Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
14. Chapter 14


__ADS_3

Dengan penuh haru diapun berusaha menjawab,


" Guru… ini aku… tolong aku guru.."


Kuatir suaranya tidak cukup keras, dipukul-pukulkannya kedua bilah pedang yang ada di tangan, sehingga sebentar kemudian, terdengar riuh suara berdenting, menggema di sumur yang gelap itu.


Mata Gu Tong Dang yang tadinya sayu, terbelalak lebar saat dia mendengar riuh denting pedang dari dalam sumur. Semangatnya yang sudah layu jadi mengembang kembali.


Matanya cepat melihat ke sekitarnya. Ketika dia menemukan tali dan ember untuk mengambil air dari sumur, cepat dia memeriksa kekuatan tali itu.


Merasa puas dengan kekuatan tali itu, tanpa membuang-buang waktu lagi diikatkannya tali itu di sekeliling pinggangnya, lalu dengan lincah dia melompat masuk ke dalam sumur.Kaki dan tangannya dengan cepat mengembang ke kiri dan kanan, mendorong dinding sumur, menahan laju turun tubuhnya.


Segera setelah tubuhnya terhenti, dilepaskannya tangan dan kakinya dari dinding, sehingga tubuhnya kembali meluncur turun, dan ketika dirasa tubuhnya sudah meluncur terlalu cepat, kembali dia mengembangkan tangan dan kaki untuk menahan laju jatuhnya.


Dengan cara itu, tidak lama kemudian Gu Tong Dang sudah sampai ke permukaan air sumur.Kakinya basah oleh air dan Gu Tong Dang pun tahu jika dia telah sampai di bawah, dengan setengah berbisik dipanggilnya


Ding Tao,


" Ding Tao…"


" Guru… aku di sini."


" Kemarilah, apa kau terluka? Bisakah kau menjangkauku?"


" Sedikit terluka guru, tapi sepertinya untuk sedikit bergerak masih tidak ada masalah."


" Bagus, sekarang cepatlah berpegangan padaku, pegang apa saja yang paling mudah untuk kau jadikan pegangan."


Ding Tao sebenarnya sudah merasa sangat lemah, tapi melihat ada kesempatan hidup, semangatnya bangkit berkali-kali lipat. Sekuat tenaga dia melemparkan tangannya untuk meraih tubuh gurunya, saat terpegang kaki gurunya, maka dicengkeramnya kuat-kuat, takut bahwa pegangannya akan terlepas dan dia tidak akan ada tenaga lagi untuk menjangkaunya kembali.


Pedang hadiah kelulusannya terpaksa ditinggalkannya tertancap di dinding sumur. Tapi pedang pusaka milik Wang Chen Jin tidak lupa untuk dibawanya. Dengan sebelah tangan dia merangkul kaki Gu Tong Dang dan dengan tangan yang lain dia mencengkeram pedang itu kuat-kuat.


Gu Tong Dang yang merasakan rangkulan Ding Tao pada kakinya, segera mulai menarik tali yang diikatkannya di pinggang hingga tali itu berhenti terulur, sepenuhnya terjulur ke bawah, sementara ujung yang lain terikat kuat di tempatnya.Ding Tao yang merasakan adanya tali dapat mengerti rencana Gu Tong Dang, dia berusaha sebisa mungkin memudahkan Gu Tong Dang yang berusaha mengikatkan tali itu ke badannya.


Setelah tubuh Ding Tao terikat kuat dengan tali, berbisiklah Gu Tong Dang,


" Sekarang kau bisa lepaskan peganganmu pada kakiku, aku kan naik ke atas dan menarikmu naik dari sana.

__ADS_1


Kuatkan hatimu, tinggal sebentar lagi dan kau akan aman."


" Baik guru… terima kasih guru… sungguh… aku…"


" Sudahlah, simpan tenagamu baik-baik, jangan banyak berbicara, kau masih bisa berterima kasih padaku, nanti setelah kita sampai di atas."


Bergantungan pada tali, Ding Tao hanya bisa mengamati gurunya yang perlahan-lahan merayap ke atas.


Gu Tong Dang tidak berani memanjat ke atas dengan menggunakan tali itu, karena dia tidak tahu apakah tali itu akan kuat menahan tubuhnya dan tubuh Ding Tao sekaligus. Bahkan kalau dia mau jujur, dalam hatinya diapun masih ada keraguan apakah tali itu akan kuat untuk dipakai menarik tubuh Ding Tao ke atas.


Tapi dia tidak ada pilihan lain lagi, terlampau lama jika dia harus pergi mencari tali yang kuat untuk menolong Ding Tao.


Seperti saat turun ke bawah, Gu Tong Dang menggunakan kedua kaki dan tangannya untuk menahan tubuhnya di dinding sumur. Dengan cara demikian, perlahan-lahan Gu Tong Dang merayap naik ke atas.


Bagi keduanya waktu terasa berjalan begitu lama, tapi Gu Tong Dang sudah cukup umur dan pengalaman, pengalaman mengajarkannya lebih baik bekerja dengan lambat namun pasti, daripada terburu-buru dan mengalami kegagalan yang fatal.Apalagi kesempatannya untuk menolong Ding Tao tidak banyak.


Bagi Ding Tao yang menunggu di bawah, waktu serasa berjalan begitu lambat, tapi dengan adanya gurunya di situ, harapannya untuk hidup kembali timbul. Teringatlah dia akan caci makinya pada raja langit dan para dewa.


Wajahnya bersemu merah, merasa malu akan perbuatannya beberapa saat yang lalu. Dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh rasa penyesalan diapun berdoa, berdoa memohon ampun dan maaf. Teringat akan angan-angannya tentang nona muda Huang, jantungnya berdebar-debar, cepat-cepat diusirnya segala bayangan yang menggoda itu dari hati dan pikirannya.


Tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya, ketika dia selalu memendam perasaannya pada si nona muda. Kali ini Ding Tao berani untuk bermimpi.


Tidak akan diserahkannya nona muda itu kepada Wang Chen Jin yang licik, bahkan tidak pada siapapun juga. Karena sekarang dia bukan lagi tukang kebun biasa. Dari segi ilmu dia masih berada di atas Wang Chen Jin, dan mungkin kemampuannya tidaklah serendah yang selama ini dia bayangkan.


Apalagi dengan pedang pusaka di tangan dan penemuannya yang baru dengan pengolahan hawa murni dalam tubuhnya.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Ding Tao berani menggantungkan cita-citanya setinggi langit.


Waktu yang serasa berjalan begitu lambat, diisinya dengan bayangan akan masa depan yang lebih baik, terkadang membantunya mengisi waktu, tapi di saat yang lain membuat Gu Tong Dang seperti merayap semakin lambat, karena Ding Tao sudah tidak sabar untuk segera sampai di atas.


Menginjakkan kakinya di tanah yang padat.


Menantikan Gu Tong Dang sampai di atas, barulah separuh penantian Ding Tao. Karena sesampainya di atas, Gu Tong Dang tidak terburu-buru menarik Ding Tao ke atas.


Gu Tong Dang terlebih dahulu meregangkan otot-ototnya yang baru saja dipaksa bekerja keras setelah terbiasa hidup enak.


Diaturnya dulu nafasnya yang memburu, kemudian barulah dia perlahan-lahan menarik Ding Tao ke atas.

__ADS_1


Saat Ding Tao merasakan tubuhnya ditarik ke atas, hatinya merasa gembira, tapi tidak untuk waktu yang terlalu lama, karena Gu Tong Dang menarik tali itu dengan sangat hati-hati.


Ding Tao memang masih muda dan dengan cepat merasa Gu Tong Dang terlalu lambat dalam bekerja, tapi pemuda ini bukan pemuda yang tidak tahu terima kasih, lagipula dia sadar bahwa terlalu cepat menariknya bisa membuat tali itu terlalu bekerja keras dan putus.


Sebisa-bisanya dia menyabarkan diri.Luka di dadanya semakin perih, demikian juga kulitnya yang diikat erat dengan tali, tangannya sudah tidak kuat lagi untuk berpegangan di tali dan menahan agar sebagian berat tubuhnya tidak sepenuhnya menggantung pada tali yang kasar.


Hanya pedang itu saja yang tetap digenggamnya erat-erat.


Perlahan namun pasti, langit pagi juga sudah mulai berubah warna saat Ding Tao merebahkan diri di atas tanah. Nafasnya lemah, paru-parunya berontak meminta udara, namun rasa sakit sekarang menguasai sekujur tubuh.


Gu Tong Dang berlutut di sebelahnya, dengan lembut melepaskan ikatan tali dari tubuhnya,


" Anak Ding, bagaimana keadaanmu?"


Ding Tao hanya bisa menjawab dengan seulas senyum yang lemah.


Gu Tong Dang mengangguk paham,


" Baguslah, tidak usah banyak bicara."


Ketika dia hendak mengangkat tubuh Ding Tao, perhatiannya pun jatuh pada pedang yang digenggam terus menerus oleh pemuda itu.


Alisnya terangkat, hendak bertanya, tapi ketika pandangan matanya jatuh pada wajah Ding Tao yang pucat, diapun batal untuk bertanya.


Dengan hati-hati namun cepat, dipapahnya Ding Tao menjauh dari tempat itu. Sebentar lagi akan banyak orang berdatangan dan Gu Tong Dang tidak ingin terjebak dengan pertanyaan mereka.


Dibiarkannya saja Ding Tao terus menggenggam erat pedang itu. Tanpa bertanya pun dari sikap Ding Tao dia mengerti tentu pedang itu sangat berarti untuknya.


Gu Tong Dang tidak segera kembali ke rumah keluarga Huang, sebaliknya dia pergi ke sebuah pondokan di luar perkampungan keluarga Huang. Pondokan itu sudah lama dia miliki, seringkali dipakainya untuk melepas lelah ketika dia pergi untuk kepentingannya pribadi.


Di dalam pondokan itu tersedia tempat tidur yang sederhana, makanan kering, alat untuk memasak dan obat-obatan secukupnya.


Setelah membaringkan tubuh Ding Tao di atas pembaringan, Gu Tong Dang dengan cekatan menyalakan api dan memasak air.


Dengan telaten dirawatnya luka di atas dada Ding Tao, dibersihkan, dibaluri dengan obat lalu dibalut dengan kain bersih. Obat penambah tenaga dimasak di atas sebuah api yang dijaga nyalanya. Dalam waktu singkat, roti kering yang sudah dibasahi teh manis hangat disuapkan perlahan-lahan kepada Ding Tao, sebelum obat yang sudah matang diminumkan.


Sebagai orang yang pernah berkecimpung dalam dunia persilatan, Gu Tong Dang tidak asing dengan hal-hal tersebut.

__ADS_1


Dalam hal kemampuan memang Gu Tong Dang masih berada di bawah para tokoh-tokoh dalam keluarga Huang, namun dalam hal pengalaman justru dia lebih banyak.


Tidak berapa lama kemudian, nafas Ding Tao sudah kembali teratur. Beruntung tubuhnya kuat dan hawa murninya terpupuk dengan baik. Gu Tong Dang dengan sabar membiarkan saja pemuda itu beristirahat, beberapa saat lamanya.


__ADS_2