
Hanya ada satu langkah lagi, yaitu, ketiga kelompok itu akan berusaha memperkuat kedudukannya sebelum berusaha menangkap Ding Tao.
Dan itu berarti, jika Ding Tao larut dalam permainan mereka, maka suatu saat, salah satu dari ketiga kelompok itu akan sampai pada kedudukan yang cukup kuat. Pada saat itu, nasib
Ding Tao akan ditentukan, tapi siapapun yang menang, Ding Tao lah yang merugi. Dia sadar akan kondisi tubuhnya saat ini, dengan hawa murni Tinju 7 Luka yang masih mengeram di dalam tubuhnya, dia menjadi mangsa empuk bagi orang-orang dunia persilatan.
Jika nasibnya baik, maka keseimbangan di antara ketiga penguntit itu akan terus terjaga sampai dia mencapai Shaolin.
Tapi semakin dekat dia dengan tujuan, akan semakin mudah untuk menebak bahwa Ding Tao berencana untuk pergi ke Shaolin dan ketiga kelompok itu tentu tidak akan mengijinkan hal itu terjadi.
Ding Tao mulai memikirkan rencana untuk menggerakkan permainan ke arah yang menguntungkan dirinya. Setiap ingatan digali, setiap informasi dikumpulkan, setiap kemungkinan dijajagi. Mungkin agak aneh bagi pembaca yang mengikuti keadaan pemuda ini, seulas senyum berkembang di mulut pemuda ini. Apa artinya ini? Bukankah hidupnya dalam ancaman bahaya? Apakah senyum ini hanyalah sebuah senyum palsu, tapi jika palsu siapa yang hendak ditipu? Bukankah dia sedang sendirian di dalam kamar?
Masalahnya Ding Tao, mulai terjangkit penyakit yang sama dengan orang-orang berwatak kuat dan berotak encer lainnya.
Ketika menemui masalah yang menantang otaknya untuk bekerja keras, mereka cenderung memandangnya sebagai sebuah tantangan yang mengasyikkan.
Seperti ilmuwan yang mengotak-atik satu formula hingga lupa makan dan lupa waktu. Atau seperti detektif ulung yang denganasyiknya berusaha mengungkap satu kejahatan.
Semakin sering mereka berhasil memecahkan masalah dengan sel abu-abunya itu, semakin haus pula mereka pada tantangan untuk otak mereka. Ding Tao sudah menggumuli permasalahan jurus-jurus silat dan berhasil memecahkannya. Sudah beberapa kali pula dia bertempur dengan tipe-tipe yang berbeda dan dia berhasil menghadapi setiap tantangan itu bukan melulu bersandar pada kekuatan atau kecepatan, tapi juga dengan menggunakan pemikiran yang cerdas.
Kelemahannya saat ini, situasinya saat ini, jadi satu tantangan baru bagi Ding Tao. Tantangan yang lebih menantang, ibaratnya sudah biasa menang berkelahi dengan dua tangan, kemudian dengan sengaja mengikat satu tangan untuk membuat perkelahian jadi lebih menantang.
Dengan kondisinya yang tidak memungkinkan dia untuk lolos dengan mengandalkan permainan pedang, Ding Tao jadi tertantang untuk mengandalkan kecerdikannya untuk lolos dari situasi yang membahayakan jiwanya ini. Apakah dia tidak takut mati? Tentu saja Ding Tao pun takut mati, tapi jika dia masih bisa tersenyum saat ini, setidaknya ada dua alasan yang bisa dikatakan.
Yang pertama, orang muda memang cenderung untuk kurang menyadari betapa pendeknya hidup. Lihat saja dari mereka yang suka menyerempet bahaya, sebagian besar berumur muda. Semakin muda umurnya, semakin mereka tidak menyadari akan kematian yang bisa menjemput kapan saja.
Yang kedua, kalau seseorang sudah kecanduan pada sesuatu, kenikmatan dari memenuhi kecanduan ini tidak jarang melampaui ketakutan mereka pada kematian. Itu sebabnya tidak sedikit orang yang memiliki hobby yang menyerempet bahaya.
Sedikit demi sedikit, sebuah rencana mulai terbentuk dalam benak Ding Tao. Menjelang tengah malam, pemuda itu sudah memiliki keputusan yang mantap. Dengan tubuh dan pikiran yang lelah, tapi hati tenang, pemuda itu memejamkan mata dan tidur dengan nyenyak.
Keesokan paginya, ketiga kelompok penguntit itu mendapat kejutan besar. Sedikit lebih siang dari biasanya, Ding Tao keluar dari penginapan tanpa penyamaran. Dengan pakaian ringkas dan pedang di tangan, wajah penuh semangat dan senyum dikulum.
Semalam dia sudah beristirahat baik-baik, setelah bangun pemuda itu tidak lupa untuk melatih hawa murninya dan berlatih jurus-jurus yang dia miliki. Kemudian dia mandi air hangat dan sekarang dalam keadaan segar dan siaga, pemuda itu melangkah menuju ke sebuah rumah makan. Setelah selesai makan pun dia tidak terburu-buru bangun dari kursinya, dibiarkannya tubuhnya mencerna makanan itu dengan sebaik-baiknya. Tubuh segar, tenaga terkumpul, hati tenang, perut kenyang.
Sambil bangkit berdiri Ding Tao merenggangkan otot-ototnya, senyum dikulum tak pernah lepas dari wajahnya. Pandang matanya tajam menyorot ke sekeliling ruangan. Ketiga kelompok yang menguntit dirinya berada pula di sana, buru-buru mereka mengalihkan pandangan pada makanan masing-masing. Benak mereka penuh dengan pertanyaan, menebak-nebak, apa isi otak Ding Tao saat ini.
Dengan tenang Ding Tao melangkah ke arah salah satu dari kelompok penguntit itu. Hati setiap orang pun mulai berdebar-debar, terutama mereka yang didekati oleh Ding Tao. Tangan-tanganpun mulai bergerak memegang gagang senjata.
__ADS_1
Semakin dekat Ding Tao melangkah, tanpa terasa gagang senjata pun semakin erat digenggam. Saat Ding Tao sampai di hadapan mereka, buku-buku jari mereka sudah memutih saking eratnya mereka menggenggam senjata. Berbalik 180 derajat keadaannya dengan Ding Tao, pembawaannya tenang, tubuhnya berdiri dengan rileks, wajahnya terang. Sambil membawa pedang yang masih tersimpan aman dalam sarungnya, pemuda itu memberi hormat dan menyapa dengan sopan.
" Apa kabar? Kalau tidak salah, paman ini Paman Fu Tsun. Bagaimana kabarnya Wang Chen Jin? Kuharap dia tidak dihukum terlalu berat oleh Paman Wang Dou karena menghilangkan Pedang Angin Berbisik".
Ya, salah satu dari 3 kelompok yang menguntit Ding Tao, adalah anak buah Wang Dou. Sejak kehilangan Pedang Angin Berbisik, Wang Dou menanamkan beberapa orang kepercayaannya untuk mengawasi keluarga Huang. Dengan sendirinya mengenai kedatangan Ding Tao mereka termasuk yang pertama mengendus berita itu.
Hanya sayang sumber kekuatan mereka jauh berada di utara, sehingga mereka sedikit terlambat bertindak dan saat sudah bergerak pun, kekuatan mereka tidak sebesar kelompok lain yang sudah ikut bergerak.
Kelompok kedua adalah sebuah persekutuan rahasia yang kekuatannya menyebar cukup merata di Selatan. Meskipun secara orang per orangan, 7 pimpinan Persekutuan Laba-Laba Kaki Tujuh ini bisa dikatakan berimbang dengan jagoan-jagoan dari kelompok Wang Dou, namun jumlah dan luas jaringan mereka jauh lebih di atas kelompok Wang Dou.
Meskipun di atas dan di dalam air kelompok Wang Dou bisa dikatakan sebagai rajanya di Sungai Yangtze.
Sapaan Ding Tao itu mengundang reaksi yang berbeda-beda dari mereka yang mendengar.
Orang-orang dunia persilatan yang mendengar perkataan Ding Tao, memasang telinga baik-baik, tertarik oleh berita yang mereka dengar ini dan ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
3 orang yang dipimpin Fu Tsun saat itu saling berpandangan.
Ini baru berita bagi mereka, ternyata Pedang Angin Berbisik sudah terlebih dahulu jatuh di tangan Wang Dou sebelum pedang itu dihilangkan Wang Chen Jin dan jatuh ke tangan Ding Tao. Ada perasaan kecewa karena Wang Dou menyembunyikan hal itu dari mereka, juga ada perasaan penasaran, mengapa Wang Chen Jin sampai menghilangkannya.
Fu Tsun tentu saja merasa darahnya naik sampai ke ubun-ubun kepala. Meskipun biasanya dia tenang dan cermat dalam menghadapi masalah tapi apa yang dilakukan Ding Tao saat ini jauh di luar dugaannya dan terlampau banyak mengundang kenangan yang pahit.
Dengan senyum masam dia menjawab,
" Hemm.., aku tidak mengerti apa maksudmu. Tapi jika kau mengira bahwa keberadaan kami di sini ada hubungannya dengan Pedang Angin Berbisik yang ada di tanganmu, kau tidak salah".
" Hehehe, tentunya paman tidak membayangkan aku berjalan kian kemari dengan membawa pedang itu kan?",
sahut Ding Tao dengan tenang dan gaya sedikit mengejek.
Mata Fu Tsun mendelik,
" Keparat, kalaupun kau tidak membawanya, akan kuperas keterangan itu darimu".
Pengunjung yang lain sudah mulai merasakan gelagat yang tidak baik, satu per satu mereka pergi keluar dari rumah makan itu. Bahkan ada juga yang ambil kesempatan untuk makan tanpa bayar, sementara para pelayan dan pemilik rumah makanhanya bisa bergemetaran dan berdoa pada dewa-dewa supaya tidak terjadi kerugian yang parah.
Rumah makan tidak sepenuhnya jadi kosong, masih ada orang-orang dari persekutuan Laba-Laba Kaki 7, ada pula sepasang pendekar lelaki dan perempuan itu, ada pula beberapa rombongan lain yang sebenarnya hanya secara kebetulan berada di sana.
__ADS_1
Meskipun tidak ada kekuatan dan persiapan untuk ikut berebut Pedang Angin Berbisik, kesempatan untuk menambah pengalaman dan mendapat berita tidak mereka lewatkan.
Dengan wajah tertarik mereka menyaksikan peristiwa di depan mereka. Jika memungkinkan, siap untuk menarik keuntungan dari peristiwa itu.
Fu Tsun merasa terdesak oleh keadaan, tidak disangka Ding Tao yang dipandang remeh, berhasil membongkar penyamaran mereka. Jika ia mundur sekarang, nama kelompok Wang Dou bisa hancur, jadi bahan tertawaan di dunia persilatan dan bagi kelompok seperti mereka, reputasi adalah hal yang penting.
" Kepung dan tangkap pemuda sombong ini!‖, perintahnya singkat pada ketiga orang pembantunya.
Dalam waktu singkat 4 orang mengepung Ding Tao, tanpa banyak memberi peringatan sepasang golok Fu Tsun sudah menggunting tubuh Ding Tao. Tapi Ding Tao tidak kalah cepat dalam bertindak, tubuhnya mendoyong ke belakang untuk menghindari serangan Fu Tsun, kakinya cepat menendang meja ke arah dua orang di sisi seberang.
Dengan gerakan yang indah dia berkelit dari serangan orang ke-empat, lalu menggunakan lubang yang terbuka saat dua orang yang lain menghindari meja, dia menggebrak ke arah terlontarnya meja, mendesak dua orang yang lain untuk mundur lebih jauh dan kepungan pun jadi terpecah.
Dengan cerdik Ding Tao terus bergerak, tidak mau terjebak dalam kepungan ke-empat orang itu.
Dalam waktu singkat, kursi dan meja berserakan, terbalik dan patah-patah, mangkok dan piring berceceran di lantai. Isteri pemilik rumah makan sudah pingsan sejak tadi dan cepat-cepat diungsikan ke rumah tetangga.
Melawan 4 orang Ding Tao menunjukkan kebolehannya, meskipun tidak dengan mudah memenangkannya, tapi ke empat orang itu pun tidak bisa mendesaknya.
Gerakannya lincah dan pedangnya menyambar bagai kilat di antara sinar golok dan pedang lawan. Beberapa luka mulai nampak menghiasi tubuh anak buah Fu Tsun. Jika keadaan terus berlanjut seperti demikian maka dalam beberapa puluh jurus ke depan Ding Tao tentu akan berhasil menjatuhkan mereka satu per satu.
Golongan Laba-laba Kaki 7 yang bersaing dengan kelompok Wang Dou tidak segan-segan memberi dukungan pada Ding Tao, setiap kali Ding Tao berhasil meloloskan diri dari serangan lawan, mereka berteriak,
" Luput! Luput!"
Atau kata ejekan,
" Orang buta pun bisa menghindarinya dengan gampang!".
Dan jika serangan Ding Tao kena, mereka pun akan berteriak,
" Kena! Kena! Satu anjing kena tusuk!"
Jelas saja sorakan mereka itu membuat tekanan darah Fu Tsun dan anak buahnya semakin tinggi, salah seorang dari mereka yang kurang bisa menahan marah menyerang Ding Tao dengan tenaga yang berlebihan. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan Ding Tao menyusup maju, memasuki lubang pertahanan yang tercipta. Dengan sebuah tusukan pedang yang tepat dan efektif, sebatang pedang segera saja menghiasi tenggorokan orang tersebut.
Ding Tao tidak mau membuang waktu dengan mencabut pedangnya yang menancap kuat di leher orang tersebut.
# Dang lupa like, koment, vote biar bisa tau ini cerita dibaca apa kagak🤗🤗🤗
__ADS_1