Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
76. Chapter 76


__ADS_3

Pertarungan antara Ding Tao dan sepasang iblis muka giok memakan cukup banyak waktu. Saat Ding Tao sampai di kediaman, matahari berada di tengah-tengah. Pekerja-pekerja yang biasanya terlihat rajin bekerja, sedang beristirahat dan memakan bekal mereka sambil bersenda gurau.


Ketika mereka melihat Ding Tao berjalan ke arah mereka, mereka pun terdiam. Satu per satu bangkit berdiri dan membungkuk dengan hormat ke arah Ding Tao yang masih beberapa langkah jauhnya dari mereka. Ding Tao tentu saja jadi terkejut dan tidak enak hati, cepat-cepat dia balas membungkuk hormat pada mereka. Sejak kecil dia diajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua. Sebagai seorang pelayan, tentu tidak ada yang mengajarkan untuk membeda-bedakan kelas, karena kelas dari golongan Ding Tao adalah kelas yang terendah. Itu sebabnya hingga sekarang pun, setiap orang yang lebih tua dari dirinya akan dia perlakukan dengan sopan. Entah itu seorang tuan besar atau sesama pelayan.


Kecuali jika berhadapan dengan lawan, maka yang mengambil alih adalah kisah-kisah pertarungan dalam cerita kepahlawanan. Tidak peduli siapa lawan, apakah orang kaya atau miskin, seorang pelayan atau seorang bangsawan, tidak nanti Ding Tao menunduk-nunduk meminta maaf.


" Paman-paman sekalian, selamat siang, harap jangan terlalu sungkan begini. Lanjutkan saja istirahat kalian. Apakah Nona Yun Hua ada di rumah?", ujar pemuda itu dengan perasaan serba salah.


Seorang dari antara mereka menjawab, sementara yang lain masih berdiri menunggu sampai Ding Tao berlalu dari tempat itu,


" Tuan muda, kebetulan sekali Nona Yun Hua dan Nona Huolin ada di dalam sedang makan siang. Mari saya antarkan tuan ke sana."


" Ah, baiklah, terima kasih banyak paman.", jawab Ding Tao dengan sopan.


Sepanjang perjalanan keduanya terdiam, Ding Tao menjadi serba salah karena perlakuan mereka yang terlampau sopan baginya, sementara yang mengantar tidak ingin dianggap tidak sopan dengan berbicara sebelum diajak berbicara. Ketika akhirnya mereka sampai di ruang makan, Ding Tao menghembuskan nafas lega diam-diam.


Sekali lagi keduanya saling membungkuk hormat saat pekerja yang mengantarkan Ding Tao berpamitan hendak kembali beristirahat.


Murong Yun Hua dan Murong Huolin tentu saja sangat kaget dan gembira melihat kedatangan Ding Tao, bergegas Murong Yun Hua datang menyambutnya.


Dengan wajah berseri, Murong Yun Hua tanpa ragu-ragu menggandeng Ding Tao dan menariknya ke meja makan, serentetan pertanyaan pun dilontarkan,


" Adik Ding… ah, senang sekali hatiku melihatmu mau berkunjung lagi kemari. Selama beberapa bulan ini kau di mana saja? Mengapa badanmu jadi tambah kurus begini? Apakah kau terus menerus berlatih? Tentu kehidupanmu selama beberapa bulan ini sangat berat, sekarang kau harus banyak2 makan."


Senyum mengembang di wajah Ding Tao,


" Enci Yun Hua, kau tampak cantik sekali hari ini, sepertinya bau masakan hari ini sangat lezat, apakah kau yang memasaknya Enci Yun Hua?"


" Hei, bukan cuma aku yang masak hari ini, Adik Huolin pun ikut membantu.", jawab Murong Yun Hua sambil mengisi sebuah mangkok dengan nasi dan menyerahkannya pada Ding Tao.


" Benarkah? Wah rupanya sekarang Adik Huolin tertarik pula untuk melihat dapur, bukan hanya memainkan pedang saja, tapi masakannya aman buat dimakan kan?", goda Ding Tao.Tidak seperti biasanya Murong Huolin yang biasanya jahil hari ini lidahnya lebih jinak daripada biasanya, mendengar godaan Ding Tao pipinya bersemu merah sambil memonyongkan mulut,


" Huuh… kalau tidak suka tidak usah dimakan."


Ding Tao dan Murong Yun Hua tertawa tergelak melihat Murong Huolin yang tersipu malu. Entah sejak kapan Ding Tao merasa nyaman berada dalam keluarga ini. Mungkin dimulai saat dia berlatih tanding dengan Murong Huolin atau sejak


Murong Yun Hua mendengarkan dengan sungguh-sungguh pendapatnya tentang taman mereka. Yang pasti lepas dari apa yang terjadi saat dia berpamitan beberapa bulan yang lalu.


Ding Tao merasa seperti berada di rumah sendiri.

__ADS_1


Suasana makan siang jadi gembira, Ding Tao menceritakan tentang keberhasilannya menguasai ilmu dalam kitab yang dipinjamkan. Murong Yun Hua menyambut berita itu dengan penuh semangat, pandang matanya menyiratkan kebanggaan atas keberhasilan pemuda itu. Sementara Murong Huolin semakin mengagumi Ding Tao.


Setelah makan siang selesai, Ding Tao mengeluarkan kitab Tenaga Inti Bumi dari buntalannya dan mengembalikannya pada Murong Yun Hua.


" Enci Yun Hua, berkat kitab dan obat pemberianmu, akhirnya aku berhasil membebaskan diri dari pengaruh Tinju 7 Luka, terima kasih banyak.", ujar Ding Tao sambil mengembalikan keduanya.


" Sama-sama Adik Ding, berapa lama kau akan tinggal di sini?", tanya Murong Yun Hua.


" Sebenarnya aku berencana untuk memulai perjalanan kembali secepatnya. Semakin lama aku menunggu, hati ini jadi tak tenang. Apakah enci mendengar satu berita dari dunia persilatan?"


Wajah cantik Murong Yun Hua jadi kembali mendung,


" Sayangnya tidak sudah lama kami tidak ikut campur urusan dunia persilatan. Adik Ding, aku tidak bisa menutupi perasaanku padamu. Aku coba mengerti keadaanmu, tapi itu berat sekali bagiku…"


Murong Huolin yang jengah mendengar ke arah mana percakapan itu mengarah, dengan suara tak jelas berpamitan keluar. Ding Tao memandang kepergian Murong Huolin, dia melihat bagaimana gadis itu berubah sikapnya. Hatinya merasa sedikit sedih karena hubungannya dengan kakak beradik ini menjadi rumit dikarenakan masalah cinta.


Menghembuskan nafas panjang-panjang Ding Tao berusaha meringankan beban di dada,


" Enci Yun Hua, apakah Adik Huolin masih marah padaku? Kulihat sikapnya tidak sebebas biasanya."


" Marah padamu? Kenapa kau sampai berpikir seperti itu?", Murong Yun Hua bertanya balik.


Senyum geli dan sayang menghiasi wajah Murong Yun Hua,


" Ah, bocah tolol, tidak tahukah kau dia menaruh hati padamu? Ini pertama kalinya dia jatuh cinta, itu sebabnya dia sendiri masih bingung dengan perasaannya dan bersikap malu-malu. Apalagi…"


Dengan nada yang sedikit sedih dia melanjutkan,


"… apalagi, Adik Ding sudah memiliki tambatan hati …"


" Itu… ah… apakah Enci Yun hua tidak salah duga?", sekarang Ding Tao menjadi merasa semakin bersalah saja pada dua kakak beradik ini.


" Tidak, sudah tentu tidak, saat kau berpamitan untuk pergi, dia tidak kelihatan di mana-mana dan tidak ikut mengantarmu. Tahukah dirimu, dia sedang mengurung diri di kamar, menangisi kepergianmu. Begitulah sifat Huolin, tertawa lepas jika senang, menangis dan menutup diri saat sedih."


Melihat wajah Ding Tao yang bersusah hati, Murong Yun Hua menggenggam tangan pemuda itu dan menenangkannya,


" Adik Ding…, janganlah terlalu dipikirkan. Usianya masih muda, masa depannya masih terbentang luas. Setelah beberapa lama, tentu dia akan menerima keadaanmu apa adanya."


" Ya, Adik Huolin seorang gadis yang sangat baik, aku berharap dia bertemu dengan orang yang pantas dan bisa membahagiakannya… Begitu juga dengan Enci Yun Hua…", ujar Ding Tao dengan setulusnya.Murong Yun Hua tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk saja.

__ADS_1


Untuk sejenak lamanya mereka duduk dalam diam, entah pikiran apa saja yang lewat dalam benak mereka. Ding Tao yang lebih dahulu memecahkan keheningan itu. Suaranya lembut hampir berbisik,


" Enci Yun Hua, kita sudah aku kembalikan, kukira sudah saatnya aku melanjutkan perjalanan… sekali lagi aku ucapkan terima kasih yang tak terkira… budi baikmu tidak akan pernah bisa kubalas di kehidupan ini…"


Murong Yun Hua hanya mengangguk sambil menggigit bibir, air matanya kembali merebak dengan senyum dipaksakan.


Ding Tao tidak tahan melihat Murong Yun Hua dalam keadaan seperti itu, perlahan dia bangkit berdiri dan sekali lagi dia mengangguk berpamitan.


Murong Yun Hua sudah mengangguk membalas anggukan Ding Tao, merelakan kepergiannya, tapi tiba-tiba sebelum Ding Tao sempat beranjak tangannya menggenggam tangan Ding Tao dan menahannya.


" Adik Ding…ah… kutahu kau harus segera pergi, hanya saja ini berat sekali bagiku. Adik Ding maukah kau menjawab pertanyaanku?"


Ding Tao menghela nafas panjang,


" Tentu Enci… bertanyalah apa saja, aku akan menjawab dengan sejujurnya."


" Ding Tao… apakah… apakah kau tidak merasa tertarik sedikitpun padaku? Awalnya kukira, aku melihat itu di matamu, itu sebabnya aku sampai nekat melemparkan diriku padamu, tidak kusangka…"


" Enci…, ya sejujurnya aku, ya aku merasakan hal itu, Enci, Enci adalah seorang wanita yang cantik luar biasa dan baik hati."


" Apakah… seandainya, ya seandainya kau belum bertemu Huang Ying Ying, mungkinkah kau mencintaiku?"


Ding Tao tidak bisa menjawab, lidahnya terasa kelu, tapi dia masih bisa menganggukkan kepalanya. Melihat anggukan kepala Ding Tao Murong Yun Hua tersenyum untuk sesaat lamanya.


" Ding Tao… katakan sejujurnya, adakah sedikit saja rasa cinta bagiku di hatimu?"


Terpandang wajah Murong Yun Hua, teringat kejadian yang lalu, bagaimana hancurnya hati Murong Yun Hua, dilihatnya jauh ke dalam hatinya sendiri dan Ding Tao tahu apa jawabannya. Meskipun dia pun tidak mengerti lagi, apa itu cinta? Bisakah seorang laki-laki mencintai lebih dari satu orang wanita? Jika ya, apakah itu masih cinta namanya? Dia tahu dia menginginkan wanita di hadapannya ini, lebih dari sebelumnya, tubuhnya menginginkan wanita di hadapannya ini.


Ding Tao menelan ludah beberapa kali, dengan suara parau dia menjawab,


" Entahlah cici… aku tidak tahu lagi apa itu cinta…"


Murong Yun hua menatap dalam-dalam mata pemuda yang jujur itu,


" Ding Tao kau bilang kau tidak tahu lagi apa arti kata cinta, kenapa?"


Sejak pertama kali bertemu Murong Yun Hua, pertanyaan ini sudah muncul dalam benaknya. Sekarang Murong Yun Hua bertanya padanya, saat dia tenggelam dalam mempelajari Tenaga Inti Bumi, pikiran itu tidak teringat, tapi sekarang oleh pertanyaan Murong Yun Hua, Ding Tao kembali menelusuri pemikirannya.


" Enci Yun Hua, orang bilang saat jatuh cinta, ada rasa bahagia saat bersama dengan orang yang kau cinta itu, ada debaran-debaran dalam jantungmu, saat tidak bertemu orang itu yang ada dalam benakmu dan sebagainya. Menurut cici apakah benar demikian?", tanya Ding Tao berusaha menjelaskan yang dia rasakan.

__ADS_1


" Ya, begitulah yang kurasakan dahulu sewaktu baru bertemu dengan Kakak Yong dan… dan … saat bertemu denganmu…", jawab Murong Yun Hua tersipu malu.


__ADS_2