termasuk laki-laki mata keranjang?‘, pikir pemuda itu dengan rasa malu dan kecewa pada diri sendiri yang amat sangat.


Malam itu Ding Tao baru tertidur setelah lewat larut malam, pikirannya dipenuhi dengan tiga orang gadis cantik.


Dua hari berlalu dengan cepat, kekhawatiran Ding Tao tidak menjadi kenyataan. Dua hari itu berjalan tanpa ada gangguan dari luar. Setelah beberapa hari terus menerus dalam keadaan harus berwaspada, dua hari ini merupakan kelegaan yang besar. Ding Tao menyibukkan diri dengan ikut menata taman bersama pekerja-pekerja keluarga Murong. Setiap siang dan sore hari, Murong Huolin akan mengajaknya berlatih tanding. Jika tidak sedang berada di kebun atau berlatih tanding dengan Murong Huolin, Ding Tao menghabiskan waktu bercakap-cakap dengan Murong Yun Hua. Dari gadis itu Ding Tao belajar mengenal karya-karya sastrawan besar di masa lalu, mengenal kisah-kisah kepahlawanan dari buku-buku bersejarah.


Gadis itu memiliki banyak hal untuk diceritakan membuat Ding Tao tidak pernah bosan bersamanya. Keluarga Murong memiliki satu kamar yang khusus digunakan untuk menyimpan berbagai macam buku dan tulisan. Seni lukis dan ukiran. Di bangunan yang sedikit terpisah terdapat pula satu tempat kerja berisi peralatan pandai besi, tukang kayu, pembakaran tembikar dan lain lain. Murong Yun Hua bersama adiknya Murong Huolin menemani Ding Tao melihat-lihat.


Waktu yang dua hari itu dengan cepat berlalu, otak Ding Tao yang haus dengan segala macam pengetahuan seperti menemukan mata air yang tidak ada habisnya. Ada rasa lega bercampur segan, dengan datangnya hari kedua. Lega karena akhirnya bisa melanjutkan lagi perjalanannya, bercampur sayang dan segan untuk meninggalkan tempat itu.


Ding Tao dan Murong Yun Hua sedang melihat-lihat taman yang sudah selesai disesuaikan dengan saran Ding Tao.


Bawaan Ding Tao sudah disiapkan dalam satu buntalan, uang, pedang, semuanya sudah dibawa.

__ADS_1


Hari itu Murong Huolin tidak terlihat sama sekali, hanya Murong Yun Hua yang menemani Ding Tao. Wajah gadis itu tampak sedikit murung, tapi setiap kali Ding Tao melihat ke arahnya, senyumnya mengembang meskipun tampak dipaksa.


―Saudara Ding, perkataanmu tempo hari ada benarnya. Lihat taman ini jadi lebih menarik.‖, ujar Murong Yun Hua.


―Ya, pekerjamu melakukannya dengan baik sekali, di beberapa bagian, mereka justru yang mengubahnya.‖, jawab Ding Tao merendah.


―Ya, mungkin saja itu benar, mereka memang dipilih dan dilatih sendiri oleh ayah, dalam hal seni dan tanaman. Tapi sudah bertahun-tahun sejak kematian orang tua kami, tidak ada keinginan untuk mengubah segala sesuatunya. Selama bertahun-tahun, sepertinya kami berhenti hidup.‖, Murong Yun Hua terdiam mengenangkan masa yang lewat.


―Kedatanganmu, benar-benar membawa angin segar bagi rumah kami. Terima kasih Saudara Ding.‖, ujarnya sambil tersenyum pada Ding Tao.


―Sama-sama, kalian yang terlebih dahulu menolongku waktu itu. Aku berhutang nyawa pada kalian.‖, jawab Ding Tao tersipu.


―Jadi…, apakah kau akan pergi sekarang juga?‖


―Ya… keadaanku saat ini…, ah…, sudahlah. Maaf aku sudah banyak merepotkan kalian. Lagipula, aku memang ada keperluan yang sangat penting.‖, mendesah panjang Ding Tao siap-siap berpamitan.


―Nona Yun Hua, sebaiknya aku pergi sebelum hari bertambah siang…‖


Mendongak ke atas, melihat ke arah langit yang cerah, Murong Yun Hua dengan segan menganggukkan kepala,


―Ya, hari cerah, sebentar siang tentu akan sangat panas. Saudara Ding, berhati-hatilah di jalan…‖


―Sampaikan salamku pada Nona Huolin.‖, sambil memberi hormat pada Murong Yun Hua, Ding Tao mulai membalikkan badan lalu melangkah.


―Tunggu sebentar…‖, tiba-tiba Murong Yun Hua mengejar dari belakang, membuat langkah Ding tao terhenti.


―Ada apa Nona Yun Hua?‖


―Sebenarnya…, sebenarnya engkau hendak pergi ke mana?‖


―Ke Biara Shaolin.‖, tanpa pikir panjang Ding Tao menjawab, dalam 2 hari ini hubungan mereka sudah seperti sahabat yang kenal bertahun-tahun lamanya.


―Shaolin? Jangan-jangan… Saudara Ding apa kau hendak menjadi biksu?‖, tanya Murong Yun Hua dengan ekspresi wajah terkejut, kaget dan was-was.


Melihat ekspresinya Ding Tao jadi tertawa geli,


―Tidak, tidak, bukan begitu, aku sedang menderita luka dan menurut tabib yang memeriksaku, hanya Biksu Khongzhe atau Pendeta Chongxan yang bisa menyembuhkan lukaku itu.‖

__ADS_1


―Ah syukurlah, eh maksudku…, maksudmu, kau sedang terluka saat ini? Tapi mengapa Biksu Khongzhe dan Pendeta Chongxan? Mereka bukan orang yang ahli dalam hal pengobatan. Dan kau tidak terlihat sakit… Ding Tao apa kau sedang coba menipuku?‖


―Tidak tentu saja aku sedang tidak membohong. Dari luar sepertinya aku baik-baik saja, tapi di dalam tubuhku ini mengeram hawa liar dari Tinju 7 Luka, selama aku tidak mencoba mengerahkan hawa murniku terlalu banyak, hawa liar itu tertidur dan tidak terjadi apa-apa. Tapi saat aku coba menggunakan hawa murniku terlalu banyak, hawa liar itu bangkit dan menimbulkan pergolakan dalam tubuhku ini.‖, ujar Ding Tao coba menjelaskan.


__ADS_2