
Ketegangan yang dirasakan Ding Tao saat ini, melebihi apa yang pernah dia rasakan sebelumnya. Bahkan lebih menakutkan dan menegangkan dibanding saat-saat nyawanya ada di ujung tanduk.
―Enci Yun Hua…, kurasa, aku bukan orang yang pantas untuk menerima tawaranmu. Maafkan aku…‖, terbata Ding Tao menolak tawaean Murong Yun Hua.
Wajah yang menunduk itupun menjadi pucat pasi, badannya bergetar, menahan malu, menahan marah atau entah perasaan apa lagi. Ding Tao dengan ragu bangkit berdiri, ingin dia menghibur Murong Yun Hua, tapi dia tahu apa yang dia lakukan tentu sangat menyakiti hati gadis itu. Hatinya ikut merasa hancur, melihat keadaan Murong Yun Hua saat itu. Ding Tao berdiri termangu beberapa lama, sebelum dengan langkah yang berat dia berbalik dan hendak berjalan pergi meninggalkan Murong Yun Hua.
―Ding Tao… tunggu…‖, tiba-tiba Murong Yun Hua memanggil, menghentikan langkah kaki Ding Tao.
Langkah Ding Tao pun terhenti, hatinya tidak cukup kuat untuk meninggalkan tempat itu, meskipun otaknya mengatakan bahwa terlalu lama berada di sana hanya akan memperburuk keadaan.
―Enci Yun Hua… aku…‖, kata-kata Ding Tao terhenti saat Murong Yun Hua meletakkan jarinya di bibir Ding Tao.
Wajah yang cantik itu sudah basah oleh air mata, tapi air mata tidak membuatnya tampak buruk. Sepasang mata yang bening berkilauan oleh air mata yang mengembeng di sana. Pipi putih halus bagai pualam, dibasahi oleh dua jalur air mata. Ding Tao tidak mampu beranjak pergi dari sana. Murong Yun Hua, memegang erat tangan pemuda itu, lalu tanpa malu lagi menjatuhkan dirinya ke atas dada Ding Tao yang bidang.
Wajahnya menengadah, memohon,
―Ding Tao…, apakah kau kira, harta kekayaan keluarga Murong, hanyalah bangunan kecil dan sepetak kebun? Tidak Adik Ding, ada banyak, jauh lebih banyak dari yang sudah kau lihat. Berbagai macam perhiasan dan barang seni yang tak terkira harganya tersimpan dalam ruangan rahasia keluarga kami. Itu semua akan jadi milikmu bila kau mau membantu keluarga ini. Bayangkan apa yang dapat kau lakukan dengan semua harta itu Adik Ding. Kau bahkan bisa menggunakannya untuk kepentingan umum jika kau mau.‖
Ding Tao menggeleng dengan sedih,
―Tidak enci, aku tidak menginginkannya, sungguh jika aku menolak bukanlah karena hal itu, enci aku ini bukan siapa-siapa, aku…‖
―Adik Ding, bukankah kau suka mempelajari sesuatu yang baru? Lihatlah perpustakaan milik ayahku, beliau sama sepertimu, mencintai pengetahuan, haus pengetahuan, segala macam kitab yang ada di sana, tidak akan habis kau baca seumur hidupmu. Jika kau ingin melakukan percobaan, mencoba sesuatu yang baru, apa saja yang kau butuhkan bisa kami dapatkan.‖
__ADS_1
―Enci… maafkan aku, sungguh ini pun sulit bagiku. Hatiku ikut sakit melihat enci sedih seperti sekarang.‖
―Adik Ding… apakah aku kurang cantik bagimu? Apakah karena aku seorang janda? Lihat, lihat…‖, dengan berani Murong Yun Hua membuka jubah suteranya.Leher yang jenjang tanpa kerut dan cela, di atas pundak yang putih halus. Belahan dada yang terlihat, menjanjikan sepasang dada yang membukit di balik baju dalam Murong Yun Hua. Ding Tao terkesiap, jantungnya berdebaran, cepat dia memalingkan muka.
―Enci… jangan…‖
Air mata Murong Yun hua bercucuran, Ding Tao beribu kali lebih baik mati dirajam pedang daripada melihatnya seperti itu.
Putus asa dengan jawaban Ding Tao, Murong Yun Hua mendorong pemuda itu hingga jatuh ke atas tanah. Diraihnya tangan pemuda itu dan diletakkan tangan Ding Tao di atas dadanya. Terkejut, Ding Tao menarik tangannya, tapi Murong Yun Hua justru meraihnya kembali dan menarik tangannya ke bawah, ditempelkan ke miliknya yang paling pribadi. Pinggulnya bergerakmenggosok-gosokkan miliknya yang paling berharga ke tubuh Ding Tao.
―Adik Ding… tubuh ini, semuanya yang paling berharga, kuberikan padamu, kumohon… jangan… jangan tolak diriku…‖, sambil menangis mencucurkan air mata Murong Yun Hua menindih, menciumi Ding Tao dan bergerak-gerak memberikan seluruh tubuhnya bagi Ding Tao dengan keputus asa-an yang mematahkan hati.
Ding Tao hanya laki-laki biasa, tubuhnya mau tidak mau bereaksi terhadap perlakuan Murong Yun Hua, namun di saat yang sama, dia sadar keadaan mereka yang berada di ruang terbuka. Teringat pula akan Huang Ying Ying, pada janji yang dia ucapkan diam-dian dalam hati.
Tubuh Murong Yun Hua tidaklah gemuk tetapi langsing dengan lekak-lekuk yang menggiurkan, cukup dengan sebelah tangan Ding Tao dapat melemparkannya sampai terguling-guling.
Hanya dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemauan, barulah Ding Tao dapat mendorong mundur Murong Yun Hua.
―Enci, maafkan aku…‖, ujarnya sambil mendorong Murong Yun Hua menjauh.
Secepatnya Ding Tao melompat menjauhkan diri, kakinya terasa lemas hingga dia hampir terjatuh, tapi begitu dia mendapatkan keseimbangannya, pemuda itu lari secepat dia bisa. Lari, meninggalkan Murong Yun Hua terpekur, terbaring di tanah, menggerung dan menangis, dengan rambut terurai dan baju yang terbuka di sana-sini.
Ding Tao lari dan lari, melupakan pedang, buntalan pakaian dan bekal yang tertinggal.
__ADS_1
Yang ada di kepalanya hanyalah lari sejauh mungkin dari Murong Yun Hua, dari tangisannya yang memilukan hati, dari tubuhnya yang menyalakan nafsu dalam dada Ding Tao. Dia lari, hingga kakinya lemas dan tak ada kekuatan lagi yang tersisa. Jatuh terduduk di jalan kecil yang sepi, dua tetes air mata mengalir membasahi pipi pemuda itu.
Dengan suara lirih dia berbisik,
―Enci Yun Hua… maafkan aku…‖
Lama Ding Tao tidak mampu berpikir, hanya duduk termenung dengan dada serasa tertindih batu ribuan kati. Akhirnya dengan mengeraskan hati, pemuda itu bangkit berdiri. Dengan langkah gontai pemuda itu mengarahkan pandangannya ke jalan yang ada di hadapannya. Ding Tao tidak tahu jalan itu menuju ke mana, saat lari tadi, tidak terpikir untuk memilih jalan. Untuk berbalik kembali dia juga tidak punya keberanian, terpaksa dia berjalan ke depan, berharap bertemu dengan orang yang bisa ditanya.
Sudah cukup jauh dia berjalan, tidak juga dia menemui satu orang pun, ketika tiba-tiba terdengar deap kuda dari arah belakangnya, Ding Tao berbalik penuh harap. Dinantinya hingga penunggang kuda itu datang mendekat. Saat dia melihat siapa penungggan kuda itu, sudah terlambat baginya untuk bersembunyi.
Murong Huolin dengan mata yang menyala-nyala dan wajah kemerahan berderap, memacu kudanya ke arah Ding Tao. Ding Tao berdiri di tempatnya, pasrah dengan apa yang akan terjadi.
―Keparat!!! Tidak tahu terima kasih!!‖,
Murong Huolin berteriak mencaci, sebelum kudanya sampai dia sudah melompat ke arah Ding Tao dengan pedang terhunus.
Kilau pedang berkelebatan, baju Huolin berkibaran, dalam keadaan marah tidak membuatnya tampak buruk, Murong Huolin justru tampak makin memikat. Sungguh gadis itu mirip seorang dewi yang turun dari kahyangan untuk membasmi kaum iblis. Hanya saja sekarang Ding Tao-lah yang jadi iblisnya. Pemuda itu hanya bisa mengeluh dalam hati. Dengan mudah dia bergerak ke sana ke mari, menghindari serangan-serangan Murong Huolin. Tidak sekalipun dia bergerak untuk membalas, hanya menghindar dan sesekali menepis serangan Murong Huolin yang menyerang dengan membabi buta.
Tingkatan Murong Huolin terpaut terlampau jauh di bawah Ding Tao. Meskipun beberapa kali sempat juga pedangnya merobek baju Ding Tao, tapi tidak sampai menggoreskan luka sedikitpun di tubuh Ding Tao.
Jika Ding Tao mau, sudah sejak tadi dia bisa melumpuhkan gadis itu. Ding Tao memilih untuk tidak melawan dan membiarkan saja gadis itu kehabisan tenaga.
Nafas Murong Huolin mulai tersengal, hatinya yang panas semakin panas, karena sedikitpun dia tidak berhasil melukai Ding Tao. Sebuah derap kuda yang lain tiba-tiba terdengar, mendengar suara derap kuda, Murong Huolin menghentikan serangan.
__ADS_1
Berdiri menunggu jantung keduanya berdebaran saat melihat siapa yang datang. Murong Yun Hua memacu kudanya berderap, saat dilihatnya Ding Tao dan Murong Huolin tidak bertarung, ditahannya kekang kuda, dengan berderap perlahan dia mendekat.
Rambutnya sudah ditata ulang, meski terlihat helai-helai yang masih lepas dari ikatan. Bajunya sudah dirapikan, wajahnya terlihat tenang dengan isak tangis tersimpan jauh di dalam dada. Ding Tao menundukkan wajahnya, tidak berani memandang ke arah Murong Yun Hua. Murong Huolin berdiri dengan tegang, apakah kakaknya marah terhadap dirinya? Dengan tidak yakin gadis itu berdiri mematung.