
Saat tendangan Wang Chen Jin mampir di dadanya, seketika itu pula nafas Ding Tao menjadi sesak dan pandang matanya pun menjadi gelap.
Entah untuk berapa lama dia tidak sadarkan diri.
Begitu badannya menyentuh air sumur yang dingin, tersadarlah Ding Tao, meskipun dia belum teringat akan pertarungannya barusan, tapi tubuhnya dengan sendirinya bergerak, berusaha mengapung ke permukaan.
Tanpa sadar dia berusaha menusukkan pedangnya ke dinding sumur sebagai tempat bagi tangannya untuk bergantung.
Nasib baik masih melindungi Ding Tao, pedangnya menyangkut di sebuah retakan di dinding sumur dan menancap cukup dalam untuk menahan tubuh Ding Tao. Lagipula tubuhnya masih berada di dalam air, sehingga tidak terlalu banyak beban yang ditanggung pedangnya.
Dengan pedang menahan tubuhnya agar tidak tenggelam, perlahan-lahan kesadaran Ding Tao pun kembali, teringatlah dia akan pertarungannya barusan.
Teringat pada pertarungan itu, teringat pula dia pada pedang Wang Chen Jin yang mampu mengiris-ngiris pedang bajanya seperti mengiris kayu saja. Ketika dia melihat padang pusaka yang tajam luar biasa itu, masih terjepit oleh pedang bajanya, dengan rasa takjub pemuda itupun meletakkan pedang itu dalam genggamannya.
Lalu dengan satu sentakan dicabutnya pedang itu dari pedang bajanya.Untuk sesaat diapun lupa pada rasa sakit di badannya, atau rasa lemas yang sebenarnya masih menguasainya.
Dipandanginya pedang itu dengan rasa takjub, masih bergantung pada pedang miliknya sendiri dengan satu tangan, dengan tangan yang lain dicobanya untuk memainkan pedang pusaka itu.
Semangatnya jadi terbangun saat merasakan betapa pas pedang itu di tangan. Tidak terlampau ringan tidak juga terlampau berat, keseimbangannya membuat mudah digerakkan sesuai dengan keinginan.
Tapi kegembiraannya itu tidak berlangsung lama, semangatnya mungkin tinggi, tapi tenaganya sudah semakin melemah, pada satu saat, hampir saja pedang itu lepas dari genggamannya.
Beruntung dia masih bisa mengerahkan tenaga untuk menggenggamnya kuat-kuat, hingga pedang itu tidak sampai terlepas.Dengan gugup, Ding Tao berusaha menusukkan pedang itu di sebuah retakan yang dilihatnya.
Hatinya merasa sedikit lega saat melihat pedang itu tertancap dengan aman di situ.
Setelah memastikan pedang itu aman di tempatnya, mulailah dia mengamati keadaan di sekelilingnya. Dia dapat merasakan kakinya sudah mulai lemah tak bertenaga, demikian juga tangannya yang berpegangan pada pedang. Hawa dingin menjalari tubuhnya.
Akhirnya diapun pasrah pada keadaan, tenaganya begitu terkuras hingga tidak mungkin baginya untuk memanjat ke atas.
Dengan pengetahuannya yang serba terbatas mengenai jalan darah, dia berusaha menotok jalan darahnya, memperlambat darah yang mengucur dari luka di dadanya. Entah darahnya sudah terlalu banyak terkuras atau tutukannya tepat menghambat jalan darah di beberapa titik.
__ADS_1
Darah yang mengucur tidaklah sederas sebelumnya.
Setelah semua itu selesai dilakukan, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Satu-satunya yang bisa dia lakukan sambil menunggu, hanyalah mengatur nafas dan berusaha mengalirkan hawa murni untuk menghangatkan tubuh.
Dalam hal ini dia mendapatkan satu kejutan yang menyenangkan hatinya, salah satu jalur hawa murni, yang mengalirkan hawa murni dari tantien ke telapak tangan ternyata berhasil ditembusnya dengan mudah.
Untuk menghabiskan waktu, jalur yang sudah ditembus itu pun dicobanya perlahan-lahan.
Pertama dicobanya untuk mengambil hawa murni yang tersimpan dan dialirkan ke kedua telapak tangannya. Mengalir melalui titik di daerah ulu hati naik ke arah pundak dan menuju ke titik di tengah-tengah telapak tangan.Didorongnya terus mengaliri pedang yang ada di genggamannya.
Setelah dia merasakan hawa murninya mengalir hingga ke ujung pedang, perlahan-lahan ditariknya kembali untuk disimpan ke bawah pusarnya.
Kemudian berganti dia mencoba menarik hawa murni yang ada di sekitarnya lewat telapak tangannya, perlahan-lahan dialirkan menuju ke pusar. Ditahannya di sana untuk beberapa saat, lalu perlahan-lahan dialirkan ke bawah pusar dan disimpan.
Tidak lupa dia mengatur nafas dan mengalirkan hawa murni menyebar ke seluruh tubuhnya, memberikan rasa hangat yang menyebar dan menjaga agar dia tidak mati kedinginan. Membiarkan hawa murni menyebar dengan sendirinya, jauh lebih mudah daripada mengatur hawa murni itu untuk terkonsentrasi pada tempat tertentu, lebih sulit lagi untuk mengalirkan hawa murni itu sesuai kemauan mengikuti jalur tertentu.
Apalagi jika jalur-jalur tersebut belum masih terkunci dan belum bisa ditembus. Dan justru penggunaan hawa murni yang terkonsentrasi dan terarah inilah yang memungkinkan seseorang untuk melakukan suatu kemampuan di luar kemampuan umum.
Sungguh beruntung Ding Tao salah satu jalur tersebut tertembus dengan tidak sengaja saat dia menghadapi bahaya maut melawan Wang Chen Jin.
genggamannya. Dengan demikian Ding Tao sudah dapat mulai menjajaki kemungkinan untuk menyatu dengan pedangnya.
Jika hawa murni sudah dapat mengaliri senjata, pada satu tahapan tertentu, senjata pun menjadi bagian dari tubuh.
Seuntai cambuk bisa bergerak mengikuti keinginan pemegangnya, seperti ekor singa bergerak mengikuti kemauan pemiliknya.Kain bisa menjadi sekeras besi dan besi bisa menjadi selentur kain.
Bila sudah sampai pada tahap demikian bahkan ranting pohonpun bisa menjadi senjata yang berbahaya, terlebih lagi sebatang pedang pusaka.
Ding Tao bukannya tidak pernah mendengar hal semacam ini, dalam hatinya timbul satu harapan. Sebelumnya tidak pernah terbayang dalam benaknya, bahwa dia akan mampu menjadi seorang pendekar besar. Tapi hari ini dalam waktu yang bersamaan, dia berhasil menembus salah satu jalur tenaga yang penting dalam tubuhnya, sekaligus menemukan sebatang pedang pusaka.
Tiba-tiba saja Ding Tao tidak sabar untuk dapat mempelajari seluruh jurus-jurus pedang keluarga Huang. Bahkan bukan saja jurus pedang keluarga Huang, dia ingin bisa melihat semua jurus pedang yang ada di dunia.
__ADS_1
Di hati pemuda yang sederhana itu, tiba-tiba timbul keiginan untuk menjadi pendekar pedang nomor satu di dunia.Lalu setelah itu diraihnya…
Ya setelah itu diraihnya, dia akan dapat datang pada nona muda yang cantik itu dengan dada tengadah.
Bukan lagi Ding Tao si tukang kebun, tapi Ding Tao pendekar pedang nomor satu di dunia.
Jantungnya berdebaran dan mukanya semburat merah, membayangkan dirinya bersanding dengan nona muda keluarga Huang. Membayangkan pipi yang putih dan halus bagaikan batu pualam, tapi hangat dan lembut seperti roti yang baru dipanggang.Bibir mungil merah yang suka mencibir itu, mata jeli dan bulu mata yang lentik.
Pikirannya pun merantau ke mana-mana dan hawa panas yang liar menjalari tubuhnya. Ding Tao yang berangan-angan, tidak merasa kedinginan meskipun saat itu dia tidak sedang mengatur nafas dan mengumpulkan hawa murni.
Sesungguhnya dalam hati yang terdalam Ding Tao sudah kehilangan asa, sebagian dirinya merasa bergairah terhadap penemuannya, tapi sebagian dirinya yang lain memandang betapa keberuntungannya dalam ilmu silat ini sama semunya dengan embun pagi.
Dia merasakan tenaganya melemah dan tidak lama lagi dia harus pasrah tenggelam ke dalam air tanpa mampu banyak berbuat sesuatu.
Mungkin masih beberapa lama lagi sebelum ada ramai orang beraktivitas, jikapun demikian, belum tentu ada yang memakai sumur ini. Kalaupun ada yang memakai sumur itu, apakah pada waktu itu dia masih ada tenaga untuk berteriak minta tolong?
Baru kali itulah, Ding Tao bersikap sinis pada kehidupan. Dia merasa betapa kejamnya hidup, di satu sisi nasib sudah membukakan sebuah pintu yang menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tapi di saat yang sama, nasib hanya memberikan waktu yang sangat terbatas sebelum dia sampai pada kematian.Betapa getir perasaan pemuda ini mungkin sulit dibayangkan.
Sedari kecil hidupnya serba terbatas, tidak seperti pemuda lain, dia terlalu sadar akan kedudukannya dan selamanya memaksa dirinya untuk memendam hasrat dan cita-cita.
Ketika tiba-tiba kesempatan itu baru saja terbuka bagi dirinya, sejak dari kelulusannya, hingga sekarang ketika dia dengan tidak sengaja mendapatkan sebuah pedang pusaka dan terobosan dalam pengenalannya akan ilmu.
Ketika mimpinya baru mulai terkembang, tiba-tiba dia sudah dihadapkan pada kematian.
Tanpa terasa timbul kemarahan dalam hatinya, kemarahan pada kehidupan, pada langit yang dipandangnya tidak memiliki belas kasihan.
Sepanjang hidupnya, diturutnya nasihat-nasihat orang tua, sepanjang hidupnya dia menjaga diri dari segala perbuatan yang melanggar susila. Sepanjang hidupnya dia berusaha untuk mengikuti nilai-nilai dan tatanan yang ada.
Namun langit seperti buta terhadap semuanya itu, langit seakan-akan memandangnya seperti bahan lelucon untuk ditertawakan, untuk dibuai dengan mimpi lalu dihempaskan dengan tragedi.Ding Tao yang sedang marah, tidak lagi mempedulikan susila.
Angan-angannya tentang nona muda keluarga Huang tidak berhenti pada kenangan akan wajah dan senyumannya. Gairah yang dipendam selama ini seperti tertumpah tanpa dapat dibendung. Meskipun dalam hati yang terdalam dia justru merasakan pedih yang tak terkira, karena kematian sudah membayang dan angan-angannya selamanya hanyalah angan-angan.
__ADS_1
Di saat seperti itu, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil. Mendengar suara itu, Ding Tao seperti merasa diguyur air dingin, kesadarannya tergugah dan ditajamkannya telinga.Benar, ada suara memanggil namanya. Suara guru tua yang dikasihinya.
Matanya nyalang memandang ke atas, dan dilihatnya bayang wajah gurunya yang menjenguk ke dalam sumur, diterangi cahaya obor yang menari-nari.