Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
47. Chapter 47


__ADS_3

Sore harinya setelah semua urusan selesai, Huang Ying Ying yang mengaku tidak enak badan meminta agar makanan diantarkan ke kamarnya. Rencananya dia akan memberikan sebagian makanan itu untuk Ding Tao. Dia dan kakaknya belum berani memindahkan pemuda itu ke tempat lain.


Huang Ren Fu sebenarnya keberatan dengan pengaturan itu, tapi Huang Ying Ying dengan sungguh-sungguh dan sedikit kesal berkata,


" Boleh saja kau tidak percaya pada Ding Tao, masakan kau juga tidak percaya padaku? Apa kaupikir adikmu ini perempuan murahan yang akan menjajakan dirinya pada setiap lelaki?"


Dengan menahan kesal Huang Ren Fu menjawab,


" Tapi apa kata orang nantinya?"


" Aku tidak peduli apa kata orang, yang penting nuraniku sendiri. Apa kakak pikir aku senang dengan keadaan seperti ini, akupun terganggu dengan keadaan ini. Tapi apa ada cara lain yang lebih baik? Memindahkan Ding Tao di saat ini sangatlah susah dilakukan tanpa menarik perhatian orang. Apalagi Paman Tiong Fa punya mata yang bukan main tajamnya."


jawab Huang Ying Ying dengan air mata merebak.


Akhirnya Huang Ren Fu mengalah, sambil membuang muka dia berkata,


" Aku tahu… sudahlah kuharap pemuda itu cukup berharga untuk kau berani mempertaruhkan nama baikmu sendiri."


Huang Ying Ying hanya bisa menggigit bibir tanpa mampu menjawab, karena menjawab berarti mengakui perasaannya pada Ding Tao.


Huang Ren Fu akhirnya terpaksa meninggalkan adiknya sendirian dengan seorang laki-laki di kamarnya. Sebenarnya dia yakin tidak akan ada yang terjadi di antara keduanya. Dia mempercayai Huang Ying Ying sepenuhnya, gadis itu mungkin saja terkadang bersikap tidak pedulian terhadap pendapat orang, tapi dia percaya Huang Ying Ying bisa menentukan sendiri batas-batasnya.


Demikian juga dengan Ding Tao, Huang Ren Fu percaya pada pemuda itu, hanya orang buta yang tidak bisa melihat sorot mata Ding Tao yang penuh cinta saat bersama dengan Huang Ying Ying. Tapi sorot cinta yang terpancar dari mata pemuda itu begitu tulus, bersih dari sorot mata nakal dan kurang ajar.


Lagipula Ding Tao sedang terluka parah, jangankan berbuat macam-macam, untuk menggerakkan tubuhnya pun pemuda itu pasti akan sangat kesakitan. Setidaknya itu yang dikatakan


Tabib Shao sebelum meninggalkan sebungkus obat untuk Ding Tao.


Tidak banyak yang bisa dilakukan Tabib Shao sekarang ini, kecuali menunggu tubuh Ding Tao memulihkan dirinya sendiri.


Sedikit obat yang diberikan adalah untuk membantu Ding Tao tidur dan mengistirahatkan tubuhnya tanpa diganggu oleh rasa sakit yang disebabkan oleh luka-lukanya.

__ADS_1


Mungkin ada banyak alasan bagi Huang Ren Fu untuk merelakan, meninggalkan keduanya bersamaan. Semoga saja kepercayaan Huang Ren Fu itu tidak salah tempat.


Baru setelah kakaknya pergi dan Huang Ying Ying menutup pintu kamarnya, barulah gadis itu meresapi keadaannya saat itu. Dia sedang berdua sendirian dengan Ding Tao di dalam kamarnya, gadis itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebaran dan mukanya memerah.


Untuk beberapa saat lamanya gadis itu melemparkan tubuhnya ke atas pembaringan, tengkurap gadis itu menutupkan bantal ke atas kepalanya dan memaki-maki dirinya sendiri karena tiba-tiba merasa gugup dan salah tingkah.


" Sialan, sialan, Ding Tao sialan, kenapa perasaanku jadi begini. Ah sial, ini gara-gara ucapan Kakak Ren Fu, memangnya apa yang akan kami lakukan?", gerutunya sambil memukul-mukul kasur.


Dasar sedang sial, di saat itu terbayang cerita emban pengasuhnya yang centil tentang bagaimana rasanya berciuman dengan kekasih untuk pertama kalinya, di luar kemauannya Huang Ying Ying membayangkan dirinya dicium oleh Ding Tao dan membaralah wajahnya.


Dengan kesal bercampur debar-debar aneh gadis itu memukuli kepalanya sendiri,


" Bodoh! Bodoh! Bodoh! Huang Ying Ying bodoh sekali kamu! Ah sialan!"


Dengan geram gadis itu berdiri lalu mengambil pedang pendeknya dan dengan menggertak gigi dia mulai berlatih.


Gerakannya cepat dan gesit, perlahan-lahan dia mulai larut dalam latihan.


Dikerjap-kerjapkannya matanya, otaknya terasa sulit sekali disuruh bekerja. Lama Ding Tao mengamati keadaan sekelilingnya, tidak mengerti, tempat apa ini?


Perlahan tangannya meraba-raba ke sekelilingnya, agak lama baru dia sadar ada segaris cahaya. Pemuda itu mencoba bangkit berduduk, menggigit bibir menahan nyeri, berhasil juga dia duduk dan segera saja kepalanya menyentuh baju-baju yang digantungkan.


" Kain…", pikirnya.


" Ini… wangi ini…",


meskipun kesadaran itu datang sedikit demi sedikit, Ding Tao mulai menduga-duga, apakah dia ini sekarang ada dalam lemari pakaian Huang Ying Ying? Bau ini, bau wangi khas yang sering dia cium saat berdekatan dengan gadis itu.


Dengan gugup Ding Tao berusaha bangkit berdiri dan keluar dari tempat itu. Tapi setelah berhasil berdiri, kakinya terasa lemah, tidak tahan untuk menopang tubuhnya yang sudah bangkit berdiri. Semakin guguplah pemuda itu saat dia merasa tubuhnya terguling ke depan tanpa bisa berbuat apa-apa.


Gerakan jatuh yang tiba-tiba itu membebani tulang-tulang rusuknya yang baru saja dihajar kemarin. Nyeri yang sangat menusuk luka-luka di bagian yang terpukul dan tanpa bisa ditahan Ding Tao terpekik menahan sakit.

__ADS_1


Diiringi oleh suara gedubrakan saat dia membentur lantai, Ding Tao keluar dari lemari pakaian Huang Ying Ying.


Huang Ying Ying pun terlonjak kaget mendengar suara itu.


Wajahnya jadi pucat, bagaimana kalau suara itu terdengar sampai di luar? Cepat dia menendang bangku yang ada di dekatnya sambil memaki,


" Sialaaan !!"


Kemudian dengan jari di bibir, dia memberi tanda untuk Ding Tao yang sedang memandang ke arahnya untuk diam. Dia sendiri cepat-cepat mendekati pintu kamarnya dan menempelkan telinga. Mendengar-dengar apakah ada orang di sana.


Saat tidak terdengar apa-apa di luar, perlahan Huang Ying Ying membuka pintu kamarnya dan mengintip keluar. Dengan nafas lega dia masuk kembali sambil menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Matanya pun jatuh tertuju pada Ding Tao yang memandang ke arahnya dengan raut wajah kebingungan.


Cukup lama mereka hanya saling memandang, tidak tahu apa yang harus dikatakan.


Ding Tao dengan perasaan bersalah mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi hingga dirinya bisa berada di dalam lemari pakaian Huang Ying Ying. Akhirnya dengan nada bersalah dan putus asa dia berusaha menjelaskan,


" Adik Ying, aku tidak tahu bagaimana aku bisa ada di sini. Yang kuingat…"


" Ssst… jangan terlalu keras bersuara, tenanglah. Aku tahu, kemarin malam ada orang coba membunuhmu."


bisik Huang Ying Ying yang sekarang telah duduk di sisi pembaringannya dekat dengan tempat Ding Tao terjatuh.


" Benar, benar, Adik Ying apa mereka sudah tertangkap? Lalu mengapa aku sampai berada di sini?"


Huang Ying Ying menggeleng, dari sorot matanya Ding Tao menangkap satu kepedihan,


" Tidak Ding Tao, mereka belum tertangkap. Tahukah kamu siapa yang melakukannya?"


Ding Tao menggeleng,


" Tidak, waktu itu aku sangat mengantuk, tidak sedikitpun aku mendengar suara mereka. Aku baru tersadar setelah merasakan satu nyeri yang hebat di hatiku. Saat sadarpun aku tidak sepenuhnya bisa menangkap kejadian di sekitarku dan kedua orang itu, mereka memakai topeng hitam menutupi wajahnya."

__ADS_1


__ADS_2