Pedang Angin Berbisik

Pedang Angin Berbisik
11. Chapter 11


__ADS_3

Pada saat yang sama, Ding Tao yang berusaha menendang ke arah perut Wang Chen Jin, justru tendangannya mengenai pergelangan Wang Chen Jin yang menggenggam pedang.


Ding Tao pun terjungkal keras, terguling melewati bibir sumur dan jatuh ke dalamnya, darah segar menyembur dari mulutnya.


Oleh tendangan Ding Tao, pedang pusaka terlepas dari tangan Wang Chen Jin dan terbawa Ding Tao ikut pula jatuh ke dalam sumur, masih terjepit pada belah pedang di tangan Ding Tao.


Untuk beberapa saat lamanya Wang Chen Jin yang berhasil membinasakan musuh bebuyutannya itu berdiri termangu.Terhenyak melihat pedang pusaka milik ayahnya lenyap dalam lubang sumur yang gelap.


Satu hitungan, dua hitungan, hingga 20 hitungan lebih baru terdengar suara Ding Tao yang tercebur ke dalam air.


Tercenung Wang Chen Jin, berdiri memandang ke dalam kegelapan yang ada di hadapannya. Kemenangan diraihnya, tapi hatinya tidak sedikitpun merasakan kegembiraan.Wajahnya pucat pasi, sesaat dia berpikir untuk menuruni sumur itu.


Tapi sumur begitu dalam dan dia juga sering mendengar bahayanya turun ke dalam sumur. Apalagi di bawah sana ada Ding Tao yang baru saja dibunuhnya.


Meskipun biasanya pemuda itu menertawakan cerita-cerita setan atau arwah penasaran yang didengarnya dari pembantu ayahnya, tapi saat itu dia tidak bisa tertawa saat membayangkan arwah Ding Tao yang penasaran sedang menanti dia di bawah sana.


Selagi dia meragu, tiba-tiba terdengar suara ayam yang berkokok, tersadarlah Wang Chen Jin, waktu sudah mendekati fajar. Tanpa terasa pertarungannya melawan Ding Tao menghabiskan waktu lebih panjang dari yang dia perkirakan.


Dengan menggertak gigi dia berlari ke arah kudanya, lalu mencemplaknya, berpacu dengan waktu, kembali ke tempat penginapan di mana rombongannya pergi menginap.


Sepanjang perjalanan jantungnya berdebar-debar, kepalanya serasa akan pecah memikirkan pedang pusaka yang hilang.Namun dia sedikit terhibur dengan kematian Ding Tao, bilatidak ada yang menemukan mayat Ding Tao maka untuk sementara pedang itu akan aman.


Mendekati penginapan yang dituju, hatinya menjadi semakin mengkerut tatkala melihat, ayah dan pamannya sedang berduduk di sebuah pohon besar dan rindang, di depan penginapan.


Tidak ada kesempatan bagi dirinya untuk menyembunyikan diri. Lagipula setelah berpikir di sepanjang perjalanan, Wang Chen Jin memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada ayahnya.


Segarang-garangnya harimau tidak akan memakan anak sendiri. Terlebih lagi dirinya adalah putra satu-satunya dari Wang Dou.


Dengan hati berdebar, Wang Chen Jin menghampiri ayahnya, meskipun sudah ada 1001 alasan yang terbentuk di benaknya, tapi semuanya menghilang saat akan dikatakan.Terdiam dia menunduk, merasa takut, merasa malu, merasa bersalah.


Pandangan ayahnya tajam mengamati sang putera, diamnya sang ayah, membuat hati Wang Chen Jin semakin kecut.


"Hmmm... dari Wuling ?"


"Eh.. iya...", terbata Wang Chen Jin menjawab, kepalanya tertunduk, hanya bisa diam dan memandangi ujung sepatunya.


Dilihatnya noda-noda darah yang sudah mengering di sana.Tentu bukan darahnya karena tidak ada luka-luka di sana.Untuk sesaat tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka.


"Di mana pedang pusakaku?"

__ADS_1


Terkejut dengan pertanyaan ayahnya yang langsung menuju pada sasaran, tanpa terasa kedua lututnya lemas. Pemuda itu pun dengan gemetar jatuh berlutut. Mulutnya terkunci, pandang matanya memohon belas kasihan.


Berkerut-kerut wajah Wang Dou, tiba-tiba kepalan tangannya melayang dan menghajar kepala putera kesayangannya itu.Wang Chen Jin pun terpelanting keras ke belakang.


Sebelum dia sempat bangun, bayangan Wang Dou sudah kembali berkelebat, siap melontarkan pukulan berikutnya. Tapi cepat bayangan lain mengejar dan mendorong tubuh Wang Chen Jin berguling menjauh.


"Adik Wang !! Ingat!! Ingat... dia puteramu satu-satunya", dengan sebelah tangan menahan tubuh Wang Dou, pamanWang Chen Jin, kakak dari ibunya, Fu Tsun berusaha melindungi keponakan yang disayanginya itu.


"Anak Bodoh !!! Cepat berlutut minta ampun pada ayahmu !!!", bentaknya pada Wang Chen Jin.


Wang Chen Jin yang menyadari betapa murka ayahnya dan betapa besar kesalahannya, cepat-cepat berlutut dan menyembah-nyembah memohon ampun pada ayahnya.


Mata Wang Dou masih melotot, tapi raut wajahnya perlahan-lahan berkurang kebengisannya. akhirnya dengan menggeram didorongnya Fu Tsun beberapa langkah mundur.


"Anak Bodoh!!! Keparat !!!"


Mendekat ke telinga Wang Chen Jin, Wang Dou berdesis,


"Diam-diam pergi dengan membawa pedang itu, kau tahu betapa penting artinya pedang itu bagi rencana kita!"


"Maafkan aku ayah... maksudku hanya untuk meminjamnya saja lalu akan segera kukembalikan."


"Tentu engkau sudah menghilangkannya, benar kan?"


" Jadi... ayah sudah tahu?"


"Heh... jika kau membawanya tentu sudah kau tunjukkan pedang itu sekarang ini. Dari wajahmu yang lesu dan sikapmu yang ketakutan mudah saja ditebak."


Kemarahan yang tadi meledak sudah mereda, wajah yang bengis berubah menjadi seraut wajah tua yang lelah. Hati


Wang Chen Jin pun merasa tertusuk, alangkah lebih baik bagi dirinya jika ayahnya murka. Melihat ayahnya sedih hatinya jauh lebih teriris.


Dengan terisak dia pun meminta maaf dengan terbata-bata.Pamannya mendekat, melihat ayah dan anak sudah kembali akur hatinya merasa tenang.


"Sudah sudah ... hentikan tangismu, orang akan heran melihat tingkah kalian. Sekarang ceritakan bagaimana hingga kau kehilangan pedang itu."


Dengan terbata-bata Wang Chen Jin mengisahkan kejadian semalam, sejak dari pertemuannya dengan Ding Tao hingga jatuhnya pedang itu ke dalam sumur bersama-sama dengan mayat Ding Tao.


Sesudah dia selesai bercerita, maka pamannya menepuk-nepuk pundaknya dan berusaha menyabarkan Wang Dou.

__ADS_1


"Tidak begitu sial, pedang ada di dalam sumur, secepatnya hari ini aku akan kembali ke Wuling, melihat apakah ada yang menemukan mayat di dalam sumur. Moga-moga sumur itu bukan sumur yang biasa dipakai umum. Sebisanya aku akan mencegah seseorang memakainya. Tapi jika aku gagal, aku pun akan mengawasi dengan ketat, ke manakah pedang itu dibawa."


" Malam nanti, adik Wang bisa menyusulku, bersama-sama, kita akan mengambil kembali pedang itu. Entah masih berada di sumur atau di bawah pengawasan petugas di kota Wuling."


Wang Dou mengeluh,


" Bisa juga keluarga Huang yang mendapatkannya. Ding Tao adalah orangnya, bukan tidak mungkin dia bisa mendekati petugas dan meminta agar barang-barang bukti yang ditemukan diserahkan kepadanya."


Paman Wang Chen Jin mengangguk,


" Itu adalah kemungkinan yang terburuk, tapi secepatnya aku akan pergi ke sana, sebisa mungkin akan kucoba agar tidak ada orang yang memakai sumur itu, kalaupun itu terjadi dan ada yang menemukan pedang itu, jika memungkinkan aku akan mengambil pedang itu. "


Dengan pandang sedih Wang Dou memandangi puteranya,


"Bodoh... bodoh... sekali apa yang kau lakukan itu anak Jin. Kehilangan pedang, bolehlah kita anggap masalah rejeki. Tapi jika kau masih saja tidak bisa berpikir lebih tenang dan mudah menuruti keinginan hati bagaimana dengan kehidupanmu di masa depan nanti."


Suara ayahnya terdengar begitu sedih, Wang Chen Jin merasa sangat terpukul, hilang sudah ketakutannya digantikan dengan penyesalan yang tulus.


"Sebagai orang yang hidup dalam dunia yang keras, sekali berbuat kesalahan, akibatnya bisa menjadi fatal. Kali ini urusan hilangnya pedang, seharusnya tidak perlu terjadi kalau kau bisa mengendalikan perasaanmu. Seharusnya kekalahanmu sebelumnya kamu jadikan pelajaran untuk memperbaiki diri. Kebencianmu pada pemuda itu sungguh tidak ada gunanya."


Fu Tsun pun segera pergi untuk mengambil kuda dan tidak lama kemudian sudah dalam perjalanan menuju ke Wuling. Sementara itu Wang Dou memberikan nasihat-nasihat pada puteranya. Tentang pedang pusaka yang hilang, ketiga orang itu masih menyimpan harapan besar untuk memperolehnya kembali.


Menanti malam tiba, kedua ayah beranak berusaha menampilkan wajah yang tenang meskipun hati mereka tidak sabar menantikan datangnya malam, meskipun pedang itu dengan aman tersembunyi di dalam sumur, tapi sebelum pedang itu berada di tangan kembali, hati mereka tidak bisa tenang.


Terhadap anggota rombongan yang lain, Wang Dou menjelaskan bahwa dirinya merasa sedikit lelah setelah perjalanan ke Wuling dan ingin beristirahat beberapa hari sebelum kembali ke rumah.


Meskipun ada yang bertanya-tanya dalam hati, tidak ada yang berani menanyakan keheranan mereka pada Wang Dou. Yang bertanya-tanya ini, cukup cerdik untuk mengerti bahwa jika pun memang ada alasan tertentu, tentu ada pula alasannya sehingga Wang Dou tidak memberitahu mereka.


Gu Tong Dang tidak bisa tidur dengan tenang malam itu. Dia sendiri tidak tahu dengan jelas apa yang menyebabkan dirinya susah untuk tidur.


Seakan-akan ada sesuatu yang terlupakan dan sekarang otaknya berusaha untuk mengingat-ingat apa ada yang dia lupa untuk kerjakan hari itu. Maklum umurnya sudah bertambah tua.


Perlahan-lahan, ditelusurinya apa saja yang dia kerjakan hari itu, tapi tidak juga teringat apa yang sebenarnya mengganggu perasaannya malam itu.


Kerja otak memang aneh, tidak jarang kita melupakan nama seseorang dan ketika kita berusaha keras untuk mengingatnya, ingatan itu tidak juga kembali. Terasa oleh kita bahwa di suatu tempat di dalam otak kita, tersimpan nama orang itu, tapi dengan cerdiknya ingatan itu bersembunyi dari kita.


Demikian pula keadaan Gu Tong Dang waktu itu, dia tahu bahwa ada sesuatu yang penting yang terlupa olehnya, tapi apakah itu?


Hal itu sangat mengganggu tidurnya dan seperti yang sering kita alami, saat kita sudah hampir menyerah tiba-tiba ingatan itu pun muncul. Seperti seorang anak nakal yang bermain petak umpet.

__ADS_1


Untuk sesaat Gu Tong Dang tersenyum lebar menunjukkan giginya yang masih lengkap terawat di umur yang sudah begitu lanjut, merasa senang karena ingatan yang dikejar-kejarnya itu akhirnya tertangkap juga.


__ADS_2