
Sebenarnya apa yang terjadi malam itu? Ada juga keinginan dari penulis untuk membuat semacam cerita misteri, sayangnya penulis termasuk orang yang bermulut ember, tidak bisa menyimpan rahasia, sehingga meskipun ada keinginan tapi tidak ada kemampuan 😄😄.
Sejak Tuan besar Huang Jin menyaksikan bakat Ding Tao, dalam hatinya lenyap sudah keinginan untuk menarik anak muda itu ke dalam keluarganya. Hilang pula minatnya untuk mengambil Pedang Angin Berbisik dari tangan pemuda itu secara baik-baik.
Kekalahan Tiong Fa, kondisi Ding Tao yang sudah sangat kelelahan, membuat sangat tidak berwibawa jika Tuan besar Hung Jin harus memaksakan diri untuk mengirim satu orang lagi untuk bertanding melawan Ding Tao. Lagipula siapa yang hendak ditandingkan melawan pemuda itu?.
Kondisinya sangat payah, siapa pun jagoan tingkat atas dari keluarga Huang yang diminta untuk bertanding melawan pemuda itu akan kehilangan mukanya. Sementara bakat Ding Tao justru menunjukkan kemampuannya memberikan hasil yang di luar dugaan. Mengirimkan salah satu jagoan muda memiliki resiko menelan satu lagi kekalahan, memperpanjang daftar kemenangan Ding Tao dan membuat nama mereka jadi lebih terpuruk bila memaksa Ding Tao untuk bertanding lagi dan lagi hingga mareka memenangkan pertarungan karena pemuda itu mati kepayahan.
Tuan besar Huang Jin tidak pernah suka berjudi, jika dia harus berjudi, maka jelas baginya kapan dia harus bertahan dan kapan harus mundur. Kali ini dia memilih mundur dari perjudian itu.
Itu sebabnya di depan semua orang dia memuji bakat Ding Tao, sekaligus mengesankan masih adanya jurus rahasia yang tidak dipahami Ding Tao. Berjanji untuk membantu Ding Tao dan mengikat tali persahabatan. Di depan semua orang ditunjukkannya bahwa tidak ada ganjalan, keluarga Huang sudah mempercayakan pula pedang pusaka itu ke dalam tangan Ding Tao.
Jika seorang mengusut satu kejahatan, yang pertama kali dia lakukan adalah mencari siapa yang memiliki motif untuk melakukan kejahatan itu.
Apa tujuan kejahatan itu dilakukan?
Balas dendam? Keserakahan? Keuntungan apa yang ingi diraih pelakunya lewat kejadian itu?
Setiap penjahat yang licin mengerti akan hal ini, sebelum memulai aksinya, terlebih dahulu dia berusaha untuk mengaburkan motif itu. Dalam hal ini Tuan besar Huang Jin lah penjahatnya, meskipun bila kau tanya dirinya, mungkin dia tidak akan merasa apa yang dilakukannya adalah satu kejahatan.
__ADS_1
Inilah bentuk rasa baktinya bagi leluhur, bentuk rasa kasihnya pada anak cucunya. Dengan berjuang, berusaha mengangkat nama keluarga meskipu dirinya harus berendam dalam lumpur untuk dapat menggapainya.
Arak yang dia hidangkan mengandung racun yang akan membuyarkan himpunan hawa murni seseorang. Tidak cukup demikian, diutusnya puteri kesayangannya untuk mengantarkan bungkusan obat untuk membantu Ding Tao memulihkan kondisinya yang kelelahan. Obat itu mengandung ramuan semacam obat tidur, ditambah dosis yang lebih kuat dari racun pembuyar hawa murni yang dicampurkan ke dalam arak.
Tidak perlu heran jika Ding Tao akan tertidur lelap setelah meminum obat itu, karena obat itu memang meredakan ketengangan dan membantu seseorang yang mengalami luka-luka yang menyakitkan tubuh untuk tidur dengan tenang.
Lengkap sudah rencananya, Ding Tao akan tertidur dengan pulas dan hawa murni yang buyar.
Tuan besar Huang Jin sendiri harus meminum obat penawar dan memulihkan diri karena dia meminum racun yang sama dengan yang diminum Ding Tao. Untuk melaksanakan tugas selanjutnya, diserahkannya pekerjaan itu pada orang kepercayaannya Tiong Fa. Tiong Fa kemudian memilih Zhang Zhiyi untuk membantu dia mengerjakan hal itu.
Dia memilih Zhang Zhiyi karena jagoan yang satu itu mengenal banyak sekali ilmu dari perguruan lain. Rencana mereka adalah meninggalkan bekas pukulan yang khas, yang akan dikaitkan dengan sebuah perguruan di daerah utara. Zhang Zhiyi tidak perlu kuatir apakah ilmunya sudah cukup sempurna karena Ding Tao sudah buyar hawa murninya, yang penting adalah bekas yang ditinggalkannya.
Adalah Huang Ying Ying yang mengacaukan rencana itu, gadis yang sedang jatuh cinta ini mendapatkan ide untuk mengambil pula obat penambah tenaga yang biasa dikonsumsi keluarga
Huang untuk membantu mereka dalam proses memperkuat himpunan hawa murni mereka. Tuan besar huang Jin tidak menyangka gadis itu akan berani mengambil obat rahasia keluarga untuk orang luar.
Tapi gadis yang sedang jatuh cinta memang seharusnya tidak dipercaya. Apalagi gadis itu sama sekali tidak tahu menahu tentang rencana jahat ayahnya terhadap Ding Tao. Dilihatnya ayahnya begitu kagum dan perhatian pada pemuda itu. Dalam pikirannya jika sampai ayahnya tahu pun tentu tidak menjadi halangan.
Obat yang diambil Huang Ying Ying dengan diam-diam itulah justru yang menjadi penawar dari racun pembuyar hawa nurni.Alhasil memang benar Ding Tao tertidur pulas bak orang sudah mati, tapi himpunan hawa murni dalam tubuhnya masih bekerja dengan baik. Saat Zhang Zhiyi memukul dadanya, hawa murninya secara naluriah melindunginya dari kematian.
__ADS_1
Pukulan itupun menyadarkan pemuda ini untuk sementara waktu sehingga dia masih sempat melarikan diri dari kedua pembunuh itu.
Setengah sadar pemuda itu melarikan diri dari ancaman bahaya yang bisa dirasakan oleh nalurinya untuk bertahan hidup.
Jika ada sifat yang diwariskan secara turun temurun pada manusia, itulah naluriah untuk bertahan hidup. Mereka yang tidak mewarisinya tentu tidak akan mampu bertahan hidup di dunia purba yang keras.
Lalu di mana pemuda itu menghilang? Bukankah kesadarannya terganggu oleh khasiat obat tidur yang diminumnya? Ditambah dengan luka di jantungnya yang tidaklah ringan, bagaimana dia mampu menjaga kesadarannya sampai selamat di luar perbatasan kota?
Rasanya jawaban dari pertanyaan ini bukanlah misteri bagi para pembaca. Sudah jelas Ding Tao tidak akan mampu melarikan diri melampaui gerbang-gerbang kota yang dijaga ketat, dia juga tidak mungkin mampu merayap melewati dinding-dingin kota yang tinggi. Jangankan melakukan hal-hal semacam itu, untuk lari keluar dari kediaman keluarga Huang pun dia tidak mampu.
Jadi di mana dia berada? Sudah tentu dia masih ada di dalam kediaman keluarga Huang.
Di mana?
Tentunya di tempat orang yang paling dekat dengan hatinya, tempat orang yang paling dipercayainya, dalam keadaan setengah sadar, hati dan nalurinya bekerja melampaui pikiran logisnya. Dengan langkah yang terhuyung-huyung, pemuda itutelah mengambil jalan-jalan pintas hingga sampai di depan kamar nona muda keluarga Huang, Huang Ying Ying.
Pemuda itu pingsan begitu dia sampai di depan pintu kamar, Huang Ying Ying tentu saja tidak tahu Ding Tao sedang terbaring pingsan di sana. Barulah ketika dia membuka pintu karena didengarnya ada keributan di luar, dia menemukan pemuda itu di sana.
Kaget dan khawatir, gadis itu tidak sempat berpikir panjang.
__ADS_1
Apalagi darah yang mengering, menodai sebagian besar bagian depan baju yang dikenakan pemuda itu.