Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
3.Chapter 3


__ADS_3

Apalagi semua orang mengetahui ketekunannya selama bertahun-tahun berusaha mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian itu, sementara teman-teman sebaya sudah banyak yang mendahuluinya.


Otaknya yang dipandang agak bebal untuk menerima pelajaran silat, justru membuat orang menjadi bersimpati tatkala melihat ketekunannya yang tidak kenal kata menyerah.


"Ding Tao kemari, maju ke depan.",


sambil tersenyum Tuan besar Huang Jin memandang pemuda dungu yang berhasil lulus sebagai peserta terbaik itu, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, lulusan terbaik akan menerima hadiah berupa pedang berukir huruf Huang di gagangnya.


Pedang itu memang bukan sejenis pedang pusaka yang diperebutkan tokoh-tokoh persilatan, namun pedang itu terbuat dari baja pilihan yang tinggi kualitasnya dan dibuat dengan ketelitian yang tinggi oleh seorang ahli pembuat pedang yang sudah masuk menjadi salah seorang anggota keluarga Huang.


Dengan dada berdebar-debar Ding Tao maju untuk menerima pedang tersebut, wajahnya memerah karena malu, menjadi pusat perhatian sekian banyak orang.


Nona muda keluarga Huang tidak hentinya bertepuk tangan.


Sesampainya di depan, Ding Tao tidak lupa membungkuk, memberikan hormat pada Tuan besar Huang Jin. Sambil menepuk-nepuk pundak Ding Tao, Tuan besar Huang Jin menyerahkan pedang itu,


"Selamat, ini semua hasil ketekunanmu selama bertahun-tahun."


Tiba-tiba di tengah sorak sorai itu terdengar suara yang tidak terlalu keras, namun cukup nyaring untuk terdengar oleh orang-orang yang berada di bagian depan,


"Hebat benar ketekunannya, bertahun-tahun mempelajari jurus-jurus dasar, mungkin nanti setelah 70-an lebih barulah tamat pelajarannya. Cuma entah, waktu itu dia masih kuat mengangkat pedangnya atau tidak."


Sontak semua orang yg mendengar itu terdiam dan menoleh ke arah suara itu.


Rupanya si pemuda tampan tadi yang merasa tidak senang nona muda Huang memuji-muji Ding Tao tidak dapat lagi menahan perasaannya. Dalam hatinya dia tidak bisa menerima, bahwasannya Ding Tao yang dungu dalam pikirannya, bisa mendapat begitu banyak perhatian. Apalagi setelah dia mendengar cerita orang-orang di sekelilingnya, bagaimana Ding Tao gagal dalam ujian di tahun-tahun sebelumnya.


Semakin dilihatnya wajah Ding Tao yang berseri-seri, semakin sebal pula hatinya, hingga akhirnya tanpa tertahan muncullah seruan itu.


Ketika pemuda itu sadar, ucapannya telah menarik perhatian banyak orang, mukanya pun berubah merah padam, tapi memang adatnya yg tinggi tidak bisa diubah, apalagi dia tidak merasa salah dengan ucapannya tersebut.


Dalam hati dia menghibur diri sendiri,


"Hmm.. perduli apa orang katakan, toh yang kuucapkan itu benar."

__ADS_1


Dalam waktu yg singkat lapangan yang tadinya penuh sorak sorai jadi lenggang dan sepi. Tidak sedikit pula peserta yg merasa dirinya layak menjadi pemenang bersorak dalam hati dan menanti-nanti apa yang akan terjadi setelah ini.


Untuk sesaat tidak ada seorangpun yang bersuara, bahkan Tuan besar Huang Jin yang menjadi tuan rumah pun, kehilangan kata-kata. Tadinya dia berharap, tamu undangannya, lelaki 40-an dengan kumis dan jenggot yang rapi dipangkas itu, akan menegurnya, menegur anaknya yang sudah kelepasan omongan.


Tapi setelah ditunggunya beberapa saat, lelaki itu hanya diam saja, dalam hati Huang Jin memaki, otaknya pun berputar keras.


Sebenarnya hubungannya dengan lelaki itu belumlah terlalu akrab, lelaki itu adalah Wang Dou, orang terkuat yang menguasai daerah di sekitar utara sungai Yangtze. Tuan besar Huang Jin sedang berusaha untuk menjalin hubungan di antara mereka karena dia berambisi untuk meluaskan usahanya ke daerah utara.


Untuk itu dia membutuhkan hubungan baik dengan orang ini, agar distribusi ke daerah yang baru tidak terganggu.


Tujuannya hari ini mengundang Wang Dou dan anaknya, Wang Chen Jin, selain untuk memperdalam hubungan yang sudah ada, juga untuk menunjukkan kekuatan dari keluarga Huang.


Bermusuhan tidak menguntungkan, tapi jika Wang Dou memandang dirinya terlalu lemah, juga tidak akan menguntungkan.


Sekarang tampaknya Wang Dou justru berusaha menguji keteguhannya, jika dia mandah saja dihina sedemikian rupa, tentu Wang Dou akan menganggap dirinya lemah dan bisa menentukan pajak keamanan semaunya sendiri.


Jika dia terlalu keras dalam menyikapi masalah ini, bukan tidak mungkin akan timbul permusuhan yang mendalam di antara keduanya, karena dalam dunia persilatan, masalah harga diri seringkali menjadi masalah yang pelik.


"He, apa maksudmu berkata demikian!?"


Sambil berkacak pinggang dia berdiri menantang Wang Chen Jin.


Wang Chen Jin yang ditantang sedemikian rupa oleh gadis yang sudah memikat hatinya jadi tergagap-gagap. Tapi adatnya memang tinggi, tidak bisa dia mengaku salah ataupun meminta maaf, pun jika itu terhadap gadis pujaannya.


Dengan wajah merah padam dia berusaha membela diri,


"Apa salah perkataanku? Jika bukan orang dungu tentu dalam waktu singkat sudah menguasai jurus-jurus sederhana macam itu. Jika bukan orang tidak tahu malu, tentu dia akan menolak penghormatan ini. Aku tahu kebaikan hati kalian keluarga Huang, tapi orang dungu dan tidak tahu malu seperti dia, sudah sepantasnya diingatkan."


Ding Tao yang mendengar jawaban itu dalam hati merasa semakin rendah diri, meskipun di sudut hatinya ada pula rasa bangga karena nona muda yang dipujanya itu begitu membelanya, tapi sungguh dia berharap peristiwa itu tidak berkepanjangan. Lebih baik buatnya bila gelar lulusan terbaik itu dicabut dan diberikan kepada orang lain.


Sungguh mati dia tidak mengharapkan gelar itu, asalkan bisa lulus dia sudah sangat bersyukur.


Diliriknya Tuan besar Huang Jin dan dengan terbata-bata dia berbisik,

__ADS_1


"Tuan besar..., ini... ini... pedang... mungkin memang tidak pantas untuk diriku... aku..."


Tuan besar Huang Jin yang mendengar perkataan itu hanya tersenyum, perlahan dia menepuk bahu Ding Tao dan berbisik,


"Sudah, tenangkan saja hatimu, kita lihat bagaimana, anak Ying, menyelesaikan masalah ini."


Memang majunya si nona muda Huang Ying-Ying ini menyenangkan hati ayahnya, seperti Wang Dou mendiamkan anaknya menghina Ding Tao untuk menguji dirinya, Huang Jin membiarkan Ying Ying maju melabrak Wang Chen Jin dan melihat reaksi Wang Dou.


Sementara itu Ying Ying yang mendengar pembelaan Wang Chen Jin menjadi semakin marah, maklum seperti Wang Chen Jin juga nona muda ini, seorang gadis yang tinggi adatnya, sebagai satu-satunya anak gadis dalam keluarga Huang dia dimanjakan oleh ayah dan saudara-saudara lelakinya,


"Apa? Apa? Apa katamu? Dungu? Kau yang dungu!"


Otaknya pun berputar mencari pembelaan untuk Ding Tao dan tiba-tiba teringatlah cerita ayahnya ttg sepak terjang kakek buyutnya ketika masih aktif dalam dunia persilatan.


"Hmm... kamulah pemuda yang tidak tahu tinggi dan dalamnya ilmu silat. Apa tidak pernah dengar perkataan, dengan 3 jurus pedang Huang Cheng Yan menguasai Wuling? Justru pandanganmu yang lebih dungu dari Ding Tao, tidak bisa menilai kedalaman suatu jurus."


Ganti si pemuda yang merasa penasaran, tanpa terasa dia meloncat dari kursinya dan menunjuk-nunjuk ke arah Ding Tao dengan gagang pedangnya,


"Apa? Apa? Aku lebih dungu dari kerbau itu? Suruh dia melawan aku dan akan aku tunjukkan betapa dungunya dia."


Wang Dou yang sejak tadi berdiam diri saja, tiba-tiba berdiri dan menepuk pundak anaknya sambil tertawa-tawa,


"Hahaha, dasar anak muda tidak punya sopan santun."


Berpaling dia ke arah Tuan besar Huang Jin dan para tetua keluarga Huang yg lain sambil sedikit membungkukkan badan, dengan dua tangan rangkap di depan,


"Tuan-tuan, maafkan anakku yang masih muda ini, memang orang tuanya ini kurang bisa mengajarkan dia sopan santun. Harap maklum, kami tidak lebih dari orang-orang kasar, yang mempelajari ilmu perang tapi tidak tahu ilmu surat."


"Tapi memang, orang persilatan, kalau belum beradu pedang dan kepalan, sepertinya belum menjadi kenalan baik.


Bagaimana kalau kita biarkan saja dua anak muda ini bertanding."


Sambil menunjuk ke arah Ding Tao dia berkata, "Biar pahlawan kecil itu memberikan hajaran pada anakku yang kurang ajar ini."

__ADS_1


__ADS_2