
Melirik ke arah puterinya, Tuan besar Huang Jin jadi geli dan tertawa senang dalam hati. Sambil mengangguk-angguk, dia memuji kecerdikan Tiong Fa dan kejelian putera sulungnya.
Sungguh-sungguh keluarga Huang mendapat untung besar kali ini. Teringat dia pada Gu Tong Dang, diapun berjanji dalam hati, setelah semua ini berakhir dia akan menjemput pelatih tua yang sudah banyak berjasa pada keluarga Huang.
Huang Ying Ying yang tadinya bersembunyi di belakang kakaknya, tanpa terasa bergeser maju ke depan. Wajahnya penuh kecemasan, air mata pun mengembeng di pelupuk matanya. Yang sempat melihat, tentu sudah bisa menebak isi hati gadis muda ini. Tapi selain ayahnya, tidak ada yang
sempat melirik gadis itu. Perhatian setiap orang tertuju pada pertarungan antara Ding Tao dan Zhang Zhiyi.
Serangan Zhang Zhiyi yang membadai dan keuletan Ding Tao yang berusaha bertahan.
Setiap saat selalu saja mereka disuguhi dengan gebrakan yang mendebarkan hati. Entah sudah berapa kali mereka sempat berpikir, akhirnya, kalah juga pemuda itu, atau robohlah dia sekarang. Tapi dengan keras kepalanya pemuda itu masih sempat saja untuk meloloskan diri.
Yang tidak disangka semua orang adalah sebenarnya saat itu Zhang Zhiyi sudah hampir berputus asa.
Pengetahuannya yang luas dalam ilmu bela diri sudah diperasnya habis-habisan.
Selain dari ilmu keluarga Huang, Zhang Zhiyi memiliki banyak simpanan ilmu yang didapatnya saat dia memata-matai perguruan besar yang ada di daratan. Tapi kali ini dia bertemu batunya, yaitu Ding Tao yang hanya mempelajari ilmu keluarga Huang tapi berhasil menangkap inti sari dari ilmu keluarga Huang.
Ding Tao memang belum berhasil menyelami hakekay ilmu bela diri sampai kedalaman yang terdalam, mendaki hingga puncak yang paling puncak. Di mana semua aliran yang berbeda itu bisa dipahami bersumber sari satu sumber yang sama. Di mana menguasai yang satu sama artinya dengan menguasai semua.
Tapi dia sudah menyelami ilmu keluarga Huang hingga tuntas, sehingga sedikit banyak, pemahaman itu sudah ada padanya, meskipun masih berupa bayangan yang tidak jelas. Itu sebabnya berhadapan dengan jurus serangan Zhang Zhiyi yang berbagai macam jenisnya, Ding Tao masih bisa menyelamatkan diri. Bahkan sedikit demi sedikit, ruang geraknya menjadi semakin luas.
Zhang Zhiyi justru sebaliknya, semakin lama dia bisa merasakan genggamannya atas diri Ding Tao semakin melemah, ikan yang sudah terkail olehnya itu mulai melepaskan diri.
Mereka yang di luar pertarungan tentu saja tidak bisa memahami hal ini, karena sampai sekarang pun Ding Tao masih saja harus pontang panting menyelamatkan diri dari serangan Zhang Zhiyi.
__ADS_1
Hingga terkejutlah mereka ketika melihat bagaimana pertarungan itu berakhir.
Saat itu Zhang Zhiyi sedang melancarkan satu tendangan ke arah Ding Tao yang sedang bergerak mundur. Seharusnya Ding Tao masih dapat menangkis serangan, tapi di luar dugaan mereka justru pemuda itu membiarkan perutnya terkena tendangan Zhang Zhiyi.
Bukan main hebatnya tendangan itu, meskipun Ding Tao sudah bersiap-siap dengan memusatkan hawa murninya di bagian itu, tidak urung dia harus menggertakkan giginya kuat-kuat untuk meneruskan rencananya.
Sebenarnya Zhang Zhiyi sudah bersiap-siap dengan serangan yang berikutnya, tapi tindakan Ding Tao di luar dugaannya.
Dengan menerima tendangan itu, Ding Tao meluncur lebih jauh lagi ke belakang, memberinya ruang untuk balik melancarkan serangan.
Tanpa memperbaiki posisi terlebih dahulu, tidak juga menghimpun dahulu tenaga yang membuyar. Ding Tao langsung melancarkan serangan. Serangan itu sederhana saja, tapi dilontarkan dengan segenap kekuatan yang dimilikinya.
Zhang Zhiyi pun mundur untuk kemudian berbalik menyerang karena dia tahu, tentu himpunan tenaga Ding Tao belumlah sepenuhnya pulih setelah terkena tendangannya tadi.
Tapi ternyata serangan itu hanyalah gertakan saja, saat Zhang Zhiyi mundur, Ding Tao ikut menyurut mundur. Ketika Zhang Zhiyi sadar, dalam waktu yang singkat itu Ding Tao sudah berhasil mengatur kembali aliran hawa murni di tubuhnya dan sebelum Zhang Zhiyi sempat bereaksi dia sudah melancarkan serangan selanjutnya.
Sayang lawannya adalah Zhang Zhiyi, Zhang Zhiyi sudah lama merenungi jurus serangan ini dan sudah memegang cara untuk memecahkannya. Inti serangan jurus itu terletak pada jebakan yang siap menyambut lawan, saat lawan berusaha memanfaatkan celah yang sengaja dibuka.
Tapi jika lawan sudah bersiap terhadap jebakan itu, lalu apa artinya jebakan itu?
Muka Zhang Zhiyi yang sempat pucat saat dirinya salah memperhitungkan reaksi Ding Tao kembali berwarna. Dengan sigap dia menyerang melalui celah yang sengaja dibuka.
Ketika dilihatnya pukulan Ding Tao menyambar, dia sudah siap. Pedang yang menusuk hanyalah pancingan, dengan sebat gerakan itu berubah di tengah, berbalik hendak memangkas tangan Ding Tao yang maju menyerang.
Entah ada berapa banyak pasang mata yang terhenti nafasnya. Tapi bukan tangan Ding Tai yang terpapas, sebaliknya justru pedang Ding Tao yang menempel pada leher Zhang Zhiyi.
__ADS_1
Rupanya pukulan Ding Tao itupun hanyalah serangan palsu.
Dibalik muslihat, ada muslihat.Serangan pedang yang seharusnya hanya merupakan pancingan justru menjadi serangan yang sesungguhnya.
Pukulan yang tersembunyi ternyata hanya pancingan.
Pucat wajah Zhang Zhiyi, kejadian ini di luar dugaannya, tapi pedang sudah melintang di depan lehernya. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan kecuali mengakui kekalahannya.
Kali ini beberapa orang yang mendukung Ding Tao tanpa sadar bersorak, meskipun dengan cepat sorakan itu terhenti dan mereka yang bersorak cepat-cepat menunduk dengan wajah bersalah. Apalagi ketika mereka merasa pandangan mata para pimpinan keluarga Huang yang tajam menusuk, ditujukan pada mereka.
Untuk beberapa saat Zhang Zhiyi kehilangan kata-kata, ketika akhirnya dia membuka mulut nada suaranya terdengar lesu dan senyumnya terasa dipaksakan,
―Hehh… Anak Ding, rupanya aku pun harus mengakui kehebatanmu.‖
Nafas Ding Tao masih sedikit tersengal, banyak tempat di sekujur tubuhnya yang terasa sakit, tapi dikuat-kuatkannya juga untuk menjawab dengan sesopan mungkin,
―Maafkan aku Paman Zhang, hanya keberuntungan saja, kalau tidak tentu sudah sejak tadi aku terjungkal oleh pukulan dan tendangan paman.‖
Zhang Zhiyi mengangguk-angguk, kemudian menepuk pundak pemuda itu sebelum kembali ke pinggir arena.
Seperti saling berjanji, pandang mata setiap orang sekarang tertuju pada Tiong Fa, sudah jelas bahwa pertandingan ini dialah yang mengatur. Dalam hati setiap orang bertanya-tanya, siapa lagi yang akan diajukan oleh Tiong Fa, apakah belum cukup kemampuan yang ditunjukkan oleh Ding Tao?
Ketika Tiong Fa dengan langkah yang tenang berjalan ke tengah arena, tanpa terasa banyak dari mereka yang mendukung Ding Tao, menutup mata dan menghela nafas.
Pikir mereka,
__ADS_1
―Sayang sekali, sebenarnya sungguh tidak adil, tapi kali ini habislah Ding Tao.‖