
Tingkatan Wang Xiaho, Chen Wuxi dan dua orang muridnya, mungkin bisa dijajarkan dengan Fu Tsun dan Xiang Long. JikaFu Tsun dan Xiang Long yang dibantu belasan anak buahnya tidak mampu mengalahkan Ding Tao, kesempatan apa yang dimiliki Wang Xiaohu dan Chen Wuxi.
Dengan gerakan kaki yang tepat, Ding Tao menyelusup keluar dari kepungan mereka berempat. Dengan serangan pedangnya dia memaksa dua orang di sisi terluar bergerak ke tengah.
Setelah sasaran terkumpul dalam satu tempat, jurus pamungkas pun dikeluarkan. Jika sedang Ding Tao bersiap mengembangkan jurus saja, ke empat orang itu jatuh dalam perbawanya. Apalagi sekarang saat Ding Tao mengembangkan jurusnya untuk menyerang. Tidak ada yang bisa melihat dengan jelas gerakan Ding Tao, tapi semua bisa merasakan hawa pedang yang meliputi seluruh halaman, bahkan mereka yang berada di pinggir arena, tidak luput dari pengaruh hawa pedang.
Setiap lubang dan celah tertutup oleh hawa pedang Ding Tao, ke empat lawannya terpaku di tempat. Tidak tahu harus bergerak ke mana, tidak bisa berpikir harus menyerang dengan jurus apa, tidak mampu pula memutuskan harus bertahan dengan cara apa. Setiap cara yang dipikirkan, selalu terasa salah, sementara pedang Ding Tao bergerak dengan cepat tanpa ampun menghajar seorang demi seorang. Sekilas tidak jauh bedanya dengan jurus pamungkas keluarga Huang di mana serangan pedang bergulung menyerang lawan.
Tapi jurus Ding Tao tidak menyisakan tempat untuk melarikan diri, tidak ada jebakan di balik serangan. Jika hendak lari tidak ada jalan. Jika hendak melawan, hawa pedang Ding Tao terlampau jauh di atas kekuatan mereka. Selain itu hawa pedang Ding Tao tidak diikuti hawa pembunuh, sehingga serangan Ding Tao tidak membangkitkan naluri bertahan hidup dari lawan. Semangat untuk melawan dengan sendirinya jadi melemah, karena tidak ada kemungkinan untuk menang, tapi kalah pun tidak menakutkan.
Dalam jurus ini, Ding Tao bukan hanya memikirkan bagaimana caranya menggunakan hawa pedang untuk menyerang dan menutup jalan lawan. Tapi Ding Tao juga memperhitungkan keadaan mental lawan.
Karena itu Ding Tao juga mencari cara menghilangkan hawa pembunuh dalam jurus serangannya. Seekor tikus yang sudah terpojok akan menggigit, meskipun tikus itu tahu dia tidak punya kesempatan untuk menang. Mengapa? Karena dia merasakan adanya bahaya, nalurinya untuk bertahan hidup, membuat dia mencari jalan kehidupan, saat semua jalan buntu, maka terpiculah sifat agresifnya.
Demikian juga saat Ding Tao bertarung dengan lawannya, lewat jurus-jurus yang dia miliki dan kecerdikannya, dia mampu memojokkan lawan sampai lawan berdiri di posisi tidak bisa lari lagi. Tapi hal itu tidak membuat lawan menyerah, karena lawan merasakan hawa pembunuh yang keluar dari jurus serangan Ding Tao. Sehingga di posisi itu tidak ada pilihan lain kecuali membunuh atau terbunuh. Ding Tao yang merasa muak dengan pembunuhan demi pembunuhan yang harus dia lakukan, akhirnya mendapatkan inspirasi untuk menghilangkan hawa pembunuh itu dari jurus serangannya.
Sehingga lawan berada di posisi tidak mungkin menang, tapi kalaupun kalah, hal itu tidak membahayakan nyawa mereka.
__ADS_1
Inspirasi yang sama bisa ditemukan dalam kisah tiga negara, dalam percakapan antara Liu Bei dengan Zhu Jun. Pada saat itu Jendral besar pasukan kerajaan Han, Zhu Jun dan Liu Bei berhasil mengepung pemberontak di kota Wang Cheng. Pemberontak ikat kepala kuning, yang kehabisan bahan makanan, mengirimkan kurir menyampaikan tawaran untuk menyerahkan diri.
Namun Zhu Jun menolak penyerahan mereka itu, mendengar sikap Zhu Jun, Liu Bei bertanya,
" Mengingat pendiri Dinasti Han, Nenek Moyang kita yang besar, Liu Bang, mengampuni orang-orang yang mau menyerah padanya, kenapa kita menolak penyerahan ini?"
" Kondisi saat itu dan sekarang berbeda," jawab Zhu Jun. " Di masa itu kekacauan terjadi secara menyeluruh dan tidak ada seorang pimpinan yang tetap. Itu sebabnya mereka yang mau menyerah diterima dengan baik, untuk mendorong lebih banyak lagi orang bergabung dan mempercepat penyatuan negara."
" Sekarang negara sudah bersatu, dan pemberontakan Zhang Jiao adalah satu-satunya penyebab kekacauan. Memberikan pengampunan tidak akan mendorong perbuatan yang baik. Mengijinkan pemberontakan saat mereka berhasil, akan membuat mereka semakin banyak meminta. Memberikan mereka pengampunan saat mereka gagal, hanya akan memberikan keberanian untuk memberontak. Rencanamu untuk mengampuni mereka, bukanlah rencana yang baik."
Liu Bei pun menjawab,
maka para pemberontak akan menjadi putus asa dan akan bertempur sampai mati. Korban yang berjatuhan dari pihak kita akan sangat besar, belum lagi terhitung penduduk sipil yang tinggal di dalam kota. Karena itu baiklah kita melonggarkan penjagaan di satu sisi dan menyerang dari sisi yang lain. Mereka pasti akan melarikan diri dan kehilangan keinginan untuk bertempur. Saat itulah kita akan menghabisi mereka."
Taktik Liu Bei berjalan dengan baik, pemberontak yang melihat ada jalan untuk lari di satu sisi dan pasukan kerajaan yang sangat besar di sisi lain, kehilangan semangat untuk bertempur dan melarikan diri dari kota, di mana pasukan kerajaan yang lain sudah siap untuk membantai mereka.
Ding Tao bukan Zhu Jun, pendiriannya lebih condong pada pendirian Liu Bei, yaitu untuk memberikan pengampunan pada lawannya. Jurus Ding Tao tidak sepenuhnya sesuaii dengan taktik Liu Bei. Tapi ide dasar dari taktik ini, yaitu memberikan jalan penghidupan pada lawan demi melemahkan semangat bertempur lawan, tidaklah berbeda. Sedikit berbeda dengan kisah tiga negara di atas, yang dilakukan Ding Tao adalah serupa dengan bagaimana Zhu Jun dan Liu Bei berhasil
__ADS_1
mengepung lawan. Tapi jika Zhu Jun tidak bersedia memberikan pengampunan, Ding Tao memilih untuk memberikan pengampunan, dengan demikian pertarungan dapat diselesaikan tanpa ada korban yang jatuh.
Tentu saja bisa diperdebatkan, apakah pilihan Ding Tao ini tepat atau tidak, karena tidak semua lawan Ding Tao akan bertindak seperti sepasang iblis muka giok. Akan ada mereka yang menggunakan kesempatan itu untuk memupuk kembali kekuatan dan mencoba menantang atau mencelakakan pemuda ini di kemudian hari. Seperti kata Zhu Jun, memberikan pengampunan di situasi yang tidak tepat, seringkali justru mendorong lebih banyak pelanggaran.
Tapi Ding Tao bukanlah Zhu Jun.
Jika serangan Ding Tao hendak dijabarkan dalam kata-kata, bisa berlembar-lembar habis untuk menjelaskan. Jika dilihat, hanya sekejap mata saja kejadiannya.
Dalam sekejap setelah Ding Tao berhasil mengumpulkan lawan di satu tempat, pedang dan golok berjatuhan di lantai. 4 orang lawan, 4 wajah pucat pasi dan 4 pasang tangan terkulai lemas.
Tidak ada yang membuka mulut, peristiwa itu terlalu mengejutkan. Ding Tao merasa tidak enak, cepat-cepat meletakkan pedangnya kemudian pergi untuk menyapa ke empat lawannya,
" Paman, Guru Chen, saudara berdua, kalian tidak apa-apa bukan? Maaf jika aku kelepasan tangan."
Sikap Ding Tao yang rendah hati dan dengan tulus mengkhawatirkan keadaan lawannya, mencairkan keadaan. Ke empat lawannya yang sedang tercekam oleh jurus Ding Tao, tiba-tiba merasa bisa bernafas dengan lega kembali. Demikian juga mereka yang menonton di tepi arena, merasakan ketegangan yang tadinya menyelimuti mereka mencair.
Berbisik-bisik mereka membicarakan apa yang baru mereka lihat dengan orang di kiri dan kanan mereka.
__ADS_1
Chen Wuxi menggeleng-gelengkan kepala tak percaya dengan apa yang barusan dia alami,
" Astaga, tidak kukira ada jurus semacam itu. Sungguh beruntung sudah setua ini masih sempat menyaksikan bahkan merasakan dahsyatnya jurus tuan pendekar."