Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
52. Chapter 52


__ADS_3

Tapi yang singkat itu membawa seribu arti, jauh lebih dalam daripada sebuah upacara mengikat sumpah setia sebagai saudara. Huang Ying Ying tentu saja merasa ikut senang dengan hal itu. Yang satu adalah pemuda yang dia kasihi, yang seorang lagi adalah kakak yang dia sayangi. Melihat mereka bersahabat demikian akrab, hatinya jadi terhibur.


Dengan manja dia pun mengeluh,


" Huuh… dasar anak laki-laki, ketemu teman, lupa dengan saudara sendiri".


Ding Tao dan Huang Ren Fu tertawa mendengar keluhan Huang Ying Ying.


Tiba-tiba gadis itu berbisik,


" Ssstt.. ada yang mau lewat".


Dengan cepat Huang Ren Fu kembali ke tempat duduknya, berpura-pura sedang berpikir untuk mengalahkan adiknya dalam permainan catur. Ding Tao dengan cepat menutup kembali pintu lemari. Menunggu sampai keadaan aman, barulah mereka kembali bercakap-cakap.


" Saudara Ding, apakah sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu untuk meninggalkan rumah kami malam nanti?


Seperti kata Adik Ying, kiranya keputusan itu janganlah karena terdorong oleh rasa sakit hati, jangan pula kau terlalu mengkhawatirkan situasimu saat ini yang terpaksa bersembunyi di dalam kamar Adik Ying. Karena kupikir, aku sudah menemukan jalan untuk memindahkanmu dari kamar ini ke kamarku.", ujar Huang Ren Fu.


Mendengar itu Ding Tao jadi berpikir pula sejenak, memang alasan utama dari keputusannya untuk keluar malam itu juga, adalah untuk mejaga kehormatan gadis yang dikasihinya.


Dengan hati berdebar, Huang Ying Ying menunggu jawaban dari Ding Tao.


Sesaat kemudian Ding Tao menegakkan kepala dan menjawab,


" Ya, sudah kupikirkan matang-matang, rasanya ini keputusan yang terbaik, jika orang-orang sudah selesai memeriksa segenap penjuru kota, tentu mereka akan berpikir ulang dan sadar bahwa kemungkinan terbesar justru aku masih bersembunyi di sini. Pada saat itu, untuk meloloskan diri akan jadi semakin sulit".


" Hemm… benar juga pemikiranmu, semakin lama berada di sini keadaanmu justru semakin berbahaya.", gumam Huang Ren Fu.


Huang Ying Ying mendesah sedih, sadar bahwa alasan Ding Tao cukup kuat, gadis ini tidak dapat lagi menahan Ding Tao lebih lama. Perpisahan dengan Ding Tao akan menyedihkan hatinya, tapi dia tidak ingin Ding Tao terancam bahaya hanya untuk menyenangkan dirinya.


" Kakak Ding, jika demikian, aku akan menyiapkan bekal bagimu.",


sambil berbangkit berdiri dan menyembunyikan mata yang mulai membasah, Huang Ying Ying cepat-cepat meninggalkan kamar.


Pandang mata Huang Ren Fu dan Ding Tao mengikuti kepergian gadis itu. Huang Ren Fu mendesah, dia sadar akan perasaan Huang Ying Ying pada Ding Tao. Diapun berdiri hendak meninggalkan kamar itu,


" Saudara Ding aku pun akan berusaha menyiapkan kepergianmu, akan coba kuatur penjagaan di sekitar rumah ini, supaya ada celah bagimu untuk keluar".


" Terima kasih, dan jika Saudara Fu punya cara untuk memindahkan aku secara diam-diam ke kamarmu, kupikir lebih baik jika aku berusaha meloloskan diri dari sana".


Sambil mengangguk, tanpa menoleh ke arah lemari yang sudah tertutup lagi, Huang Ren Fu mengiyakan,

__ADS_1


" Tentu, selekasnya aku akan kembali lagi untuk memberimu kabar, tentang hal itu, sebaiknya dilakukan lewat malam pula".


Kamar itu pun kembali lenggang, dalam lemari tinggal Ding Tao sendiri yang dengan hati berdebar, menunggu malam tiba.


Keputusan sudah dibuat dengan tekad yang bulat, tapi tak urung hatinya berdebar, apakah dia akan berhasil lolos ataukah mati di ujung pedang. Jika dia harus mati malam ini, betapa dia akan penasaran, tugas dari gurunya belum juga berhasil dia selesaikan. Dalam hidup juga dia merasa belum melakukan sesuatu yang berarti, jika harus mati betapa sia-sia dia dilahirkan.


Beberapa kali Huang Ying Ying kembali ke kamarnya, tapi tidak berlama-lama di sana, hanya sekedar meninggalkan makanan dan beberapa pesan dari Huang Ren Fu untuk Ding Tao.


Ding Tao menggunakan waktu yang ada, untuk menenggelamkan dirinya dalam latihan tenaga dalam. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan sekarang, kecuali menunggu, dan Ding Tao bukanlah orang yang suka membuang waktu dengan percuma.


Baru setelah matahari tenggelam dan rumah kediaman keluarga Huang hanya diterangi cahaya dari lampu-lampu yang dipasang, Huang Ying Ying kembali ke dalam kamarnya. Lama sebelum dia memberanikan diri untuk mengajak bicara Ding Tao.


" Kakak Ding, apakah kakak sudah bersiap?".


Perlahan pintu lemari membuka, Ding Tao sudah bersiap sejak tadi. Hatinya yang sudah dikuat-kuatkan sekarang terasa berat, saat Huang Ying Ying ada di hadapannya. Lidahnya terasa kelu, tidak tahu hendak berkata apa. Wajah gadis itu terlihat begitu sedih, hingga Ding Tao rasanya ingin menangis saja.


Melihat Ding Tao, Huang Ying Ying mencoba tersenyum meskipun pahit dalam hati,


" Kakak Ding, berhati-hatilah".


Ding Tao hanya bisa mengangguk, tidak bisa berkata apa-apa.


Sesuai dengan pesan Huang Ren Fu, Ding Tao akan berpindah dari kamar Huang Ying Ying menuju ke kamar Huang Ren Fu melewati langit-langit rumah, kedua kamar itu masih terhubung lewat langit-langit rumah yang sama. Dengan ringan Ding Tao melompat ke atas lemari pakaian Huang Ying Ying, dan dari situ baru dia membuka salah satu papan yang ada.


Saat Huang Ying Ying melihat dia menghilang, tak kuasa menahan dia berseru tertahan,


" Kakak Ding…"


Mendengar panggilan Huang Ying Ying, Ding Tao menjenguk kembali ke bawah. Hatinya semakin berat untuk meninggalkan Huang Ying Ying sendiri.


"Adik Ying…, aku harus pergi", ujarnya dengan sedih.


Huang Ying Ying mengangguk dengan mata yang basah,


"Ya aku tahu…, Kakak Ding, jangan lupa, aku akan selalu menunggumu".


Ding Tao mengangguk, tidak tahan menahan tangis, Huang Ying Ying mendorong pemuda itu untuk selekasnya pergi dengan senyum yang dipaksakan,


" Pergilah cepat. Kakak Fu sudah menunggumu".


Kali itu Ding Tao benar-benar pergi, sekali lagi dia menghilang ditelan lubang yang gelap, papanpun digeser kembali ke tempatnya. Air mata yang tadi ditahan-tahan, akhirnya tercurah juga. Di atas sana, Ding Tao masih sempat mendengar sayup-sayup isak tangis Huang Ying Ying, tapi pemuda itu mengeraskan hati dan terus berjalan.

__ADS_1


Tidak sulit untuk menemukan kamar Huang Ren Fu, karena Huang Ren Fu sudah terlebih dahulu menggeser salah satu papan penutup langit-langit kamarnya. Dari kegelapan tempat Ding Tao berada, lubang itu tampak begitu mencolok.


Sesampainya di lobang itu Ding Tao melongokkan kepalanya, Huang Ren Fu sudah menanti di sana.


" Saudara Ding, keadaan aman, cepatlah turun".


Tanpa banyak suara, Ding Tao melompat ke bawah dengan ringan. Tidak banyak kata diucapkan di antara mereka, bekal berupa buntalan pakaian, sejumlah uang dan sebilah pedang sudah disiapkan.


" Saudara Ding, berita tentang dirimu dan Pedang Angin Berbisik sudah mulai menyebar dalam dunia persilatan, sebisa mungkin sebaiknya dirimu berpergian dengan menyamar. Ini ada sedikit uang, bisa kau gunakan untuk menyewa tandu atau keperluan yang lain. Besok pagi, aku dan beberapa orang akan pergi ke gerbang timur kota. Jangan sampai terlambat di sana, jika ada orang-orang dari keluarga Huang atau orang-orang dunia persilatan yang berusaha menunggumu di sana, kami yang akan mengalihkan perhatian mereka".


" Saudara Fu, terima kasih banyak.", ujar Ding Tao dengan suara tercekat karena haru.


Sambil menepuk pundak Ding Tao, Huang Ren Fu menjawab,


" Tidak usah banyak kaupikirkan, hanya satu pintaku, jika suatu hari nanti keluarga kami berbuat salah padamu. Moga-moga kau tidak lupa, di sini ada orang-orang yang sudah dengan tulus berusaha membantumu".


" Tentu, hutang budi harus dibalas, lepas dari itu, kau adalah sahabatku. Seandainya ada kejadian aku bentrok dengan keluarga kalian, mengingat persahabatan kita, sebisa mungkin aku akan mengalah".


jawab Ding Tao dengan tulus.


Tidak banyak lagi yang bisa dikatakan, sebentar kemudian Ding Tao sudah lenyap dalam gelapnya malam. Di pesannya siang tadi Huang Ren Fu sudah menjelaskan jalan-jalan yang aman untuk dilalui sampai keluar dari kediaman keluarga Huang.


Tidak sulit untuk mengatur hal itu bersama dengan mereka, yang mengikat sumpah untuk mempertahankan keluarga Huang dari kelicikan Tiong Fa.


Dalam gelapnya malam, Ding Tao berhasil keluar dari rumah kediaman keluarga Huang tanpa banyak mengalami gangguan.


Keesokan harinya, seperti yang sudah dijanjikan Huang Ren Fu bersama beberapa orang yang lain pergi ke gerbang timur kota. Huang Ren Fu tidak bisa melihat Ding Tao ada di sana, tapi setelah beberapa lama menunggu, Huang Ren Fu memutuskan untuk memulai kericuhan kecil. Sebuah perkelahian pura-pura, antara Huang Ren Fu dan kelompoknya, melawan beberapa orang dari mereka yang menyamar.


Hingga akhir perkelahian sandiwara itu berakhir, Huang Ren Fu dan teman-temannya tidak melihat Ding Tao keluar dari gerbang kota. Mereka hanya bisa berharap, kericuhan itu sudah cukup untuk menarik perhatian, dan memberi kesempatan bagi Ding Tao untuk keluar dari kota dengan selamat, tanpa ada orang yang berhasil mengenalinya.


Sebenarnyalah demikian, Ding Tao mungkin seorang yang lugu, tapi dia bukan seorang yang bodoh.


Ding Tao menyamar dengan mengenakan sehelai jubah panjang dan buntalan baju diselipkan di baliknya, lalu berjalan dengan setengah berjongkok. Sebuah topi anyaman, menutupi wajahnya. Bagi orang yang melihat, dia terlihat seperti seorang gendut dan pendek, dengan jubah yang sedikit kepanjangan. Salah satu ciri yang paling menonjol dari Ding Tao adalah tinggi badannya yang di atas rata-rata. Dengan sedikit penyamaran itu, Ding Tao berhasil mengelabui orang-orang yang berusaha mencarinya.


Berjalan dengan cara demikian tentu sangat melelahkan, segera setelah melewati gerbang kota dan berada di tempat yang jauh dari pandang mata orang, pemuda itu melepas lelah, duduk bersandar di sebuah pohon besar.


Menatap lama ke arah kota, Ding Tao mengenang segala kebaikan keluarga Huang padanya. Dalam hati dia berharap, suatu saat dia bisa kembali ke sana dengan kepala tegak. Ya, suatu saat nanti, setelah tugas yang dipercayakan gurunya selesai dilaksanakan.


# Jum'at Barokah


Selamat menunaikan ibadah Sholat jum'at

__ADS_1


Jum'at Barokah Jangan Lupa berbagi Like, Komen, Vote ya🥰🥰🥰


__ADS_2